CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
CERITA DONGENG KITA


__ADS_3

"Selamat siang Tuan Shaw, selamat datang di butik kami," Melihat kedatangan Dave dengan setelan jasnya yang terlihat rapi karena baru saja mengadakan meeting dengan rekan bisnis perusahaan Shaw, Nyonya Smith langsung berjalan ke arah Dave dan menyapanya dengan ramah.


"Selamat siang Nyonya Smith. Terimaksih untuk bantuannya. Apa aku bisa menemui istriku? Dia sedang ada di mana sekarang?" Nyonya Smith langsung menggerakkan tangannya untuk menunjukkan arah dimana Laurel sedang menunggu.


"Nona Laurel sedang ada di dalam ruang fitting gaun yang ada di sana Tuan Shaw," Nyonya Smith langsung berjalan ke arah ruangan fiiting tempat Laurel mencoba gaun pengantinnya dengan Dave berjalan mengikuti di samping Nyonya Smith.


"Bisakah Anda memberikan waktu pribadi kepada kami untuk beberapa saat? Bolehkan saya meminjam ruangan fitting Anda?" Nyonya Smith tersenyum mendengar permintaan Dave yang diucapkan setelah mereka sampai di depan pintu dimana Laurel berada.


"Silahkan Anda memakai ruangan ini selama Anda membutuhkannya Tuan Shaw. Jangan khawatir, Anda bisa memakainya selama Anda mau," Dave tersenyum mendengar ijin dari Nyonya Smith.


"Terimakasih atas pengertian Anda Nyonya Smith,"


"Dengan senang hati bisa melayani Anda Tuan Shaw. Silahkan...," Tanpa menunggu jawaban dari Dave, Nyonya Smith langsung membalikkan tubuhnya, dan berjalan menjauh dari pintu ruangan itu, memberikan privasi kepada Dave untuk berduaan dengan Laurel sesuai dengan permintaan Dave sebelumnya.


Untuk beberapa saat Dave masih berdiri di depan pintu ruangan itu tanpa bergerak untuk membuka pintunya. Telapak tangan kanan Dave bergerak pelan ke arah dadanya dan menyentuh dadanya sambil mengelusnya pelan.


Bahkan hanya membayangkan sosokmu dengan gaun pengantin berdiri di hadapanku membuat jantungku berdetak dengan begitu keras, Dave berkata dalam hati sambil mencoba untuk tersenyum, berusaha menenangkan debaran di dadanya yang terasa begitu keras.


Akhirnya dengan gerakan pelan, Dave membuka pintu ruangan itu dan matanya langsung memandang sekeliling ruangan itu dan begitu tidak ditemukannya sosok Laurel, Dave menarik nafas dalam-dalam sambil berjalan memasuki ruangan itu. Gerakan langkah Dave langsung terhenti begitu melihat sofa yang berada di salah satu pojok ruangan, yang awalnya tertutup oleh pembatas ruangan terbuat dari kayu, dan baru terlihat begitu Dave berjalan masuk lebih dalam ke ruangan itu, bahwa ada sofa panjang di balik pembatas ruangan kayu itu dengan sosok Laurel di sana.


Senyuman langsung mengembang di bibir Dave begitu melihat sosok Laurel yang mengenakan gaun pengantinnya tertidur di sofa dengan posisi kepalanya bersandar di sandaran tangan sofa tersebut, dan kedua tangannya terlipat di depan perutnya. Dave mendekat ke arah Laurel yang sedang tertidur dengan berusaha berjalan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun agar tidak membangunkan Laurel.

__ADS_1


Dave menarik sebuah kursi untuk dibawanya mendekat ke arah sofa tempat Laurel tertidur dengan posisi tubuh duduk, dan kepalanya bersandar pada sandaran tangan sofa. Setelah Dave duduk di kursi, di samping sofa tempat Laurel tertidur, Dave membungkukkan tubuhnya ke depan dengan kedua siku lengan bawahnya menumpu pada kedua pahanya. Sambil tersenyum tipis Dave memandangi wajah Laurel yang tertidur lelap dengan gaun pengantinnya.


Mengamatimu seperti ini, rasanya hatiku masih belum percaya bahwa sekarang kamu benar-benar telah menjadi istriku seutuhnya. Wajah tertidurmu dengan mengenakan gaun pengantinmu membuatmu menjadi seperti sosok seorang putri cantik yang sedang tertidur akibat pengaruh sihir dari seorang penyihir jahat dan kamu sedang menunggu kedatangan pangeranmu, untuk memberimu sebuah ciuman agar kamu terbangun dari tidur panjangmu,  Dave berkata dalam hati, salah satu tangannya bergerak pelan merapikan helai-helai rambut di wajah Laurel. Setelah itu dengan gerakan pelan Dave mengangkat kedua kaki Laurel yang masih dalam posisi duduk dan menyelonjorkannya di sofa tempatnya tertidur agar posisi tubuh Laurel lebih nyaman untuk tidur.


Melihat wajah Laurel yang tiba-tiba sedikit mengernyit karena Dave memindahkan kedua kaki Laurel ke atas sofa, membuat Dave dengan cepat menggerakkan tangannya ke bagian paha Laurel, menepuk-nepuknya lembut seperti seorang papa yang sedang menidurkan anak perempuan kesayangannya, membuat wajah Laurel kembali tenang dengan tetap tertidur, membuat Dave tersenyum dengan pandangan mesra menatap Laurel yang masih terlelap.


"Kak Dave...,"


"Husttt...," Dave langsung meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya mendengar Freya yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping tempat Dave duduk sambil melihat ke arah Laurel yang sedang tertidur, membuat Freya sedikit membeliakkan mata, lalu tersenyum.


"Biarkan kakakmu tidur sebentar lagi, sepertinya dia terlihat lelah hari ini. Aku yang akan menjaganya di sini. Tolong sampaikan ke Nyonya Smith aku meminjam ruangan ini untuk sementara waktu sampai kakakmu terbangun," Freya langsung mengangguk mendengar bisikan pelan dari Dave yang masih menepuk-nepuk lembut paha Laurel.


Freya tersenyum melihat bagaimana sikap Dave yang terlihat begitu melindungi dan menyayangi kakaknya. Dengan sedikit menarik nafasnya Freya berjalan menjauh dari kedua kakaknya agar dia tidak menjadi orang yang mengganggu kebersamaan mereka. Selain itu Freya harus segera menemui Nyonya Smith untuk menyampaikan pesan dari Dave, sekaligus berencana untuk tidak kembali ke ruangan itu untuk sementara waktu, membiarkan mereka berdua menikmati waktu berdua, walaupun Laurel sedang tertidur pulas.


Dave melirik ke arah jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lewat tiga puluh menit sejak Dave mengamati Laurel tertidur di depannya sambil sesekali mengelus atau menepuk lembut tubuh Laurel agar tidurnya merasa nyaman.


(Jam tangan Rolex merupakan jam tangan mewah yang paling banyak dibuat tiruannya ini telah berproduksi sejak 1919. Sang pendiri perusahaan, Hans Wilsdrof memang menginginkan nama sebuah merek yang pendek dan mudah diingat, maka lahirlah nama Rolex. Sebagai pelopor dalam pengembangan jam tangan, Rolex adalah asal usul dari begitu banyak inovasi dalam dunia pembuatan jam tangan, dan telah mendaftarkan lebih dari 500 paten sepanjang sejarahnya. Tidak banyak perusahaan yang dikenal secara konsisten dalam upaya mencari keunggulan, kemutlakan, penemuan pendekatan yang orisinil serta solusi inovatif. Rolex berhasil mengembangkan jam tangan yang telah menjadi ikon dari pembuatan tangan. Dengan mudah jam-jam tangan Rolex dapat ditemukan melingkar di pergelangan tangan para pelopor, seniman, atlet, dan visioner dalam perjalanan menuju puncak-puncak tertinggi maupun bagian paling dalam dari lautan. Gelar jam tangan Rolex termahal adalah jam tangan Rolex Paul Newman's Daytona yang terjual seharga 247 miliar rupiah pada tahun 2017).


Dave masih menikmati kecantikan sosok istrinya yang sedang tertidur lelap di depannya ketika dilihatnya mata Laurel yang terlihat mulai bergerak-gerak di balik kelopak matanya yang tertutup. Melihat itu Dave sedikit tersenyum licik dan  dengan cepat Dave bergerak mendekatkan wajahnya ke arah wajah Laurel dan langsung mencium bibir Laurel dengan mesra, membuat Laurel tersentak kaget dan langsung membuka matanya lebar-lebar.


Tangan Laurel dengan reflek bergerak ke arah dada Dave dan berusaha memukul dan mendorongnya dengan sekuat tenaga, namun dengan gerakan tangkas tangan Dave bergerak menahan serangan dari Laurel, dengan bibir Dave tetap menikmati mencium bibir lembut istrinya tanpa ada niat untuk melepasnya sedikitpun. Laurel yang awalnya kaget dan berniat memukul siapa yang sudah berani menciumnya terdiam begitu kesadarannya mulai pulih dan melihat dengan jelas bahwa laki-laki berpakain setelan jas rapi yang tiba-tiba saja berani mencium bibirnya dengan mesra adalah Dave.

__ADS_1


Untuk beberapa saat Dave tidak membiarkan bibir Laurel lepas dari bibirnya, kedua tangan Laurel yang tadinya hendak memukul dada Dave berada dalam pegangan erat salah satu tangan Dave tanpa bisa melepaskan diri, sedang tangan Dave yang lain berada di tengkuk Laurel, mendorong kepala Laurel agar wajahnya semakin mendekat ke arah wajah Dave, sehingga Dave bisa mencium bibir Laurel dengan lebih puas dan dalam, membiarkan lidahnya ikut berpartisipasi memperdalam ciuman bibirnya kepada Laurel, mengeksplore seluruh bagian dari dari bibir istrinya dengan mesra.


Debaran di dada Laurel yang awalnya berdebar begitu hebat karena kaget dan takut berubah menjadi debaran karena begitu menikmati ciuman penuh cinta dari Dave sekaligus merasakan keberadaan Dave di dekatnya yang selama ini selalu sukses membuat dadanya bergetar dan tubuhnya seolah sedang dialiri sesuatu yang membuat tubuhnya bergetar tanpa bisa dia hentikan.


"I Love you mo cuisle," Dave berkata lembut sambil menggerakkan bibirnya dari bibir Laurel ke leher jenjang Laurel. Untuk beberapa saat dihujaninya leher Laurel dengan ciuman-ciuman mesra sambil Dave menarik nafas dalam-dalam sehingga bau harum yang berasal dari tubuh Laurel memenuhi seluruh rongga hidungnya, membuatnya merasa begitu nyaman dan bahagia, yang seringkali membuat gairah dalam tubuhnya naik begitu cepat.


"Dave...," Suara lembut Laurel yang memanggil namanya membuat Dave sedikit tersadar dan dengan sekuat tenaga langsung mencoba mengendalikan hasratnya karena suara Laurel tiba-tiba menyadarkannya bahwa saat ini mereka sedang berada di tempat umum, bukan di ruangan pribadi mereka. Dengan cepat Dave sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Laurel dan melepaskan kedua tangan Laurel yang sedari dipegangnya dengan erat. Laurel segera bangun dari posisi tidurnya dan duduk di sofa dengan senyum lembut di wajahnya.


"Dave..., libido (Libido adalah keinginan seksual yang timbul dari energi psikis dan emosional dan berkaitan dengan insting untuk bereproduksi. Kalau keingina seksual itu tidak pada tingkat rata-rata, jika di bawah rata disebut libido rendah, atu jika di atas rata-rata disebut libido tinggi. Libido disebut juga dengan gairah sek..s) tinggimu kadang benar-benar membuatku kewalahan," Laurel berkata sambil tersenyum menggoda dengan kedua tangannya memeluk leher Dave sambil mengelus lembut tengkuk Dave dengan jari-jari lentiknya, membuat kali ini wajah Dave sedikit memerah karena perkataan Laurel sekaligus membuatnya harus menarik nafas dalam-dalam untuk mengendalikan dirinya yang kembali bereaksi karena pelukan dan elusan Laurel di lehernya.


Dengan lembut Dave meraih pergelangan tangan Laurel yang ada di tengkuknya dengan lembut, lalu menariknya untuk menjauh dari tengkuknya jika tidak ingin hasratnya kembali tidak terkendali, membuat Laurel tersenyum dengan kepala miring ke samping kanan, bibirnya tersenyum dengan wajah dan mata yang memandangnya dengan tatapan menggoda. Melihat bagaimana Laurel menggodanya, Dave hanya bisa memalingkan wajahnya sambil berdehem dengan suara sedikit keras, seolah memberi kode agar Laurel menghentikan tindakannya untuk tidak terus menggodanya, membuat Laurel tertawa dengan keras melihat tindakan Dave.


"Sudah puas menggodaku?" Dave berkata pelan setelah berhasil menguasai dirinya. Laurel langsung terkikik mendengar kata-kata Dave.


"Bukannya kamu yang memulai lebih dahulu menggodaku dengan mencuri ciumanku saat tertidur? Kamu tidak tahu betapa kagetnya aku tadi, untung saja aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung," Dave tersenyum mendengar protes dari Laurel.


"Aku tidak tahan melihat sosok putri tidur yang sedang menunggu pangerannya. Apakah kamu tidak tahu kalau putri tidur hanya bisa dibangunkan oleh ciuman pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati? Aku takut kamu tidk akan mau membuka matamu, bangun dari tidurmu sebelum pangeranmu memberikan ciuman penuh cinta kepadamu," Laurel meringis mendengar kata-kata pembelaan diri dari Dave.


"Kenapa membawa-bawa cerita dongeng? Aku baru tahu kalau seorang Dave Alexander Shaw ternyata begitu menyukai cerita dongeng," Dave tertawa, dengan lembut dijitaknya kening Laurel dengan jarinya.


"Aku tidak percaya dengan cerita dongeng, karena aku punya cerita cinta sendiri yang tidak kalah romantis dengan cerita dongeng. Mau dengar tentang kisah dongengku? Aku memiliki cinta dari seorang putri yang sangat cantik, selalu ramah dan baik hati. Bahkan saat melihatnya menangis dengan wajah sembab pun, bagiku wajahnya adalah wajah gadis tercantik yang pernah aku lihat." Dave berkata sambil bangkit dari duduknya, kedua tangannya terulur ke arah Laurel yang tersenyum mendengar dongeng yang diceritakan oleh Dave. Dengan gerakan pelan Laurel memberikan kedua telapak tangannya ke arah kedua telapak tangan Dave yang terulur ke arahnya, dan Dave langsung menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


"Putri milikku lebih rajin dari cinderella, lebih mandiri dan realistis dari Jasmine, lebih kuat dari Pocahontas, lebih baik hati dan tulus daripada Belle, lebih polos dari Rapunzel, memiliki daya juang lebih dari Merida, bahkan jauh lebih cantik dan mempesona dari Aurora dan Snow White. Kalau sekarang si ratu jahat, ibu tiri Snow White bertanya siapa gadis paling cantik di dunia, kaca ajaib akan menyebutkan nama putri milikku, bukan lagi nama Snow White," Dave meneruskan cerita dongengnya sambil menarik lembut kedua tangan Laurel yang berada dalam genggaman tangannya agar Laurel bangkit dari duduknya.


"Apa kamu masih mau mendengarkan cerita dongeng tentang kisah cintaku bersama putri cantik milikku?" Dengan wajah memerah Laurel menggelengkan kepalanya pelan, membuat Dave langsung mencium pipi Laurel dengan gemas karena melihat wajah Laurel yang terlihat malu-malu, bahkan dengan gerakan pelan Dave sengaja menggerak-gerakkan hidungnya yang mancung ke kanan dan ke kiri, sengaja menggosok-gosokkannya ke pipi lembut Laurel, membuat Laurel sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Dave karena merasa  sedikit geli.


__ADS_2