
Lusiana diam terpaku mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Feri, membuat wajah Feri memerah karena Lusiana diam tanpa mengatakan apapun cukup lama dengan wajah kaget tidak merespon apa yang baru aja dikatakannya.
“Fer…, barusan…,”
“Iya, aku mencintaimu, itu yang barusan aku katakan padamu,” Lusiana tidak menjawab perkataan Feri, justru tiba-tiba di pipinya mengalir air mata, membuat Feri kebingungan melihat reaksi Lusiana atas pernyataan cintanya.
“Lus…, maaf, maafkan aku jika apa yang barusan aku katakan membuatmu bersedih,” Lusiana menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat mendengar perkataan Feri.
“Kamu kenapa? Apa kamu kecewa karena laki-laki seperti aku yang mencintaimu?” Mendengar pertanyaan Feri tangis Lusiana semakin menjadi, membuat Feri bertambah kebingungan.
Bagi Lusiana, tidak ada pria sebaik Feri, laki-laki itu selalu ada saat Lusiana membutuhkan bantuan, kapanpun, dimanapun saat dia menelponnya tidak pernah sekalipun Feri mengabaikan panggilan telepon darinya, dan setiap Lusiana membutuhkan bantuannya, tanpa perduli tempat dan waktu Feri akan segera datang kepadanya dan membantunya tanpa pernah mengungkit-ungkitnya.
“Jangan menangis,” Feri memberanikan diri menyentuh bahu Lusiana, berusaha untuk menenangkannya. Jika malam ini dia belum menyatakan cintanya, Feri akan dengan santai menyentuh bahu Lusiana, menghiburnya, seperti yang biasa dia lakukan selama ini, tapi setelah dia menyatakan perasaannya rasanya dia menjadi sangat canggung menyentuh bahu Lusiana.
“Fer…,”
“Iya, marah saja kalau kamu mau marah padaku, maaf sudah lancang mengakui perasaanku padamu,”
“Kamu bodoh!” Feri sedikit terkejut mendengar Lusiana memakinya dengan sebutan bodoh, ada sedikit kekecewaan terlihat di wajahnya yang tampan.
__ADS_1
“Kenapa baru sekarang kamu mengakuinya?” Kali ini Feri benar-benar tersentak kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Lusiana, wajahnya yang awalnya menyiratkan kekecewaan berubah menjadi wajah kebingungan.
“Aku hampir saja menyerah untuk menunggumu mengucapkan itu, aku hampir saja memutuskan untuk mulai mencari cinta yang lain, aku sudah…,”
“Maafkan aku, membuatmu menunggu terlalu lama,” Feri langsung memotong perkataan Lusiana dan meraih Lusiana ke dalam pelukannya. Lusiana yang tampak masih tidak eprcaya dengan apa yang baru saja dikatakan Feri hanya bisa terdiam, membiarkan Feri memeluknya dengan erat, membuat dadanya merasakan sesuatu yang hangat mengalir di sana, ada rasa lega yang begitu memenuhi hatinya karena ternyata Feri yang selama ini diam-diam dikaguminya juga menyimpan rasa cinta kepadanya, rasa yang juga sudah sekian lama dia simpan dalam hatinya.
“Jangan menangis, aku yang salah, terlalu menunda-nunda untuk menyatakannya padamu,” Lusiana berusaha menghentikan tangisnya, dengan perlahan-lahan tangannya terangkat ke atas dan membalas pelukan dari Feri, dengan lembut tangan kanan Feri mengelus rambut Lusiana, sedang tangan kirinya memeluk erat tubuh gadis itu, merasa benar-benar bersyukur ternyata rasa cinta yang sudah cukup lama dipendamnya selama ini ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
# # # # # # #
Laurel melangkah pelan meninggalkan Feri dan Lusiana sambil melipat erat kedua tangannya di depan perutnya karena suhu dingin pegunungan yang menerobos pakaian yang dikenakannya.
Ah, kenapa aku tadi pergi tanpa membawa jaketku, di daerah ini sepertinya semakin malam sepertinya udara semakin dingin, aku tidak menyangka udara di sini begitu dingin seperti ini, Laurel berkata dalam hati, setelah itu mengangkat kedua tangannya di depan wajahnya, menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil meniupnya agar terasa hangat, walaupun sepertinya tidak cukup membantu.
Laurel melirik ke sekelilingnya yang tampak sepi, tidak ada orang lain yang melewati jalanan itu. Melihat itu Laurel buru-buru mempercepat langkah-langkah kakinya untuk menjauhi kedua laki-laki yang langsung menghentikan motornya, dan laki-laki yang berada di boncengan melompat turun dan berjalan ke arah Laurel dengan tubuh sempoyongan karena mabuk.
"Hei nona cantik! Siapa namamu?" Laki-laki yang masih ada di atas motor berteriak ke arah Laurel, membuat Laurel semakin merasa tidak nyaman.
"Hai! Cantik-cantik bisu ya! Jangan lari dari kami! Sial!" Dengan menundukkan kepalanya Laurel berlari menjauhi mereka dengan dada yang berdetak keras, membuat kedua laki-laki itu mengumpat kepadanya.
__ADS_1
Laki-laki yang awalnya mengendarai motornya, menghentikan motornya dan membiarkan motornya di pinggir jalan, lalu ikut berlari mengejar Laurel.
"Hai Nona! Jangan lari!"
"Sial! Kejar dia Tom! jangan sampai lepas!"
"Hei Nona! Jangan sok jual mahal!"
Mendengar teriakan mereka berdua, Laurel berusaha mempercepat larinya sambil menoleh ke belakang, dan begitu dilihatnya salah satu dari laki-laki itu hampir meraih tangannya, Laurel menggerakkan tubuhnya ke samping, dada Laurel semakin berdetak kencang karena ketakutan, apalagi salah satu bibir laki-laki terlihat menyeringai ke arahnya. Keringat dingin mulai muncul di dahi Laurel, dalam hati dia benar-benar berharap ada salah seorang dari rekannya tiba-tiba muncul di tempat itu.
"Hei! Jangan Lari!" Laurel kembali berlari sampai dia menabrak tubuh seseorang yang ada di depannya.
Melihat Laurel terhenti karena menabrak seseorang, tangan salah satu dari laki-laki yang mengejarnya yang dipanggil dengan nama Tom oleh temannya itu berusaha menarik pakaian Laurel di bagian lehernya, tapi dengan cepat sebuah tangan bergerak cepat menangkap tangan laki-laki itu dan memutar pergelangan tangannya, sehingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
Laurel mendongakkan wajahnya begitu menyadari dia sudah menabrak tubuh seseorang yang dengan tangan kirinya langsung memeluknya dengan erat, seolah ingin menunjukkan bahwa dia sedang memberikan perlindungan kepada Laurel, sedang tangan kanannya langsung bergerak menahan tangan pengejar Laurel yang berusaha meraihnya.
"Dave...," Bibir Laurel membisikkan nama Dave dengan pelan dan bibir sedikit bergetar, dilihatnya wajah Dave yang terlihat begitu tegang, dengan aura membunuh di kedua matanya, pemandangan yang baru pertama kali ini Laurel lihat dari seorang Dave yang biasanya terlihat lembut atau tenang tanpa ekspresi, tapi malam ini dilihatnya dengan sangat jelas tatapan mata Dave yang dipenuhi dengan kemarahan, menatap tajam ke arah kedua laki-laki yang mengejar Laurel.
"Eh, siapa kamu? Jangan ikut campur urusan kami," Laki-laki lain yang ada di belakang temannya berusaha menolong temannya yang terlihat benar-benar kesakitan karena pergelangan tangannya yang berada dalam kuasa Dave.
__ADS_1
"Lepaskan temanku, apa urusanmu dengan gadis kami? Memangnya kamu siapa? Berani bersikap sok jago di daerah kekuasaan kami?" Mendengar perkataan itu, Dave menyentakkan tangan kanannya, dengan sedikit mendorong, lalu melepaskan tangannya dari tangan laki-laki yang tadinya berada dalam genggaman tangan Dave, membuat laki-laki itu langsung mundur dengan membungkukkan tubuhnya sambil memegang pergelangan tangannya untuk menahan sakit yang dialaminya di bagian pergelangan tangannya.
"Siapa yang kalian maksud dengan gadis kalian? Beraninya kalian mengusik istriku!" Dengan suara dipenuhi kemarahan Dave berteriak keras ke arah kedua laki-laki di depannya dengan tangan kirinya masih memeluk tubuh Laurel yang terdiam terpaku dalam pelukan Dave karena rasa kaget dan takut yang masih dialaminya.