
Laurel tersenyum dengan wajah bahagia melihat bagaimana Dave memakan dengan lahap makanan yang tersaji di depannya. Makanan yang sedari tadi sore sudah dia siapkan, bahkan Dave juga ikut membantu memasaknya. Senyum Laurel semakin mengembang mengingat bagaimana tadi dia sempat mengerjai Dave ketika membantunya memasak. Dengan sengaja Laurel mengoleskan jari-jarinya yang sedang dipenuhi tepung maizena (Tepung jagung, pati jagung, atau tepung maizena adalah pati yang didapatkan dari endosperma biji jagung. Tepung jagung merupakan bahan makanan populer yang biasa digunakan sebagai bahan pengental sup atau saus, dan digunakan untuk membuat sirup jagung dan pemanis lainnya) yang sudah dia gunakan untuk mengentalkan saus asam manis ke wajah Dave yang langsung tersentak kaget dan langsung mengambil sisa tepung yang ada di mangkok kecil di atas meja dan mengejar Laurel yang berusaha melarikan diri ke arah ruang keluarga.
Dengan gerakan cepat dan lincah Dave yang hendak meraih tubuh Laurel yang dipisahkan oleh sebuah kursi sofa panjang langsung melompati kursi tersebut dan meraih tubuh Laurel, memeluknya dengan erat, setelah itu tanpa ampun Dave meratakan tepung yang ada di tangannya ke seluruh wajah Laurel yang hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana Dave membalas perbuatannya sekaligus karena merasa geli.
"Sudah Dave..., sudah...," Mendengar suara manja Laurel memintanya untuk menghentikan tindakannya tidak serta merta membuat Dave berhenti, justru dia mengarahkan telapak tangannya yang penuh dengan tepung ke arah leher Laurel dan membiarkan leher Laurel dipenuhi oleh tepung.
Begitu Dave menghentikan tindakannya, Laurel hanya bisa melotot melihat bagimana lantai yang terlihat kotor karena ceceran tepung baru saja mereka buat untuk bercanda, sedang Dave hanya menggerakkan kedua bahunya dengan wajah tanpa rasa bersalah sama sekali, membuat Laurel hanya bisa tersenyum geli. Toh, dia sendiri yang sengaja memulai perang dengan Dave, membuatnya berjalan dengan cepat untuk mengambil peralatan untuk mengepel lantai ruang keluarga.
Begitu Laurel selesai mengepel lantai yang kotor oleh ceceran tepung, Dave langsung meraih tubuh Laurel, menggendongnya ala bridal style, membuat Laurel begitu kaget sehingga dia berusaha menggerak-gerakkan kedua kakinya agar Dave menurunkan tubuhnya.
"Dave, aku mau kamu bawa kemana?" Dave tersenyum sekilas, lalu diciumnya bibir Laurel dengan mesra, walaupun wajah Laurel masih dipenuhi oleh tepung maizena.
"Waktunya mandi Nyonya,"
"Dave..., lapar...," Dave tertawa kecil mendengar rengekan Laurel.
"Jangan mencari alasan untuk menghindar lagi mo cuisle, wajahmu sudah penuh dengan tepung. Bagaimana kamu bisa makan dengan wajah sekotor ini? Biar aku memandikanmu supaya bersih. Wajahmu sudah seperti badut saja," Mata Laurel melotot mendengar perkataan Dave yang memilih untuk tidak perduli dengan tanda-tndan penolakan dari Laurel, dengan langkah tegap Dave tetap menggendong Laurel menaiki tangga menuju kamar mandi yang ada di mereka.
Mengingat kejadian itu membuat Laurel hanya bisa tersenyum dengan wajah sedikit memerah, ingat bagaimana Dave bersikap begitu lembut sepanjang sore ini. Untuk waktu yang lama, mata Laurel tetap memandang ke arah wajah Dave dengan tatapan penuh cinta dan senyum bahagia di bibirnya. Menyadari ada yang mengamati dirinya sedari tadi, Dave mendongakkan kepalanya, menatap wajah Laurel yang duduk di sampingnya, yang sedang sibuk mengamatinya tanpa menyentuh makanan di piringnya sendiri.
"Apa begitu menyenangkan melihatku makan?" Laurel tertawa pelan mendengar pertanyaan Dave.
"Aku baru sadar, ternyata bukan hanya kamu yang merasa nafsu makanmu naik ketika aku menemanimu makan. Aku juga merasa ikut kenyang melihat cara makanmu yang menyenangkan seperti hari ini," Dave menghentikan makannya, dengan pelan dijitaknya kening Laurel dengan ruas jari telunjuknya.
"Aduh...," Laurel berteriak kecil sambil meringis mendapatkan jitakan dari Dave yang memandangnya degan mata sedikit melotot.
"Kamu ini, bagaimana bisa kamu bilang merasa kenyang tanpa makan. Bisa-bisanya kamu bilang itu sama dengan menaikkan nafsu makanmu," Dave meraih sendoknya, mengambil sesendok makanan dan mengarahkannya ke arah Laurel, dan dengan cepat Laurel membuka mulutnya untuk melahap makanan yang disodorkan oleh Dave, membuat Dave tersenyum.
__ADS_1
"Kamu selalu bilang aku manja, tapi sepertinya kamu sudah mulai tertular sifat manjaku," Laurel tersenyum, dengan senyum di wajahnya diciumnya pipi Dave sekilas, membuat Dave tersenyum sambil kembali menyendok makanan untuk dia suapkan lagi ke arah Laurel.
"Sebentar lagi ulang tahun Leo, apa kamu sudah menerima undangan dari Leo?" Laurel langsung menggeleng untuk menjawab pertanyaan Dave.
"Apa rencananya mau dirayakan?" Laurel balik bertanya.
"Aku juga belum mendapatkan undangan dari Leo, tapi hari minggu sore kemarin Leo berkunjung ke restauran Evelyn, katanya dia menyewa restauran Evelyn untuk merayakan hari ulang tahunnya," Dave berkata sambil kembali menyuapkan sesendok makanan ke mulut Laurel.
"Pasti Evelyn senang sekali dokter Leo memutuskan untuk mengadakan perayaan ulang tahunnya di restaurannya. Semoga perasaan Evelyn tidak bertepuk sebelah tangan," Laurel berkata sambil tersenyum, sehingga tidak melihat wajah Dave yang sedikit berubah serius dengan mengernyitkan dahinya.
"Mo cuisle, apa benar kamu tidak tahu kalau Leo menyukai perempuan lain?" Laurel mengernyitkan alisnya dengan tetap mengunyah makan di mulutnya.
"Tidak, selama ini aku tahu dokter Leo dekat dengan banyak gadis karena dia orang yang ramah, tapi belum pernah melihat Leo dekat dengan gadis lebih dari sekedar teman atau anak buahnya, justru gadis yang terlihat dekat dengan Leo aku lihat hanya dokter Hana dan Evelyn. Dengan dokter Hana sepertinya dokter Leo hanya menganggapnya teman, tapi dengan Evelyn seperti kakak kepada adiknya, makanya aku tidak tahu siapa gadis yang dokter Leo sukai," Mendengar perkataan Laurel, Dave menggaruk alis dan keningnya dengan jari-jari tangan kanannya.
"Apa kamu akan percaya kalau aku bilang yang disukai oleh Leo bukan diantara mereka berdua? Lagian, kamu tidak bisa langsung menyimpulkan seseorang tidak menyukai seseorang hanya karena mereka tidak pernah terlihat bersama. Dia tipe laki-laki yang lebih senang mencintai dalam diam, apalagi jika jelas-jelas gadis itu bukan seorang gadis yang bisa dimilikinya," Laurel hanya bisa terdiam dengan wajah ikut bersimpati mendengar perkataan Dave.
Sebenarnya Dave tahu pasti dia tidak perlu cemburu dengan Leo melihat bagaimana Laurel yang dari sikap dan perbuatannya menunjukkan bahwa wanita itu begitu begitu mencintainya dengan sepenuh hati, dan Leo pun adalah laki-laki yang Dave yakin tidak akan pernah akan merebut Laurel darinya, namun rasanya bagi Dave masih begitu sulit untuk tidak bereaksi terhadap sikap Laurel yang bersimpati kepada Leo yang Dave tahu dengan jelas begitu menyukai Laurel, bahkan Dave bisa memastikan jika saja laki-laki yang harus bersaing dengan Leo bukan dirinya, belum tentu Leo akan menyerah dengan begitu mudah. Dave yang sudah mengenal Leo sejak kecil yakin Leo akan memperjuangkan Laurel bagaimanapun caranya jika Laurel bukan miliknya.
"Dokter Leo laki-laki yang baik, semoga dia bisa segera menemukan kebahagiaannya bersama gadis yang dicintai dan juga mencintainya," Dave mengelus lembut rambut Laurel dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya lagi-lagi menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Semoga doamu untuk Leo terkabul," Akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari bibir Dave. Sepertinya sampai kapanpun Dave tidak akan pernah memberitahu kepada Laurel tentang siapa sebenarnya wanita yang disukai oleh Leo. Rasanya itu akan tetap menjadi rahasia antara Dave dan Leo.
# # # # # # #
"Selamat malam Meria, bagaimana kondisimu?" Meria menoleh ke arah Laurel yang menyapanya dengan ramah, diliriknya Dave yang berada di belakang Laurel dan sedang berbicara dengan Mama Rosalia.
"Baik Kak Laurel, sudah lebih baik dibanding kemarin," Meria berkata sambil tersenyum manis ke arah Laurel yang mendekat ke arahnya dengan emmbawa sekeranjang buat dan meletakkannya di atas meja yang ada di dekat tempat Meria terbaring.
__ADS_1
"Apa kata dokter tentang penyakitmu Meria?" Laurel mengamati wajah Meria yang terlihat masih dipenuhi dengan senyum manis, membuat Laurel sedikit merasa bersalah pernah merasa begitu cemburu dengan gadis lembut yang terlihat lemah di hadapannya.
"Ehmmm, Tante Ros yang membawa hasil pemeriksaan kesehatanku Kak," mendengar jawaban Meria Laurel menoleh ke arah Dave dan Mama Rosalia yang sepertinya sedang sibuk berbicara sambil Dave mengamati lembaran kertas yang terlihat dia pegang di tangan kirinya, dengan tangan kanannya membuka satu persatu berkas di tangannya.
Setelah beberapa lama Dave membaca dan mengamati hasil pemeriksaan Meria dengan wajah yang terlihat tegang dan sesekali mengernyitkan dahinya tanda dia sedang berpikir keras saat membaca laporan di tangannya, akhirnya Dave berjalan mendekat ke arah Meria, kemudian meletakkan berkas hasil pemeriksaan kesehatan Meria di atas meja di samping Meria.
"Bagaimana kondisimu hari ini Mer? Maaf aku dan Kak Laurel baru sempat mengunjungimu hari ini. Beberapa hari ini kami di rumah sakit sedang sibuk," Meria tersenyum lembut ke arah Dave begitu mendengar suara Dave menyapanya.
"Sudah lebih baik Kak Dave," Dave menghela nafasnya tanpa senyum di wajahnya mendengar jawaban dari Meria, justru wajahnya terlihat begitu cemas, membuat Laurel sedikit mengernyitkan dahinya mencoba menebak apa yang sudah terjadi.
"Mer, apa tidak lebih baik kamu pindah ke rumah sakit Anugrah Indonesia agar aku bisa lebih membantumu merawat dan mengobati penyakitmu?" Meria tersenyum mendengar penawaran Dave, apalagi melihat aura khawatir di wajah Dave yang terlihat jelas bahkan bagi Laurel.
Mana mungkin aku pergi ke rumah sakit Kak Dave dan membiarkan kalian semua tahu aku berbohong tentang penyakitku? Meria hanya menanggapi permintaan Dave dengan tersenyum.
"Maaf Kak Dave, aku pikir awalnya hanya ingin periksa ke rumah sakit ini karena dekat dengan rumah besar, tapi akhirnya justru karena penyakitku aku harus tertahan di sini," Meria berkata dengan mata sedikit memerah, membuat Dave menghela nafasnya.
"Kak Laurel, bisakah aku meminta ijin untuk berbicara berdua dengan Kak Dave?" Laurel sedikit tersentak kaget mendengar permintaan dari Meria yang menurutnya sedikit tidak sopan, tapi melihat wajah khawatir Dave sambil memandangi sosok Meria, membuat Laurel mengangguk pelan.
Laurel, kamu harus percaya kepada Dave. Laurel berkata kepada dirinya sendiri dalam hati sambil sedikit menahan nafasnya.
Dave begitu mencintaiku, aku akan percaya bahwa dia tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang aku berikan padanya, Laurel kembali berkata dalam hati dan menggerakkan tubuhnya untuk menjauhi mereka berdua, berjalan keluar dari ruangan diikuti oleh Mama Rosalia, dan dengan pelan Laurel menutup pintu kamar tempat Meria menjalani rawat inap.
"Laurel...,"
"Ya ma," Laurel langsung menoleh ke arah mertuanya mendengar namanya disebut. Dengan lembut Mama Rosalia mengelus punggung Laurel yang terlihat menjadi pendiam sejak Meria mengatakan ingin berbicara berdua dengan Dave.
"Jangan khawatir, Meria memang menyukai Dave, tapi kita semua tahu Dave begitu mencintaimu. Meria juga tahu Dave sudah menikah denganmu. Meria gadis yang baik dan lembut, dia pasti tidak akan menjadi seorang perusak rumah tangga orang lain. Mungkin dia hanya ingin berkonsultasi dengan Dave tentang penyakitnya, karena dua tahun lalu saat Meria menjalani operasi tumor otak di kepalanya Dave dan Leo juga yang membantu Meria," Laurel mencoba memaksakan senyum di bibirnya, entah kenapa walaupun Mama Rosalia sudah menjelaskan tentang Meria hatinya merasa tetap tidak tenang.
__ADS_1
Kalau hanya ingin membicarakan hasil pemeriksaan kenapa harus berbicara berdua, lagipula Meria jelas-jelas tahu ada aku adalah istri Dave yang datang bersama Dave, bisa-bisanya dia memintaku pergi saat dia ingin berbicara dengan suamiku. Sudahlah Laurel, tenangkan dirimu sendiri, jangan membuat dirimu sendiri tertekan. Aku mempercayaimu Dave, Laurel berkata dalam hati sambil mencoba menenangkan dadanya yang tiba-tiba terasa sedikit sesak.