
“Siang Bos…,” Baik Nia, Indah, dan Lusiana langsung menyapa Dave dengan wajah sedikit malu karena merasa sudah membicarakan Dave di belakangnya, sedang Dave langsung membalas sapaan mereka dengan senyum di wajahnya.
“Aku pikir kalian membawa istriku kemana, hampir saja aku melapor ke polisi karena mengira ada yang menculik istriku,” Mendengar apa yang dikatakan Dave, wajah Laurel langsung memerah, sedang Indah, Lusiana dan Nia hanya bisa mengulum senyum di bibir mereka. Ingin sekali rasanya mereka meledek Laurel karena kata-kata Dave, tapi tentu saja mereka tidak berani mengingat Dave adalah bos mereka, dan yang bisa mereka lakukan untuk saat ini hanyalah menunggu saat yang tepat untuk bisa menggoda Laurel habis-habisan, yang pasti saat pelindungnya sedang tidak ada di dekatnya.
"Kami hanya ingin mengobrol dengan Laurel Bos, sudah lama sekali rasanya kami belum memiliki kesempatan untuk mengobrol dengan Laurel. Kami juga ingin tahu bagaimana kondisi lukanya, apakah sudah membaik," Dave tersenyum mendengar penjelasan Lusiana, satu-satunya orang yang berani menjawabnya, sedang yang lain masih terlihat salah tingkah.
Dasar kalian ini, sebegitu penasarannya dengan hubunganku dengan Laurel? Memangnya kami ini artis yang sibuk mencari sensasi dengan mengumbar kehidupan pribadi kami? Lagian kalian ini masih para gadis yang belum waktunya mendengar cerita romantis para pasangan suami istri. Hari ini waktuku sudah banyak habis di luar, jadi aku harus mengambil sisa waktu istirahatku untuk Laurel, Dave berbisik dalam hati dengan geli sambil melirik ke arah Laurel yang masih duduk di gazebo bersama teman-temannya, seolah-olah pantatnya masih ingin menempel di sana. Membuat Dave sedikit menarik nafas dalam-dalam sambil tersenyum.
“Jadi nona-nona sekalian, bolehkan sekarang aku mengambil kembali istriku? Selagi jam istirahat belum berakhir? Ada hal penting yang harus kami bahas sebelum jam istirahat berakhir,” Dave berkata sambil matanya menatap dalam-dalam ke arah Laurel yang terlihat mengalihkan wajahnya dari pandangan mata Dave dengan wajahnya yang memerah karena sadar teman-temannya pasti saat ini begitu ingin menggodanya melihat sikap Dave padanya.
“Boleh Bos, silahkan,” Melihat ketiga temannya menjawab pertanyaan Dave dengan kompak, justru semakin membuat Laurel salah tingkah.
“Ok kalau begitu. Dokter Laurel, bisakah ikut denganku sebentar?” Mendengar pertanyaan Dave, Laurel hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah pasrah, sedangkan ketiga temannya hanya bisa menahan senyum geli mereka melihat bagaimana salah tingkahnya Laurel menghadapi Dave.
“Laurel, selamat bersenang-senang!” Sebelum Laurel bangkit dari duduknya Nia berbisik pelan ke arah Laurel.
“Laurel, muachhhh…,” Lusiana langsung menggerakkan bibirnya tanpa suara dengan bibir yang langsung maju ke depan membentuk tanda mencium jarak jauh, membuat dengan buru-buru Laurel langsung menjauh dari ketiga temannya yang masih sibuk menggodanya dengan bahasa bibir, sibuk mengucapkan sesuatu tanpa bersuara, agar bos mereka tidak bisa mendengarnya, bahkan Indah pun tidak mau kalah, yang akhirnya menggoda Laurel dengan menuliskan kata-kata untuk menggoda melalui pesan melalui handphone.
__ADS_1
Wahhh, melihat bos begitu memperhatikanmu rasanya bahagia sekali, jangan lupa kamu belum sempat menceritakan bagaimana Bos memanjakanmu sebagai istrinya dan bagimana sikap bos setelah kamu menerimanya sebagai suaminya secara utuh. Apa bos orang yang romantis? Apa dia biasa bersikap mesra padamu? Aku benar-benar iri…, bukan karena suamimu adalah bos yang tampan dan kaya raya, tapi bagaimana dari tatapan matanya saja semua orang bisa melihat betapa besarnya cinta Bos padamu. Semoga aku bisa mendapatkan laki-laki sebaik Bos yang mencintaiku dengan sungguh-sungguh.
Begitu membaca pesan dari Indah, Laurel hanya bisa tersenyum-senyum sendiri, membuat Dave yang baru saja memasuki kantornya diikuti oleh Laurel yang berjalan di belakang Dave langsung mendekat, dan memeluk erat tubuh Laurel.
“Apa yang membuatmu tersenyum dengan wajah sebahagia itu? Apa kamu baru menerima pesan dari pria lain? Atau ada yang sedang memberikan pernyataan cinta padamu?”
“Isstttt…, kenapa rasa cemburumu besar sekali Dave?” Dave tersenyum mendengar pertanyaan Laurel.
“Karena beberapa jam ini aku begitu merindukanmu,” Dengan gerakan cepat Dave mengangkat tubuh Laurel, mendudukkannya di atas meja kerjanya, lalu Dave mengambil posisi berdiri di depan tubuh Laurel yang duduk di meja kerjanya dengan posisi tubuh Dave berada di antara kaki Laurel yang hari itu mengenakan celana panjang kain, dengan kedua telapak tangan Dave yang berada di sebelah kanan dan kiri tubuh Laurel menekan meja kerjanya, membuat tubuh Laurel berada dalam kungkungan kedua lengannya yang berotot.
"Sebenarnya dari pagi kamu keluar kemana?" Dave tersenyum mendengar pertanyaan Laurel, untuk saat ini dia belum berencana untuk menceritakan kepada Laurel tentang pertemuannya dengan Detektif Eka agar tidak membuat Laurel khawatir.
“Ah, aku benar-benar tidak mengerti diriku sendiri, semakin hari bagiku kamu semakin menarik, semakin membuatku tidak bisa jauh darimu. Kamu seperti sebuah magnet yang selalu menarikku mendekat ke arahmu. Kamu membuatku menjadi orang yang selalu kehilangan kendali karena begitu merindukanmu,” Dave berkata sambil mencium leher jenjang Laurel yang selama beberapa waktu ini menjadi salah satu bagian tubuh Laurel yang begitu sulit untuk Dave tidak bergerak menciumnya jika berada dekat dengan Laurel.
Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave yang baginya terdengar seperti sebuah rayuan, dengan buru-buru Laurel melirik ke arah jam di dinding ruangan Dave yang menunjukkan waktu istirahat mereka hanya tinggal 5 menit lagi.
“Dave, sudah waktunya kembali bekerja,” Dave melenguh pendek mendengar Laurel mengingatkannya tentang waktu untuk kembali bekerja. Selama ini, sebelum Laurel bergabung dengan rumah sakit ini, seringkali Dave melewatkan jam istirahatnya untuk bekerja. Baginya jam istirahat terlalu lama baginya, sehingga dia perlu mengalihkan perhatiannya agar tidak memikirkan tentang jam istirahat yang terasa lama. Namun sejak kehadiran Laurel di rumah sakit ini, dia merasa jam istirahat menjadi begitu singkat, membuatnya merasa tidak puas, tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Laurel, dan itu yang membuat Dave selama ini berusaha begitu keras untuk selalu mencari alasan agar Laurel datang ke kantornya saat Laurel belum mengetahui status hubungan mereka saat itu, agar bisa menghabiskan waktu istirahatnya dengan gadis yang sudah ditunggunya selama 7 tahun.
__ADS_1
"Dave, ayo kembali bekerja," Dave tersenyum mendengar permintaan Laurel, dengan sigap Dave memeluk tubuh Laurel dan menurunkannya dari atas meja kerjanya dengan kedua lengan Laurel masih memeluk leher Dave. Ketika Laurel sudah kembali berdiri di atas kedua kakinya, baru dia melepaskan tangannya yang melingkar di leher Dave.
"Mo cuisle, untuk beberapa waktu ke depan, aku akan menyiapkan sopir khusus untukmu jika bepergian atau berangkat kerja sendirian, saat jadwal jam kerja kita berbeda. Aku sudah mendapatkan seorang sopir perempuan yang handal untukmu," Laurel mengernyitkan alisnya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dave.
"Dengan kamu memberikan sebuah mobil saja sudah lebih dari cukup bagiku, aku bisa menyetir sendiri, kenapa kamu juga harus menyediakan sopir juga?" Dave menggeleng dengan wajahnya menunjukkan aura berwibawa yang Laurel tahu tidak akan mudah untuk membuat Dave mengatakan iya untuk idenya barusan.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu khawatirkan?" Dave tersenyum mendengar pertanyaan Laurel, berusaha membuat wajahnya tidak menunjukkan kekhawatiran agar Laurel tidak ikut khawatir.
Semakin hari sepertinya kamu semakin mengenalku, bahkan sekarang seolah-olah kamu memiliki kemampuan untuk membaca pikiranku. Sepertinya ke depannya tidak ada lagi yang bisa kusembunyikan darimu, Dave berkata dalam hati sambil matanya memandang ke arah Laurel dalam-dalam, dengan bibirnya tetap menyunggingkan sebuah senyuman untuk Laurel yang sedang menunggu jawaban dari Dave.
"Orang yang berusaha membunuhmu dengan menusukmu menggunakan pisau belum ditemukan. Kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Sebenarnya aku ingin sekali membuat jadwal jaga malammu dihapuskan, supaya setiap hari kita bisa berangkat dan pulang kerja bersama-sama, sehingga aku sendiri bisa menjagamu. Tapi aku yakin kamu akan menolak opsiku itu, jadi lebih baik kalau mengaturkan sopir untukmu, yang sekaligus memiliki kemampuan untuk menjagamu," Laurel menyentuh pipi Dave dengan lembut dan menempelkan telapak tangannya di situ sambil mengelus wajah Dave dengan gerakan pelan menggunakan jari-jarinya yang lentik.
"Jangan terlalu khawatir seperti itu Dave. Kalau memang bisa membuatmu lebih tenang, apa kamu ingin untuk sementara waktu kita pindah ke rumah kaca?" Dave membeliakkan matanya mendengar ide dari Laurel.
"Apa kamu bersedia pindah ke sini?" Laurel mengangguk pasti mendengar pertanyaan dari Dave.
"Kenapa tidak? Asal bersamamu, tidak akan ada bedanya aku tinggal dimana. Disini juga nyaman, aku tidak perlu menggunakan mobil untuk melakukan perjalanan ke tempat kerja, kita bisa merasa lebih tenang sampai pelaku ditemukan. Lagipula...," Laurel terdiam beberapa saat sebelum meneruskan bicaranya.
__ADS_1
"Aku juga akan merasa nyaman dan aman karena walaupun mendapat jadwal jaga malam, aku tahu kamu ada di dekatku, menemaniku walaupun posisimu ada di rumah kaca," Laurel berkata dengan wajah sedikit memerah, membuat dengan cepat Dave menarik tubuh Laurel untuk mendekat ke arahnya, mencium bibirnya dengan mesra, dengan tangan kirinya memeluk sambil mengelus lembut punggung Laurel, sedang tangan kanan Dave memegang tengkuk Laurel agar bibir mereka bisa semakin menyatu, membuat Dave dapat mencium Laurel dengan lebih dalam lagi, bahkan saat ini Laurel membiarkan lidah Dave ikut mengeksplore bibir lembutnya, tidak perduli lagi dengan jarum jam yang sudah menunjuk tepat ke arah pukul 13:00, waktu berakhirnya jam istirahat mereka. Sepertinya untuk kali ini jiwa profesionalisme mereka dalam bekerja bener-benar tidak diingat oleh mereka.
Ah, hanya hari ini. Untuk hari ini aku akan membiarkan diriku menjadi orang yang tidak tepat waktu, Dave bekata dalam hati dengan tetap memeluk dan mencium bibir Laurel dengan penuh hasrat.