CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
BERITA MENYEDIHKAN


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Laurel memilih untuk lebih banyak diam sambil memandang ke arah luar jendela, sedang Dave berkali-kali melirik ke arah Laurel yang dilihatnya lebih banyak melamun, seolah-olah sengaja tidak membiarkan Dave mengamati wajahnya. Melihat itu Dave hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, teringat kejadian tadi di rumah sakit. Dave sadar dia tidak bisa menyalahkan Laurel karena setelah dia menyelesaikan pembicaraannya dengan Meria, dengan jelas Laurel melihat bagaimana Meria yang dalam posisi duduk di atas tempat tidur rumah sakit menangis dengan begitu hebatnya, dengan tangan Meria memegang pergelangan tangan Dave, membuat Laurel menjadi salah tingkah bahkan mungkin salah paham dengannya.


Setelah tangisan Meria sedikit mereda dan Dave melepaskan pegangan tangan Meria pada pergelangan tangannya, akhirnya Laurel memutuskan untuk langsung berpamitan pulang, sedang Mama Rosalia begitu sibuk menenangkan tangis Meria yang masih terdengar begitu menyedihkan. Laurel sengaja berpamitan pulang kepada Meria dan Mama Rosalia tanpa meminta persetujuan dari Dave, sehingga ketika Dave juga ikut berpamitan, Laurel hanya meliriknya sekilas tanpa berkata sepatah katapun kepada Dave.


Dave memandang ke depan, ke arah Odi yang sedang menyetir mobilnya. Karena keberadaan Odi di mobil merupakan salah satu alasan kenapa Dave tidak mau menjelaskan kepada Laurel tentang apa yang tadi baru saja terjadi antara dia dan Meria, pembicaraan apa yang sudah membuat Meria menangis dengan tersedu-sedu, bahkan memegang pergelangan tangannya dengan erat.


Aku akan menceritakan semuanya padamu di rumah, tolong jangan salah paham kepadaku. Aku juga dalam posisi yang sulit. Aku ingin tidak perduli dengan yang lain karena aku begitu mencintaimu. Aku laki-laki yang ingin selalu bisa menjaga perasaan dan hati wanitaku kesayanganku, tapi aku juga seorang dokter yang harus berpikir bagaimana  cara untuk menyelamatkan nyawa manusia selagi aku bisa, Dave berkata dalam hati dengan mengalihkan pandangan matanya ke arah berlawanan dengan keberadaan Laurel agar Laurel tidak melihat bagaimana saat ini dia juga sedang berada dalam perang batin.


# # # # # # #


Laurel yang baru saja mengganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya sedikit terhenyak kaget ketika tiba-tiba saja Dave yang baru saja keluar dari kamar mandi memeluknya dengan erat dari arah belakang. Dengan gerakan pelan tapi penuh dengan tenaga Laurel berusaha melepaskan tangan Dave yang melingkar di pinggangnya.


“Hari ini aku sangat lelah Dave, kalau ada yang mau dibicarakan, kita bicarakan besok pagi saja,” Laurel berkata sambil berjalan menjauhi Dave.


Dave menarik nafas panjang, jika saja dia mau, tenaga Laurel tidak akan ada artinya baginya, tapi dia lebih memilih untuk membiarkan Laurel melepaskan diri dari pelukannya dan berjalan ke arah tempat tidur, merebahkan tubuhnya di sana dengan aura wajah yang Dave tahu terlihat begitu lelah dan juga terlihat sedih. Dave melirik ke arah jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Dave yakin wajah lelah yang ditunjukkan oleh Laurel bukan sekedar karena mereka baru kembali ke rumah setelah sepanjang hari sibuk, tapi kejadian di rumah sakit saat mengunjungi Meria pasti mempengaruhi pikiran Laurel.


Laurel lebih memilih untuk segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan memejamkan matanya. Laurel bukannya tidak tahu Dave sedang berdiri di depannya, di tempat semula saat tadi Dave sempat memeluk tubuhnya dari belakang, dengan jarak yang cukup jauh sambil mengamati wajahnya. Namun, Laurel lebih memilih untuk diam, jika dia membalikkan tubuhnya, saat Dave tidur di sebelahnya nanti, berarti dia harus kembali membalikkan tubuhnya untuk dapat membelakangi Dave, dan Laurel tidak mau itu, karena itu akan membuatnya benar-benar terlihat jelas sedang berusaha menghindari Dave malam ini.

__ADS_1


Laurel bisa menebak bahwa sebenarnya Dave sadar betul bahwa saat ini dia sengaja sedang menghindari Dave, berusaha untuk tidak berkomunikasi dengan Dave, dan jika dia terlalu banyak menggerakkan tubuhnya Laurel bisa memastikan Dave akan mencari cara untuk memulai pembicaraan dengannya, sedangkan malam ini Laurel sedang ingin berdiam diri, karena tiba-tiba saja sejak kejadian di rumah sakit tadi Laurel merasa begitu malas untuk mengeluarkan kata-kata dari bibirnya.


Dave menahan nafasnya sebentar, dia masih berdiri di tempatnya sambil mengamati wajah Laurel dari jauh. Sudah sejak berapa lama ini Dave begitu bahagia merasakan kehadiran Laurel yang begitu nyata di sisinya, setelah sekian lama dia hanya bisa melihat, mengamati dan memimpikan Laurel dari jauh. Namun, hari ini Dave melihat sosok Laurel yang tidak jauh darinya tapi rasanya terasa jauh dari jangkauannya.


Dave mendesah pelan, dengan gerakan kasar diusapnya wajahnya, lalu dengan gerakan pelan didekatinya Laurel. Begitu sampai di samping tubuh Laurel yang terbaring di tempat tidur, Dave berjongkok di samping tubuh Laurel. Dari gerakan dada Laurel yang menunjukkan nafasnya belum teratur, membuat Dave yakin bahwa Laurel belum tertidur, hanya saja Laurel sedang memaksakan matanya untuk terpejam. Dengan lembut Dave mendekat ke arah wajah Laurel, lalu mencium lembut bibir Laurel untuk beberapa saat.


"I love you mo cuisle. Istirahatlah, besok baru kita bicara. Semoga mimpi indah malam ini," Dave berbisik pelan di telinga Laurel sambil merapikan beberapa helai rambut Laurel yang menutupi wajahnya, merapikannya dengan cara mengarahkannya ke arah belakang telinga Laurel.


# # # # # # #


"Morning mo cuisle," Begitu Laurel terbangun suara sapaan Dave langsung menyapa telinganya, dan bibir tipis Dave langsung mengecup mesra bibirnya.


"Sudah pagi, jangan terlalu lama melakukan aksi diam seperti tadi malam. Jangan terlalu lama menghukumku mo cuisle. Kamu sudah membuatku kesulitan untuk tidur semalaman," Laurel tersenyum kecut mendengar perkataan Dave.


"Apakah semalam kamu melakukan sebuah kesalahan? Kenapa aku harus menghukummu?" Laurel berkata dengan nada datar tanpa senyuman di wajahnya, membuat Dave memasang wajah sedih.


"Mendiamkanku berarti kamu sedang menghukumku. Kamu tahu pasti kelemahanku adalah tidak mendapatkan perhatianmu. Kamu bisa dengan mudah menghancurkan hariku hanya karena sikap dinginmu terhadapku," Laurel berusaha mengalihkan wajahnya dari tatapan mata Dave, namun dengan lembut Dave meraih dagu Laurel dan mengarahkan ke wajah Dave.

__ADS_1


“Kamu bilang kita bisa bicara pagi ini,” Mendengar tuntutan dari Dave, Laurel menarik nafas panjang, rasanya masih jelas di ingatannya tentang kejadian tadi malam dimana Meria menangis di depan Dave sambil memegang erat pergelangan tangan Dave, bahkan seolah-olah Meria ingin menunjukkan bahwa keberadaannya sebagai istri sah Dave tidak dianggap dan tidak penting bagi Meria, dan Laurel bisa melihat itu dengan jelas dari cara mata Meria menatapnya tadi malam, tatapan mata yang bagi Laurel seperti tatapan mata mengejek.


Melihat Laurel yang tidak menanggapi apa yang dikatakannya, tapi justru melamun dengan tatapan mata kosong, membuat Dave mengecup bibir Laurel, menghisapnya, setelah itu menggigitnya dengan pelan, membuat Laurel tersentak kaget.


“Apa yang kamu lamunkan sepagi ini?” Pertanyaan Dave langsung membuat Laurel memandang ke arah Dave dengan tatapan ragu, bahkan saat semua hal yang ada di kepalanya ingin dia tanyakan ke Dave, justru seperti biasanya, tidak sepatah katapun yang  diucapkan Laurel yang sibuk dengan pikirannya sendiri, membuat Dave menarik nafas panjang, kemudian direngkuhnya tubuh Laurel, dipeluknya dengan erat.


“I love you mo cuisle,” Laurel sedikit menahan nafasnya mendengar pernyataan cinta dari Dave.


“Maaf jika kemarin malam aku membiarkan Meria memegang tanganku di depanmu sambil menangis. Dia sedang mengalami sesuatu yang berat dengan kondisi kesehatannya,” Mendengar perkataan Dave, Laurel mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Dave dengan wajah bertanya-tanya.


Melihat Laurel mulai mengarahkan pandangan matanya ke arahnya, Dave tersenyum dengan lembut, tangannya bergerak ke arah wajah Laurel, mengelus wajah Laurel dengan lembut, sambil menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya.


Melihat bagaimana kebiasaanmu selama ini yang selalu enggan untuk memulai berbicara saat hatimu sedang tidak tenang. Aku harus tebiasa untuk memulai berbicara kepadamu lebih dahulu. Aku harap semakin hari aku bisa semakin mengerti tentang dirimu, apa yang kamu mau untuk aku lakukan untukmu, Dave berbisik dalam hati sambil memandang Laurel dengan tatapan mesra.


“Dari hasil laporan hasil pemeriksaan kesehatannya, Meria menderita tumor otak stadium 4,” Begitu mendengar apa yang dikatakan Dave, mata Laurel terbeliak kaget, dengan mulutnya sedikit terbuka.


(Tumor otak merupakan kondisi yang ditandai dengan tumbuhnya sel-sel abnormal di dalam atau di sekitar otal. Sel-sel abnormal itu tumbuh tidak wajar dan tidak terkendali. Namun, tumor di dalam otak ini tidak selalu berubah menjadi tumor ganas atau kanker. Tingkatan tumor otak terbagi menjadi 4 tingkat, pengelompokannya berdasarkan perilaku dari tumor itu sendiri, dinilai dari kecepatan pertumbuhan dan cara penyebarannya. Untuk tingkat 1 dan 2 tumor otak tergolong jinak dan tidak berpotensi berubah menjadi tumor ganas. Sementara itu pada tingkat 3 dan 4, tumor biasanya berpotensi menjadi kanker, karena itu kondisi di stadium 3 dan 4 sering disebut dengan tumor otak ganas atau kanker otak).

__ADS_1


“Lalu…, bagaimana kondisi Meria untuk sekarang ini?” Laurel bertanya dengan suara pelan, ada perasaan bersalah sudah mencurigai Meria sengaja mendekati Dave dengan alasan sakitnya tanpa perduli dengan statusnya sebagai istri Dave, merasa bersalah telah mencurigai seseorang yang kemungkinan umurnya hanya tinggal sebentar lagi. Karena sebagai dokter spesialis penyakit dalam Laurel tahu pasti tentang kondisi pasien dengan penyakit tumor otak stadium 4.


“Untuk beberapa hari ini dia harus menjalani beberapa pemeriksaan lebih lanjut, tapi dari pengalamanku, kalau melihat hasil pemeriksaannya kemarin yang sempat aku baca, jika dia tidak segera menjalani operasi, aku takut dia tidak akan bertahan lebih dari 6 bulan ke depan,” Jantung Laurel rasanya saat ini berdetak begitu cepat, matanya semakin melotot mendengar apa yang baru dikatakan oleh Dave. Walaupun Meria bukan orang yang cukup dekat dengannya, bahkan boleh dibilang bukan orang yang dia kenal dengan baik, tapi mendengar kabar menyedihkan tentang seseorang yang dia pernah tahu cukup membuat emosi Laurel teraduk-aduk.


__ADS_2