
Dave tersenyum melihat bagaimana sore ini Laurel terlihat sibuk di dapur, terlihat begitu cantik dengan apron (apron atau dengan kata lain celemek, adalah kain yang digunakan setelah pakaian untuk melindungi bagian depan badan. Celemek memiliki banyak kegunaan, tetap kegunaan paling populer adalah melindungi pemakainya dari noda) bewarna hijau muda bermotif bunga-bunga, sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam mereka berdua. Untuk beberapa saat Dave sengaja berdiri di tempatnya tanpa mengeluarkan suara, mata Dave memandang ke arah Laurel yang terlihat sibuk dengan tatapan penuh cinta, sedang bibirnya menyungingkan senyum, menunjukkan betapa dia merasa bahagia melihat kehadiran Laurel di rumah kacanya.
Sejak pembicaraan mereka kemarin lusa, dengan cepat mereka langsung memutuskan untuk pindah ke rumah kaca, sore itu mereka hanya pulang ke rumah untuk mengambil beberapa kebutuhan mereka dan langsung kembali ke rumah kaca untuk tinggal di sana untuk sementara waktu. Walaupun rumah kaca tidak sebesar rumah yang selama ini mereka tempati, namun secara luas bangunan rumah kaca Dave tidak bisa dikatakan kecil, apalagi sederhana.
Dengan semua penataan ruangan dan perabotan yang ada, setiap orang yang memasuki rumah kaca akan dengan spontan memberikan penilaian bahwa rumah kaca milik Dave merupakan rumah yang di design dengan tatanan modern dan begitu mewah, apalagi dengan adanya begitu banyak peralatan modern dan canggih yang ada di dalamnya.
Rumah kaca milik Dave tidak seluas rumah peninggalan papa Laurel jika dihitung bersama dengan luas tanah yang berupa kebun, halaman dan taman, namun jika dibandingkan hanya luas bangunannya saja, rumah kaca milik Dave bahkan lebih luas dari bangunan rumah peninggalan papa Laurel.
Dave yang terlihat segar dengan rambutnya yang terlihat masih sedikit basah karena baru saja menyelesaikan mandinya berjalan mendekat ke arah Laurel setelah puas mengamati sosok Laurel dari kejauhan untuk beberapa saat. Begitu berada di dekat Laurel, dengan lembut Dave langsung menggerakkan kedua lengannya untuk memeluk pinggang Laurel dengan lembut dari belakang, membuat tubuh Laurel sedikit tersentak kaget, tapi begitu menyadari sosok Dave yang memeluknya dari belakang, membuat tubuh Laurel kembali rileks.
Laurel yang sedang sibuk mengiris bawang putih dan bawang bombay untuk memasak saos ikan gurami asam manis hanya bisa tersenyum melihat bagaimana Dave yang memeluknya sambil meletakkan kepalanya di antara bahu dan leher Laurel sambil begitu sibuk memberikan kecupan-kecupan kecil pada leher Laurel.
"Apa yang kamu masak hari ini?" Dave melirik ke arah meja dapur yang di atasnya terlihat beberapa wadah berisi berbagai macam sayur dan bumbu di sana.
"Gurami asam manis, daging lada hitam dan tumis brokoli,"
"Hmmm..., seperti menu dari restoran saja," Dave melirik ke arah salah satu piring saji yang sudah berisi masakan sapi lada hitam yang sudah matang, dari warna masakan itu Dave bisa memastikan rasa masakan itu akan lezat, apalagi wanita yang memasaknya pasti memasak dengan penuh rasa cinta untuknya.
"Masak sebegitu banyak? Kenapa kamu tetap bersikeras tidak membiarkan beberapa pelayan untuk tinggal di sini agar bisa membantumu sewaktu-waktu?" Laurel menoleh sekilas ke arah Dave, dengan cepat diciumnya bibir Dave sekilas, lalu kembali berkonsetrasi mengiris bahan-bahan di depannya.
"Kamu bilang ingin berbulan madu kan? Anggap saja ini masa bulan madu kita. Anggap saat ini kita sedang berlibur di villa. Biar saja para pelayan hanya membersihkan dan merapikan rumah sebentar setelah itu mereka bisa pergi meninggalkan kita berdua di sini," Dave tersenyum mendengar perkataan Laurel.
“Untuk hal yang lainnya, aku lebih dari mampu untuk mengerjakannya. Kalau hanya untuk memasak untuk kita berdua, aku punya banyak waktu untuk itu, apalagi aku suka menikmati wajah rakusmu saat memakan masakanku,” Laurel berkata sambil menghentikan gerakannya karena tiba-tiba saja Dave mengelus bagian perutnya dengan lembut sambil tertawa pelan karena mendengar sindiran Laurel tentang bagaimana dia selalu terlihat begitu lahap dan menikmati setiap hasil masakan Laurel.
“Aku tidak mau. Saat kita menikmati bulan madu yang sebenarnya nanti, aku berharap kamu tidak akan menginjakkan kakimu di dapur. Jangan terlalu memaksakan dirimu, aku tidak mau kamu terlalu lelah. Konsentrasilah pada kesehatanmu,” Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave, sebentar kemudian Laurel kembali sibuk dengan kegiatannya menyiapkan bahan-bahan untuk dia masak.
Tunggulah beberapa hari lagi Dave. Sudah hampir seminggu ini haidku terlambat. Aku sudah melakukan pengambilan darah untuk melakukan cek kehamilan (cek kehamilan melalui pengambilan darah bisa mengetahui kondisi kehamilan lebih dini dibandingkan dengan tes kehamilan yang dilakukan dengan menggunakan test pack), dan tiga hari lagi aku akan mendapatkan laporan hasil cek darahku. Aku berharap bisa secepatnya mendapatkan kabar baik seperti yang selama ini sudah begitu kamu tunggu-tunggu, Laurel berkata dalam hati sambil tersenyum, dengan tangannya kembali bergerak untuk bekerja namun juga menikmati setiap sentuhan dan ciuman Dave di tubuhnya, sekaligus menikmati bau harum dari tubuh Dave yang baru saja selesai mandi.
__ADS_1
"Mr. Shaw, bisakah kamu membantuku untuk menyalakan api dan meletakkan penggorengan itu di atas kompor?" Dave menoleh ke arah mata Laurel terarah, dengan enggan Dave melepaskan pelukannya dari tubuh Laurel dan mulai mengerjakan perintah dari Laurel.
"Lalu? Selanjutnya apalagi yang harus aku kerjakan Nyonya?" Laurel terkikik mendengar pertanyaan Dave yang terdengar begitu sopan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Laurel, layaknya seorang pelayan bertanya kepada majikannya.
"Masukkan sedikit minyak goreng, 2 sendok makan saja," Dengan patuh Dave mengikuti arahan Laurel untuk membantunya memasak, membuat Laurel tersenyum dengan bahagia.
"Sini, biarkan aku urus masakan saos asam manisnya, kamu bisa mengerjakan yang lainnya," Dave meraih bumbu yang ada di wadah yang dipegang oleh Laurel, membuat Laurel sedikit tersentak, tidak menyangka Dave akan benar-benar membantunya untuk memasak.
Laurel kembali menyiapkan bahan untuk memasak menu lainnya, tumis brokoli sambil sesekali melirik ke arah Dave yang dengan fasih menumis bumbu untuk saus asam manis. Hati Laurel begitu berdebar-debar melihat bagaimana Dave membantunya di dapur.
Dulu saat Laurel masih berada di Amerika, saat dia menghabiskan waktu di dapur sambil sedikit melamun, kadang dia membayangkan bagaimana sosok suaminya kelak adalah seorang laki-laki yang tidak keberatan untuk membantu pekerjaan rumah tangga, salah satunya adalah memasak di dapur. Laurel tidak mengharapkan memiliki suami yang pandai memasak, tapi paling tidak bersedia menemaninya memasak di dapur akan menjadi hal yang membahagiakan buatnya.
Saat mengetahui bahwa suaminya adalah Dave, yang merupakan bos dimana dia bekerja di rumah sakit dan seorang bos besar dari Shaw Corporation. Mana berani Laurel membayangkan seorang laki-laki dengan status sosial setinggi Dave akan bersedia membantunya di dapur. Tapi melihat sosok Dave yang saat ini begitu fasih memegang peralatan masak dan terlihat begitu santai, menikmati apa yang sedang dikerjakannya membuat Laurel sedikit menahan nafasnya, rasanya saat ini dia bisa merasakan matanya sedikit lembab dan hidungnya sedikit basah, menahan rasa haru dan bahagia yang tiba-tiba meluap dari dari dalam hatinya karena memiliki suami sebaik Dave, laki-laki hebat yang selama ini tidak dapat dia bayangkan ternyata menjadi miliknya.
"Dave...," Tanpa bisa menahan apa yang dirasakan di hatinya, Laurel menghentikan kegiatannya, meletakkan pisau yang ada di tangannya, berjalan mendekat ke arah Dave, memeluk tubuh Dave dari arah belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Dave, membuat Dave tersenyum, dengan tangan kanannya masih sibuk menumis dan tangan kiri Dave mengelus lembut tangan Laurel yang sedang melingkar di pinggangnya. Saat ini hati Laurel benar-benar dipenuhi oleh rasa syukur yang tidak ada habisnya karena sosok laki-laki yang sedang dipeluknya saat ini.
"Ada apa mo cuisle?" Dave mengecilkan api di kompor dan meletakkan peralatan masak di tangannya, lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya ke arah Laurel, dengan Laurel tetap memeluknya, sehingga posisi kepala Laurel berubah dari bersandar di punggung Dave menjadi bersandar di dada Dave.
"Apa ada yang salah?" Laurel langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Dave, dan dengan cepat Laurel mendongakkan kepalanya ke arah Dave.
"Terima kasih karena membuatku memiliki suami yang begitu sempurna bagiku," Laurel tersenyum, lalu berjinjit dan dengan cepat mengecup bibir Dave yang lagi-lagi dikejutkan oleh tindakan manja Laurel.
Dengan cepat Laurel melepaskan pelukannya di tubuh Dave setelah memberikan kecupan ringan tapi mesra di bibir Dave yang awalnya sedikit terkejut tapi dengan cepat wajahnya dipenuhi dengan senyum bahagia karena kata-kata dan tindakan Laurel barusan.
"Tolong lanjutkan proses memasakmu Mr. Shaw, aku sudah juga sudah mulai lapar," Senyum Dave semakin lebar mendengar Laurel yang kembali memerintahnya dengan dia sendiri kembali sibuk menyiapkan masakan yang lain.
Dave baru saja memindahkan saus asam manis yang sudah selesai dimasaknya ketika di dengarnya suara nada panggilan dari arah handphonenya.
__ADS_1
"Angkat saja teleponmu Dave. Letakkan saja penggorengan itu di sana. Aku akan segera membereskannya," Laurel berkata sambil memindahkan tumis sayur brokoli yang juga baru saja diselesaikannya ke atas piring saji.
"Hallo ma," Dave langsung menjawab telepon dari mamanya.
"Iya ma. Aku akan makan malam bersama Laurel, setelah itu kami akan ke sana, setelah Laurel mandi. Maaf, dua hari ini aku begitu sibuk, belum sempat menjenguk Meria," Dave menghentikan bicaranya sejenak, membiarkan mamanya mengucapkan beberapa patah kata dari seberang sana.
"Ok ma, sampai nanti, bye mam," Dave mengucapkan salam sebelum menutup panggilan teleponnya.
"Dari Mama Ros, Dave?" Begitu Dave menutup teleponnya dan berjalan ke arah meja makan dimana Laurel sudah duduk di salah satu kursi yang ada disana, Laurel langsung menanyakan tentang siapa yang barusan menelpon Dave.
"Iya, mama bilang aku harus menjenguk Meria. Dua hari ini dia harus menjalani rawat inap karena sakitnya, supaya aku bisa membantu analisa hasil pemeriksaan kesehatan Meria. Aku juga tidak tahu kenapa gadis keras kepala itu tidak mau memeriksakan kesehatannya di rumah sakit ini, justru memilih ke rumah sakit lain," Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave. Tangan Laurel sibuk bergerak untuk mengambilkan makan malam Dave.
"Apa analisa dokter terhadap sakit Meria?" Dave menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Laurel.
"Aku tidak tahu, belum sempat menanyakan hal tersebut kepada mama. Setelah makan malam, kita akan mandi setelah itu kita kunjungi Meria," Laurel sedikit mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Dave.
"Bukannya kamu tadi sudah mandi sebelum ke dapur?" Mendengar pertanyaan Laurel, Dave mengedipkan sebelah matanya ke arah Laurel dengan wajah menggoda.
"Yang benar saja. Aku baru saja membantumu masak. Pakaianku dan tubuhku bau masakan. Aku harus mandi lagi,"
"Wahhh, Mr. Shaw mau bertemu siapa sampai-sampai belum ada 1 jam sudah mau mandi dua kali?" Mendengar olok-olok Laurel, Dave langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Laurel.
"Pertanyaanmu salah mo cuisle. Bukan mau bertemu siapa sampai aku ingin mandi dua kali. Tapi bersama siapa aku akan mandi setelah ini," Laurel membeliakkan matanya mendengar bisikan lembut dari Dave.
"Dave..., aku...," Mendengar kata-kata Laurel yang terdengar gugup dan terputus-putus, Dave langsung mencubit hidung Laurel lembut.
"Jangan terus menghindar mo cuisle. Pokoknya setelah ini kita mandi bersama," Mendengar kata-kata Dave yang sepertinya sudah menjadi keputusan, membuat Laurel hanya bisa menelan ludahnya dengan menarik nafas dalam-dalam karena dadanya yang saat ini berdetak dengan kencang. Karena walaupun mereka sudah sering melakukan sesuatu yang intim bersama, selama ini Laurel selalu meminta agar lampu kamar dimatikan, membiarkan hanya lampu tidur yang menyala dengan penyinaran yang remang-remang, karena dia masih merasa malu. Laurel tidak berani membayangkan bagaimana harus mandi bersama Dave yang pastinya tidak mungkin mereka mandi dengan kondisi mematikan lampu yang ada di kamar mandi.
__ADS_1