CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

"Selamat malam bos, terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang kesini," Begitu Dave sampai di depannya, Laurel menyambutnya dengan ucapan selamat datang dengan sedikit menganggukkan kepalanya. Leo yang berdiri di samping Dave tersenyum melihat Laurel yang tampak begitu cantik malam ini, diliriknya sekilas wajah Dave yang sepertinya malam ini tidak bisa lagi menutupi tatapan matanya yang terpesona memandang gadis yang ada di depannya.


"Selamat ya atas rumah barunya, ini kado dari kami," Leo mengulurkan tiga buah kotak kado yang terbungkus rapi, kemungkinan kado-kado itu dari Hana, Leo dan Dave, karena melihat Leo menyerahkan kado-kado itu Arman langsung menyodorkan sebuah tas plastik kecil ke arah Laurel.


"Ini kado titipan dari istriku. Harusnya hari ini aku membawa istriku, karena dia suka sekali dengan pesta kebun," Laurel tersenyum mendengar perkataan Arman dan menerima kado darinya, setelah itu meletakkannya di atas meja di dekatnya bersama dengan kado-kado yang lain. Arman terlihat memandangi sekelilingnya dengan pandangan takjub mengamati rumah yang akan ditempati Laurel.


"Rumah barumu besar sekali, pasti yang pemilik sebelumnya menjual kepadamu dengan harga murah karena sedang terlilit hutang," Mendengar kata-kata Arman yang terdengar seperti sebuah sindiran Laurel sedikit tersentak, tapi dia tetap berusaha tersenyum, sedang Leo langsung menoleh ke arah Arman.


"Wah, analisamu mantap sekali dokter Arman, tapi sepertinya bukan karena itu, mungkin karena rumah ini angker," Leo berkata sambil tersenyum dengan telapak tangan kirinya dia tempelkan ke bahu Arman.


"Apa betul? kalau begitu kamu harus hati-hati Laurel, ada baiknya kamu cepat jual kembali rumah ini, rugi-rugi sedikit tidak apa-apa, lepas saja daripada tidak laku," Arman memandangi ke sekililing rumah itu lagi, seolah-olah sedang mengamat-amati apakah benar rumah mewah ini adalah rumah angker.


"Solusimu salah dokter Arman, solusi terbaik adalah secepatnya dokter Laurel harus menikah supaya ada yang menemaninya tinggal di rumah ini," Dokter Leo menepuk-nepuk bahu Arman sebelum akhirnya dia mengerlingkan matanya ke arah Laurel.


"Hmmm, bau masakannya begitu menggoda, boleh aku langsung kesana?" Leo berkata sambil memandang ke arah Laurel meminta ijin untuk ke meja yang penuh berisi makanan di belakang Laurel berdiri.


"Oo, Iya, silahkan dokter Leo," Laurel tersenyum sambil menggerakkan tangannya ke arah meja di belakangnya.


"Hei, temani aku menyapa teman-teman yang lain," Leo melirik ke arah Hana sambil menggerakkan kepalanya ke samping sebagai tanda mengajak Hana bersamanya untuk bergabung dengan yang lain. Hana melirik sekilas ke arah Dave yang jelas-jelas matanya menatap lurus ke arah Laurel sedari tadi, namun akhirnya Hana hanya bisa mengikuti Leo untuk berjalan mendekat ke arah yang lain, karena bagaimanapun selain Dave, Leo juga merupakan pemimpinnya di rumah sakit, akan terlihat tidak sopan jika dia menolak ajakan Leo.


"Eh, kami akan ke tempat yang lainnya dulu," Melihat Leo dan Hana meninggalkan Dave yang masih berdiri di hadapan Laurel, Lusiana dan Nia langsung menarik tangan Feri dan lainnya mengajak mereka ke arah meja yang dipenuhi makanan. Tanpa sepengetahuan Laurel, Lusiana dan Nia beberapa hari lalu sempat melihat saat kejadian Dave menarik tangan Laurel dan mengajaknya untuk memasuki kantornya dan mereka menduga pasti ada sesuatu yang terjadi antara Dave dan Laurel, apalagi setelah kejadian itu Lusiana dan Nia mengamati kalau sikap Dave dan Laurel terlihat sedikit canggung jika bertemu.


"Emm, selamat atas rumah barunya," Dave sedikit menahan nafasnya, sedikit mengutuki dirinya sendiri karena rasanya hari ini dia merasakan suaranya sedikit gugup, entah apakah karena hari ini dia melihat sosok Laurel yang terlihat begitu cantik atau karena beberapa hari ini mereka tidak saling bicara dan hari ini dia memiliki kesempatan untuk mendengar suara Laurel lagi.


"Terimakasih bos, selamat menikmati makanan yang ada, semoga tidak mengecewakan," Dave melirik ke arah meja yang penuh dengan makanan di belakang Laurel yang sudah mulai dikerubungi oleh para tamu undangan.

__ADS_1


"Semoga kamu kerasan di rumah barumu," Laurel tersenyum dengan sedikit geli, karena ucapan Dave barusan, karena bagaimanapun dia pasti kerasan karena rumah ini adalah rumah masa kecilnya bersama papa mama nya dan juga Freya, dimana di setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan indah masa-masa bahagia bersama keluarganya sampai pengkhianatan pamannya menghancurkan kehidupan mereka.


"Eh, maaf bos, saya bukannya menertawakan kata-kata bos barusan," Laurel buru- buru sadar bahwa saat ini yang ada di hadapnya adalah Dave, yang tidak mungkin mengetahui apapun tentang sejarah rumah ini dan sejarah kehidupan keluarganya yang dulu cukup kaya raya dan harus terpuruk karena sebuah pengkhianatan. Dave tersenyum tipis mendengar kata-kata Laurel, membuat Laurel terdiam sesaat, terkesima melihat wajah di depannya yang rasanya baru pertama kali ini tersenyum dengan begitu manis padanya.


"Eh..., emmm..., bos, sudah malam, silahkan menikmati hidangan yang ada," Laurel buru-buru mengarahkan Dave untuk mulai menikmati makanan yang ada untuk menghilangkan kegugupannya barusan.


# # # # # # #


"Ayolah, jangan malu-malu, biasanya kamu yang paling semangat untuk makan," Lusiana menarik lengan Feri, mengajaknya kembali ke meja makan, Laurel yang berdiri di sebelah Arnold hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka berdua, di seberang meja Dave yang berdiri di sebelah Leo tersenyum sambil meneguk minuman di dalam gelas yang ada di tangannya sambil matanya menatap lurus ke depan, memandang ke arah Laurel yagn sedari tadi tertawa dengan ceria bersama rekan-rekan lainnya.


Hana yang berdiri tak jauh dari Dave hanya bisa menarik nafas panjang melihat arah tatapan Dave yang sepertinya tidak lepas dari Laurel. Walaupun malam ini Dave tidak berusaha mendekati Laurel maupun mengajaknya ngobrol, Hana bisa melihat bahwa tatapan mata Dave begitu sering terlihat mencuri-curi pandang ke arah Laurel, sesuatu yang Hana tahu belum pernah dilakukan oleh Dave kepada gadis lain, termasuk dirinya.


"Malam Laurel," Laurel langsung membalikkan tubuhnya mendengar suara sapaan dari seseorang dari arah belakangnya yang terdengar berat. Laurel tersenyum walaupun dia terlihat bingung melihat sosok seorang pemuda tampan dan seorang wanita paruh baya yang tampak modis yang baru saja datang, rasanya dia tidak mengenal laki-laki yang sekarang ada di hadapannya dan membawa seikat bunga segar yang langsung disodorkan ke arah Laurel yang hanya bisa menerimanya dengan wajah bingung.


"Laurel, kenalkan, ini Tante Lia, sahabat mama sejak masih sama-sama gadis, ini Dicky, kalian sempat bertemu beberapa kali saat kalian masih kecil dan terakhir di pemakaman papa," Laurel tersenyum menyambut uluran tangan Dicky, yang setelah menjabat tangan Laurel menyerahkan sebuah kado.


"Selamat atas rumah barunya," Laurel mengangguk sambil tersenyum kembali ke arah Dicky, ditatapnya wajah tampan di didepannya, entah kenapa, Laurel sedikit merasa bulu kuduknya berdiri melihat tatapan tajam mata hitam di depannya. Walaupun Dave sering menatapnya dengan dingin dan tajam tapi belum pernah Laurel merasakan bulu kuduknya merinding akibat tatapannya. Laki-laki yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat sangat tampan, tapi di satu sisi juga menakutkan dan entah karena apa Laurel merasa begitu tidak nyaman berada di dekat laki-laki itu, padahal Laurel tidak mengenal laki-laki ini dan Laurel merasa sedikit heran mengingat tadi laki-laki itu menyebutkan namanya seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama, sedangkan dia sendiri merasa belum pernah bertemu dengannya, dan kalaupun pernah rasanya Laurel tidak ingat sama sekali tentang laki-laki itu.


"Terimakasih sudah mau mampir kemari," Denia menarik lengan Tante Lia yang juga langsung menarik tangan Dicky untuk mendekat ke arah meja yang berisi makanan. Dicky berjalan mengikuti langkah-langkah mamanya dengan mata yang terus menatap ke arah Laurel, bahkan membuat dia berjalan dengan kepala menoleh ke belakang untuk bisa terus menatap sosok Laurel.


"Laurel," Laurel yang sedang melamun memikirkan tentang siapa Dicky sedikit tersentak ketika Arnold menyapanya, dan ketika Laurel menoleh Arnold sudah berdiri disampingnya.


"Eh, iya, kenapa Arnold?"


"Hmm...," Laurel mengernyitkan alisnya mendengar Arnold yang hanya bergumam tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya, sedang Arnold setelah bergumam menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tidak gatal, hanya untuk menutupi kegugupannya.

__ADS_1


"Sempatkan waktumu besok untuk makan malam bersamaku," Laurel mengernyitkan dahinya mendengar undangan dari Arnold.


"Ada acara apa?"


"Besok hari ulang tahunku," Arnold menjawab dengan senyum malu-malu di wajahnya.


"O, ya? Ok, ok, aku akan datang, Lusiana, Nia, Feri dan Roy akan datang juga kan?" Arnold sedikit tersentak mendengar pertanyaan dari Laurel.


"Emmm...,iya.., iya, mereka juga datang, pasti datang," Arnold buru-buru menjawab pertanyaan Laurel, membuat Laurel tersenyum lega, karena dia juga tidak mengharapkan untuk makan malam berdua dengan Arnold.


"Ok, besok pagi-pagi aku akan info tempat dan jamnya ya," Laurel tersenyum sambil mengangguk.


"Eh, sebentar, aku harus pergi sebentar," Laurel berjalan memasuki rumahnya, berjalan menuju ke kamarnya untuk mengisi baterai handphonenya yang dilihatnya sudah menunjukkan angka di bawah 10%. Begitu Laurel mendekati pintu kamarnya dilihatnya Dave yang sedang berdiri di depan pintu kamar Laurel yang tampak terbuka, dari posisi berdirinya dan tatapan matanya terlihat Dave sedang mengamati sesuatu yang ada di dalam kamar itu. Dengan perlahan Laurel berjalan mendekat ke arahnya dan berusaha melihat apa yang sedang diamati oleh Dave di dalam kamarnya yang terbuka.


"Bos?" Dave tersentak kaget mendengar suara Laurel yang memanggilnya, dengan buru-buru Dave mengalihkan pandangan matanya dari foto Laurel dalam balutan gaun pernikahannya yang terpasang di atas sandaran tempat tidur.


"Eh, kakak!" Sebelum Laurel bertanya lebih lanjut dan Dave sadar dari kagetnya tampak Freya keluar dari kamar Laurel dengan membawa sebuah kotak yang biasanya digunakan oleh Freya untuk menyimpan perlengkapan make up nya dan buru-buru ditutupnya pintu kamar Laurel.


"Maaf kak, tadi Kak Dave minta diantar ke kamar mandi, jadi aku antar ke kamar mandi di dekat ruang keluarga, sekalian aku mampir mengambil alat-alat make up ku dari kamar kakak," Laurel mengerutkan keningnya, bukan karena Freya mengantarnya ke kamar mandi di dekat ruang keluarga, yang termasuk area pribadi rumah itu, tapi karena Freya memanggil Dave dengan sebutan Kak Dave.


"Aku yang memintanya memanggilku dengan sebutan Kakak, dia bukan anak buahku, mana mungkin dia memanggilku bos?" Seolah-olah bisa membaca pikiran Laurel, Dave segera memberikan penjelasan kepada Laurel, membuat Laurel bukannya lega, tapi justru semakin bertanya-tanya, sejak kapan Dave dan Freya terlihat begitu akrab? Apakah tanpa disadarinya tadi saat di kebun mereka sudah saling berkenalan dan saling mengobrol?


 


 

__ADS_1


__ADS_2