
"Boleh aku duduk disini?" Lusiana, Indah dan Laurel yang sedang duduk di dalam kantin tersenyum mendengar pertanyaan Leo yang mendekat ke arah mereka sambil membawa nampan berisi makan siangnya, kebetulan hari ini Nia mengambil cutinya karena mamanya sedang sakit.
"Silahkan dok, dengan senang hati bisa makan siang bersama dokter Leo," Indah langsung menjawab dengan cepat, karena merasa senang ada pemandangan laki-laki tampan di acara makan siangnya kali ini, Leo langsung tersenyum mendengar jawaban dari Indah yang mewakili yang lain.
"Dok, dua hari ini tidak kelihatan kemana saja?"
"Ah, ada acara pernikahan sepupuku, jadi aku mengambil cuti dua hari ini karena perjalanan cukup jauh, apalagi perginya bersama keluarga besar yang sebagian sudah berumur, kasihan mereka kalau harus langsung bolak balik," Leo menjawab pertanyaan Indah yang langsung menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Leo.
"Eh, bagaimana persiapan berlibur kalian? Kali ini aku tidak ikut dalam kepanitiaan, tapi aku jamin kalian akan senang berlibur disana, jangan lupa membawa pakaian renang, kolam renang di villa itu benar-benar...," Tanpa meneruskan perkataannya Leo mengacungkan kedua jempolnya, membuat yang lain tersenyum.
Bagi mereka tidak mengherankan jika Leo tahu banyak tentang villa keluarga Shaw, karena dari cerita beberapa pegawai senior sejak kecil keluarga Leo sudah dekat dengan keluarga Dave, bahkan kisah hidup mereka boleh dibilang mirip, Leo yang merupakan anak kedua di keluarganya lebih memilih bergabung dengan rumah sakit Dave dan menyerahkan usaha keluarganya kepada kakak perempuannya, satu-satunya saudara kandungnya, bahkan boleh dibilang tindakan Leo lebih ekstrim dari Dave, Leo benar-benar tidak mau terlibat sama sekali dengan bisnis keluarganya. Karena memiliki visi dan misi yang sama itu juga yang membuat Leo dan Dave selama ini selalu bersama sejak mereka masih kecil bahkan sampai sekarang ini, bahkan saat ini mereka pun sedang menyukai wanita yang sama.
"Dokter Laurel baik-baik saja?" Leo bertanya kepada Laurel dengan sedikit mengernyitkan alisnya karena melihat senyum Laurel yang hari ini terlihat tidak seperti biasanya.
"Eh, iya dok," Laurel sedikit tergagap menjawab pertanyaan Leo.
"Saya baik-baik saja," Laurel buru-buru meneruskan bicaranya sambil tersenyum manis dengan lesung pipitnya yang membuat Leo harus sedikit mengalihkan pandangannya agar matanya tidak terpaku pada wajah Laurel. Sejak Laurel tahu tentang statusnya sebagai istri Dave tentu saja Leo tidak ingin benar-benar menunjukkan rasa sukanya pada Laurel agar tidak menambah panas situasi diantara mereka, yang bisa dia lakukan hanya berusaha mendukung Laurel, apapun keputusan Laurel tentang hubungannya dengan Dave ke depannya.
"Boleh kami bergabung?" Tiba-tiba saja Mira dan Dave yang baru saja masuk ke kantin mendekat ke arah meja tempat mereka berempat berada dan langsung meminta untuk bergabung. Sejak kedatangannya dari Kalimantan Dave lebih memilih untuk menikmati makan siang di kantin, bergabung dengan yang lain, karena toh Laurel tidak akan mau dia ajak makan siang lagi setelah kejadian hari itu.
"Eh, silahkan Mir, silahkan bos," Lagi-lagi Indah buru-buru merespon permintaan Mira untuk bergabung. Leo langsung menggeser duduknya ke samping, memberikan tempat kepada Mira dan Dave yang langung mengambil posisi duduk di sebelah kiri Leo, sedang Mira duduk di samping kiri Dave, membuat posisi Laurel berhadap-hadapan dengan Leo, dengan Dave duduk di sebelah Leo.
"Tumben bos, hampir selesai jam makan siang baru ke kantin?" Lusiana bertanya sambil sedikit melirik ke arah wajah Laurel yang tampak kikuk setelah Dave duduk di hadapannya walaupun tidak lurus di depannya.
__ADS_1
"Ah, iya, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum acara liburan kita," Dave menjawab pertanyaan Lusiana, setelah itu meneguk minuman hangat di hadapannya yang baru diantar oleh pelayan kantin, sepertinya siang ini dia tidak ada niat untuk menikmati makan siang.
Indah memandang Dave dan Leo bergantian, karena jujur saja selama ini dia begitu jarang bisa duduk dengan jarak begitu dekat baik dengan Leo dan Dave, bisa menikmati pesona wajah tampan kedua pimpinannya tersebut. Terus terang sejak dia dekat dengan Laurel dan menjadi perawat yang ditunjuk untuk menjadi asisten Laurel, dia seringkali mendapat kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan dokter-dokter lain, terutama Nia dan Lusiana, bahkan Leo atau Dave seperti hari ini karena Laurel seringkali mengajaknya makan siang atau menghabiskan waktu istirahat bersamanya.
Kesempatan yang dulunya benar-benar jarang dia dapatkan karena beberapa dokter yang lain seringkali menganggap remeh posisinya yang nota bene hanya seorang perawat junior di rumah sakit ini, namun sejak kedatangan Laurel yang terlihat tidak perduli dengan status dan jabatan, membuatnya semakin menikmati perkerjaannya di rumah sakit ini karena merasa dihargai.
Bagi Laurel sendiri, dia sudah pernah merasakan berada di puncak saat ayahnya masih hidup dan usaha mereka dalam kondisi berkembang pesat, tapi dia juga pernah berada di posisi terendah dalam hidupnya dimana dia sudah tidak memiliki apa-apa sama sekali, membuatnya menjadi orang yang lebih toleran terhadap orang lain dengan status dan tingkat ekonomi yang berbeda.
Indah tersenyum, kadang di dalam bekerja bukan hanya masalah gaji, tapi bagaimana kita bisa menikmati pekerjaan kita dan merasa dihargai apapun posisi kita jauh lebih menjadi bahan pertimbangan untuk kita bertahan disana.
"Bos, sepertinya di grup belum diumumkan tentang persiapan berlibur kita, jam berapa kita akan berangkat?" Dave langsung tersenyum mendengar pertanyaan Lusiana.
"Sore jam 4 ini kita akan meetingkan tentang masalah itu, lalu bagaimana dengan dokter Laurel? Apakah jadi mengambil cuti di hari itu?" Laurel sedikit tersentak mendengar pertanyaan Dave, sedang Lusiana sedikit membeliakkan matanya mendengar pertanyaan Dave, karena setahunya Laurel tidak ada rencana cuti di hari itu, justru dia ingin menggantikan jadwal piket yang lain.
"Eh, belum saya pikirkan bos," Laurel mencoba berkelit untuk menjawab pertanyaan Dave.
"Dokter Laurel ada acara di tanggal yang sama? Apa tidak bisa ditunda? Liburan besar seperti ini hanya bisa kita nikmati setahun sekali," Leo bertanya sambil matanya menatap lurus ke arah Laurel.
"Dokter Laurel berencana mengajukan cuti untuk acara keluarga," Dengan cepat Dave menjawab pertanyaan Leo, mewakili Laurel, membuat Laurel sedikit kaget,tapi memilih untuk tetap diam.
"Sudah waktunya kembali bekerja, dokter Laurel tolong ke kantorku sebentar untuk membahas cutimu," Lagi-lagi Laurel tersentak mendengar perintah dari Dave, Mira sedikit menahan senyumnya melihat bagaimana kedua orang itu tampak begitu berusaha bersikap sewajar mungkin di depan semua orang, seolah-olah mereka tidak sedang dalam kondisi perang dingin.
Begitu keluar dari kantin, Laurel berjalan di belakang Dave mengikutinya berjalan ke arah kantornya. Laurel berjalan sambil sedikit melamun, sehingga ketika Dave tiba-tiba menghentikan langkahnya mendadak membuat tubuh Laurel menabrak punggung Dave.
__ADS_1
"Aduh," Tangan Laurel langsung mengelus dahinya yang terasa sedikit sakit setelah menabrak punggung Dave, sedang Dave langsung membalikkan tubuhnya sambil tersenyum.
"Kepalamu cukup keras juga, untung tulang punggungku tidak retak mendapat benturan sekeras itu. Jangan berjalan di belakangku, berjalanlah di sampingku," Dave langsung bergerak mengambil posisi di samping Laurel yang memilih untuk tetap diam, tidak mengomentari perkataan Dave, rasanya untuk sekarang dia begitu malas berdebat dengan Dave setelah beberapa pertistiwa yang dia alami, toh pada akhirnya dia tidak pernah menang melawan Dave.
Baru saja mereka berjalan dua langkah dari arah berlawanan tampak dokter Arman dengan sedikit berlari mendekat ke arah Dave dan Laurel.
"Siang bos," Begitu sampai di depan mereka, dokter Arman langsung menyapa Dave dengan wajah ceria.
"Siang dokter Arman," Begitu mendengar balasan dari Dave, dokter Arman tersenyum sambil menyodorkan sebuah amplop kepada Dave yang langsung mengernyitkan alisnya dengan wajah bertanya-tanya.
"Minta tolong bos buka dulu," Awalnya Laurel tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka berdua, tapi melihat wajah Dave yang begitu kaget setelah membuka amplop dari dokter Arman dan mengambil isi di dalamnya, mau tidak mau membuat Laurel penasaran dan sedikit melirik ke arah tangan Dave yang saat ini memegang selembar foto seorang gadis.
"Apa maksudnya ini dokter Arman?"
"Ehmmm, itu keponakan saya, saya sudah lama minta Mira mengaturkan jadwal agar dia bisa bertemu dengan bos, tapi sampai sekarang sepertinya jadwal bos masih padat. Dia gadis cantik dan pintar, lulusan dari Universitas terkenal di Singapura, dari keluarga baik-baik," Dave mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan dokter Arman, sedang Laurel yang teringat tentang kejadian di kantin tentang dokter Arman ingin menjodohkan Dave dengan keponakannya berusaha menahan senyumnya.
"Dia berencana melamar kerja disini?" Dokter Arman langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Dave.
"Bukan bos, ehmmm, maksud saya..., saya ingin mengenalkannya dengan bos, mungkin saja kalian berjodoh, bisa sampai ke jenjang pernikahan," Dave terbeliak kaget mendengar perkataan dokter Arman.
"Maaf bos, saya pergi dulu," Laurel yang sudah tidak bisa lagi menahan tawanya langsung berpamitan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya dan berpamitan untuk pergi meninggalkan mereka berdua, tapi dengan cepat Dave yang berdiri di sebelah kiri Laurel meraih pergelangan tangan kanan Laurel dengan tangan kirinya, mencegah Laurel pergi meninggalkannya.
"Maaf dokter Arman, aku hargai niat baik dokter, tapi aku tidak berencana mengikuti acara perjodohan, aku akan memilih istriku sendiri," Dave berkata kepada dokter Arman, dengan tangan kirinya masih mencekal tangan kanan Laurel dengan erat, membuat dokter Arman melirik ke arah tangan Dave yang sedang memegang pergelangan tangan Laurel, membuat Laurel merasa tidak enak dan menggerak-gerakkan tangannya seolah memberi tanda kepada Dave agar melepaskan tangannya, tapi setiap Laurel menggerakkan tangannya, cekalan tangan Dave juga semakin kuat, membuat Laurel akhirnya menyerah.
__ADS_1