CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
EKSTRA CERITA TENTANG DEWA SIWA DAN DEWI PARWATI


__ADS_3

Dewi Parwati (Dalam bahasa Sansekerta disebut Pārvatī) adalah Dewi Kekuatan, yang merupakan salah satu dari 3 Sakti Utama (dalam bahasa sederhananya pasangan, sosok yang sudah ditetapkan untuk menjadi istri, bagian dari setengah Dewa untuk membantunya menjalankan tugas 3 Dewa Utama, Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Siwa) yang merupakan sakti dari Dewa Siwa. Parwati adalah putri dari seorang Raja Gunung Himalaya, Himawan dan Menawati, dia dipercaya sebagai adik dari Dewa Wisnu dan Dewi Gangga. Dewi Parwati merupakan reinkarnasi dari Dewi Sati.


Dewa Siwa dianggap mempunyai peran lebih tinggi dan ditakuti di antara Trimurti (Brahma/Dewa Pencipta, Wisnu/ Dewa Pemelihara, dan Siwa/Dewa Pelebur/Penghancur) dalam menjaga keseimbangan dunia. Siwa merupakan dewa yang sangat pemaaf namun mampu menghancurkan dunia sesuai kehendaknya dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda di dalam dirinya. Jadi wajar jika Dewa Siwa memiliki banyak nama dan panggilan di daerah tertentu.


Siwa juga terkenal sebagai master of yogi dan mengajarkan peleburan dosa melalui meditasi dan reinkarnasi. Dalam segi penampilan Siwalah yang paling sederhana dan tinggal di dalam hutan, sedangkan Brahma tinggal di atas awan dan Wisnu tinggal di perairan berpakaian lebih layak. Siwa tidak memiliki aturan khusus dalam hidup selain kembali ke alam. Secara keseluruhan ketiga Dewa memiliki posisi yang sama sebagi penyelaras dunia, meski demikian Siwa adalah penguasa tiga waktu, masa lalu, masa kini dan masa depan.


Cerita dimulai saat Siwa meolak untuk bersatu dengan Adhi Saktinya di mula pembentukan zaman oleh Brahma. Dewa Siwa memilih sendiri dan tenggelam dalam damainya meditasi untuk mengurus kepentingan umat manusia. Karena penolakan tersebut Adhi sakti dari Dewa Siwa kemudian memilih berbentuk sebagai manusia yang dikenal dengan nama Sati.


Sati adalah anak dari Prajapati Daksa yang merupakan anak dari Dewa Brahma sendiri. Pertemuan Sati dan Siwa menimbulkan banyak masalah untuk mereka bersatu, termasuk penolakan dari ayah Sati, Prajapati Daksa yang sejak awal sudah membenci Siwa dan tidak menganggap Siwa sebagai Dewa dan malah menganggap Siwa sebagai seorang gelandangan. Berbagai konflik dan peperangan terjadi akibat permusuhan dari Prajapati Daksa dan Siwa, terutama setelah Sati mengetahui bahwa dia merupakan Sakti dari Dewa Siwa, membuat Sati bersikeras ingin menikah dan memiliki Dewa Siwa.


Ayah Sati yang masih menginginkan Sati menikah dengan orang lain akhirnya membuat sayembara karena sebelumnya tidak ada yang mau dan berani melamar Sati karena mendengar kabar bahwa Sati adalah Sakti dari Dewa Siwa yang telah tersebar luas. Pernikahan antara Siwa dan Sati terjadi secara terpaksa. Sati menikah dengan Siwa karena Siwa sebagai pemenang sayembara, tapi ayah Sati tetap tidak menganggap pernikahan tersebut sehingga Dewa Brahma dan Dewa Wisnu datang kepadanya dengan murka.


Sati yang saat itu masih mementingkan hal-hal duniawi menjadi hambatan untuk rumah tangganya dengan dengan Siwa. Setelah beberapa lama tinggal di Kailash, Sati yang diajarkan untuk bermeditasi dan mencapai Adhi Saktinya malah memikirkan tentang ritual api terakhir ayahnya yang tidak mengundangnya dan Siwa.

__ADS_1


Merasa tidak memerlukan undangan untuk mengunjungi rumah orangtuanya, Sati bersikeras untuk menghadiri acara tersebut dan mengajak Siwa kesana. Dewa Siwa menolak untuk datang karena merasa tidak diundang. Sati menginginkan akhir dari permusuhan ini, hingga ingin meluruskan perseteruan antara ayah dan suaminya, dan memohon kepada ayahnya nanti agar mengundang Siwa.


Dewi Sati berangkat ke rumah ayahnya dengan Nandi (kerbau kendaraan Dewa Siwa). Sesampainya di sana meski sudah ditolak untuk masuk ke dalam, Sati tetap masuk berkat belas kasihan penjaga pintu. Siwa sebenarnya mengetahui bahwa hari itu adalah bencana bagi semua umat manusia. Karena tidak diundang dan terlanjur berjanji pada Sati untuk datang, Siwa tak kuasa untuk mencegah hal itu terjadi. Di puncak perseteruan Sati dan ayahnya, Sati mengorbankan diri dengan membakar diri di api ritual karena tidak tahan atas hinaan yang ditanggung oleh suaminya.


Sebelum membakar diri, Sati mengutuk siapapun yang hadir di acara ritual ayahnya menanggung dosa yang amat besar kepada Siwa, termasuk Dewa Brahma dan Adhi Saktinya (Dewi Saraswati) juga Dewa Wisnu dan Adhi Saktinya ( Dewi Laksmi).


Dewa Siwa sangat murka atas meninggalnya Sati. Bumi tengah porak poranda dan Mahishasura (setan) yang dari awal ingin membunuh Sati bersuka cita (Karena adanya ketentuan bahwa yang dapat membunuhnya hanya anak dari Dewa Siwa). Ayah Sati, Prajapati Daksa dipenggal kepalanya di depan api ritual oleh Rudra (bentuk lain dari Dewa Siwa).


Dewa Wisnu dan Dewa Brahma terkesan dengan bakti Himawan karena selalu menyembah dewa dewi setiap hari, sehingga Dewa Brahma mengaruniakan istri Himawan untuk melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan ia juga berpesan bahwa bayi itu akan dikenal banyak orang dengan sebutan Parwati. pada malam itu juga Mena, istri Himawan bermimpi bertemu dengan Dewi Sati yang berkata bahwa dia akan lahir kembali untuk ke dunia, memintanya menjadi perantara untuk itu. Lalu dalam mimpinya Dewi Sati berubah menjadi cahaya dan masuk ke perut Mena sehingga dia mengandung bayi perempuan.


Pada waktu kelahirannya, Dewi Parwati diselimuti oleh cahaya, dan sangat cantik, namun Tarakasura menyuruh Bahrupa untuk membunuh Dewi Parwati namun gagal dan jatuh ke dalam lereng gunung, namun Dewi Parwati justru menolongnya. Bahrupa adalah bidadari kahyangan yang dikutuk oleh Dewa Indra menjadi iblis, dan dengan dimaafkan oleh Adi Sakti dia berubah menjadi bidadari menuju Kahyangan.


Setelah terlahir ke dunia kembali, seluruh Dewa dan Brahmana sebagai penebusan rasa bersalah membantu kesiapan Parwati untuk menghadap dan mendampingi Dewa Siwa. Kelebihan Parwati sedari kecil adalah dapat melindungi dirinya sendiri.

__ADS_1


Semuanya berjalan dengan lebih lancar dibandingkan dengan kisah Dewa Siwa dan Dewi Sati. Parwati yang merupakan reinkarnasi dari Dewi Sati sudah mengetahui dirinya adalah istri dari Dewa Siwa sejak dia masih kecil. Dewi Sati dan Dewi Parwati merupakan sosok yang sama, hanya kesiapan dan kesabaran saja yang menjadi keunggulan Dewi Parwati, cinta dari bentuk Adhi Sakti ini memang hanya untuk Dewa Siwa saja.


Parwati dari bayi hidup dalam masa perang, sehingga Himawan harus pergi berperang. Mena dan Parwati harus dititpkan kepada Resi Dadici, namun Mena menolak karena takut anaknya dipengaruhi tentang Dewa Siwa, namun Himawan memaksa agar Mena mengijinkannya. Di tempat Resi Dadici, Parwati juga diajarkan tentang Dewa Siwa, sehingga membuat ibunya marah dan melarang Parwati untuk belajar tentang Siwa. Mesti sudah dewasa Parwati masih tetap suka memuja Dewa Siwa. Ia sering memberikan sesaji dan persembahan untuk Dewa Siwa, bahkan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah dirinya layak untuk Dewa Siwa? Apakah dirinya berjodoh dengan Dewa Siwa? Sehingga Parwati hanya sujud menyembah kepada Dewa Siwa dan sering berkata kepada temannya bahwa suatu hari nanti ia akan menikah dengan Dewa Siwa.


Dalam cerita diceritakan bahwa Siwa bertapa di Gunung Himalaya dan bertahun-tahun menunggu kedatangan Sati. Sementara itu seorang raksasa (danawa) yang bernama Taraka sedang menyerang para dewa di kahyangan dan rupanya tidak ada satupun dewa yang mampu mengalahkan kekuatan Taraka. Telah diramalkan sebelumnya bahwa yang akan sanggup mengalahkan Taraka itu hanyalah putra dari Dewa Siwa sendiri.


Dewa Indra mengirim Dewa Kama yang merupakan Dewa asmara untuk membantu Parwati mendekati Siwa dan membangunkannya dari semedinya, dengan cara menembakkan panah asmaranya kepada Dewa Siwa, agar Siwa kembali jatuh cinta kepada Parwati yang merupakan reinkarnasi dari Dewi Sati. Walaupun akhirnya Parwati dapat membangunkan Siwa, namun Dewa Kama mati terbakar karena mata ketiga Dewa Siwa yang awalnya merasa terganggu dan marah karena dibangunkan dari semedinya, dan Dewi Ratih yang merupakan istri dari Dewa Kama memberi kutukan bahwa anak dari Dewa Siwa dan Dewi Sati tidak berwujud rupa manusia. Hasil kutukan Dewi Rati adalah Ganesha yang berkepala gajah dan Kala yang berwujud raksasa, sedangkan anak mereka Dewa Kumar berparas muda dan mengendarai burung merak. Untuk menunjukkan cintanya kepada suaminya Dewi Ratih memohon kepada Dewa Siwa untuk membakarnya juga seperti suaminya, dan Dewa Siwa mengabulkannya.


Dewi Parwati menyiapkan dirinya bahkan menempuh peleburan dosa untuk menjadi layak bagi Dewa Siwa, dengan menjalankan berbagai macam proses. Parwati akhirnya menikah dengn Siwa dengan meriah. Mena akhirnya menyetujui hubungan Parwati dan Siwa karena ia menyadari bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan cinta Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Pernikahan mereka yang direstui oleh kedua orang tua mereka, diberkati oleh Dewa Wisnu, Dewa Brahma, Dewi Saraswati, Dewi Laksmi dan Dewi Katyayani, juga dirayakan oleh semua umat Hindu sebagai hari yang berbahagia, Hari Maha Shivaratri.


 


 

__ADS_1


__ADS_2