CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
MILIK KITA BERSAMA


__ADS_3

“Apa kabar Tante? Laurel benar-benar merindukan Tante,” Laurel berkata sambil melepaskan pelukannya kepada tantenya yang terlihat tersenyum ke arahnya sambil matanya melirik ke arah dua orang wanita yang sedang duduk di ruang tamunya, memberi tanda agar mereka segera pergi dari rumahnya.


Dave yang membawa satu kotak kue meletakkan apa yang dibawanya ke atas meja dan berdiri di belakang Laurel yang sedang berhadap-hadapan dengan tantenya sehingga dengan jelas Dave bisa melihat bagaimana Tante Lina terlihat kurang nyaman melihat kedatangan mereka berdua sore ini.


“Eh, kalau begitu kami permisi dulu Bu Lina. Besok kita sambung lagi pembicaraan kita,” Kedua wanita yang merupakan tamu dari Tante Lina segera bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada tuan rumah.


“Ooo, iya. Besok aku akan hubungi kembali,” Tante Lina segera menjawab untuk membiarkan kedua tamunya pergi.


“Eh, Laurel, ayo duduklah,” Tante Lina tersenyum manis dan mempersilahkan Laurel untuk duduk, membuat Dave hanya bisa menahan nafasnya sebentar karena melihat bagaimana Tante Lina terlihat berusaha keras mengubah raut wajahnya saat berbicara dengan Laurel agar terlihat ramah dan senang.


“Ehem…, itu…,” Laurel tersenyum mendengar perkataan Tante Lina yang terputus-putus sambil matanya memandang ke arah Dave dengan tatapan mata terlihat sedikit gugup.


“Iya Tante, ini Dave, suamiku,” Dave mengulurkan tangan ke arah Tante Lina yang dengan pelan menyambut uluran tangan Dave.


“Selamat ya untuk kalian berdua,” Tante Lina berkata sambil kembali menggerakkan tangannya sebagai tanda mempersilahkan mereka berdua duduk di sofa ruang tamunya.


“Tante, sudah lama sekali kita tidak bertemu, tapi Tante tidak datang ke pesta perayaan pernikahan kami. Apa Tante sedang ada masalah?” Tante Lina yang duduk berhadap-hadapan dengan Dave dan Laurel terlihat sedikit salah tingkah mendengar pertanyaan dari Laurel.


“Ti…, tidak, eh, iya. Tante sedang banyak menghadapi banyak masalah, karena itu Tante tidak bisa datang ke undangan pesta kalian. Maafkan Tante,” Laurel tersenyum mendengar perkataan Tante Lina.


“Tidak Tante. Tidak perlu meminta maaf, justru Laurel yang harusnya meminta maaf, selama ini Tante sudah banyak membantu Laurel, tapi Laurel belum pernah sekalipun melakukan apa-apa buat Tante,” Tante Lina hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Laurel, sedang Dave hanya duduk diam sambil mengamati pembicaraan antara Laurel dan tantenya.


“Tante, sore ini Laurel sengaja datang ke sini untuk melihat kondisi Tante dan menanyakan apa yang mungkin Laurel bisa bantu. Laurel harap Tante tidak tersinggung. Walaupun Laurel tidak tahu apakah ini akan membantu Tante….Bagaimana kalau Laurel mengembalikan apa yang sudah pernah Tante Lina berikan kepada Laurel selama Laurel di Amerika?” Tante Lina langsung terbeliak mendengar kata-kata Laurel, sedang Dave yang tampaknya juga kaget dengan perkataan Laurel kepada tantenya, sedikit melirik ke arah Laurel.


“Tidak! Tidak perlu Laurel! Kondisi Tante sudah jauh lebih baik sekarang,” Tante Lina langsung berkata sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak ingin menerima penawaran dari Laurel.


Melihat bagaimana reaksi tantenya, Laurel bangkit dari duduknya, berjalan ke arah tantenya dan duduk di sampingnya. Dengan gerakan pelan Laurel meraih tangan Tante Lina dan menggenggamnya dengan erat.


“Tante, Tante jangan khawatir. Laurel sudah bekerja, bahkan memiliki Dave sebagai suami Laurel yang akan membantu dengan senang hati jika Tante mengalami kesulitan. Tolong kali ini jangan menolak permintaan Laurel. Laurel ingin membalas budi kepada Tante,” Tangan Tante Lina tiba-tiba berkeringat dingin mendengar perkataan Laurel, apalagi dilihatnya Dave sedang menatap tajam ke arahnya.


“Tante…, Tante kenapa?” Laurel bertanya sambil memandang dalam-dalam ke arah tantenya yang terlihat begitu tidak nyaman saat ini.


“Maaf Laurel, Tante sedang tidak enak badan. Bisakah lain kali kita bicarakan masalah ini?” Laurel mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Tante Lina, dilihatnya kening Tante Lina yang menitikkan keringat dingin.


“Tante sepertinya berkeringat dingin. Apa perlu kami antar ke rumah sakit Tante?” Tante Lina langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat mendengar penawaran Laurel.


“Tidak! Tidak perlu! Tante hanya butuh istirahat,” Laurel menganggukkan kepalanya, sekilas matanya memandang ke sekelilingnya, mencari sosok suami tantenya yang sepertinya tidak muncul sedari tadi.

__ADS_1


“Tante…,Om dimana? Sedari tadi Laurel tidak melihat Om? Apa sedang keluar?” Tante Lina kembali tersentak kaget dengan pertanyaan Laurel.


“Ooo, Ommu sedang keluar, ada nanti malam baru kembali. Laurel…, bisakah untuk hari ini Tante beristirahat dulu? Jika ada waktu, Tante akan menemuimu,” Tante Lina berkata sambil menarik tangannya perlahan dari genggaman tangan Laurel.


"Tante..., benar tidak apa-apa ditinggal sendirian tanpa ada Om? Apa perlu Laurel menemani Tante?" Tante Lina menggeleng, dengan gerakan pelan dan terlihat sedikit bergetar tangan Tante Lina menyentuh bahu Laurel, membuat Laurel sedikit mengernyitkan dahi melihat sikap Tante Lina yang saat ini terlihat cukup aneh baginya.


Bahkan saat ini Laurel merasa tantenya tidak seperti dulu. Dulu Laurel masih ingat dengan jelas bagaimana semasa papa Laurel masih hidup, Tante Lina begitu menyayanginya, bahkan menganggapnya anak sendiri, karena tantenya juga sudah belasan tahun menikah tetapi tidak memiliki anak. Saat dia mengalami masalah, seringkali Laurel pergi ke rumah tantenya untuk mengadu, dan dengan senang hati Tante Lina akan selalu berusaha mencarikannya jalan keluar, seperti kasus tujuh tahun lalu, Tante Lina yang sudah banyak membantunya mengurus segala keperluan dan keberangkatannya ke Amerika.


"Lebih baik kamu pulang saja, Tante ingin beristirahat. Jangan khawatir, ada pelayan yang menemani Tante," Tante Lina berkata pelan dengan tangannya mengelus bahu Laurel.


Mendengar itu Laurel hanya bisa tersenyum, diliriknya Dave yang langsung menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju untuk Laurel memenuhi permintaan tantenya.


"Baiklah, Laurel akan pulang, lain kali saat Tante sudah merasa sehat, Laurel akan kembali berkunjung ke sini," Laurel bangkit dari duduknya, kembali mendekat ke arah Dave yang langsung ikut bangkit dari duduknya.


"Kami permisi pulang dulu Tante, semoga cepat sembuh. Kalau Tante membutuhkan bantuan jangan segan-segan menghubungi Laurel," Tante Lina hanya mengangguk pelan untuk memberikan respon atas pernyataan Laurel.


"Eh, Tante tidak perlu mengantar. Lebih baik Tante segera ke kamar untuk bisa beristirahat," Laurel langsung mencegah Tante Lina untuk bangkit dari duduknya.


# # # # # # #


"Ah..., aku merasa ada yang aneh dengan Tante Lina. Sikapnya hari ini seperti orang asing kepadaku," Laurel berkata sambil meletakkan siku tangan kirinya ke jendela dan menopang pelipis kepalanya dengan tangan kirinya yang tergenggam.


"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Tante Lina yang aku tidak tahu ya? Kira-kira apa aku bisa membantunya?" Dave menarik nafas dalam-dalam mendengar pertanyaan Laurel yang sepertinya lebih dia arahkan kepada dirinya sendiri.


Hahhh..., bagaimana aku menjelaskan semuanya padamu mo cuisle? Aku tidak ingin kamu terluka, walaupun aku juga tidak ingin menyimpan rahasia terlalu lama darimu, Dave berbisik dalam hati dan berusaha berkonsentrasi kepada kemudinya agar bisa sedikit menenangkan pikirannya.


"Dave...,"


"Hmmm...?" Dave bergumam pelan untuk menyahuti pangggilan Laurel.


"Apa kira-kira..., aku bisa meminjam uang darimu?" Tanpa sadar Dave sedikit menginjak rem mobilnya karena kaget dengan pertanyaan Laurel barusan, matanya langsung memandang wajah Laurel yang langsung tertunduk melihat reaksi Dave saat dia membicarakan tentang uang.


"Dave...," Melihat Dave kembali menambah kecepatan mobilnya, Laurel sekali lagi memanggil nama Dave yang sengaja tidak menjawab pertanyaan Laurel barusan.


"Kita bicarakan hal itu setelah kita sampai rumah," Dave berkata pelan, setelah itu Dave memilih untuk tidak memulai pembicaraan dengan Laurel sedikitpun, membuat Laurel terdiam dengan perasaan tidak enak melihat sikap Dave yang tiba-tiba menjadi dingin.


Apa Dave marah karena kami baru saja rujuk tiba-tiba aku meminjam uang darinya? Apa aku sudah bersikap terlalu lancang? Atau dia tahu kalau aku akan memakai uang itu untuk membantu Tante Lina dan dia tidak setuju? Laurel berkata dalam hati sambil matanya memandang ke arah luar jendela, seolah-olah dia pun ikut menghindari pembicaraan dengan Dave, merasa bersalah sudah berani menyinggung tentang uang di depan Dave.

__ADS_1


# # # # # # #


Begitu sampai di rumah, para pengawal segera berlari mendekat dan membukakan pintu mobil untuk Laurel dan Dave. Walaupun setelah keluar dari mobil Laurel melihat Dave menunggunya untuk berjalan bersama memasuki rumah, tapi kali ini Laurel merasakan aura dingin dari Dave yang membuatnya sedikit mengambil jarak saat berjalan bersebelahan dengan Dave, melihat apa yang dilakukan oleh Laurel, Dave sedikit melirik ke arah Laurel sambil menahan nafasnya.


Setelah memasuki rumah, Laurel langsung masuk ke kamarnya dan mengambil pakaian ganti untuk segera mandi setelah diliriknya jam di dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore. Begitu keluar dari kamar mandinya, Laurel melihat Dave sudah duduk di sofa yang ada di dalam kamar, yang menghadap ke arah jendela kamar dengan pakaian yang sudah berganti dan wajah segar yang menunjukkan Dave sudah mandi, dan yang pasti di kamar mandi lain, membuat hati Laurel kembali dipenuhi oleh rasa bersalah.


Ah, benar-benar suasana yang tidak mengenakkan, tapi masalah bukan untuk dihindari, tapi dihadapi, harus diselesaikan, Laurel berkata dalam hati dan dengan sedikit ragu mendekat ke arah Dave yang sedang sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya.


"Dave...," Mendengar panggilan pelan dari Laurel, Dave mengangkat kepalanya, dipandanginya wajah Laurel yang terlihat cantik dengan rambutnya yang berada di keningnya terlihat sedikit basah, membuat Dave sedikit menelan ludah di tenggorakannya.


"Ya...," Dave menjawab dengan nada ogah-ogahan, membuat Laurel menjadi salah tingkah melihat reaksi Dave yang tidak seperti biasanya.


"Sepertinya kita harus bicara," Laurel berkata pelan.


"Apa? Aku tidak dengar dengan jelas. Kamu mau apa?" Dave berkata sambil menyipitkan matanya, membuat Laurel harus menarik nafas panjang karena melihat Dave sengaja menggodanya, walaupun wajah Dave saat ini terlihat serius, tanpa senyum di wajah tampannya.


"Kita harus bicara," Laurel membungkukkan sedikit tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Dave dan berbisik di telinga Dave.


"Akhh...," Mendengar bisikan dari Laurel di telinganya, dengan cepat Dave meletakkan laptop yang dipangkuannya di sisinya, lalu dengan gerakan secepat kilat Dave menarik tubuh Laurel sehingga duduk terjatuh di pangkuannya sehingga membuat Laurel sedikit terpekik kaget.


"Kamu...," Dave berkata pelan sambil memeluk tubuh Laurel dengan erat dan langsung menciumi leher dan bahu Laurel yang menyebarkan bahu harum sabun mandinya yang beraroma segar.


"Apa kamu benar-benar menganggap aku suamimu?" Dave berkata pelan dengan hidungnya masih sibuk menciumi tubuh Laurel.


Mendengar pertanyaan Dave, Laurel sedikit menjauhkan tubuhnya dari Dave. Namun dengan cepat lengan Dave langsung bergerak ke arah punggung Laurel, sedang tangan lainnya melingkar di pinggang Laurel dan menarik tubuh istrinya agar kembali mendekat ke arahnya.


"Dave..., kenapa kamu bertanya seperti itu kepadaku? Apa kamu merasa aku tidak menganggapmu sebagai suamiku?" Dave menghentikan tindakannya sebentar, tangannya bergerak ke arah tengkuk Laurel dan mendorong wajah Laurel agar mendekat ke arah wajahnya dan dengan cepat Dave mencium bibir Laurel untuk beberapa saat.


"Apa maksudmu dengan rencanamu meminjam uang dariku?" Dave berkata setelah melepaskan ciumannya yang sempat membuat Laurel hampir kehabisan nafas.


"Aku..., hanya ingin mengembalikan apa yang sudah diberikan oleh Tante Lina padaku. Mungkin itu bisa membantu kesulitannya dan aku berharap meminjam uang darimu untuk...," Laurel kembali terdiam karena dengan cepat Dave kembali membungkam bibir Laurel dengan bibirnya.


"Di depan banyak orang kamu sudah mengakuiku sebagai suamimu, tapi kenapa pikiranmu tetap seperti seorang gadis lajang bodoh yang belum menikah. Bahkan saat ini kamu sudah hampir menjadi seorang mama, dengan baby yang ada di perutmu," Dave berkata setelah membuat Laurel terdiam dari bicaranya.


"Dave..., apa kamu marah?" Dengan pelan jari tangan Dave bergerak ke kening Laurel dan menjitaknya pelan menggunakan ujung jari telunjuknya.


"Setelah kita menikah, tidak ada lagi milikku dan milikmu, yang ada adalah milik kita. Lalu, apa maksudmu dengan permintaan meminjam uang dariku?" Laurel tersentak kaget mendengar perkataan Dave, sedari tadi dia sudah begitu sibuk berpikir tentang sikap Dave yang mungkin tersinggung karena dia begitu lancang mau meminjam uang darinya, tapi ternyata Dave sedang kesal karena Laurel sebagai istrinya menganggap apa yang dimiliki Dave bukan merupakan miliknya sebagai istri sah Dave.

__ADS_1


__ADS_2