CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
IKATAN TAK TERLIHAT


__ADS_3

Laurel berjalan mundur sampai kakinya menabrak sofa di ruang tamu, membuat Dave yang terus melangkah ke arahnya akhirnya menghentikan langkahnya begitu jarak tubuh mereka hanya tinggal beberapa cm saja. Tangan kanan Laurel memegang sandaran sofa di belakangnya, menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Jangan lupa posisiku di tempat ini adalah sebagai pemimpinmu, bagaimana bisa kamu mengatakan aku tidak memiliki hak apapun atas kamu?" Laurel mengalihkan pandangannya ke samping, karena saat ini jarak wajahnya dan Dave yang menundukkan kepalanya ke atas wajahnya tidak lebih dari 10 cm, bahkan karena jarak tubuh mereka yang begitu dekat Laurel bisa mencium dengan jelas bau segar parfum dari tubuh Dave. Laurel hanya berharap saat ini Dave tidak mendengar detak jantungnya yang terasa berdetak dengan begitu kerasnya, bahkan Laurel sendiri merasa telinganya bisa mendengar dengan jelas debaran di dadanya, apalagi Dave.


"Sejak kedatanganmu di rumah sakit ini, rumah sakit ini kamu buat berubah menjadi seperti sebuah studio tempat para artis dan para penggemarnya berkumpul," Dave menjauhkan tubuhnya dari Laurel, membuat Laurel bisa bernafas dengan sedikit lebih lega.


"Maaf bos, saya tidak bermaksud membuat masalah di rumah sakit ini, niat saya bekerja dengan baik disini," Dave menggerakkan tubuhnya ke samping, dengan pandangan matanya tetap mengarah kepada Laurel.


"Kamu bilang kamu memiliki kisah cinta yang mengerikan sebelumnya, semoga ke depannya kamu lebih bijaksana saat menetapkan hubungan dengan laki-laki di sekitarmu," Laurel sedikit terbeliak mendengar perkataan Dave, ternyata pembicaraan dia dengan Lusiana dan Nia tadi sore di lapangan voli sebagian besar didengar oleh Dave, termasuk saat dia mengeluhkan tentang kisah cintanya yang tragis.


"Kamu mengatakan pernah menikah sebelumnya, jangan sampai kamu mengalami kisah menyedihkan seperti itu lagi kalau kamu tidak bisa mengendalikan hubunganmu dengan para pria lain di sekitarmu," Laurel melotot kaget mendengar perkataan Dave yang seolah-olah menyindirnya, meremehkannya dan menganggapnya gadis yang dengan gampang menjalin hubungan dengan para pria, merasa direndahkan oleh Dave karena Laurel tahu Dave mengetahui statusnya sebagai janda. Laurel dibesarkan oleh mama Denia yang sedikit berpikiran kolot, bahkan selama dia menjalin hubungan dengan Devan, belum pernah sekalipun mereka berciuman, apalagi saat dia berpacaran dengan Devan, umurnya belum genap 18 tahun. Mendengar kata-kata Dave barusan benar-benar menyakitkan baginya.


"Maaf bos, saya tahu saya memiliki kesalahan yang mungkin tidak bisa dimaafkan terhadap mendiang suami saya, tapi bos tidak berhak menghina saya. Terimakasih untuk malam ini bos, selamat malam," Laurel menggerakkan tubuhnya ke kiri, dan dengan langkah-langkah cepat meninggalkan ruangan itu dengan airmata yang sudah tidak bisa ditahannya lagi.


Melihat kepergian Laurel dengan menangis Dave hanya bisa mematung di tempatnya berdiri, tangan kanannya sempat terulur berusaha meraih lengan Laurel, tapi buru-buru ditariknya kembali tangannya, ditatapnya kepergian Laurel sambil menarik nafas dalam-dalam, kemudian dipejamkannya matanya, setelah itu dengan langkah gontai Dave melangkah ke arah kamarnya, malam ini dia hampir kehilangan kendali dirinya untuk tidak menarik tubuh Laurel ke dalam pelukannya. Dave mengangkat tangan kanannya ke depan, diamatinya tangannya, masih terasa dengan jelas kehangatan tubuh Laurel yang menempel di tubuhnya tadi sore, tubuh Laurel yang sempat berada dalam pelukan lengan kanannya setelah dia berusaha menyelamatkan Laurel dari hantaman bola futsal yang mengarah ke dadanya. Dave memegang dadanya dengan telapak tangan kanannya, rasanya saat ini hatinya berdesir dan terasa begitu perih.


Leo yang awalnya sudah melangkah ke arah parkiran harus kembali karena ada file yang harus dipelajarinya malam ini tertinggal di kantornya. Ketika Leo kembali ke parkiran dilihatnya mobil yang biasa dikemudikan oleh Laurel dalam posisi lampu menyala tapi mobil itu tetap diam di tempatnya untuk waktu yang tidak sebentar. Dengan langkah pelan Leo mendekati mobil itu, dan dari kaca depan mobil dilihatnya sosok Laurel dengan kedua tangannya melingkar di atas setir dan kepalanya tertunduk di atasnya.


Laurel langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar suara ketukan lembut dari arah kaca mobilnya, dan dengan cepat Laurel menghapus airmatanya dengan punggung telapak tangannya. Begitu melihat sosok Leo di samping kaca mobilnya, Laurel buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain agar Leo tidak melihat wajahnya yang basah oleh airmata saat ini.

__ADS_1


Leo menyodorkan sebuah saputangan ke arah Laurel yang langsung menolaknya dengan menggelengkan kepalanya. Melihat itu tanpa berkata-kata Leo meletakkan saputangannya di atas kedua tangan Laurel yang masih melingkar di atas setir, lalu berjalan meninggalkan Laurel, karena jika dia tetap berdiri disana dia tahu itu justru akan membuat Laurel tidak nyaman.


# # # # # # #


"Pagi bos," Arnold yang berjalan di samping Laurel langsung menyapa Dave yang kebetulan berpapasan dengan mereka berdua pagi itu.


"Pagi," Dave menjawab sapaan dari Arnold, diliriknya wajah Laurel, walaupun berusaha menyembunyikannya dengan make up, Dave bisa melihat mata Laurel yang sedikit bengkak dan berkantung. Dave bisa menebak bahwa semalam selain menangis sepertinya Laurel kesulitan untuk tidur, entah apakah itu hanya perasaannya saja atau memang karena semalam Dave melihat Laurel menangis saat pergi meninggalkan rumahnya, ada rasa penyesalan di hati Dave mengingat tadi malam dia sudah mengeluarkan kata-kata yang membuat Laurel menangis.


"Eh, hampir waktunya apel, ayo, kita harus cepat," Tanpa meminta ijin dari Laurel, Arnold langsung menarik lengan Laurel, mengajaknya sedikit berlari ke arah aula (aula adalah ruangan besar yang dapat digunakan untuk rapat, upacara dan sebagainya, biasanya berada langssung di dalam pintu utama sebuah bangunan) rumah sakit tempat mereka harus menjalani apel pagi sebelum bertugas. Melihat itu Dave melirik dengan tatapan tajam ke arah tangan Arnold yang menarik lengan Laurel, dan tanpa sadar Dave mengepalkan tangannya dengan erat dan langsung mengalihkan pandangannya, menarik nafas panjang dan menghembuskannya melalui sela-sela bibirnya.


# # # # # # #


"Mir, kamu termasuk salah satu anak buah bos yang cukup dekat dengan bos, menurutmu kenapa lagi bos memanggilku ke kantornya? Apa aku melakukan kesalahan?" Mira langsung tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Laurel.


"Kalau nanti dokter Laurel sudah bertemu dengan bos pasti dokter Laurel akan tahu sendiri," Mira mencoba untuk bijaksana menanggapi pertanyaan Laurel.


"Ayolah Mir, beri aku sedikit bocoran," Lagi-lagi Mira hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, karena jujur saja, mana berani dia menceritakan sekecil apapun rahasia bos nya kepada orang lain. Sebenarnya kalau yang bertanya adalah Laurel bukan orang lain sih bagi Dave, tapi Mira tahu kondisi saat ini belum memungkinkan dia untuk mengatakan apapun tanpa ijin dari Dave.


"Daripada dokter Laurel penasaran kenapa dokter tidak segera ke kantor bos dan menanyakannya sendiri kepada bos?" Laurel menarik nafas panjang, sepertinya Mira benar-benar merupakan anak buah dengan kesetiaan level tinggi, membuatnya tidak berhasil mengorek keterangan sedikitpun tentang alasan Dave memanggilnya ke kantornya, sedangkan Laurel sendiri saat ini benar-benar dalam mode mood yang buruk karena kata-kata pedas Dave tadi malam masih begitu terngiang-ngiang di telinganya.

__ADS_1


"Kalau begitu sampaikan pada bos, aku akan menghadap ke kantornya setelah pulang kerja," Mira sedikit tersentak mendengar Laurel yang berniat mengulu-ulur waktu untuk menghadap bos.


"Eh, dokter Laurel menurut perintah bos, anda harus kesana sekarang," Laurel tersenyum manis ke arah Mira sambil menggerakkan jari telunjuknya ke arah jam di tangannya.


"Maaf, bilang saja ke bos, ini sudah hampir jam makan siang, lagipula setelah istirahat masih banyak pasien yang harus aku tangani di poliklinik," Setelah mengatakan itu Laurel langsung membalikkan tubuhnya, membuat Mira harus mencegahnya dengan menarik lengannya.


"Dokter Laurel, perintah dari bos...," Laurel menggerakkan kepalanya ke arah Mira, dipandanginya wajah Mira yang gugup karena tidak berhasil membujuk Laurel untuk cepat menemui Dave. Sebenarnya Laurel sedikit kasihan melihat wajah Mira yang tidak tenang, tapi ingatan tentang kata-kata Dave yang cukup menyakitkan kemarin malam membuatnya bertekad bulat untuk tidak serta merta menuruti segala perintah Dave, terutama hari ini.


"Sampaikan saja pesanku kepada bos, aku ini dokter yang sudah terikat dengan sumpah dokter untuk mengutamakan keselamatan pasien di atas kepentingan pribadi, jadi aku akan menemui bos nanti sore selesai jam kerja,"


"Tapi dok, bos sudah memerintahkan dokter pengganti di klinik penyakit dalam," Laurel tertawa kecil melihat Mira yang tampak berusaha begitu keras untuk menjalankan perintah  dari Dave.


"Bilang saja ke bos, nenek Nuri sedang menunggu pengobatan dariku, kalau tidak keberatan, silahkan bos datang mengunjungi poliklinik penyakit dalam untuk bertemu dengan Nenek Nuri yang mungkin sudah begitu merindukannya," Laurel tertawa terkikik melihat wajah bingung dari Mira, dan tanpa menunggu reaksi dari Mira, Laurel melepaskan lengannya dari pegangan tangan Mira dan langsung berjalan ke arah kantin untuk makan siang sebelum kembali ke poliklinik penyakit dalam, menyiapkan tenaganya untuk menghadapi nenek Nuri yang hari ini datang padahal beberapa hari lalu baru saja kontrol dan jadwal kontrol lagi masih lama.


# # # # # # #


Laurel mengamati rekam medis pasien yang ada di hadapannya, komplikasi antara gula darah dan tekanan darah tinggi, menilik dari usianya yang masih di angka 40 an, hanya ada 2 kemungkinan penyebab utama pasiennya mengidap penyakit diabetes mellitus (Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh gagalnya organ pankreas memproduksi jumlah hormon insulin secara memadai sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa dalam darah. DM merupakan salah satu penyakit tidak menular dan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting. Gejala klasik dari DM meliputi 3P , yaitu poliuri (banyak buang air kecil terutama malam hari), polidipsi (mudah haus), poliphagi (mudah lapar). Gejala tidak spesifik lain yang juga dapat muncul pada penderita DM antara lain penurunan berat badan secara cepat, mudah lelah, kesemutan pada kaki dan tangan, gatal – gatal, penglihatan menjadi kabur, impotensi, luka sulit sembuh, keputihan, atau penyakit kulit akibat jamur terutama pada daerah lipatan kulit), pertama karena adanya faktor keturunan, kedua karena buruknya pola makan.


Setelah melakukan analisa dan melihat hasil pemeriksaan darah lengkap dari lab, Laurel segera memberikan arahan kepada pasiennya bagaimana untuk mengendalikan penyakit diabetesnya. Laurel sedang sibuk menuliskan resep untuk pasien di depannya ketika didengarnya suara pintu ruangan polinya dibuka oleh seseorang tanpa terlebih dahulu ada suara ketukan, dan Laurel tahu pasti di rumah sakit ini siapa yang bisa dan memiliki kekuasaan untuk melakukan tindakan seperti itu. Begitu Laurel mengangkat kepalanya, dilihatnya Dave sudah sudah masuk ke dalam ruangan polinya dan menutup kembali pintu ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2