CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
SESEORANG DARI MASA LALU


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kembali ke kota mereka, Laurel membiarkan Dave kembali menggenggam tangannya, sama seperti ketika mereka melakukan penerbangan berangkat ke kota X, hanya kali ini Laurel tidak tertidur seperti waktu itu, karena dalam pikirannya berkecamuk banyak hal sejak dia menerima pesan dari sebuah nomor telepon tidak dikenal dan mengaku sebagai Devan.


Ingatan Laurel tentang Devan kembali muncul di pikirannya karena pesan yang dia terima pagi tadi, dan itu cukup mengganggunya, karena bayangan tentang apa yang terjadi 7 tahun lalu bersama Devan kembali terbayang dengan jelas di otaknya, dan itu membuatnya teringat akan sakit yang dirasakannya akibat pengkhianatan Devan.


7 tahun lalu, dia begitu mengharapkan Devan membantunya lari dari pernikahannya, tapi justru di saat-saat dia benar-benar percaya Devan akan menolongnya, Devan yang sudah berjanji untuk membantunya tiba-tiba saja menghilang dan bukan hanya itu saja, menghilangnya Devan diikuti dengan tersebarnya berita tentang Devan dan pacar barunya yang berkebangsaan Inggris, yang sama-sama sedang menyelesaikan studinya di Australia. Setelah kejadian itu Laurel memilih untuk tidak aktif lagi di media sosial yang bisa menghubungkan dia dengan Devan.


Laurel menarik nafas dalam-dalam, mencoba menerka-nerka apa yang membuat Devan kembali ingin bertemu dengannya, bahkan mengatakan ingin mengatakan sesuatu tentang apa yang terjadi 7 tahun lalu. Laurel melirik ke arah Dave yang tampak menikmati perjalanannya sambil membaca buku, dengan tangan kiri Dave menggenggam erat tangan kanannya, dan menopangkan kedua tangan mereka yang saling menggenggam di atas sandaran kursi yang ada di antara kursi mereka berdua, dan kaki kanan Dave menyilang, bertumpu di atas kakinya yang lain.


Aku tidak perduli dengan apa yang terjadi 7 tahun lalu, karena itu tidak akan merubah kenyataan apapun tentang kamu mengingkari janji untuk membawaku ke Australia, kita tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah terjadi, tapi ada satu hal yang ingin aku ketahui, apa yang membuatmu begitu tega meninggalkanku tanpa pesan apapun. Jika saat itu kamu berterus terang kamu tidak sanggup untuk menolongku, aku tidak akan pernah memaksamu untuk membantuku. Saat itu kamu yang menawarkan pertolongan, bukan aku yang memintanya, Laurel berbisik dalam hati, rasanya saat ini hatinya terasa pedih, harus kembali mengingat betapa pengecutnya Devan saat itu.


Laurel menarik nafas dalam-dalam, berusaha mencegah air matanya untuk turun, diliriknya kembali Dave yang duduk di sampingnya, dan dengan perlahan Laurel menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Dave, berharap untuk mendapatkan ketenangan.


Begitu menyadari Laurel menyandarkan kepalanya ke bahu kirinya, Dave langsung menoleh, mengecup puncak kepala Laurel lembut dengan bibirnya, dan dengan tangan kanannya mengelus kepala Laurel, membuat Laurel hanya bisa menarik nafas melalui bibirnya yang sedikit terbuka sambil memejamkan matanya, mencoba menyingkirkan rasa sakit di dadanya mengingat tentang Devan.


# # # # # # #


Begitu turun dari pesawat, tangan kanan Dave segera menggenggam tangan kiri Laurel, dan tidak melepaskannya sampai mereka sampai di ruang tunggu para penjemput, membuat Lusiana yang berjalan di belakang mereka berdua hanya bisa menyunggingkan senyum di bibirnya.


Bukti nyata bahwa kalau dua orang sedang dimabuk cinta, dunia serasa milik berdua, yang lain hanya kontrak atau menumpang lewat. Nasibku, sepertinya aku hanya menjadi obat nyamuk berada diantara mereka berdua, Lusiana berbisik dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena geli melihat bagaimana Dave memperlakukan dan memanjakan Laurel selama 3 hari mereka bersama.

__ADS_1


“Eh, kalian tunggu sebentar di sini ya, aku mau ke toilet sebentar,” Dave berkata sambil melepaskan genggaman tangannya pada Laurel dan berjalan ke arah toilet.


Begitu sosok Dave menjauh dan kira-kira sudah tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, Lusiana langsung menyenggol bahu Laurel dengan menggunakan bahunya.


“So..., sweet…, kalian romantis sekali, membuat orang iri saja,” Pipi Laurel sedikit memerah mendengar godaan dari Lusiana.


“Kalau kamu mau, kamu juga bisa melakukan hal yang sama bersama Feri,” Laurel berkata sambil mencubit pipi Lusiana pelan dengan wajah gemas karena selalu menggodanya, bahkan jika mengingat Lusiana sempat menjebaknya bersama Dave kemarin malam, rasanya Laurel ingin mencubit Lusiana dengan sekeras-kerasnya.


“Sepertinya sebentar lagi akan keluar pengumuman resmi tentang hubungan mu dengan bos,” Laurel langsung tersenyum dengan wajah malu-malu mendengar perkataan Lusiana.


“Jangan bercanda Lus, aku belum siap untuk itu,” Lusiana mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan Laurel.


“Apalagi sih yang membuatmu ragu? Bos sudah menunjukkan bahwa dia benar-benar mencintaimu, kamu juga bilang kamu mencintai bos, kurang apalagi? Pengumuman itu akan efektif sekali untuk membungkam mulut-mulut penggosip sekaligus menghentikan tindakan orang-orang yang selama ini berusaha memojokkanmu,” Lusiana berkata dengan nada sedikit emosi karena mengingat bagaimana sikap dokter Arman kepada Laurel, belum lagi Hana yang sampai sekarang masih berusaha mendekati Dave dan selalu memandang sinis ke arah Laurel, dan beberapa pegawai rumah sakit lainnya yang terus terang menunjukkan sikap kurang senang dengan Laurel karena sejak kedatangannya seringkali Laurel menjadi pusat perhatian. Ketidak sukaan mereka bukan hanya karena kecantikan dan pesona Laurel, tapi karena keahliannya dalam menangani para pasien yang membuat beberapa orang iri, bahkan takut posisinya tergeser oleh Laurel yang boleh dibilang masih orang baru di rumah sakit itu.


“Apa kabar Laurel? Lama tidak bertemu,” Laurel terbeliak kaget melihat siapa yang baru saja menyapanya dan berdiri di hadapannya saat ini.


“Devan…,” Bibir Laurel menyebutkan nama Devan dengan suara pelan, hampir-hampir tidak terdengar. Mendengar Laurel menyebut nama Devan, mata Lusiana langsung mengamati laki-laki yang sekarang berdiri di depan Laurel dalam-dalam.


Nama Devan cukup dikenal oleh Lusiana karena Laurel pernah menceritakan tentang mantan kekasih pertamanya itu, sebelum menikah dengan Dave. Mantan kekasih Laurel yang pernah berjanji untuk menyelamatkannya dari rencana pernikahan yang tidak dia inginkan, tapi justru melarikan diri tanpa pesan apapun, bahkan meninggalkan Laurel yang saat itu masih terbaring di rumah sakit akibat tusukan dari orang yang tidak dikenal.

__ADS_1


Melihat sosok Devan yang sebenarnya merupakan seorang laki-laki tampan, Lusiana menarik nafas panjang, namun dalam hati Lusiana bersyukur saat itu Devan meninggalkan Laurel sehingga Dave bisa menikahi Laurel, karena bagi Lusiana, tidak ada yang lebih baik daripada sosok seorang Dave bagi Laurel, mengingat bagaimana selama ini Lusiana mengamati tentang Dave yang begitu memperhatikan dan mencintai Laurel.


“Kamu masih sama seperti 7 tahun lalu, bahkan bertambah cantik dan menarik,” Devan menatap Laurel dengan tatapan antara kagum, rindu, bahagia, sedih, cinta bercampur aduk menjadi satu, dengan senyum menghiasi wajahnya.


Laurel menatap ke arah Devan sambil menarik nafas dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyum ke arah Devan, membuat hati laki-laki itu justru merasakan nyeri di dadanya karena rasa bersalah yang begitu besar, dia lebih memilih Laurel menatapnya dengan amarah, memakinya, atau bahkan memukulnya, agar dia bisa mengurangi rasa bersalahnya terhadap Laurel.


“Sudah lama, bahkan aku tidak pernah menyangka kamu masih mengingatku setelah 7 tahun berlalu,” Devan tersenyum lembut ke arah Laurel, tidak berusaha membela diri ataupun menyangkal apa yang dikatakan Laurel.


Ah, andaikata kamu tahu apa yang aku alami 7 tahun lalu, bagaimana aku dipaksa untuk meninggalkanmu dan bahkan menyakitimu dengan berbagai berita bohong tentang aku dan Tania, dan aku begitu menyesalinya sekarang, bagaimana bisa 7 tahun lalu aku melepasmu begitu saja, tidak berjuang untuk mempertahankanmu sama sekali, Devan menarik nafas dalam-dalam, matanya terlihat sedikit sendu melihat bagaimana tidak ada sedikitpun aura bahagia di wajah Laurel saat melihatnya, walaupun gadis itu tersenyum padanya. Sedangkan bagi Devan, sejak dia melihat sosok Laurel dari jauh tadi dia begitu ingin berlari ke arah Laurel dan memeluknya dengan erat, melepaskan rasa rindu yang memenuhi dadanya.


Untuk beberapa saat Dave terdiam di tempatnya berdiri. Kakinya yang awalnya bergegas kembali ke arah Laurel setelah keluar dari toilet langsung terhenti melihat sosok pria yang sedang berdiri berhadap-hadapan dengan Laurel. Melihat sosok pria itu, Dave menarik nafas dalam-dalam, memejamkan matanya sebentar, sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali berjalan mendekat ke arah Laurel.


“Temanmu Laurel?” Dave yang baru saja kembali dari toilet langsung bertanya tentang sosok laki-laki yang sedang berdiri di hadapan Laurel, dan begitu berada di samping Laurel, Dave langsung melingkarkan lengannya ke bahu Laurel, membuat Devan sedikit menahan nafasnya sambil menatap tajam ke arah lengan Dave yang melingkar di bahu Laurel.


Sekilas Devan memandang ke arah Dave, ditatapnya wajah Dave dengan tatapan yang tidak dapat diartikan baik oleh Laurel maupun Lusiana, tapi yang pasti tatapan mata Devan itu terlihat begitu tidak bersahabat, bahkan terkesan seperti tatapan yang ditunjukkan seseorang yang sedang bertemu musuh besarnya, sedangkan Dave menatap Devan dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.


“Maaf, aku harus pergi sekarang, senang bertemu denganmu Laurel, lain waktu kita sambung lagi,” Tanpa berpamitan dengan Dave yang berdiri di samping Laurel, Devan buru-buru berjalan menjauh dari mereka, seolah-olah kehadiran Dave benar-benar mengganggunya.


“Itu tadi Devan,” Laurel berkata sambil mendongakkan kepalanya, memandang wajah Dave yang mengawasi sosok Devan yang semakin menjauh.

__ADS_1


“Akhirnya dia kembali ke Indonesia juga?” Dave bertanya dengan suara lirih, sambil membalas pandangan Laurel, entah hanya perasaan Laurel atau memang seperti itu, tapi Laurel melihat ada sedikit kekhawatiran di mata Dave.


Sejak Laurel menjawab perasaan Dave beberapa waktu yang lalu, Laurel memang dengan terus terang menceritakan tentang Devan, termasuk kekecewaan Laurel terhadap Devan karena ingkar janji padanya. Selain itu Laurel juga menceritakan tentang laki-laki asing yang terpaksa dinikahinya 7 tahun lalu, tentu saja Laurel menceritakan itu kepada Dave karena saat itu Laurel benar-benar tidak tahu bahwa laki-laki asing yang telah menikahinya 7 tahun lalu adalah Dave Alexander Shaw, laki-laki yang saat ini sudah membuatnya jatuh cinta.


__ADS_2