CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KEBERADAANMU YANG SELALU MEMBUATKU NYAMAN


__ADS_3

Melihat nama yang tertera di layar handphonenya saat ada panggilan masuk, Dave melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, menunjukkan bahwa Laurel masih mandi, membuat Dave langsung mengangkat panggilan teleponnya dan menjauhi pintu kamar mandi.


“Hallo, apa ada kabar terbaru yang mau Anda sampaikan Pak Eka?” Dave berkata sambil berjalan menjauhi kamar tidurnya ke arah jendela kamarnya, membukanya dan berjalan keluar dari kamar ke arah balkon (Balkon merupakan bagian tambahan dari sebuah bangunan yang cenderung keluar serta terlihat menempel pada dinding bangunan), berusaha menghindari agar Laurel tidak mendengar tentang apa yang akan dia bicarakan dengan Detektif Eka, karena tidak ingin membuat Laurel khawatir, apalagi ketakutan.


"Pagi Tuan Shaw, saya mau mengabarkan beberapa hal terkait penyelidikan yang kami lakukan. Apa Tuan Shaw ada waktu untuk kita berbicara secara pribadi?" Dave menahan nafasnya sekilas, rasanya dia sudah tidak sabar untuk mendengar kabar baik, bahwa Detektif Eka berhasil menemukan pelaku penusukan Laurel, beserta dengan bukti-buktinya.


"Baik, saya akan mengaturkan waktu untuk menemui Anda besok jam 10 pagi," Dave langsung mengaturkan jadwalnya untuk segera menemui Detektif Eka untuk dapat membahas hasil penyelidikannya terhadap kasus penusukan Laurel, yang beberapa waktu ini sungguh membuat pikirannya terganggu. Walaupun dia sudah berusaha meningkatkan keamanan di sejumlah tempat yang dikunjungi Laurel, termasuk rumah sakit dan rumah mereka sendiri, rasanya sebelum pelaku penusukan ditemukan dan ditangkap, tetap membuat Dave merasa tidak tenang.


"Baik, saya akan tunggu kedatangan Tuan Shaw di kantor saya, besok pukul 10 pagi," Detektif Eka segera menjawab permintaan Dave untuk bisa bertemu pribadi besok jam 10 pagi dengannya.


Begitu Dave memutus panggilan teleponnya, dia langsung menarik nafas dalam-dalam, berjalan ke arah kursi yang ada di balkonnya sambil sedikit mengingat tentang tulisan dari salah satu kartu yang dikirimkan bersama dengan bunga tulip merah kepada Laurel, yang sudah dia kirimkan kepada Detektif Eka untuk membantu proses penyelidikan. Pagi itu ketika dia masuk ke ruang kerjanya di rumah, dilihatnya kartu yang ternyata telah berhasil ditemukan oleh para pelayan, sudah tergeletak di atas meja kerjanya.


Dengan dahi yang mengernyit Dave membuka kartu itu, dan tulisan yang terdapat di dalamnya cukup membuatnya mendengus untuk menunjukkan emosinya sekaligus kejengkelannya, mengetahui bagaimana laki-laki lain menyatakan cintanya sekaligus mengancam Laurel, bahkan menganggap Laurel sebagai istrinya.


Untuk Kekasih hatiku sekaligus istriku Dewi Parwati


Begitu lama aku harus menunggu kehadiranmu di sisiku, bahkan aku telah melewati ratusan, bahkan ribuan tahun hanya untuk dapat menemukanmu. Aku mengejarmu, mencarimu seperti orang gila, sampai aku berhasil menemukan keberadaanmu di kota ini. Namun, kenapa di masa ini tidak pernah sedetikpun matamu memandang ke arahku dengan tatapan cinta. Apakah kamu tidak mengingat bagaimana pernikahan indah kita, bahkan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu datang untuk memberkati pernikahan kita, dan semua rakyat memuja kita. Apakah cinta dan penantianku tidak cukup berarti bagimu sehingga engkau menyerahkan dirimu kepada laki-laki lain? Aku tidak akan pernah memaafkan pengkhianatanmu. Jika aku tidak bisa memilikimu, aku juga tidak akan pernah membiarkan orang lain untuk memlikimu, apalagi menyentuhmu.

__ADS_1


Dari kekasih hatimu sekaligus suamimu Dewa Siwa


Saat mengingat isi dari kartu ucapan itu, bahkan masih membuat Dave harus menarik nafasnya dalam-dalam untuk bisa mengendalikan gejolak amarah di dadanya. Jangankan mengambil Laurel darinya, dia tidak akan pernah membiarkan laki-laki lain mendekati Laurel apalagi berani menyakitinya. Bagaimanapun caranya dia akan menemukan siapa laki-laki gila yang sudah berani bersikap kurang ajar terhadap istrinya, mengancam bahkan menganggap Laurel istrinya.


Bau harum yang tiba-tiba saja menerpa hidungnya membuat Dave menoleh ke arah kirinya, dilihatnya Laurel yang terlihat cantik, sudah berpakaian rapi dengan bentuk kerah turtleneck mendekat ke arahnya. Begitu Laurel mendekat, dia langsung berdiri di belakang kursi tempat Dave duduk, sedikit membungkukkan tubuhnya dan memeluk tubuh Dave dengan cara melingkarkan kedua lengannya di bahu sampai ke dada Dave.


Dave menarik nafas dalam-dalam, menikmati bau harum dari parfum yang biasa Laurel pakai dengan tangan kanannya mengelus lembut lengan kanan Laurel yang sedang melingkar di tubuhnya, membawa perasaan damai dan nyaman bagi Dave. Seperti candu baginya, keberadaan Laurel selalu membuat gairah Dave terpacu, namun di sisi lain begitu terasa menenangkan hati dan jiwanya.


“Dave…, jam berapa kita pulang ke rumah?” Dave mendongakkan kepalanya memandang ke arah Laurel sambil tersenyum.


“Setelah kita menyelesaikan makan pagi bersama yang lain, kita akan berpamitan untuk kembali pulang ke rumah,” Mendengar apa yang dikatakan Dave, Laurel mencium lembut telinga Dave.


“Tidak juga. Hanya, bagaimanapun tempat paling nyaman bukankah seharusnya rumah kita?” Dave tersenyum geli mendengar perkataan Laurel, membuat Laurel memayunkan bibirnya karena merasa Dave menertawakan apa yang barusan dikatakannya.


“Kenapa dengan senyum meledekmu? Apa yang aku bicarakan salah?” Dave masih membiarkan bibirnya yang tipis membentuk sebuah senyuman, sedang tangannya bergerak mengacak rambut Laurel lembut.


“Tidak, tidak ada yang salah dengan perkataanmu, hanya saja mungkin kamu lupa, rumah ini tempat dimana aku lahir dan dibesarkan, jadi tidak salah juga kan aku merasa nyaman di sini?” Laurel tertegun sebentar, bagaimana dia bisa melupakan tentang itu, tentu saja Dave akan betah berada di sini, karena di sini adalah rumah masa kecilnya, dan kamar yang mereka tempati pun adalah kamar Dave, yang bertahun-tahun sudah Dave tempati dan menjadi saksi bisu tentang bagaimana sosok seorang Dave sejak dia kecil, sampai dia menikah, bahkan saksi bisu atas apa yang terjadi antara dia dengan Dave, untuk beberapa waktu ini. Membayangkan itu Laurel tersenyum sambil mencium pipi Dave dengan mesra.

__ADS_1


“Maaf, aku lupa tentang itu,” Laurel berbisik pelan di telinga Dave, setelah itu Laurel menggerakkan tubuhnya, melepas pelukannya dan berjalan mendekat ke arah Dave, berniat duduk di sebelah Dave, namun dengan cepat Dave meraih tangannya sehingga Laurel jatuh terduduk di pangkuan Dave.


“Tidak masalah, dimanapun kamu berada bagiku itu adalah tempat yang paling nyaman untukku. Aku tidak perduli apakah itu di rumah kaca, di rumah kita, atau bahkan di rumah ini, asal kamu merasa nyaman, aku juga akan merasa nyaman. Toh dimanapun itu, kita sudah meninggalkan jejak kenangan kita berdua di situ,” Wajah Laurel memerah mendengar perkataan Dave, mengerti dengan jelas apa arti meninggalkan jejak kenangan yang dimaksud dengan Dave, seperti semua tanda merah di tubuhnya yang menjadi saksi jejak kenangan yang sudah mereka buat berdua.


“Tapi aku lupa satu hal,” Dave berbisik lembut ke arah telinga Laurel sambil kedua lengannya memeluk erat pinggang Laurel.


“Kita belum banyak melakukannya di rumah kaca, kalau saja saat itu Evelyn tidak data…,” Mendengar lanjutan dari bisikan Dave dengan spontan Laurel langsung mencubit pinggang Dave yang langsung tertawa geli mendapatkan serangan dari Laurel.


“Kenapa kamu masih malu? Ayolah…, dimanapun, kapanpun selama itu denganmu, aku selalu menantikan saat-saat itu. Dan untuk di rumah kaca, dengan senang hati aku akan menantikan kita melakukannya di sana, walaupun berulang kali.” Kata-kata Dave barusan sukses membuat wajah Laurel semakin memerah, membuat Dave dengan gemas mencium pipi Laurel bertubi-tubi karena gemas melihat wajah cantik istrinya yang terlihat malu-malu.


“Dave, jangan bercanda terus, kamu lihat, hari ini pun kamu sudah membuatku repot dengan semua tanda yang kamu tinggalkan. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi semua orang pagi ini,” Dave tersenyum mendengar keluhan Laurel. Dan dengan gerakan pelan, Dave menurunkan kerah pakaian Laurel dan membuatnya dapat melihat dengan jelas tanda merah di leher Laurel hasil perbuatannya semalam yang kembali dia ulang lagi tadi pagi.


“Siapa yang sudah berani melakukan hal ini padamu Nyonya Shaw? Katakan padaku! Apa kamu mau aku menghajarnya sehingga dia jera? Membuatnya merangkak memohon ampun padamu?” Laurel langsung melotot mendengar perkataan Dave, dengan cepat tangan Laurel bergerak ke arah pinggang dan ketiak Dave, menggelitik kedua bagian itu, membuat Dave tertawa terbahak-bahak menahan geli, bahkan gelitikan Laurel yang tidak hanya sebentar membuatnya tertawa sampai mengeluarkan airmata di ujung mata birunya.


“Ahhh…, ampun mo cuisle, ampun!” Setelah Dave mengatakan ampun, baru Laurel mau melepaskan gelitikannya. Setelah Dave menghentikan tawanya, Laurel yang masih duduk di pangkuan Dave mendekatkan wajahnya ke telinga Dave.


“Aku tidak akan memberitahukan kepadamu siapa pelakunya, karena aku tidak pernah merasa keberatan dia memberikan tanda itu padaku. Dan aku masih akan terus menginginkannya,” Dave sedikit tersentak mendengar bisikan lembut Laurel yang jelas-jelas ditujukan untuk menggodanya, membuat Dave dengan lembut menarik wajah Laurel ke arah wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut sekilas.

__ADS_1


“Kamu adalah hal terindah dan terbaik dalam hidupku,” Dave berkata sambil menempelkan keningnya ke kening Laurel, dengan tangannya mengelus lembut punggung Laurel.


“Terimakasih untuk semua perhatian, cinta dan kebahagiaan yang sudah kamu bawa untukku. Aku berharap sampai usia kita menua, sampai akhir nafas kita, kita tetap akan saling mencintai dan hidup bahagia seperti sekarang ini,” Laurel berbisik pelan membalas perkataan Dave, membuat Dave tersenyum dengan wajah begitu bahagia.


__ADS_2