
"Dimana yang lain? Sepertinya semua bangun kesiangan," Laurel berusaha mengalihkan pembicaraan tentang dirinya. Dave kembali melirik ke arah Laurel yang mulai terlihat gugup.
"Kenapa? Apa kamu merasa tidak nyaman hanya berdua denganku sekarang?"
"Ah.., tidak..., bukannya begitu," Dengan kaget Laurel langsung menjawab pertanyaan Dave, membuat Dave tersenyum.
Mulai sekarang kamu harus mulai membiasakan diri berada di dekatku dan menghabiskan waktu berdua denganku, karena kamu adalah Nyonya Shaw, Dave berkata dalam hati sambil tersenyum.
"Dua hari lagi akan ada Medical Leadership selama 2 hari (Pelatihan yang dirancang agar para dokter (klinisi) untuk dapat mengembangkan kemampuan kepemimpinan mereka. Kerangka dari pelatihan ini menyediakan panduan yang sangat bernilai bagi para dokter untuk merencanakan kepemimpinan klinis yang efektif dan juga menyediakan kesempatan agar para dokter menjadi lebih proaktif dalam merancang dan mengaplikasikan pelayanan medis) di Kota X, aku sudah mendaftarkan namamu dan Lusiana sebagai peserta," Laurel menganggukkan kepalanya mendengar apa yang barusan dikatakan Dave, dia sadar betul sebagai dokter yang baru lulus dan memulai pekerjaannya masih banyak hal yang harus dia pelajari, dan kali ini dia begitu bersyukur Dave memberikan Lusiana sebagai teman untuk mengikuti pelatihan itu.
"Setelah pulang dari sini, segera siapkan keperluanmu untuk menjalani pelatihan bersama Lusiana," Laurel kembali menganggukkan kepalanya mendengar perintah dari Dave, ada sedikit rasa lega, berharap dalam 2 hari itu dia bisa benar-benar menenangkan pikirannya, berada sedikit jauh dari Dave, yang sepertinya sejak dia tahu tentang status Dave sebagai suaminya justru membuat Dave semakin menempel padanya, seolah-olah dia tidak lagi memiliki lagi tempat atau waktu untuk tidak berada dekat dengan Dave, membuat Dave seperti udara yang selalu ada di sekitarnya tanpa dia bisa menghindar, termasuk seperti sekarang ini.
“Kak, kalian berdua sudah bangun?” Laurel dan Dave langsung menoleh mendengar suara panggilan dari Evelyn dan Freya yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka berdua.
“Pagi Kak Laurel,” Evelyn berjalan mendekat ke arah Laurel dan langsung menarik lengan tangan kanannya.
“Kak, ayo kita sama-sama berjalan-jalan menikmati perkebunan buah di daerah ini,” Mendengar perkataan Evelyn, Laurel sedikit terbeliak. Perkebunan buah? Saat dulu papanya masih hidup, dia paling suka jika diajak papanya ke daerah pegunungan dan mengunjungi perkebunan buah disana.
Melihat reaksi Laurel, Evelyn tertawa, karena sebenarnya selama ini dia sudah mengorek banyak dari Freya tentang Laurel, tentang kebiasaannya, hobi, kesukaannya, apa yang tidak disukainya, apapun tentang Laurel, untuk membantu kakaknya Dave segera mendapatkan hati istrinya.
“Tapi aku belum mandi, lagipula tidak enak jika harus meninggalkan acara disini,” Laurel menjawab dengan suara pelan, karena jujur saja dia begitu tertarik dengan penawaran Evelyn. Dave yang melihat reaksi Laurel karena ajakan Evelyn langsung tersenyum.
“Acara pagi ini akan dimulai tepat pukul 9 pagi, tapi mengingat mereka tadi malam bergadang sampai pukul 3 dini hari, aku akan minta Mira untuk memundurkan waktu acara sampai jam 10 pagi, kalau kita berangkat sekarang, kita akan punya banyak waktu untuk menikmati perkebunan buah yang dibilang oleh Evelyn, lagipula tempatnya tidak jauh dari sini,” Mendengar penjelasan Dave, Laurel langsung tersenyum cerah.
“Kalau begitu aku akan kembali ke kamar dulu untuk mandi dan bersiap untuk pergi,” Laurel memutar tubuhnya untuk berjalan ke arah kamarnya. Melihat itu Evelyn langsung melirik ke arah Dave dan mengedipkan sebelah matanya ke arah kakaknya yang langsung tersenyum melihat aksi yang dilakukan Evelyn.
Begitu Laurel sudah menjauh dari mereka dan sudah memasuki kamarnya, Evelyn langsung mendekat ke arah Dave dan berbisik pelan.
__ADS_1
“Kak, kenapa kakak payah sekali dalam menghadapi wanita, harusnya kakak memikirkan bagaimana caranya mencari kesempatan mengajak Kak Laurel menjauh dari tempat ini agar kalian bisa berduaan,” Mendengar perkataan Evelyn, tangan Dave langsung bergerak ke arah wajahnya dan dengan pelan dijitaknya kening Evelyn dengan menggunakan jari telunjuknya.
“Bukannya kamu yang dari kemarin selalu datang mengganggu waktu kami berdua?” Mendengar perkataan Dave, Evelyn langsung terkikik.
“Maaf, kami tidak sengaja kak, sungguh, benar-benar tidak sengaja. Kalau begitu pagi ini kita pergi bersama, tapi sesampainya di sana kita berpisah, kesempatan kakak untuk berduaan dengan Kak Laurel, gunakan sebaik-baiknya, jangan membuat kami sebagai tim sukses kakak kecewa dengan performa Kak Dave,” Mendengar perkataan Evelyn, Freya langsung tertawa terkikik, sedang Dave hanya bisa memelototi adik perempuan kesayangannya itu.
# # # # # # #
Dave sedang duduk di sofa ruang tamu villanya ketika Laurel yang sudah menyelesaikan mandinya dan berdandan rapi mendekat ke arahnya. Bau harum parfum yang biasa dikenakan Laurel langsung menerpa hidung Dave, membuat Dave langsung mengalihkan pandangan matanya dari layar handphone di tangannya ke arah Laurel. Melihat sosok Laurel dengan celana jeans dan kemeja bergaris hitam dan putih yang dikenakannya membuat Dave tersenyum.
Pagi itu Laurel sengaja tidak mengenakan riasan seperti biasanya, dia hanya mengenakan alas bedak tipis dan memoleskan lip balm (lip balm adalah produk perawatan kecantikan yang bisa menjaga kelembaban bibir. Lip balm biasanya dilengkapi kandungan vitamin E dan SPF yang bisa merawat bibir kita. Lip balm biasanya berbentuk seperti salep dan tidak meninggalkan warna di bibir pemakainya. Ada juga lip balm berbentuk stick, biasa disebut chapstick).
Warna asli bibir Laurel yang memang pada dasarnya sedikit merah, membuat bibirnya tidak terlihat pucat walaupun dia hanya memakai lip balm di bibirnya, bukan lipstik.
“Ayo,” Mendengar perkataan Dave, Evelyn dan Freya langsung bangkit dari duduknya begitu melihat Laurel juga sudah siap berangkat. Dave pun segera ikut bangkit dari duduknya dan langsung mengajak Laurel, Evelyn dan Freya keluar dari bangunan villa utama.
“Pagi Tuan, mobil sudah siap seperti permintaan Tuan,”
“Baik, terimakasih Pak Odi, pagi ini aku akan menyetir sendiri, Pak Odi silahkan disini saja sambil menikmati waktu istirahat bapak,” Odi langsung menganguk mengiyakan perintah dari Dave.
# # # # # # #
Wajah Laurel terlihat begitu bahagia berada di tengah-tengah perkebunan apel, tangannya sibuk mengelus-elus buah apel yang sudah mulai memerah kulitnya sambil berjalan menikmati udara segar di sekitarnya. Dave yang berjalan di sampingnya hanya bisa tersenyum melihat wajah ceria Laurel yang nampak begitu menikmati kegiatannya pagi ini.
“Dave, sudah berapa lama keluarga kalian mengelola perkebunan ini?” Dave mengangkat sedikit bahunya mendengar pertanyaan Laurel.
“Sudah lama sekali, aku tidak tahu pasti tepatnya, tapi sejak aku masih kecil perkebunan ini sudah ada. Selain perkebunan apel, di sebelah utara perkebunan ini sebenarnya ada perkebunan jeruk dan perkebunan stroberi,”
__ADS_1
“O, ya? Benarkah? Apa kamu juga suka mengunjungi perkebunan ini Evelyn?” Laurel menoleh ke belakang dan langsung tersentak kaget, seingatnya tadi Evelyn berjalan di belakangnya bersama Freya, tapi kenapa tiba-tiba pergi tanpa berpamitan kepadanya? Mata Laurel langsung memandang ke arah Dave untuk meminta penjelasan.
“Aku juga tidak tahu mereka menghilang kemana,” Mendengar penjelasan Dave, Laurel sedikit mengernyitkan dahinya, tanda dia tidak percaya Dave tidak ikut serta dalam rencana adik-adiknya yang tiba-tiba menghilang. Melihat reaksi Laurel, Dave langsung tersenyum geli.
“Kenapa? Sepertinya kamu takut sekali harus berduaan denganku? Kesini, kita duduk disini saja dulu sambil menunggu mereka,” Tanpa menunggu reaksi Laurel, Dave langsung menarik tangan Laurel ke sebelah barat, disana tampak tempat duduk terbuat dari kayu dengan atap di atasnya, tempat biasa para pekerja perkebunan beristirahat melepas penat.
Begitu Dave duduk di kursi kayu itu, dia sedikit menarik tangan Laurel yang masih dipegangnya, memberi tanda agar Laurel duduk di sampingnya. Setelah Laurel duduk, buru-buru Laurel menarik tangannya agar lepas dari pegangan tangan Dave, agar dadanya tidak bertambah berdebar-debar karena tindakan Dave.
“Tempat ini benar-benar menyenangkan, melihat buah apel yang sudah hampir matang, benar-benar menggemaskan,” Dave yang duduk dengan kedua kakinya lurus ke depan dan kedua telapak tangannya dia tekan di sebelah kanan kiri tubuhnya ke atas kursi kayu yang sedang dia duduki tersenyum mendengar perkataan Laurel.
“Kalau kamu suka tempat ini, sesering apapun kamu ingin berkunjung kesini, mereka pasti menerimamu dengan tangan terbuka, tapi mengingat kejadian tadi malam, jangan pernah berjalan sendirian di daerah ini, apalagi di malam hari seperti kemarin,” Laurel melirik ke arah Dave yang matanya menatap lurus ke depan, memandang pohon-pohon apel yang tersusun rapi dengan buah-buahnya yang sudah hampir matang.
“Dave…, Laurel menarik nafas dalam-dalam setelah menyebutkan nama Dave.
“Hmmm…,” Dave menjawab panggilan Laurel dengan mata masih memandang ke depan dengan senyum tipis terlihat di bibirnya.
“Aku bersyukur tadi malam kamu ada bersamaku,” Mendengar perkataan Laurel, Dave menoleh ke arahnya, lalu sambil tersenyum Dave sedikit menundukkan kepalanya tanpa menanggapi perkataan Laurel, membuat Laurel sedikit salah tingkah.
Laurel kembali teringat kejadian tadi malam, bagaimana dia begitu ketakutan dan ketakutan itu berubah menjadi rasa syukur yang tidak ada habisnya karena kehadiran Dave. Kehangatan pelukan Dave yang penuh dengan perlindungan tadi malam masih begitu terasa bagi Laurel.
“Dave, terimakasih untuk tadi malam,” Tiba-tiba saja Laurel mendekatkan wajahnya ke arah wajah Dave dan mencium pipi laki-laki itu, membuat Dave tersentak kaget, dengan mata sedikit melotot, membuatnya dengan reflek mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Laurel, sedang Laurel sendiri entah mendapatkan keberanian darimana sehingga dia begitu berani mencium pipi Dave.
Itu hanya bentuk ungkapan terimakasih karena dia sudah menolongku semalam, Laurel berbisik dalam hati, berusaha membela diri sendiri atas apa yang baru saja dilakukannya kepada Dave.
Menyadari apa yang baru saja dilakukannya, wajah Laurel memerah dan langsung menundukkan wajahnya karena saat ini dia begitu gugup menyadari tindakannya barusan yang baginya terlalu berani, tapi sudah terlanjur dia lakukan tanpa berpikir panjang, tidak bisa lagi dia tarik.
“Aku ingin ucapan terimakasihmu bukan hanya sekedar ciuman dari segelas teh seperti tadi pagi,” Laurel sedikit mengangkat wajahnya, memandang wajah Dave dalam-dalam karena tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Dave.
__ADS_1
“Aku mau langsung mendapatkannya tanpa melalui perantaraan gelas teh,” Tanpa menunggu tanggapan dari Laurel, tangan kiri Dave bergerak ke arah pinggang Laurel, menarik tubuh lembut Laurel untuk mendekat ke arahnya, tangan kanan Dave bergerak meraih tengkuk Laurel, membuat wajah Laurel sedikit mendongak dengan Dave sendiri menundukkan wajahnya, dan menggerakkan bibirnya ke arah bibir Laurel.