
"Apa maksudmu dengan memanggil Laurel setiap jam istirahatnya selama beberapa hari ini? Semua karyawan mulai bertanya-tanya apa hubunganmu dengan Laurel," Dave memandang wajah Leo tanpa ekspresi.
"Kamu buru-buru datang kesini hanya untuk menanyakan itu?" Tangan kiri Leo berkacak pinggang dengan tangan kanannya mengusap dahi dan rambutnya, wajahnya terlihat gusar.
"Dave! Apa kamu tidak lihat, dengan tindakanmu itu Hana semakin menggila, dari model rambut, bahkan gaya berpakaiannya, dia berusaha mengubahnya seperti Laurel! Kalau kamu belum ada rencana untuk mengklarifikasi hubunganmu dengan Laurel, jangan bertindak seenaknya, menyebabkan rumor tidak sehat di lingkungan kerja," Dave memandang ke arah Leo dengan wajah tetap datar, tidak menunjukkan emosi sama sekali.
"Kamu protes kepadaku karena begitu perduli dengan pendapat pegawai disini tentang aku dan Laurel atau kamu mulai ketakutan karena kamu tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendekati Laurel?"
"Dave!" Leo melotot mendengar pertanyaan Dave yang benar-benar mengenai harga dirinya sebagai laki-laki. Leo berjalan ke arah Dave yang sedang duduk di kursi meja kerjanya.
"Kamu tahu aku selalu mendukungmu, tapi dengan sikap tidak bertanggung jawabmu terhadap Hana dan Laurel, kamu membuatku mengambil keputusan lain. Aku tidak akan membiarkan mereka terluka karena keegoisanmu," Dave memandang ke arah Leo dengan tetap berusaha tenang.
"Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu Leo? Kamu menuduhku tidak bertanggung jawab, egois, sedang kamu tidak pernah mendengarkan penjelasanku. Aku selalu katakan aku tidak memiliki hubungan lebih dari teman dengan Hana. Kejadian hari itu bukan aku yang memulai, bahkan sejak hari itu dengan terang-terangan aku berusaha menjaga jarak dengan Hana supaya tidak ada lagi salah paham. Apa kamu sengaja tidak mau mendengarkan penjelasanku karena kamu begitu takut menghadapi kenyataan kalau perasaanmu ke Laurel hanya bertepuk sebelah tangan?" Leo menarik nafas panjang mendengar perkataan Dave.
"Aku tahu tidak seharusnya memiliki perasaan suka terhadap Laurel, tapi seperti dirimu sendiri alami, kamu tidak bisa memilih kepada siapa kamu jatuh cinta. Aku tidak pernah berharap harus bersaing denganmu dalam hal percintaan. Aku tidak akan mengorbankan persahabatan kita karena seorang gadis, apalagi dia jelas-jelas adalah istrimu, tapi jika pada akhirnya kamu membuat dia menangis dan terluka, apalagi saat dia akhirnya memutuskan untuk tetap pergi darimu, saat itu aku tidak akan menyerah. Aku katakan ini sejak awal, karena aku tidak mau menjadi seorang pengecut yang bersembunyi terhadap perasaanku sendiri," Dave sedikit tersentak mendengar perkataan Leo.
"Apa dia pernah menangis di depanmu? Karena apa dia menangis?" Dave bangkit dari duduknya, membuat Leo yang berdiri di depannya hanya bisa tersenyum dengan sedikit sinis.
"Daripada kamu sibuk memikirkan tentang itu lebih baik kamu segera memikirkan cara untuk segera membuatnya dengan rela terikat padamu. Kamu tahu bukan cuma aku satu-satunya pria yang dibuatnya jatuh hati dan ingin mengikatnya," Setelah mengatakan itu Leo membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan Dave.
__ADS_1
Dave sedikit mengepalkan tangannya mendengar perkataan Leo. Dia tahu banyak laki-laki yang berusaha memperebutkan hati Laurel, karena alasan itu juga Dave sengaja membuat Laurel beberapa hari ini makan siang bersamanya agar semakin sedikit kesempatan bagi yang lain untuk mendekatinya, apalagi sebentar lagi dia harus meninggalkan Indonesia untuk beberapa hari, artinya untuk sementara waktu dia juga harus meninggalkan Laurel.
Aku harus menyatakan perasaanku sebelum aku pergi ke Irlandia agar aku bisa pergi dengan tenang, Dave berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, diam-diam dia sedikit menggigil, membayangkan bagaimana reaksi Laurel dengan pernyataan cintanya, apakah gadis itu akan menerimanya? Atau apakah dia akan memutuskan untuk kembali meninggalkannya seperti 7 tahun yang lalu? Membayangkan itu Dave hanya bisa memejamkan matanya, rasa sakit 7 tahun lalu kembali terbayang di pikirannya, menusuk dan menimbulkan rasa nyeri di hatinya.
# # # # #
Untuk: Cintaku Dewi Parwati. Beribu tahun aku menanti kedatanganmu di sisiku, kenapa begitu lama engkau tetap berdiam di tempatmu? Tidak adakah rasa rindu yang tersisa di hatimu untukku? Apakah aku harus memaksamu untuk datang ke sisiku? Dari: Siwa belahan jiwamu.
Laurel menarik nafas panjang, sudah lebih dari seminggu sejak acara pindah rumahnya dan setangkai tulip merah disertai sebuah kartu ucapan setiap pagi dikirimkan ke rumahnya, bahkan semakin hari Laurel semakin merasa kata-kata di kartu ucapan itu semakin memojokkannya, seolah dia sudah melakukan kesalahan kepada pengirim kartu itu.
"Non," Mendengar panggilan dari Bi Umi, Laurel menoleh ke arah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, melihat ke arah Bi Umi yang berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka tersebut.
"Non, kata Non Freya, nanti malam non Freya mau mampir kesini, apa Bi Umi perlu menyiapkan sesuatu untuk Non Freya?" Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Bi Umi.
"Ehm, bibi buatkan saja lemper (Lemper adalah penganan yang terbuat dari ketan yang biasanya berisi abon atau cincangan daging ayam yang sudah dibumbui dengan rempah-rempah, dan dibungkus dengan daun pisang. Penganan ini terkenal di seluruh Indonesia sebagai pengganjal perut sebelum memasuki tahap makan besar) dan kue lumpur (Kue lumpur adalah penganan ringan dengan bahan utama santan, kentang, tepung terigu, dan telur. Sebagai pewangi digunakan vanili dan seringkali diberi hiasan kismis, irisan nangka atau kelapa muda iris di bagian atasnya) untuk Freya," Bi Umi langsung mengangguk mendengar perintah dari Laurel, membuat Laurel tersenyum karena merasa beruntung memiliki asisten rumah tangga seperti Bi Umi yang benar-benar jago memasak.
"Baik non,"
"Eh, bi, minta tolong siapkan ayam bakar dan sup tom yam (tom yam adalah sup yang berasal dari Thailand. Sup ini merupakan salah satu makanan Thailand yang terkenal. Di Thailand, tom yum biasanya dibuat dengan udang, ayam, ikan, jamur atau makanan laut yang dicampur rasanya bercampur antara asam, manis, asin, sedikit pedas karena cabe membuat sup tom yam terasa segar) yang tadi pagi aku masak untuk aku bawa ya,"
__ADS_1
"Ya non," Bi Umi buru-buru mengangguk dengan wajah tersenyum. Tadi pagi majikannya sengaja bangun lebih pagi dari biasanya dan sibuk memasak ayam bakar dan sup tom yam, ketika Bi Umi menanyakan tumben pagi-pagi Laurel sibuk memasak bukan di hari liburnya, Laurel mengatakan mau membawanya ke rumah sakit untuk makan siang bersama bosnya, karena bagaimanapun dia merasa tidak enak jika beberapa hari ini bosnya mengajaknya makan siang sedang dia tidak pernah membawa apa-apa sebagai balasannya, apalagi sesuai perjanjian hari ini adalah hari terakhir dia akan menemani Dave untuk makan siang sebelum besok Dave berangkat ke Irlandia, mengunjungi kantornya di sana.
"Terimakasih Bi," Laurel menggeletakkan bunga tulip dan kartu ucapan ke atas meja riasnya, setelah itu dia bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian kerjanya.
# # # # # # #
Dave melirik jam di tangannya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 12:15, tapi sosok Laurel belum muncul di kantornya. Dave baru saja membuka pintu kantornya untuk keluar mencari Laurel ketika Laurel berdiri di depan pintu kantor Dave bersiap mengetuk pintu ruangan tersebut, membuat tubuh mereka saling bertabrakan dengan tangan kanan Laurel yang hendak mengetuk pintu menempel pada dada bidang Dave. Begitu Dave melihat sosok Lusiana dan Nia dari kejauhan dengan cepat Dave menarik tubuh Laurel ke dalam kantornya dan segera menutup pintu kantornya, membuat untuk beberapa saat tubuh mereka saling berdekatan, dan begitu sadar Laurel langsung bergerak mundur menjauh dari tubuh Dave.
"Maaf Dave," Dave tersenyum mendengar permintaan maaf dari Laurel.
"Aku yang harusnya meminta maaf padamu, aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman jika teman-temanmu tahu siang ini kamu ke kantorku lagi, aku tidak mau kamu dijadikan bahan gosip para pegawai rumah sakit ini," Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave, karena Laurel merasa itu alasan yang dibuat-buat oleh Dave, karena hari ini tidak seperti biasanya, bagi Laurel siang ini Dave terlihat gugup, lagipula jika gosip itu begitu mempengaruhinya harusnya dia menghentikan tindakannya untuk mengajaknya makan siang bersama, tapi pada kenyataannya sejak gosip-gosip itu merebak beberapa hari lalu, Dave tetap mengajaknya makan siang, seolah tidak mendengar apa kata orang tentang mereka.
"Apa itu artinya untuk siang ini aku boleh tidak makan siang disini?" Mata Dave sedikit melotot mendengar pertanyaan Laurel.
"Tidak," Laurel tersenyum mendengar jawaban Dave walaupun dengan suara lembut tapi terdengar begitu tegas. Entah kenapa beberapa hari ini dia mulai terbiasa menghabiskan waktu istirahatnya dengan makan siang bersama Dave.
Melihat Dave begitu lahap menghabiskan makan siang di hadapannya menjadikan hiburan tersendiri bagi Laurel. Kalau boleh jujur waktu hampir satu jam bersama Dave, mereka berdua tidak banyak bicara, lebih banyak berdiam diri sambil menikmati makan siang mereka dalam diam, kalaupun mereka mengobrol yang mereka bahas lebih banyak tentang kasus-kasus pasien di rumah sakit. Tetapi melihat wajah tenang Dave dan cara dia begitu menikmati makan siangnya sambil mereka membicarakan tentang kondisi rumah sakit, dan sesekali Dave tersenyum saat berbagi ilmu tentang kedokteran yang didapatnya selama ini membuat Laurel seringkali merasa nyaman melihat wajah bahagia Dave.
"Kenapa kamu terlambat datang kesini?" Mendengar pertanyaan Dave, Laurel sedikit menarik nafas panjang, teringat tentang kejadian di kliniknya sebelum dia datang ke ruangan Dave.
__ADS_1