CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
SEPERTI JANJIKU, AKU KEMBALIKAN DAVE KEPADAMU


__ADS_3

"Apa malam ini kita mau melanjutkan pesta kembang api Tuan Devan?" Ornado berkata dengan tatapan dingin tanpa senyum kepada Devan sambil memberikan tanda kepada para pengawal yang berjajar rapi di belakangnya sehingga mereka dengan sigap bergerak membentuk posisi setengah lingkaran mengelilingi Ornado, Dave dan Devan.


Begitu Ornado kembali menggerakkan tangannya, dengan menjentikkan ujung jari tengah dan jempolnya, tampak sesosok laki-laki tampan dari arah belakang pasukan Ornado yang sedang mengarahkan senjata ke arah para pengawal Devan yang tadinya menodongkan pistol ke arah pengawal Dave, maju ke depan dan mengambil posisi berdiri tepat berhadapan dengan Devan sambil menodongkan senjata yang dipegangnya ke arah kening Devan. Devan sedikit mengernyitkan alisnya melihat laki-laki berwajah bule dengan mata coklat mudanya yang dengan tatapan tajam dan beraninya maju dan mengarahkan senjata ke arahnya, sedang Ornado begitu melihat kehadiran James yang sudah siap melakukan perintahnya selanjutnya langsung menyungingkan senyum di bibirnya.


"Apa yang Anda inginkan Tuan Ornado?" Ornado memandang dengan tajam ke arah Devan mendengar pertanyaan Devan barusan kepadanya.


"Seharusnya tanpa aku mengatakan apapun Anda sudah bisa menebak apa yang aku inginkan dari Anda hari ini. Lepaskan semua keinginan Anda terhadap Laurel. Dan ke depannya aku tidak ingin lagi mendengar Anda mengusik bahkan berusaha mendekati kembali kehidupan Dave dan Laurel. Anggap saja selama ini Anda tidak pernah mengenal dan mengetahui keberadaan orang bernama Laurel Tanputra. Hapuskan nama Laurel Tanputra dari ingatan Anda! Terutama hati Anda!" Devan memandang Ornado dengan pandangan dipenuhi kemarahan, namun dia tahu pasti kalau saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menentang apalagi melawan seorang Ornado Xanderson.


Devan benar-benar sadar bahwa laki-laki yang sedang dia hadapi saat ini bukan orang sembarangan, dan kekuatan yang dimilikinya tidak bisa dianggap main-main. Walaupun sosok Ornado terlihat tenang tapi dari tatapan matanya sungguh bisa membuat orang bergidik dan nyali orang menciut dengan cepat.


"Kalau saja aku tidak mengingat jasa Anda yang telah menyelamatkan Laurel dari tangan Dicky hari ini, aku tidak akan memberikan Anda penawaran segampang ini. Dengan apa yang sudah Anda lakukan terhadap Laurel, seharusnya saat ini aku sudah menyeret Anda ke kantor polisi dengan tuduhan penculikan," Ornado berkata dengan kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya.


Walaupun gerakan tubuh Ornado terlihat begitu santai, tapi tatapan tajam matanya menunjukkan bahwa dia bukan orang yang mudah untuk ditentang apalagi dilawan. Devan sedikit menahan nafasnya menyadari tidak adanya kesempatan untuk menolak keinginan, lebih tepatnya perintah dari Ornado.


Devan melirik ke sekelilingnya, dimana puluhan pengawal Ornado masih dengan posisi sigap dan bersiap untuk melakukan penyerangan. Sekilas Devan melirik ke arah tubuhnya dan para pengawalnya yang terlihat ada titik-titik sinar bewarna merah, menunjukkan bahwa saat ini selain keberadaan para pengawal Ornado yang membawa revolver, ada beberapa penembak jitu jarak jauh yang sudah ditempatkan oleh Ornado di sekitar rumahnya, siap dengan senjata laras panjang yang sewaktu-waktu akan memuntahkan pelurunya saat melihat kode yang merupakan perintah dari Ornado.


Ornado tersenyum tipis melihat wajah Devan yang terlihat sedang berusaha berpikir untuk menjawab perintahnya. Mata Ornado melirik ke arah tubuh Devan dan beberapa pengawalnya yang di bagian vital tubuhnya terlihat tanda berupa sinar merah dari senjata M-4 Super 90 yang dibawa oleh para pengawalnya yang merupakan para penembak jitu jarak jauh.


(M-4 Super 90 berasal dari Italia. Ini mungkin salah satu dari senapan-senapan asing yang paling dihormati di Rusia. Benelli M-4 Super 90 dari Italia tidak hanya terkenal karena ergonomi dan keandalannya, tetapi juga karena bentuknya yang indah. Senjata ini telah digunakan oleh unit militer dan penegak hukum AS. Kini, senjata ini menggunakan pegangan yang dapat diatur dan rel Picatinny yang memungkinkan operatornya memasang berbagai peralatan taktis untuk meningkatkan mobilitas operasional. Senjata ini dicintai oleh marinir AS dan telah menjadi senjata populer di pasar senjata sipil di Rusia. Shotgun yang berisi 7 buah peluru kaliber 12 gauge ini memiliki kecepatan tembak tinggi karena fungsinya yang semi-auto. Namun, senjata ini cukup mahal jika dibandingkan dengan senjata lainnya).


"Berapa lama Anda perlu waktu untuk menjawab permintaanku?" Ornado bertanya sambil dengan santainya berjalan mendekat ke arah Dave, dan begitu sampai di samping Dave, Ornado langsung melingkarkan lengannya di bahu Dave, sedang Devan hanya bisa melihat tindakan Ornado tanpa bisa mencegahnya.


"Kamu berhutang nyawa padaku Dave," Ornado berbisik pelan ke telinga Dave sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mintalah apa saja. Aku akan memberikannya padamu. Walaupun menurutku, tidak ada yang aku miliki yang tidak bisa kamu miliki. Aku tidak yakin kamu masih menginginkan sesuatu dariku," Ornado meringis mendengar kata-kata bisikan Dave yang tidak kalah pelan, balasan dari Dave untuk pernyataannya.


"Aku akan menagih janjimu saat ada Laurel dan Cladia agar mereka bisa menjadi saksiku, supaya kamu tidak memiliki alasan untuk menghindar," Ornado kembali berbisik pelan, setelah itu matanya kembali fokus pada keberadaan Devan.


Dasar Ad, di saat tegang seperti inipun sempat-sempatnya kamu bercanda denganku, Dave berkata dalam hati sambil melirik ke arah Ornado yang dari wajahnya tampak tidak menganggap apa yang sedang dia hadapi saat ini adalah masalah besar.


"Bagaimana Tuan Devan? Pada hitungan ke berapa Anda akan menjawab iya atas permintaanku tadi? Anda memberikan hitungan 10 kepada Dave. Aku orang yang lebih murah hati daripada Anda. Aku akan memberikan hitungan 5 agar Anda tidak perlu berpikir lama yang akan membuat Anda justru bingung untuk menjawabnya. Bukankah itu akan sangat membantumu?" Ornado berkata sambil melepaskan pelukan tangannya di bahu Dave, lalu berjalan mendekat ke arah Devan.


"5..., 4..., 3...,"


"Dor!"


"Dor!"


Ornado masih menghitung mundur sampai ke angka 3 ketika terdengar suara tembakan yang langsung membuat Devan dan Dave terbeliak. Namun dengan santai Ornado tetap berjalan mendekat ke arah Devan, seolah-olah dia sama sekali tidak mendengar suara tembakan barusan. Dari wajahnya Ornado tetap terlihat tenang dengan tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke arah Devan. Tindakan Ornado benar-benar menunjukkan dia begitu yakin bahwa yang barusan menjadi korban penembakan bukanlah orang-orangnya ataupun orang-orang Dave.


Dave yang awalnya terbeliak karena suara tembakan barusan hanya bisa terdiam dan mengikuti Ornado yang tampak dengan santai mengajaknya berjalan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikitpun kepada salah seorang pengawal Devan yang tersungkur di tanah, mengalami luka tembak di bahu dan kakinya. Ornado hanya melirik sekilas ke arah pengawal Devan yang tertembak.


"Ayo Dave, kita segera pergi dari sini, Laurel dan Cladia pasti sudah menunggu kita di rumah," Ornado langsung menggerakkan lengannya yang masih berada di bahu Dave agar segera meninggalkan tempat itu.


Ornado menarik nafas panjang, merasa lega melihat kinerja tim pengawalnya. Saat Ornado mulai menghitung mundur tadi salah seorang pengawal Devan yang merasa sok jago berusaha membuat gerakan untuk menembak ke arah Dave, namun dua pengawal Ornado langsung bertindak cepat dengan melumpuhkannya terlebih dahulu dengan menembak bahu dan kaki orang tersebut.


"James, tolong selesaikan urusan yang ada di sini dengan baik. Sisa yang terjadi di sini aku serahkan semuanya padamu" Begitu Ornado berjalan melewati James, Ornado langsung memberikan perintah kepada James yang masih dengan sigap mengarahkan senjatanya ke arah Devan yang masih termenung di tempatnya dengan wajah terlihat masih begitu terkejut karena peristiwa yang barusan terjadi di depan matanya, tidak menyangka ada anak buahnya yang berani mencoba berbuat nekat sehingga justru melukai dirinya sendiri.

__ADS_1


# # # # # # #


"Dave!" Begitu Laurel yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumah kacanya ditemani oleh Cladia melihat sosok Dave dan Ornado memasuki pintu rumah kaca dengan cepat Laurel langsung bangkit berdiri dari duduknya, lalu berjalan dengan terburu-buru mendekat ke arah Dave dan langsung memeluk tubuh Dave dengan begitu erat dengan airmata bahagia sekaligus lega mengalir membasahi pipinya.


Dave tersenyum lega melihat kondisi Laurel yang terlihat baik-baik saja, dengan erat dan lembut dibalasnya pelukan Laurel, dengan kedua telapak tangannya mengelus lembut punggung Laurel dengan penuh perasaan cinta. Ornado dan Cladia ikut tersenyum lega melihat bagaimana Dave dan Laurel sudah kembali bertemu tanpa luka yang berarti.


Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan dengan erat melepaskan rasa rindu dan lega karena bisa bertemu kembali dengan orang yang mereka cintai. Dengan hati yang benar-benar dipenuhi oleh rasa syukur Dave berkali-kali mencium puncak kepala Laurel dengan menarik nafas dalam-dalam menikmati harum shampoo yang biasa digunakan oleh Laurel, membuat Dave semakin tersadar keberadaan Laurel saat ini benar-benar nyata, setelah beberapa jam terakhir ini bagi Dave seperti bertahun-tahun berlalu sejak dia mendengar kabar hilangnya Laurel.


Dave dan Laurel saling memeluk, mengelus tubuh pasangannya dengan mata terpejam. Mereka berdua saling menikmati keberadaan masing-masing untuk meluapkan rasa bahagia mereka. Ornado menggigit bibir bawahnya dengan senyum ikut merasakan kebahagiaan melihat bagaimana Dave dan Laurel saling berpelukan dengan hangat, dan tanpa sadar tangan Ornado yang sedang berdiri di samping Cladia tiba-tiba bergerak menggenggam erat tangan Cladia, membuat Cladia sedikit tersentak, tapi sedetik kemudian Cladia tersenyum dan membalas genggaman tangan Ornado, walaupun awalnya dengan ragu, tapi genggaman hangat tangan Ornado meyakinkan Cladia bahwa tempat paling aman baginya adalah di sisi Ornado.


Melihat bagaimana Cladia membalas genggaman tangannya mata Ornado langsung melirik ke arah Cladia. Dengan gerakan cepat tanpa bisa membuat Cladia menghindar darinya, Ornado sedikit membungkukkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya dan bibirnya langsung mencium pipi Cladia dengan mesra untuk beberapa saat. Dan sebelum Laurel dan Dave sempat melihat tindakannya, Ornado segera menegakkan kembali tubuh dan kepalanya, dengan meninggalkan semburat merah di pipi Cladia.


"Eh..., Ad, terimakasih," Seolah-olah baru sadar bahwa ada keberadaan Ornado dan Cladia di dekat mereka, Laurel melepaskan tubuhnya dari pelukan Dave.


Mendengar ucapan terimakasih dari Laurel, Ornado hanya tersenyum sambil tangan kanannya mengarah ke keningnya, menempel di keningnya dengan posisi tegak lurus seperti orang yang sedang memberikan penghormatan kepada pimpinannya di kemiliteran, kemudian Ornado menggerakkan tangannya ke depan, ke arah Laurel, memberikan tanda hormat ke arah Laurel, membuat Laurel langsung tersenyum geli melihat tingkah Ornado.


"Ah, akhirnya lega melihat senyum manismu kembali Laurel," Ornado berkata sambil menyilangkan tangan kanannya ke dadanya, sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, layaknya seorang pelayan yang sedang memberi hormat kepada ratunya, membuat Laurel semakin geli, dan Dave hanya bisa meringis melihat bagaimana sikap Ornado kepada istri tercintanya.


"Ayolah, kita duduk, Laurel dan Dave pasti butuh menenangkan hatinya setelah peristiwa tadi. Kakiku sudah mulai kesemutan karena terlalu banyak berdiri dan sepertinya tubuhku membutuhkan minuman hangat karena terlalu lama terkena terpaan angin malam. Dan sepertinya istriku juga sedang memerlukan kehangatan pelukanku di atas sofamu yang nyaman Dave. Bagaimana Tuan Shaw? Apa sebagai tuan rumah kamu tidak akan mempersilahkan kami untuk duduk?" Mendengar pertanyaan Ornado, Dave langsung tertawa tergelak.


"Ayolah Ad! Aku sudah pernah bilang kita bukan orang asing, anggap saja rumah sendiri," Ornado tertawa mendengar perkataan Dave yang langsung memanggil dan memberi tanda kepada pelayannya untuk menyediakan minuman hangat untuk kedua tamu kehormatannya itu.


Begitu mendengar kata-kata Dave yang mengijinkannya untuk segera duduk, tanpa menunggu lama, tangan kiri Ornado yang masih menggenggam tangan Cladia langsung menarik tangan Cladia lembut untuk segera mengajaknya duduk di atas sofa. Dan Cladia dengan gerakan gugup hanya bisa melangkah mengikuti gerakan Ornado yang menggiringnya ke arah sofa.

__ADS_1


Begitu Ornado dan Cladia duduk berdampingan di atas sofa, dengan gerakan cepat tangan Ornado yang tadinya menggenggam erat tangan Cladia langsung bergerak cepat ke arah pinggang Laurel, menarik lembut namun penuh dengan tenaga tubuh Cladia untuk mendekat ke arahnya dan langsung memeluknya dengan erat, membuat wajah Cladia langsung kembali memerah, apalagi menyadari mata Laurel yang sedikit terbeliak melihat tindakan mesra Ornado kepada Cladia. Namun Ornado tetap saja bersikap tidak perduli seolah-olah tidak terjadi apa-apa, justru yang ada Ornado begitu menikmati wajah cantik istrinya yang terlihat memerah karena tindakannya barusan.


Tanpa menunggu lama Laurel dan Dave segera menyusul Cladia dan Ornado untuk mengambil posisi duduk di sofa. Dengan senyum di wajahnya, Dave dan Laurel memandang ke arah Ornado yang saat bersama Cladia bisa menjadi sosok yang begitu berbeda. Dave ingat betul bagaimana sosok tegas dan berkharismanya Ornado saat menghadapi Devan dan para pengawalnya, sungguh berbanding terbalik jika melihat sosok Ornado saat berada di dekat Cladia. Begitu ada sosok Cladia di dekatnya dalam hitungan detik sosok Ornado akan menjadi seorang laki-laki yang langsung bersikap mesra, romantis dan lembut, bahkan cenderung selalu menggoda istri cantiknya itu dengan sikap mesranya yang seringkali membuat Cladia menjadi salah tingkah, karena tanpa melihat tempat dan situasi, Ornado selalu saja bersikap mesra kepada istrinya.


__ADS_2