CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
MENGKHAWATIRKANMU


__ADS_3

“Aneh sekali,” Lusiana berbisik pelan ke telinga Nia yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Hei, kenapa dengan kalian? Serius sekali?” Laurel yang baru saja datang langsung menepuk bahu Lusiana dan Nia yang dilihatnya begitu serius saling membisikkan sesuatu.


“Tuh, lihat saja sendiri,” Nia berbisik pelan ke telinga Laurel sambil telunjuknya dengan sembunyi-sembunyi menunjuk ke arah barat, membuat Laurel langsung mengarahkan pandangannya kesana, dan dilihatnya sosok Hana yang sedang mengobrol dengan dokter Arman.


“Memang kenapa dengan dokter Hana? Ada yang salah?” Lusiana langsung melotot mendenger kata-kata santai dari Laurel.


“Hei, jangan pura-pura tidak tahu, lihat potongan rambut dokter Hana hari ini. Dia memotong rambutnya sama persis dengan model potongan rambutmu,” Laurel tersenyum sambil tangan kanannya memegang rambutnya yang memiliki model potongan rambut acutely asymmetrical (potongan rambut depan lebih panjang dari potongan rambut belakang).


“Kalian ini, memangnya di kota ini cuma aku yang memiliki potongan rambut seperti ini? Toh artis pun ada yang model rambutnya sama denganku,” Nia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Laurel.


“Kamu ini polos atau bagaimana? Sudah jelas-jelas sabtu malam dua hari lalu bos berdansa denganmu dan pagi ini tiba-tiba saja dokter Hana memotong rambutnya dengan model yang sama denganmu, apa menurutmu itu tidak aneh?” Nia berbisik sambil memandang ke arah Lusiana, seolah meminta persetujuan.


“Benar yang dikatakan Nia, sepertinya dokter Hana ingin terang-terangan menunjukkan dia akan bersaing denganmu untuk mendapatkan bos,” Laurel terkikik mendengar itu.


"Selain potongan rambut masa kalian tidak melihat kalau gaya berpakaian dokter Hana jadi mirip dengan Laurel?" Lusiana menimpali perkataan Nia dengan nada sedikit mengejek, menunjukkan dia tidak suka dengan perubahan yang dilakukan oleh Hana.


"Selama ini dokter Hana selalu mencari-cari kesempatan untuk selalu menempel pada bos, aku ingin lihat ke depannya kalau Laurel sudah berhasil merebut hati bos, apa yang akan dilakukan oleh dokter Hana, apa dia masih berani menindas rekan-rekan kerja perempuan di tempat ini. Selama ini dia terlalu percaya diri karena merasa dekat dengan bos," Laurel hanya bisa tersenyum mendengar bisik-bisik antara Nia dan Lusiana tentang Hana yang terus berlanjut.


“Kalian aneh-aneh saja,” Dengan wajah santai Laurel berjalan menjauhi Nia dan Lusiana, berjalan ke lapangan rumah sakit untuk mengikuti apel pagi. Apel pagi hari itu dipimpin oleh dokter Leo. Tanpa sadar mata Laurel memandang ke sekeliling, mencari sosok Dave yang tidak terlihat sama sekali, ada sedikit rasa khawatir di hatinya, apakah kondisi Dave baik-baik saja pagi ini? Apakah dia sudah membaik? Apakah demamnya sudah sembuh? Siapa yang merawatnya sepanjang hari kemarin?


“Mencari siapa dok? Apa dokter sedang mencari bos?” Mira yang berdiri di samping Laurel langsung berbisik pelan ke telinga Laurel sambil tersenyum, membuat semburat merah langsung menyembul di pipi Laurel, karena merasa malu kepada Mira yang seolah-olah bisa menebak apa yang ada di pikirannya.


“Bos, sedang menemui tamu dari Amerika,” Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya kepada Laurel, Mira langsung menjelaskan kemana perginya Dave.

__ADS_1


“Aku tidak sedang mencari bos,” Mira tersenyum mendengar bisikan Laurel, walaupun Laurel mengatakan tidak, tapi dari wajahnya terlihat lega mendengar Dave tidak ada disini karena sedang menemui tamu, bukan karena ada masalah atau yang lain.


“Dok, terimakasih bantuannya sabtu malam, kemarin lusa, pagi tadi bos mengatakan dia sudah jauh lebih baik kondisinya karena sabtu lalu semalaman dokter Laurel merawatnya. Kata bos untung saja ada dokter Laurel, kalau tidak belum tentu pagi ini bos bisa bangun dari tempat tidurnya,” Laurel tersenyum malu-malu mendengar perkataan Mira, dan tanpa sadar ingatan tentang ciuman tidak sengaja mereka dua hari lalu kembali terbayang di pikirannya, membuatnya buru-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain agar Mira tidak melihat perubahan pada wajahnya.


Ketika apel apel baru saja dibubarkan, Laurel berencana langsung kembali ke kantornya untuk mempelajari laporan tentang pasien-pasien yang harus dia visite hari ini. (Visite pasien adalah salah satu aktifitas rutin dokter di rumahs akit. istilah visite diistilahkan pada aktifitas seorang dokter yang memeriksa dan mengevaluasi perkembangan pasien yang dirawat inap, termasuk rencana terapi dan pemberian obat. Secara harafiah visite - mengunjungi), tapi panggilan dari Mira membuatnya menghentikan langkahnya.


"Iya, kenapa Mir?"


"Baru saja bos mengirim pesan, jam istirahat nanti bos minta tolong dokter Laurel ke kantor bos," Laurel mengernyitkan dahinya begitu mendengar perkataan Mira.


"Apa ada masalah?" Mira tersenyum mendengar pertanyaan Laurel yang sepertinya langsung berubah tegang setiap dia menyampaikan Dave ingin dia ke kantornya.


Ah, dasar bos, sampai kapan beliau selalu membuat dokter Laurel salah faham, harusnya mulai sekarang bos memperlakukan dokter Laurel dengan lebih lembut dan mesra, bos memang benar-benar payah dalam hal mengambil hati wanita, semoga setelah siang nanti hubungan mereka semakin membaik, Mira berkata dalam hati sambil memandang Laurel yang masih berwajah serius.


"Tidak ada apa-apa dok. Bukan sesuatu yang perlu dokter pikirkan dengan serius. Mungkin bos hanya ingin mengucapkan terimakasih atas bantuan dokter sabtu malam kemarin," Mira mencoba menenangkan Laurel agar tidak berprasangka buruk terhadap niat Dave memanggilnya ke kantor nanti siang.


Andai saja anda tahu begitu besarnya pengaruh kehadiran anda bagi bos, Mira berkata dalam hati sambil sedikit menganggukkan kepalanya ke arah Laurel.


"Saya hanya menyampaikan pesan dari bos, permisi," Laurel hanya bisa memandang kepergian Mira dengan wajah bingung, karena jujur saja hari ini dia benar-benar tidak siap untuk bertemu Dave karena kejadian sabtu malam itu yang sampai detik ini masih terbayang-bayang di pikirannya dan membuatnya malu, entah bagaimana dia harus bersikap kepada Dave jika mereka harus bertemu siang nanti. Laurel menarik nafas panjang, bahkan hanya dengan mengingat kejadian itu masih membuatnya begitu berdebar-debar, bagaimana bisa dia menghadapi sosok Dave nanti siang?


# # # # # # #


Laurel berjalan dari barat ke timur, lalu dari utara ke selatan dengan wajah sedikit menunduk. Saat ini dia benar-benar bingung, apakah dia harus tetap menemui Dave sesuai permintaannya atau harus mencari-cari alasan agar tidak perlu menemui Dave. Ditatapnya dinding ruangan kantornya sambil menahan nafasnya.


"Ah, aku bisa cepat tua kalau begini," Laurel berkata pelan, dipaksanya kedua kakinya untuk berhenti berputar-putar, dipegangnya keningnya dengan telapak tangan kanannya. Ingin sekali dia mencari alasan agar tidak perlu bertemu Dave siang ini, tapi di sisi lain ada keinginan yang begitu besar dalam hatinya untuk bertemu dengan Dave agar tahu kondisinya apakah memang benar dia sudah baik-baik saja mengingat malam itu panas tubuh laki-laki itu sempat tinggi dan wajahnya terlihat pucat.

__ADS_1


Akhirnya Laurel hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, merapikan pakaian yang dikenakannya dan bersiap keluar dari kantornya berjalan ke arah kantor Dave, karena ternyata keinginannya untuk mengetahui kondisi Dave dan rasa khawatir tentang kesehatan Dave mengalahkan pikirannya yang lain.


Begitu sampai di depan pintu ruangan Dave, Laurel menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuk.


"Masuk," Baru saja ketukan kedua, suara Dave segera terdengar, dengan pelan Laurel membuka pintu ruangan Dave.


"Selamat siang," Begitu Laurel membuka pintu, dilihatnya Dave sedang duduk berhadapan dengan dua orang sosok pria, dan salah satunya merupakan laki-laki yang sempat ditemui Dave di restoran yang sama dengan sewaktu Laurel makan malam bersama Arnold malam itu.


Kedua pria yang duduk di hadapan Dave langsung berdiri begitu melihat sosok Laurel mendekat ke arah meja kerja Dave.


"Good afternoon, how are you?" (Selamat siang, apa kabar?) Mendengar sapaan akrab dari laki-laki yang pernah bertemu Dave di restoran itu Laurel tersenyum ramah, walaupun dalam hati sedikit bingung kenapa laki-laki itu bersikap ramah padanya padahal mereka belum saling kenal.


"O, Sori, I forgot to introduce myself. My name is Jhon, Jhon Wilson," (O, maaf, aku lupa memperkenalkan diri, namaku Jhon, Jhon Wilson) Jhon mengulurkan tangannya ke arah Laurel yang langsung menyambutnya.


"Laurel, Laurel Tanputra, nice to meet you," (Laurel, Laurel Tanputra, senang bertemu denganmu), Dave bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Laurel.


"Jhon adalah salah satu rekan bisnis kami dari Amerika, kebetulan dia berkunjung ke Indonesia sejak seminggu lalu," Sambil menjelaskan tentang Jhon, Dave menggerakkan tangannya, memberi kode kepada laki-laki yang lain untuk mendekat ke arah mereka. Begitu laki-laki itu berada di dekat Laurel, Dave langsung menggerakkan kepalanya ke arah Laurel, seolah memberikan perintah kepada laki-laki itu untuk segera menyapa Laurel, membuat laki-laki itu langsung mengulurkan tangannya dengan wajah yang menunjukkan rasa hormat kepada Laurel.


"Bryan Malachy Shaw," Laurel menyambut hangat uluran tangan Bryan, diamatinya dalam-dalam wajah Bryan yang memiliki kemiripan dengan Dave, hanya saja rambut Bryan bewarna hitam, dengan mata coklat. Reaksi Laurel membuat Jhon tertawa.


"Come on Dave, apa dia tidak tahu tentang Bryan?" Dave tersenyum mendengar teguran Jhon dalam bahasa Inggris.


"Dia adik laki-lakiku, dia baru saja datang dari Irlandia," Dave langsung menjelaskan ke Laurel tentang siapa Bryan.


"Ah, begitu rupanya, pantas saja kalian memiliki kemiripan," Laurel tersenyum ke arah kedua tamu Dave yang tampak berusaha menahan diri agar tidak terus-menerus menatap Laurel dan mengamatinya, seolah-olah mereka sudah tahu tentang siapa Laurel tapi belum pernah bertemu dengannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2