
Laurel mengerjap-ngerjapkan matanya dengan wajah terheran-heran, berusaha menebak dia sedang berada di mana dan mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya. Ketika kesadarannya mulai pulih, Laurel mulai mengenal tempat di mana dia sedang berbaring sekarang, mengenal dengan baik ruangan kamar yang biasa ditempatinya dengan Freya.
Tangan kiri Laurel bergerak ke arah keningnya yang terasa lembab dan dingin, kemudian diambilnya kain handuk kecil yang ada di keningnya dan mencoba menoleh ke samping kanan, sehingga dilihatnya sosok Dave yang tertidur di kasur dengan kepalanya tergeletak di sampingnya, dengan posisi tubuhnya masih duduk di kursi di samping tempat Laurel berbaring. Kepala Dave tergeletak di dekat bahu kanan Laurel dengan kedua tangan Dave menggenggam erat tangan kanan Laurel sampai tangan Laurel merasakan mati rasa, tidak bisa dia gerakkan dengan bebas.
Entah sudah berapa lama Dave menggenggam tangannya dengan erat dalam posisi seperti itu. Tapi dengan merasakan kebas di tangannya, Laurel sudah bisa mengira-ngira Dave sudah menggenggam tangannya dalam waktu yang sangat lama. Untuk beberapa saat Laurel memandangi wajah Dave yang terlihat tertidur dengan aura wajah yang menunjukkan wajah tidak tenang, bahkan terlihat sedikit mengernyitkan dahinya.
Bahkan dalam mimpimu kamu tetap menjadi seorang laki-laki pemikir, membuat aura wajahmu terlihat susah dan tidak tenang. Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan sampai terbawa ke dalam mimpimu dan terlihat begitu mengusik kebahagiaanmu? Laurel berbisik dalam hati dengan matanya terlihat masih asyik mengamati wajah tampan suami tercintaya.
Laurel memandang ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 4 dini hari, sepertinya cukup lama dia tidak sadarkan diri, bahkan mungkin saat tersadar dia segera tertidur kembali karena rasa lelah dan kantuk. Dengan lembut Laurel mengelus rambut di kepala Dave dengan tangan kirinya dengan senyum bahagia terpancar di wajahnya. Setelah semalam mengalami hal buruk yang bagi Laurel seperti mimpi, dan sekarang di dekatnya berada seorang laki-laki yang begitu dicintainya membuat Laurel tersenyum bahagia, mencoba menghilangkan ingatannya akan rasa takut yang sempat menghantuinya sejak semalam dengan cara menikmati keberadaan Dave di dekatnya yang selalu berhasil membuat perasaan dan hatinya menjadi begitu tenang.
Begitu merasa ada bergerak di dekatnya, dan seseorang menyentuh kepalanya, Dave langsung membuka matanya dan mata birunya langsung melihat bagaimana pandangan lembut mata Laurel yang sedang mengamati wajahnya yang tertidur. Senyum manis yang tersungging di bibir Laurel, membuat Dave tersentak kaget dan langsung mengangkat kepalanya. Untuk beberapa saat Dave termangu melihat bagaimana Laurel memandangnya dengan tatapan yang terlihat bahagia dan penuh cinta, tidak ada tanda-tanda kekecewaan apalagi kemarahan baik di wajah maupun tatapan mata wanita tercintanya itu.
Dengan gerakan lembut, Dave langsung menggerakkan tangannya ke arah kening Laurel, mengecek suhu badan Laurel dengan punggung telapak tangannya, untuk memastikan suhu tubuh Laurel sudah normal kembali. Dave tahu dengan kondisi Laurel yang sedang hamil saat ini, akan sangat berbahaya jika dia meminum obat dengan sembarangan. Untung saja usahanya untuk mengompres Laurel semalam membawa hasil yang besar, berhasil menurunkan suhu tubuh Laurel kembali normal tanpa harus meminum obat.
"Panasmu sudah turun. Suhu tubuhmu sudah normal kembali. Bagaimana kondisimu? Apa kamu baik-baik saja? Bagian mana yang rasanya tidak nyaman?" Mendengar begitu banyak pertanyaan dari Dave membuat Laurel menggerakkan tubuhnya ke samping kanan agar bisa melihat wajah Dave dengan lebih jelas, walaupun tetap dalam posisi berbaring.
"Bagaimana kabar Meria? Bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia sudah tersadar dari pingsannya?" Dave terdiam sesaat, merasa tidak suka Laurel lebih memikirkan kondisi Meria sedang kondisinya sendiri juga masih belum pulih sepenuhnya.
__ADS_1
"Bolehkan saat ini kita bersikap egois dengan tidak memikirkan orang lain dulu? Aku mau saat ini kita fokus dengan kesehatanmu dan bayi kita," Mata Laurel membulat, terbeliak kaget mendengar kata-kata Dave barusan.
"Darimana kamu tahu...," Dave mencium kening Laurel dengan lembut, membuat kata-kata Laurel tiba-tiba terhenti.
"Tidak penting darimana aku tahu, tapi kenapa kamu tidak memberitahukan hal sepenting itu secepatnya padaku?" Laurel memandang dalam-dalam ke arah Dave karena pertanyaan Dave barusan.
"Sebenarnya aku ingin segera memberitahumu saat di pesta ulang tahun Leo sebelum kamu menerima panggilan telepon dari rumah sakit tempat Meria dirawat. Karena kondisi Meria yang terdengar mendesak, jadi aku memutuskan untuk menunda memberitahumu sampai kita pulang ke rumah. Tapi aku tidak menyangka ada kejadian menakutkan seperti tadi malam yang menimpaku," Laurel menghentikan bicaranya sesaat.
"Aku juga baru tahu bahwa aku hamil kemarin siang setelah hasil cek darahku keluar," Laurel meneruskan bicaranya, dengan diiringi oleh tatapan Dave yang terus memandangnya dengan lembut dan mesra, tidak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagia di dalam hatinya, mendengar dari bibir Laurel tentang kabar kehamilannya.
"Aku sendiri yang salah, tiba-tiba memutuskan untuk ke rumah Mama sambil menunggumu menjemputku, tanpa meminta ijin kepadamu lebih dahulu. Karena kemarin malam aku sedang tidak ingin sendiri di rumah kaca tanpa ada yang menemani," Hati Dave terasa perih mendengar apa yang dikatakan Laurel barusan, membuat rasa bersalahnya kembali muncul.
"Aku tidak mau terlalu mengekangmu, karena aku percaya padamu. Aku juga dokter sepertimu. Aku bisa mengerti bagimu bukan pilihan mudah untuk meninggalkanku kemarin malam. Namun, adalakanya kita harus menekan keegoisan kita melihat kesakitan orang lain," Dave memandang Laurel dalam-dalam, dan sebelum airmatanya keluar dengan cepat Dave memeluk tubuh Laurel, membiarkan kepalanya berada di ceruk leher Laurel, di antara bahu dan leher Laurel untuk beberapa saat, sambil diciumnya berulang-ulang leher dan bahu Laurel dengan sesekali menarik nafas dalam-dalam saat hidung Dave berada di bahu Laurel dan menghembuskannya kuat-kuat untuk menunjukkan betapa dia bersyukur masih bisa memeluk tubuh Laurel dan merasakan kehangatannya, memastikan bahwa saat ini kebersamaannya bersama Laurel bukan sekedar mimpi.
"I Love you mo cuisle, I love you.... Terimakasih..., Kamu begitu baik padaku. Kemarin malam aku bahagia sekali mendengar berita tentang kehamilanmu, sekaligus begitu takut karena juga mendengar kabar bahwa Dicky sedang mengejarmu. Rasanya duniaku berada di ambang kehancuran mendengar kedua berita itu secara bersamaan. Bagaimana bisa aku membiarkanmu sendiri menghadapi Dicky bahkan dengan kondisi hamil,"
"Dicky? Kenapa kamu menyebutkan nama Dicky sejak tadi Dave?" Dave mengangkat tubuhnya dari Laurel, melepaskan pelukannya dengan enggan.
__ADS_1
"Polisi sudah menangkap orang suruhan Dicky, tapi Dicky sendiri berhasil melarikan diri. Pria yang menyerangmu kemarin adalah orang suruhan Dicky. Dicky yang mengikuti orang suruhannya dengan mobil lain langsung melarikan diri begitu dia tahu kami datang dan menangkap kaki tangannya. Detektif yang aku sewa sudah mendapatkan bukti-bukti bahwa Dicky yang melakukan penusukan kepadamu beberapa waktu lalu, bahkan juga kasus penusukan 7 tahun lalu dan mereka akan segera mengejarnya," Laurel yang masih dalam kondisi terbaring melotot kaget, tidak menyangka bahwa pelaku penusukan 7 tahun lalu dan beberapa waktu lalu adalah orang yang sama.
"Kenapa dia melakukan itu padaku? Aku tidak merasa pernah mengenalnya, apalagi menyinggungnya," Dave mengelus kepala Laurel dengan lembut.
Dengan gerakan pelan Laurel berusaha bangkit dari berbaringnya. Dengan sigap Dave langsung bangkit dari duduknya, menopang punggung dan kedua kaki laurel dengan lengannya, lalu mengangkat tubuh istrinya dengan begitu hati-hati, kemudian menggerakkannya ke atas sehingga membuatnya dalam posisi duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.
"Jangan dipikirkan, biarkan polisi yang menyelidiki kasus ini. Yang penting kamu sudah aman sekarang, aku berharap polisi segera menangkapnya. Untuk sementara waktu aku akan meningkatkan penjagaan di sekitar kita," Laurel menggigit bibir bawahnya dengan mata menatap Dave dengan pandangan sedikit bingung.
"Apa motif Dicky melakukan ini padaku?" Tangan Dave terulur ke arah wajah Laurel dan mengelusnya dengan lembut dan penuh perasaan sayang.
"Kumohon, jangan dipikirkan lagi. Kamu perlu memulihkan kondisimu dan menenangkan pikiranmu. Ingatlah, sekarang ada calon anak kita yang sedang bertumbuh di rahimmu. Dia memerlukan asupan gizi yang cukup, juga ketenangan pikiranmu," Laurel tersenyum mendengar kata-kata Dave yang mengingatkan tentang bayi kecil mereka di perutnya, membuatnya tersenyum dengan wajah bahagia.
"Dave..., bolehkan..., aku meminta sesuatu padamu?" Mendengar Laurel bertanya dengan suara pelan dan nada sedikit manja, Dave mengernyitkan sedikit alisnya sambil bibirnya menyungingkan sebuah senyum.
"Memangnya apa yang akan kamu minta dariku? Apakah sulit untuk aku penuhi? Sehingga kamu perlu memintanya kepadaku secara resmi begini?" Laurel memandang Dave dengan tatapan mesra, membuat Dave langsung berusaha menebak apa yang akan diminta Laurel. Apakah sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan? Atau suatu benda yang mahal? Ah, Dave melenguh dalam hati apapun itu dan semahal apapun sesuatu yang akan diminta oleh Laurel, apa mungkin dia bisa untuk tidak mengabulkannya?
“Untuk beberapa hari ini..., bolehkan aku menginap di sini?” Dave langsung terbeliak mendengar permintaan Laurel yang diucapkannya dengan suara pelan dan sekaligus manja.
__ADS_1
Bagaimana dia bisa mengabulkan permintaan Laurel untuk menginap di sini? Sedangkan semalam dia hampir saja nekat langsung membawa tubuh Laurel yang pingsan ke rumah kacanya, apalagi Dicky masih berkeliaran bebas diluar sana dan pasti menunggu kesempatan untuk kembali berulah. Mendengar permintaan Laurel yang diucapkannya dengan nada manja seperti itu, Dave hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.