
Laurel memandang lurus ke depan, sejak Dave diperkenalkan oleh pihak yang mengadakan Medical Leadership sebagai salah seorang yang membawakan materi pelatihan, mata Laurel begitu terfokus pada Dave. Melihat sosok Dave yang begitu tampan dan berkharisma saat membawakan materi pelatihan, membuat Laurel mau tidak mau mengakui bahwa sosok Dave begitu tampak mengagumkan.
Dengan mengenakan setelan jas bewarna biru tua dan kemeja putih di bagian dalamnya, dilengkapi dengan dasi bewarna senada dengan setelan jasnya, membuat Dave benar-benar terlihat mempesona, apalagi dengan sikap percaya dirinya dan bagaimana dengan fasih dia membagikan materi pagi ini, menunjukkan bahwa dia merupakan seorang laki-laki yag hebat dalam bidang kepemimpinan.
Melihat sosok menawan Dave dari jauh sudah cukup membuat dada Laurel berdebar-debar, apalagi jika mengingat kejadian di perkebunan apel beberapa hari yang lalu.
Laurel menahan nafasnya sebentar, tidak heran jika Dave diundang sebagai salah seorang yang membagikan materi pelatihan hari ini. Dengan kesuksesannya membawa rumah sakit Anugrah Indonesia menjadi rumah sakit terbesar dan termodern di negara ini, sekaligus posisinya sebagai BOD dari Shaw Corporation, kemampuannya dalam bidang kepemimpinan dan managemen tidak perlu diragukan lagi.
Bahkan saat baru pertama kali Dave memasuki ruangan, Laurel dapat mendengar beberapa peserta wanita saling berbisik menyatakan kekaguman dan pujian kepada Dave, termasuk seorang gadis yang duduk di depannya dan Lusiana sekarang. Dari awal gadis di depannya begitu sibuk mengambil foto Dave dan ribut membicarakan tentang Dave dengan teman yang duduk di sebelahnya, membuat konsentrasi beberapa orang terganggu, terutama Laurel dan Lusiana yang duduk tepat di belakangnya.
Lusiana sudah hampir saja menegur gadis itu, tapi Laurel buru-buru mencegahnya, agar tidak menimbulkan keributan. Setelah Dave selesai membawakan materinya, acara dilanjutkan dengan coffee break (istirahat sejenak untuk memberikan kesempatan para peserta pelatihan untuk menikmati kopi, teh dan makanan ringan yang biasanya berupa roti manis, roti isi atau jajanan basah, juga memberi kesempatan untuk orang pergi ke kamar kecil) selama 15 menit.
Laurel dan Lusiana baru saja menikmati teh hangatnya ketika Dave mendekat ke arah mereka berdua, dan langsung mengarahkan bibirnya ke telinga Laurel.
“Persiapkan diri kalian nanti sore setelah acara selesai, aku akan mengajak kalian bersantai di salah satu tempat wisata yang terkenal di kota ini,” Laurel tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya mendengar apa yang baru dibisikkan Dave ke telinganya.
“Permisi dokter Dave,” Dave baru saja hendak mengucapkan kata-kata yang lain kepada Laurel ketika seseorang memanggilnya.
“Iya,” Dave menggerakkan sedikit tubuhnya untuk melihat orang yang barusan menyapanya.
“Maaf, dokter Yosua ingin bertemu dengan dokter Dave, ada beberapa materi yang ingin beliau diskusikan dengan dokter Dave,” Dave mengangguk mendengar permintaan dari salah satu panita pelatihan.
“Ok, saya akan segera menemui dokter Yosua,” Sebelum Dave pergi, dia kembali mendekat ke arah Laurel.
“Sampai ketemu nanti sore di lobi (Lobi adalah ruang teras di dekat pintu masuk bangunan yang biasanya dilengkapi dengan berbagai perangkat meja dan kursi, yang berfungsi sebagai ruang duduk atau ruang tunggu. Kata lobi digunakan pada tahun 1640 yang berarti ruangan masuk yang besar dalam gedung umum) hotel ya,” Dengan lembut Dave menepuk bahu Laurel yang langsung menganggukkan kepalanya, dan berjalan mengikuti panitia yang baru menemuinya barusan, menyampaikan pesan dari dokter Yosua yang ingin menemuinya.
__ADS_1
Setelah Dave pergi menjauh, gadis yang tadi duduk tepat di depan Laurel dan selalu ribut selama Dave membawakan materinya mendekat ke arah Laurel dan Lusiana.
“Selamat siang, kalian dan dokter Dave berasal dari rumah sakit yang sama ya?” Mendengar pertanyaan gadis itu Laurel langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, sedang Lusiana bersikap sedikit tidak perduli, karena masih ingat bagaimana dia terganggu dengan sikap gadis yang tadi duduk di depannya itu.
“Iya, kami bekerja di rumah sakit Anugrah Indonesia tempat dokter Dave,” Mata gadis itu terlihat sedikit terbeliak dengan bibir sedikit terbuka karena senang mendengar penjelasan Laurel.
“Kalian di rumah sakit cabang atau rumah sakit pusat tempat dokter Dave bekerja sebagai pimpinan rumah sakit?”
“Di pusat,” Lusiana menjawab singkat, berharap gadis itu segera mengakhiri pembicaraannya tentang Dave, karena membuatnya tidak nyaman melihat bagaimana gadis itu sepertinya tergila-gila dengan Dave.
“Sudah berapa kali aku melamar kerja di sana tapi belum ada panggilan, apa kalian bisa memberitahukan padaku nomor kontak dokter Dave? Sudah lama aku mengagumi dokter Dave, yang selain menjadi pimpinan rumah sakit yang besar, dia juga salah satu pewaris dari Shaw Corporation, benar begitu kan?” Mata gadis itu terlihat begitu berbinar-binar saat membicarakan Dave, membuat Lusiana semakin tidak nyaman.
“Kalau kamu diterima di rumah sakit Anugrah Indonesia, memang apa yang ingin kamu lakukan?” Wajah gadis itu tiba-tiba saja memerah mendengar pertanyaan Lusiana.
“Sepertinya kamu salah info, dokter Dave sudah menikah. Maaf, aku dan temanku akan kembali ke kursi kami,” Setelah memberi penjelasan kepada gadis itu, Lusiana segera meletakkan gelah minumannya dan menarik tangan Laurel kembali ke tempat duduk mereka.
“Eh, kenapa kamu memberitahu kalau bos sudah menikah?” Lusiana memajukan bibirnya sambil menghela nafasnya.
“Memang sudah menikah kan? Apa perlu aku beritahu sekalian istrinya juga ikut pelatihan ini juga? Aku cukup tergangggu dengan sikapnya yang terlalu berlebihan dan membuat ribut, semoga setelah ini dia tidak lagi ribut selama pelatihan,” Laurel hanya bisa menarik nafas panjang mendengar perkataan Lusiana.
# # # # # # #
Dave tersenyum melihat sosok Laurel dan Lusiana yang berjalan mendekat ke arahnya yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada lobi hotel. Dari arah lain nampak seorang laki-laki yang berjalan mendekat ke arah Dave. Salah satu dari dua laki-laki yang kemarin menjemput mereka di bandara.
“Terimakasih,” Begitu laki-laki yang baru datang itu membungkukkan tubuhnya dan menyodorkan sebuah kunci mobil ke arah Dave, Dave langsung mengucapkan terima kasih dan langsung bangkit dari duduknya, menunggu Laurel dan Lusiana mendekat.
__ADS_1
“Kalian sudah siap? Ayo kita berangkat,” Dave langsung berjalan keluar dari gedung hotel, dan membuka pintu mobil yang sudah terparkir di depan lobi hotel, diikuti Laurel dan Lusiana.
Begitu Laurel duduk di sampingnya, Dave menyodorkan sebuah tas plastik ke arahnya.
“Apa ini?” Laurel langsung tersenyum begitu melihat apa yang ada di dalam tas plastik itu, minuman kunyit asam sebanyak 3 botol.
“Kemarin malam petugas hotel hanya bisa mendapatkan satu botol, hari ini aku sengaja meminta anak buahku yang bekerja di rumah sakit Anugrah Indonesia yang ada di kota ini untuk mencarikan lagi untukmu. Bagaimana kondisimu sore ini?” Laurel tersenyum mendengar penjelasan Dave.
“Aku sudah jauh lebih baik, terimakasih buat obatnya,” Dave tersenyum mendengar jawaban Laurel, diliriknya spion, melihat Lusiana yang tampak pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka dan pura-pura tidak ada di antara mereka, membuat Dave sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya.
“Dokter Lusiana, bagaimana menurutmu pelatihan hari ini?” Lusiana sedikit tersentak mendengar pertanyaan dari Dave yang tidak disangka-sangkanya.
“Bagus bos, banyak menambah pengetahuan, terutama materi dari bos, gadis yang duduk di sebelah saya sampai tidak berkedip saat bos yang membawakan materinya,” Mendengar perkataan Lusiana, Laurel langsung menoleh ke arahnya sambil melotot.
“O, ya? Menurutmu dia tidak berkedip karena isi materinya atau yang membawakan materinya?” Lusiana langsung tersenyum geli mendengar Dave yang justru melanjutkan pembicaraan mereka yang jelas-jelas ditujukan untuk menggoda Laurel.
“Materinya bagus bos, tapi saya rasa yang membawakan materinya yang membuat teman saya tidak berkedip,”
“Begitukah?”
“Iya bos, sepertinya yang membawakan materi mengingatkan teman saya tentang seorang laki-laki yang istimewa buatnya,” Tawa Dave langsung meledak mendengar kata-kata Lusiana, apalagi melihat wajah Laurel yang merah padam mendengar pembicaraan mereka yang terus menerus ditujukan untuk menyindirnya.
“Katakan pada temanmu, dia bisa meminta tanda tanganku kalau memang begitu tertarik padaku, aku bahkan tidak keberatan kalau dia memintaku untuk berfoto dengannya sebagai kenang-kenangan acara pelatihan,” Lusiana langsung terkikik mendengar kata-kata Dave, dan tanpa menanggapi apa yang mereka bicarakan, Laurel mengambil earphone dari dalam tasnya, menancapkan ke handphonenya dan langsung memasangkan ke telinganya, memilih untuk mendengarkan musik, membuat Dave dan Lusiana semakin geli melihatnya.
happy reading, jangan lupa komen, vote, like, rate, follow, tetap setia ya menantikan kelanjutan novelku, semoga para reader gak bosen
__ADS_1