
Melihat mata Laurel yang melotot karena kaget setelah membaca apa yang tertulis di kartu itu, Freya langsung merebut kartu yang ada di tangan Laurel dan membacanya dengan cepat, membuat matanya ikut melotot dan langsung memandang ke arah Laurel.
"Apa-apaan ini kak? Kira-kira siapa yang sudah mengirimkan kartu ini kepada kakak?" Laurel langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Freya.
"Anggap saja orang iseng yang sedang kurang kerjaan," Laurel berjalan ke arah meja riasnya dan meraih tas kerjanya.
"Eh, aku harus buru-buru berangkat, nanti saja kita bahas, buang saja bunga itu," Laurel yang baru saja melirik jam dinding pemberian dari Dave yang sudah dipasang oleh Ujang atas perintah Freya, buru-buru berlari keluar untuk segera berangkat ke tempat kerjanya, meninggalkan Freya yang masih memandang bunga dan kartu di tangannya dengan mengernyitkan keningnya mencoba menebak siapa yang kira-kira iseng mengerjai Laurel.
# # # # # # #
"Apa kamu sudah menerima undangan dari Arnold?" Lusiana dan Nia yang duduk di depan Laurel di meja kantin rumah sakit langsung menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Laurel.
"Apa hanya kita yang diundang?" Mendengar pertanyaan Laurel, Lusiana dan Nia hanya menggelengkan kepalanya.
"Mungkin Feri dan Roy juga diundang, tapi aku belum sempat menanyakannya kepada mereka," Lusiana meraih gelas di depannya dan meminum es jeruk yang baru saja diantarkan ke mejanya oleh salah seorang pelayan.
"Dokter Lusiana," Lusiana langsung menoleh mendengar namanya dipanggil, dilihatnya Mira berjalan mendekat ke arahnya.
"Bos berpesan untuk dokter Lusiana menemui bos setelah istirahat," Lusiana langsung menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Mira.
"Kalau begitu, silahkan melanjutkan makan siangnya dok, permisi," Mira tersenyum sebelum meninggalkan mereka bertiga, membiarkan mereka kembali menikmati makan siangnya.
"Eh, sebenarnya aku penasaran sekali dengan Mira, selama ini semua tentang bos dia yang mengurusnya, aku penasaran...," Nia menghentikan kata-katanya sebentar.
"Penasaran tentang apa?" Lusiana bertanya sambil tangannya sibuk mengupas buah salak yang ada di mejanya.
"Aku penasaran apakah dia tahu bos sudah punya kekasih belum? Gadis seperti apa yang disukai oleh bos. Atau sejauh apa hubungan bos dengan dokter Hana," Mendengar angan-angan Nia, Lusiana langsung tertawa.
__ADS_1
"Mira itu kalau sudah menyangkut masalah bos, sepertinya bibirnya tertutup rapat dengan plester, dia tidak akan membocorkannya sedikitpun. Jangan berpikir macam-macam, jangan bilang kamu ingin mendekati bos," Nia tertawa mendengar perkataan Lusiana, sedang Laurel ikut tertawa, mengingat sewaktu dia merayu Mira untuk meminta bocoran info tentang niat Dave memanggilnya ke kantor tapi sedikitpun dia tidak berhasil mendapatkan info dari bibir Mira.
"Aku mana berani bercita-cita setinggi itu, hanya penasaran saja. Eh, Laurel, jangan marah ya, kami ingin bertanya sesuatu," Lusiana sedikit tersentak mendengar perkataan Nia, dengan matanya Lusiana segera memberi tanda kepada Nia untuk tidak melanjutkan bicaranya, karena saat ini dia tahu betul apa yang akan ditanyakan Nia kepada Laurel, tapi Laurel lebih dahulu melihat kode dari mata Lusiana.
"Kenapa dengan kalian? Tanya saja apa yang kalian ingin tanyakan, tidak perlu sungkan," Laurel menatap ke arah Nia sambil tersenyum, menunjukkan saat ini dia benar-benar serius dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Ehmmm, maaf kalau memnyinggungmu, cuma kami sebenarnya penasaran dengan kejadian beberapa waktu lalu. Kami sempat melihat bos menarik tanganmu ke kantornya dengan wajah tegang, memang ada masalah apa?" Laurel sedikit mengernyitkan alisnya, tentu saja pasti ada satu dua orang yang melihat kejadian itu, walaupun itu adalah jam-jam sepi di rumah sakit apalagi jalanan ke arah kantor Dave, tapi bisa dipastikan satu dua orang pasti melihat kejadian itu, untung saja yang melihat kejadian itu Nia dan Lusiana yang notabene bukan tukang gosip.
"Waktu itu bos menyelamatkan aku dari Nenek Nuri dan cucunya, dua orang aneh yang sempat aku ceritakan beberapa waktu lalu," Nia dan Lusiana saling berpandangan mendengar penjelasan Laurel.
"Tapi bukan sekedar masalah Nenek Nuri sih. Waktu itu asam lambungku sedang kambuh, bos membawaku ke kantornya dan memberiku obat, hanya itu saja, tidak ada kejadian lain," Nia dan Lusiana saling berpandangan, lalu sama-sama menatap Laurel sambil tersenyum. Laurel sendiri merasa tidak perlu menjelaskan detail kejadian hari itu. Kalau mereka sampai mendengar bahwa Dave mengajaknya ke rumah kacanya bahkan bukan cuma sekali, Laurel tidak menjamin Lusiana dan Nia akan tahan tidak menceritakannya kepada yang lain.
# # # # # # #
"Masuk," Mendengar suara dari Dave mempersilahkannya masuk setelah dia mengetuk pintu 2-3 kali, Lusiana langsung membuka pintu ruangan Dave.
"Iya, duduklah dahulu, aku ada sesuatu yang perlu aku diskusikan denganmu," Lusiana berjalan mendekat ke arah meja kerja Dave, mengambil posisi duduk di depannya.
"Iya bos, ada yang bisa saya bantu?"
"Istri dokter Arman sakit mendadak, harusnya dia piket malam ini, apa bisa kamu menggantikannya piket untuk hari ini?"
"Eh, bukannya tidak mau bos, nanti malam, saya, Nia dan Laurel mendapat undangan makan malam bersama Arnold untuk merayakan ulang tahun Arnold," Dave sedikit mengernyitkan alisnya mendengar apa yang dikatakan Lusiana.
"Tapi tenang saja bos, saya akan bilang ke Arnold saya tidak bisa datang, biar Nia dan Laurel yang datang," Lusiana buru-buru mengambil handphonenya dari saku jas dokternya.
"Hanya kalian bertiga yang diundang?" Lusiana baru saja akan membuka layar handphonenya ketika Dave menanyakan tentang siapa yang diundang.
__ADS_1
"Saya kurang tahu bos. Sebentar saya kirim pesan ke Arnold untuk memberitahunya saya tidak bisa datang menghadiri undangannya," Dave mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Lusiana, tapi sebentar kemudian setelah Lusiana membuka layar handphonenya terlihat keningnya sedikit berkerut, membuat Dave bertanya-tanya dalam hati apa yang telah terjadi.
"Eh, bos, syukurlah, barusan Arnold bilang undangan makan malamnya untuk saya ditunda minggu depan, karena nanti malam dia ada sesuatu yang harus diselesaikan dengan seseorang," Dave menaikkan sedikit alisnya mendengar penjelasan dari Lusiana.
"Kalau boleh tahu, rencana awal kalian diundang makan malam dimana?"
"Di restoran M bos, jam 7 malam nanti," Dave sedikit terbeliak, tapi dia buru-buru mengendalikan perubahan pada wajahnya agar Lusiana tidak menyadari kekagetannya. Untuk makan malam bersama teman atau sahabat sepertinya restoran M sedikit berlebihan. Restoran M terkenal dengan restoran yang romantis, baik dari design ruangan atau penataan kursi-kursi dan view (pemandangan) bagi pengunjung yang datang dengan pasangannya. Bahkan menu-menu makanan yang disajikan menggunakan istilah-istilah kata-kata romantis dan disajikan dengan garnis yang terkesan romantis.
Dave benar-benar mengetahui tentang detail restoran itu, karena restoran itu merupakan salah satu usaha milik keluarganya yang dikelola langsung oleh adik perempuannya. Jika seorang pria mengundang makan di restoran itu, bisa dipastikan itu bukan sekedar acara makan malam biasa-biasa saja.
# # # # # # #
Bagitu Laurel memasuki resotaran M, dari jauh Arnold langsung melambaikan tangannya, membuat Laurel tersenyum dan berjalan ke arah meja tempat Arnold duduk disana.
"Selamat malam, selamat ulang tahun," Arnold tersenyum melihat Laurel yang hari ini terlihat tetap cantik walaupun mengenakan gaun yang terkesan sederhana dengan warna pastel. Arnold sedikit menahan nafasnya, apapun yang dikenakan oleh Laurel tampaknya tidak akan dapat menyembunyikan kecantikan gadis itu.
"Kemana yang lain? Belum ada yang kelihatan? Hanya kita berdua yang datang?" Laurel melirik jam di tangannya, jarum jam menunjukkan pukul 19:00 tepat.
"Kamu mau minum apa? Biar aku panggilkan waitress (Waitress adalah sebutan bagi pelayan perempuan di restoran yang bekerja melayani makan dan minum tamu restoran secara professional. Sementara pelayanan laki-lakinya disebut sebagai Waiter)," Laurel buru-buru menggelengkan kepalanya mendengar tawaran dari Arnold.
"Kita tunggu saja mereka baru pesan, mungkin mereka terlambat," Arnold hanya bisa tersenyum mengiyakan mendengar perkataan Laurel. Sekilas Laurel mengalihkan pandangannya ke samping. Tampaknya tempat duduk yang dipilih oleh Arnold hari ini benar-benar istimewa. Tempat duduk mereka berada di posisi paling selatan, dipisahkan oleh kaca untuk dapat memandang ke arah taman yang ada di sebelah selatan restoran. Di sebelah barat taman tampak kolam ikan dihias dengan air terjun buatan yang airnya selain mengalir dari atas, disampingnya tampak patung dewa cupid dengan sayapnya di sebelah kanan kirinya dengan membawa busurnya, dengan posisi siap untuk menembakkan panahnya, di sekelilingnya tampak lampu bewarna-warni menerangi kolam itu, membuat pemandangan di kolam itu terlihat indah. Di tengah-tengah taman tampak lampu menyala berbentuk hati, menambah kesan romantis restoran yang sedang mereka kunjungi malam ini.
"Arnold, kenapa mereka terlambat sekali ya?" Arnold sedikit gugup mendengar pertanyaan dari Laurel, tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal untuk menutupi kegugupannya. Laurel memandang ke sekelilingnya, entah kenapa dia merasa aneh melihat dalam jarak 15 meter dari mereka tidak ada seorangpun yang tampak duduk di kursi restoran itu.
"Laurel maaf, sebenarnya, aku yang membatalkan janji malam ini dengan mereka semua. Maaf, ada sesuatu yang mau aku sampaikan kepadamu...," Laurel langsung terbeliak kaget, bukan hanya sekedar karena kata-kata Arnold, tapi karena dari arah depan dari posisinya duduk datang sesosok laki-laki yang langsung mengambil posisi duduk di meja restoran yang berada di sebelah barat Laurel dan Arnold sedang duduk. Karena Laurel duduk di sebelah timur Arnold, otomatis laki-laki yang baru datang itu berhadap-hadapan dengannya, sedang dengan Arnold posisi laki-laki itu ada di belakang Arnold.
__ADS_1