CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
MAKAN SIANG BERSAMA SAHABAT


__ADS_3

“Ayolah, kita ke kantorku dulu. Kunjungan tamu agung kita hari ini tentu saja tidak boleh dibiarkan datang berkunjung tanpa jamuan makan,” Dave berkata sambil mengarahkan tangannya, menunjuk ke arah kantornya, membuat baik Cladia maupun Ornado tersenyum mendengar kata-kata candaan Dave barusan.


Laurel yang mendengar kata-kata Dave barusan langsung mendekat ke arah Dave dengan wajah bingung, karena awalnya mereka tidak ada rencana untuk makan siang bersama, tentu saja Laurel belum mempersiapkan apapun untuk itu. Melihat Laurel mendekat ke arahnya dengan wajah terlihat khawatir justru membuat Dave tersenyum kecil.


“Dave…, makan siang bersama?” Mendengar bisikan pelan Laurel yang baru saja mendekatkan bibirnya ke telinganya, Dave langsung mengangguk, sambil matanya melirik ke arah Cladia dan Ornado yang sudah berjalan sedikit jauh di depan mereka.


“Ada Ornado datang mengantar Cladia, mana mungkin kamu dan Cladia langsung pergi berdua. Paling tidak kita harus mengajak mereka makan siang bersama,” Dave membalas bisikan Laurel dengan tidak kalah pelannya, setelah itu Dave langsung memberikan kode kepada Laurel agar tidak lagi berbisik ke arahnya, agar Ornado dan Cladia tidak merasa canggung mengira Laurel dan Dave sedang membicarakan sesuatu yang rahasia di depan mereka, membuat akhirnya Laurel terdiam, membiarkan Dave berjalan mendekat ke arah Cladia dan Ornado yang awalnya ada di depan. Melihat Dave berjalan beriringan dengan Ornado, di samping kanan Ornado sedang Cladia berada di samping kiri Ornado, Laurel segera menyusul langkah-langkah Dave dan berjalan di samping kanan Dave.


Sepanjang berjalan di koridor rumah sakit menuju kantor Dave, beberapa pengunjung dan para pegawai yang berpapasan dengan kedua pasangan itu tidak menyia-nyiakan pemandangan di depan mereka. Mengagumi dua pasang sejoli yang tampak begitu serasi, laki-lakinya terlihat tampan dan yang wanita begitu cantik, membuat mereka berempat seperti pasangan artis yang sedang berjalan di atas karpet merah untuk menghadiri acara penghargaan di dunia perfilman.


Begitu mereka berempat sampai di kantor Dave, bukannya mempersilahkan mereka duduk di sofa yang ada di kantor Dave, justru Dave langsung mengajak Ornado dan Cladia untuk masuk ke dalam, ke jalan yang menghubungkan kantornya dengan rumah kacanya. Sesampainya di rumah kaca, Dave langsung mengajak mereka ke ruang makan, dan ternyata di sana sudah tersedia berbagai macam hidangan mewah dengan dua pelayan wanita dan dua pelayan pria berpakaian rapi sudah menunggu mereka dan siap untuk melayani mereka, membuat Laurel sedikit terbeliak dan langsung menyenggol pinggang Dave pelan dengan siku tangannya, membuat Dave langsung menoleh ke arah Laurel dengan tersenyum simpul melihat wajah kaget Laurel saat melihat pemandangan di depannya.


“Dave…, sejak kapan kamu menyiapkannya?” Dave langsung tersenyum geli mendengar pertanyaan Laurel yang diucapkan dengan nada sepelan mungkin di di dekat Dave.


“Sejak tadi pagi, karena aku merasa pasti Ornado ikut bersama Cladia siang ini. Aku ingin mengajak Ornado makan siang bersama kita. Lagipula ini kunjungan pertama mereka di rumah kaca kita,” Laurel hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan Dave. Tentu saja Laurel tidak tahu apa yang sudah dikerjakan Dave sepanjang pagi ini karena sibuk menangani para pasien di poliklinik, dan dia sendiri baru datang ke kantor Dave 10 menit sebelum jam istirahat, itupun dia sama sekali belum sempat menginjakkan kakinya di rumah kaca hari ini.


“Mira yang sudah membantuku mengatur semuanya, Tenang saja, lebih baik kamu nikmati saja hidangan makan siang kita hari ini bersama Ad dan Cladia,” Akhirnya Laurel hanya bisa mengangguk, membiarkan salah seorang pelayan menarik kursi untuk duduk di samping Dave, berhadapan dengan Ornado yang sudah lebih dahulu duduk bersebelahan dengan Cladia.


“Sepertinya makan siang hari ini benar-benar istimewa. Apa ada perayaan khusus?” Ornado bertanya sambil memandang ke arah Dave dan Laurel.


“Tidak ada, hanya merayakan kunjungan pertamamu bersama Cladia ke rumah sakit kami. Bagi kami, orang sesibuk kamu sudah menyediakan waktu berkunjung ke rumah sakit kami merupakan suatu kehormatan besar,” Dave berkata sambil tertawa pelan, membuat Cladia dan Ornado saling berpandangan dan akhirnya ikut tertawa juga.


“Kalian ini. Kami bukan orang asing. Kenapa juga ingin menyambut kami seperti menyambut tamu asing saja,” Cladia berkata untuk menyatakan protesnya, membuat Laurel tersenyum.

__ADS_1


“Sudah, tidak usah berdebat. Kita mulai makan siang kita. Anggap saja Dave sedang ingin mentraktir kita para ibu hamil Cla,” Laurel menanggapi perkataan protes Cladia sambil mengambil sayur dan lauk di depannya, diletakkannya di atas piring Dave, baru setelah itu dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Cladia, mengambil sendok sayur untuk mengambilkan makanan untuk Ornado, namun dengan cepat tiba-tiba tangan Ornado bergerak menyentuh tangan Cladia, mencoba menghalangi tangan Cladia yang sudah siap menumpahkan sendok berisi tumis sayur baby kailan dan jamur di atas piring Ornado.


(Baby Kailan (Brassica oleracea) adalah sayuran yang memiliki ciri fisik berdaun tebal, datar, mengkilap, berwarna hijau, dengan batang tebal dan sejumlah kecil kepala bunga berukuran kecil, hampir mirip dengan bunga pada sayur brokoli).


“Tidak mau sayur itu,” Cladia langsung menoleh mendengar penolakan dari Ornado.


“Jangan suka pilih-pilih makanan Al, apalagi sayur. Jaga kesehatan, jangan mentang-mentang selama hidup di Italia tidak ada yang mengontrol makananmu, membuatmu tidak berusaha makan sayur,” Cladia berbisik lembut ke telinga Ornado yang setelah menikah dengannya sering diperhatikan oleh Cladia begitu sulit dan selalu berusaha menghindar untuk memakan menu sayur di meja makan.


Mendengar apa yang dikatakan Cladia, tiba-tiba saja Ornado mengecup bibir Cladia sekilas dengan lembut. Dan seperti biasanya,  tindakan Ornado selalu berhasil membuat wajah Cladia memerah dan membuatnya salah tingkah sekaligus gugup, merasa malu melihat Dave dan Laurel yang memandang tindakan Ornado sambil mengulum senyum di wajah mereka.


“Apapun perintahmu amore mio,” Ornado berkata lirih untuk kemudian melahap sayur yang sudah diletakkan Cladia di piringnya.


Sampai kapanpun sepertinya kamu tidak akan pernah bisa melawan keinginan Cladia, Ad. Kamu selalu memilih untuk mengalah asal Cladia bahagia, Laurel berbisik pelan dalam hati, dan dengan tawa masih tersisa di wajahnya, Laurel mulai menikmati suguhan masakan ada di depan matanya.


Untuk beberapa saat mereka berempat menghabiskan waktu makan siang mereka sambil sesekali membicarakan tentang berbagai hal mulai dari pemerintahan, ekonomi, bisnis, rumah sakit dan diselingi beberapa candaan ringan yang membuat mereka begitu asyik menikmati waktu makan siang mereka berempat bersama.


“Eh,” Laurel yang baru saja melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sedikit bergumam dengan wajah kaget.


“Kenapa Laurel?” Cladia bertanya sambil ikut melirik ke arah jam di tangannya.


“Ternyata sudah siang. Sebaiknya kita segera berangkat Cla. Tidak enak membiarkan desainer kalian yang sudah datang jauh-jauh dari Italia menunggu lama di  butik,” Laurel berkata sambil membersihkan mulutnya dengan tissue.

__ADS_1


“Sudah, santai saja Laurel. Dia didatangkan ke sini memang untuk mengurus desain gaun kalian, tidak perlu sungkan. Sudah jadi tanggungjawab pekerjaannya. Walapun dia harus menunggu, aku sudah membayar penuh waktunya selama dia di sini,” Ornado langsung menenangkan Laurel yang terlihat buru-buru menyelesaikan makannya setelah melirik ke arah jarum jam di tangannya.


“Kamu enak Ad bicara seperti itu, kita yang sudah membuat janji yang merasa tidak enak. Dipikir kita orang Indonesia punya kebiasaan jam karet,” Laurel buru-buru menyangkal apa yang dikatakan oleh Ornado.


“Hah, tidak juga. Dia kan bekerja di bawah naungan perusahaan kami. Tinggal aku bilang ke dia waktu pertemuannya diubah, beres kan. Lagipula jarang-jarang kita bisa makan siang bersama seperti ini sambil sedikit bersantai,”


“Bilang saja kamu masih belum rela membiarkan Cladia pergi berdua denganku,” Laurel berkata sambil tersenyum, namun matanya sedikit melotot ke arah Ornado yang langsung tertawa.


“O ya? Bukannya kamu juga tidak rela meninggalkan Dave bersamaku di sini? Apa kamu takut gara-gara kamu sempat menghilang selama tujuh tahun menghindar dari Dave, akan membuat Dave menghilang untuk membalasmu? Ckckckck, Laurel yang biasanya begitu berani dan mandiri, sepertinya memang kali ini kamu benar-benar sudah ditaklukkan oleh Dave,” Laurel melotot mendengar sindiran dari Ornado.


“Isttt…, bicaramu seperti kamu bisa jauh dari Cladia saja,” Laurel berkata sambil memanyunkan bibirnya, membuat Ornado kembali tertawa.


Dave dan Cladia hanya tersenyum melihat bagaimana Laurel dan Ornado yang seringkali memang saling mengejek dan berbantah-bantahan saat bertemu. Pemandangan seperti itu sudah begitu sering mereka nikmati saat bertemu satu sama lain, dan biasanya Dave dan Cladia hanya menjadi penonton yang baik melihat bagaimana Laurel dan Ornado saling beradu pendapat.


“Sudahlah, jangan hiraukan ejekan Al, Laurel. Sebaiknya memang kita pergi sekarang saja. Biarkan mereka berdua menghabiskan waktunya di sini,” Cladia berkata sambil tersenyum ke arah Ornado, membuat Ornado akhirnya memilih untuk menganggukkan kepalanya daripada membuat Cladia tidak tenang. Dave hanya bisa menahan senyum gelinya melihat bagaimana Ornado, sosok pebisnis hebat yang mendunia itu begitu tunduk kepada Cladia.


“Ok, kalian pergi saja menyelesaikan urusan kalian, aku akan di sini bersama Dave sebentar, setelah itu aku akan kembali ke kantor. Dave, bisa kan Cladia dan Laurel memakai mobilmu?” Dave tersenyum sambil mengacungkan jempolnya tanda setuju.


“Dave, kami pakai mobilmu dulu, setelah itu biar Odi kembali ke rumah sakit. Nanti setelah selesai aku akan hubungi kamu, daripada membiarkan Odi menunggu lama,” Dave langsung mengangguk mendengar perkataan Laurel.


“Ok, kalau begitu kami pergi dulu,” Begitu Dave menyetujui usulnya, Laurel berkata sambil bangkit dari duduknya, berdiri dari kursi meja makan sambil melambaikan tangannya ke arah Cladia sebagai tanda mengajaknya untuk segera pergi.


“Amore mio, jangan lupa menghubungiku jika urusanmu sudah selesai,” Ornado berkata sambil menarik lembut lengan Cladia yang sudah berdiri dari duduknya, namun masih ada tepat di samping Ornado, membuat tubuh Cladia sedikit membungkuk ke arah Ornado. Dan dengan gerakan cepat, Ornado mencium bibir Cladia dengan mesra.

__ADS_1


“Ti amo amore mio, stai attento, a dopo,” (aku mencintaimu cintaku, hati-hati, sampai nanti) Setelah melepaskan ciumannya pada bibir Cladia, Ornado berbisik pelan ke telinga Cladia, dan mengecup telinga Cladia sebelum akhirnya Ornado melepaskan pegangan tangannya di lengan tangan Cladia yang langsung buru-buru menegakkan kembali tubuhnya dan langsung mendekati Laurel untuk mengurangi debaran yang begitu hebat di dadanya akibat tindakan Ornado barusan yang benar-benar tidak disangka-sangkanya


__ADS_2