CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KISAH DUA TAHUN LALU YANG TERPENDAM


__ADS_3

Dave dan Laurel yang meninggalkan kamar tempat Meria dirawat lebih awal dibanding Leo, langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Dan begitu sampai di rumah, Laurel dan Dave langsung masuk ke kamar mereka yang ada di rumah Mama Denia. Suasana rumah yang saat itu tampak lengang, membuat Laurel justru bersyukur melihat rumah sedang dalam kondisi kosong, karena Mama Denia dan Freya sedang tidak ada di rumah, sehingga dia bisa langsung menuju ke kamar dan beristirahat sambil menenangkan hatinya, tanpa harus bertemu siapapun yang pasti menanyakan tentang kondisinya yang terlihat lelah dan tampak tertekan.


Laurel baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya ketika sebuah suara ketukan pintu terdengar, membuatnya berniat mendekat ke arah pintu, namun Dave langsung menghalangi langkahnya.


“Istirahatlah, biar aku yang membuka pintunya,” Dave berkata sambil memegang bahu Laurel dengan lembut, menggerakkan tubuh Laurel ke arah tempat tidur.


“Selamat malam Tuan Dave,” Begitu Dave membuka pintu kamarnya, dilihatnya Bi Umi yang beberapa hari ini sengaja Dave minta untuk membantunya dan Laurel selama berada di rumah Mama Denia terlihat berdiri di depan pintu kamar.


“Ada apa Bi Umi?”


“Anu Tuan, ada tamu yang sedang mencari Tuan Dave,” Bi Umi berkata dengan sedikit menunduk untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Dave.


“Siapa Bi Umi? Rasanya aku sedang tidak ada janji bertemu dengan seseorang hari ini Bi,” Dave berkata sambil mengernyitkan dahi mencoba menebak siapa yang bertamu.


“Dokter Leo Tuan. Dokter Leo ingin bertemu dengan Tuan, tapi dokter Leo berpesan beliau ingin berbicara berdua saja dengan Tuan. Dokter Leo juga datang bersama Nona Evelyn,” Bi Umi sengaja berkata dengan nada begitu pelan, takut kalau Laurel mendengarnya dan merasa tidak enak hati karena pesan dari Leo yang menyatakan ingin berbicara dengan Dave saja.


“Kalau begitu Bi Umi persilahkan dokter Leo ke ruang keluarga dan suguhkan minuman hangat untuk beliau, tanyakan beliau ingin minuman apa. Sebentar lagi aku akan segera menyusul ke sana. Biar aku berpamitan sebentar dengan Nona Laurel,”


“Baik Tuan,” Mendengar perintah dari Dave, Bi Umi segera mengiyakan dan buru-buru berjalan menjauh dari depan kamar Dave untuk melaksanakan perintahnya barusan.


"Ada apa Dave?" Laurel yang sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur langsung bertanya begitu Dave menutup pintu kamar mereka.


"Leo dan Evelyn datang ke sini, ada sesuatu yang ingin dibicarakan mereka berdua denganku," Dengan gerakan pelan Laurel bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggiran tempat tidur dengan Dave duduk di sampingnya.


"Boleh aku ikut menemui mereka?" Laurel memandang ke arah wajah Dave yang langsung membalas tatapannya. Dave tahu kalau Laurel pasti sudah bisa mengira permbicaraan yang akan mereka lakukan pasti mengenai Meria.


"Mereka ingin bicara sendiri denganku," Laurel menarik nafas dalam-dalam mendengar pernolakan halus dari Dave.


"Apa sebagai istrimu, menurutmu aku tidak akan bisa banyak membantu?" Mendengar pertanyaan Laurel, Dave langsung meraih bahu Laurel dan meletakkan kepala Laurel di bahu kanannya sambil mengelus-elus lembut bagian samping kepala Laurel yang disandarkannya di bahunya.


Lengan Laurel bergerak ke arah pinggang Dave dan memeluknya dengan erat, melihat itu Dave hanya bisa menahan nafasnya sekilas sambil mengelus lembut punggung Laurel yang berada dalam rengkuhan lengannya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita temui Leo dan Evelyn berdua, gantilah pakaian tidurmu dahulu, aku akan temui mereka lebih dahulu," Dave mengecup lembut kening Laurel sebelum akhirnya membiarkan Laurel melepaskan pelukannya dan bangkit dari duduknya untuk berganti pakaian.


# # # # # # #


Leo dan Evelyn hanya bisa terdiam dan saling berpandang-pandangan mendengar permintaan Dave agar Laurel bisa ikut serta dalam pembicaraan mereka.


Ah, bagaimana aku harus menjelaskan kasus dua tahun lalu jika ada Laurel di sini? Aku harus memikirkan kata-kata yang baik agar apa yang harus aku jelaskan kepada Dave tidak menyakitkan bagi mereka berdua mengetahui kebenaran itu, Leo berkata dalam hati sambil menggigit bibirnya untuk beberapa saat. Wajah Evelyn pun terlihat tidak nyaman begitu kakaknya Dave mengatakan bahwa Laurel akan segera bergabung dengan mereka.


"Leo...," Leo sedikit tersentak dari lamunannya mendengar panggilan dari Dave, dan begitu Leo sedikit mendongakkan kepalanya, dilihatnya sosok Laurel sudah berdiri di samping Dave.


Dengan gerakan pelan dan lembut Dave menarik tangan Laurel, memberi tanda agar Laurel duduk di sampingnya, sedang Leo duduk di sofa yang ada di hadapan mereka dan Evelyn duduk di sebelah sisi yang lain.


"Maaf kalau kehadiranku sedikit mengganggu pembicaraan kalian," Leo langsung menggelengkan kepalanya mendengar permintaan maaf dari Laurel.


"Tidak..., tidak perlu minta maaf. Kalau memang kamu memutuskan untuk hadir di sini berarti kamu sudah siap untuk mendengar apapun yang akan kita bicarakan bersama," Laurel tersenyum mendengar perkataan Leo, tangan Dave langsung bergerak menggenggam tangan Laurel.


"Apa yang mau kalian bicarakan dengan kami?" Sebelum berbicara, Evelyn melirik sekilas ke arah Leo yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Cepat ceritakan pada Kakak, apa yang sudah terjadi? Kenapa Kakak bahkan tidak tahu sama sekali arah pembicaraanmu," Evelyn menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali berkata-kata.


"Kak Laurel ingat kejadian dua tahun lalu saat Kakak masih di Amerika? Kejadian di pesta pernikahan salah seorang teman Kak Laurel?" Laurel tersentak kaget, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya begitu Evelyn menanyakan tentang kejadian dua tahun lalu yang baginya merupakan sebuah kenangn buruk.


Ingatan Laurel kembali kepada kejadian dua tahun lalu saat dia menghadiri sebuah pesta pernikahan salah seorang teman kuliahnya. Selama di Amerika, beberapa teman laki-laki Laurel mencoba mendekatinya dan mencoba menjalin hubungan lebih dalam dengan Laurel yang tentu saja selalu berusaha menolak kehadiran mereka semua. Salah satu laki-laki yang begitu menyukainya waktu itu merupakan salah satu anak dari seseorang yang cukup berpengaruh di kota itu dan sudah lama selalu mengejar-ngejar Laurel, laki-laki bernama Ben.


Masih jelas dalam ingatan Laurel saat itu di pesta beberapa orang dengan sengaja menikmati alkohol secara berlebih dan mabuk termasuk Ben, padahal pesta itu sendiri diadakan pada siang hari. Dan Laurel ingat betul siang itu Laurel memilih untuk segera kembali ke hotel begitu melihat beberapa orang sudah mulai tidak terkendali karena mabuk.


Laurel baru saja berencana melepas gaun pestanya ketika didengarnya suara pintu kamar hotelnya dibuka dengan kasar, membuatnya tersentak kaget karena seingatnya temannya yang menikah memberinya info bahwa untuk hari ini dia mendapatkan kamar hotel sendirian karena teman sekamarnya harus segera kembali ke rumah sebelum acara selesai karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikannya.


Begitu pintu terbuka Laurel dengan jelas melihat sosok Ben yang terlihat mabuk berjalan dengan terhuyung-huyung memasuki kamarnya menggunakan kunci cadangan. Saat itu tanpa berpikir panjang Laurel berusaha berlari keluar dari kamar, namun tangan kokoh Ben segera menangkap pergelangan tangannya dan menariknya dengan kasar dan membawanya ke arah tempat tidur, membuat Laurel dengan sekuat tenaga memberontak tapi tenaganya tidak sanggup untuk melawan tenaga Ben. Saat itu pikiran Laurel benar-benar buntu dan putus asa sampai tampak 4 orang berpakaian rapi langsung memasuki kamarnya. Dua orang langsung menarik Ben keluar dari kamar hotelnya dengan kasar, sedang dua orang yang lainnya berjalan mendekat ke arah Laurel yang masih dengan wajah ketakutan duduk di pinggiran tempat tidur.


"Maaf Nona untuk kejadian hari ini. Kami pastikan hal seperti ini tidak akan pernah lagi terjadi pada Nona. Maafkan kami karena sedikit terlambat untuk datang menyelamatkan Nona," Saat itu Laurel hanya bisa diam dengan wajah yang terlihat begitu pucat karena masih kaget dan ketakutan.

__ADS_1


Tidak berapa lama setelah itu pihak hotel meminta maaf kepada Laurel dan memindahkan kamar Laurel ke Presidential suit room sebagai tanda permintaan maaf mereka. Walaupun sepanjang hari itu Laurel mendapatkan perlakuan istimewa dari pihak hotel, tapi dia lebih banyak menghabiskan waktunya di atas tempat tidur, hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur tanpa bisa tertidur karena terus teringat pada kejadian mengerikan siang itu.


Butuh waktu tidak sebentar untuk membuat Laurel mengatasi rasa traumanya setelah kejadian itu. Namun Laurel cukup terbantu dengan keberadaan teman-temannya yang menjadi lebih perhatian dan seringkali tidak membiarkannya bepergian sendiri sejak kejadian itu, bahkan sejak hari itu Ben menghilang dari kota itu dan sampai sekarang Laurel tidak pernah mendengar kabar Ben lagi.


Melihat Laurel sedikit menggigil, dan tangannya terasa begitu dingin Dave segera merengkuh tubuh Laurel dan memeluk erat bahu Laurel. Dave sendiri kembali teringat kejadian dua tahun lalu. Dave ingat benar malam itu pengawal yang sengaja disewanya untuk melindungi Laurel setelah dia meninggalkan Amerika memberinya info tentang Laurel yang mendapatkan undangan pernikahan seorang temannya dan menginap di hotel tempat temannya mengadakan pesta.


Malam itu Dave hampir saja pergi meninggalkan hotel milik keluarga Leo tempatnya berlibur dan berencana untuk langsung terbang ke Amerika begitu mendengar ada laki-laki yang cukup nekat sedang berusaha mendekati Laurel dengan begitu intens di pesta pernikahan teman Laurel hari itu, laki-laki yang bernama Ben. Namun saat itu tiba-tiba saja Dave yang sedang berlibur bersama Bryan, Evelyn, Leo, dan Meria merasa kantuk yang begitu luar biasa setelah acara makan malam, sehingga malam itu dia tertidur dengan begitu lelap tanpa sempat berbuat banyak untuk Laurel. Dan pagi hari saat Dave terbangun dia mendapatkan laporan dari anak buahnya yang ada di Amerika bahwa Laurel dalam kondisi baik-baik saja, karena ditolong oleh beberapa orang tidak dikenal dan keberadaan Ben tiba-tiba tidak diketahui dengan jelas, seperti menghilang ditelan bumi.


"Apa yang dilakukan Ben hari itu sebenarnya adalah rencana dari Meria," Dave dan Laurel langsung membeliakkan matanya mendengar perkataan Leo.


"Apa maksudmu Leo?" Dave bertanya dengan nada terdengar meninggi, membuat Evelyn sedikit tersentak karena begitu jarang dia melihat Dave menunjukkan emosinya seperti sekarang ini.


"Meria memiliki beberapa teman yang ada di Amerika yang membantunya untuk menjebak Ben dan Laurel. Dia berharap jika Ben berhasil merusak Laurel secara otomatis kamu akan meninggalkan Laurel dan berpaling padanya,"


"Beraninya dia melakukan itu pada Laurel!" Dave hampir saja tidak bisa menahan dirinya untuk bangkit dari duduknya karena emosinya, namun dengan lembut Laurel membalas genggaman tangan Dave, mencoba menenangkan Dave, membuat Dave tetap diam dalam posisi duduknya.


"Kak Dave, tenanglah dulu," Evelyn berkata pelan, Dave mengepalkan salah satu tangannya yang lain, tangan yang tidak sedang mengenggam tangan Laurel.


"Dave, sebenarnya bukan hanya itu. Malam itu saat kamu tertidur lelap sementara Laurel mengalami kesulitan di Amerika, itu juga merupakan perbuatan Meria yang sengaja memberikan obat tidur padamu, dan berencana menyelinap ke kamarmu untuk menjebakmu. Menyiapkan cerita agar seolah-olah malam itu kalian telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kalian berdua lakukan tanpa ikatan pernikahan. Tapi tanpa sengaja sore itu aku dan Evelyn mengetahui rencananya saat dia menelpon seseorang untuk mengirimkan obat tidur kepadanya. Karena itu, malam itu aku dan Evelyn sengaja mengambil kunci cadangan kamarmu agar Meria tidak bisa mendapatkan kunci kamarmu seperti rencana awalnya dan menemuinya untuk menanyakan apa maksud dari semua perbuatannya malam itu," Kali ini genggaman tangan Laurel di tangannya tidak lagi mampu meredamkan emosi Dave yang langsung melepaskan genggaman tangan Laurel dan bangkit berdiri.


Dave berdiri dengan kepala sedikit mendongak ke atas, kedua tangannya berkacak pinggang dengan wajah memerah dan hembusan nafas yang cukup keras terdengar dari bibir Dave. Sebentar kemudian tangan kiri Dave yang awalnya berkacak pinggang mengacak rambutnya dengan kasar, menunjukkan saat ini dia begitu marah.


"Kenapa kalian berdua begitu lama menyembunyikan hal ini dariku! Sengaja membiarkan Meria membodohiku sekian lama! Bahkan sampai tadi sore aku masih menganggapnya sebagai seorang adik yang lembut dan baik hati!"


"Kak Dave...," Evelyn langsung berjalan ke arah Dave, tangannya dengan lembut meraih lengan tangan kiri Dave yang sedang menarik rambut di kepalanya.


"Maaf Kak, bukan maksud kami membodohi Kak Dave. Saat itu papa sendiri yang membereskan masalah ini. Orang-orang yang menyelamatkan Kak Laurel saat itu adalah orang-orang suruhan papa. Hari itu papa Meria menemui papa dan meminta maaf secara pribadi, menjelaskan bahwa Meria tidak berniat buruk kepada kalian berdua, semua terjadi diluar kendalinya. Itu pengakuan Meria kepada papanya. Saat itu papa bilang agar aku dan Kak Leo tidak membicarakan masalah ini pada Kak Dave, agar Kak Dave tidak terpancing emosi. Papa takut jika Kak Dave tahu apa yang terjadi hari itu Kak Dave tidak bisa lagi mengendalikan emosi Kakak, sedangkan papa ingin memberikan Meria satu kesempatan untuk berubah," Dave menarik nafas panjang, bibirnya terkatup rapat mendengar semua penjelasan Evelyn. Seperti biasanya, Dave selalu lebih memilih untuk diam saat dirinya sedang dalam kondisi dipenuhi emosi.


Untuk beberapa saat ruangan itu menjadi hening, mereka berempat tampak sibuk dengan pikiran dan emosi mereka masing-masing sampai sebuah suara nada panggilan telepon memecah keheningan diantara mereka.


"Hallo pa," Dave langsung mengangkat panggilan teleponnya yang berasal dari Augistin Shaw, papanya.

__ADS_1


__ADS_2