CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
BERDUA DENGANMU


__ADS_3

Dave membalikkan tubuhnya memandang ke arah gerbang rumah Laurel sambil menarik nafas dalam-dalam, karena dia harus mengakui, dia cukup merindukan suasana rumah ini setelah beberapa lama sejak dia meninggalkan tempat ini, dua minggu sebelum Laurel kembali ke Indonesia. Beberapa waktu lalu saat dia menghadiri acara pindah rumah Laurel, Dave hanya sempat menikmati sekilas suasana rumah ini, belum bisa mengobati rasa rindunya terhadap rumah ini.


Mata Dave memandang ke sekelilingnya, sejak awal dia memasuki rumah ini 2 tahun lalu dia selalu merasakan kehangatan dan suasana nyaman, dipandanginya jalanan dari gerbang sampai di depan rumah ini yang berjarak cukup jauh, karena bangunan rumah ini menjorok ke dalam. Jarak antara pintu gerbang depan dengan bangunan utama rumah ini berjarak kurang lebih 20 meter, di samping kanan kiri jalannya terlihat taman yang begitu terawat dengan warna warni bunga yang membuat taman itu terlihat semakin indah.


Sekilas Dave melirik ke arah taman di sebelah kirinya, di sana terlihat ayunan yang Dave ingat dengan jelas sejak dia tinggal di sini dulu itu merupakan salah satu tempat favoritnya di rumah ini. Ayunan itu seringkali menjadi tujuan utamanya saat menghabiskan waktu sambil membaca buku atau bersantai bersama Evelyn jika adik perempuannya berkunjung ke sini saat hari liburnya.


Salah satu alasan Dave begitu menyukai rumah ini karena dengan tanah yang luas lebih dari setengahnya merupakan ruang terbuka yang dipenuhi dengan taman, kebun, kolam renang, dan tanah lapang yang bisa digunakan untuk bermain ataupun berolahraga di udara terbuka. Seringkali saat dia memandang ke arah tanah lapang itu dia membayangkan bagaimana di masa depan dia bersama anak-anaknya bermain di sana.


Rumah mewah warisan dari keluarga Laurel ini tidak lebih mewah dari rumah keluarga besarnya yang memang sangat mewah, bahkan jika orang lain yang melihat pasti orang akan mempertanyakan kenapa Dave lebih memilih tinggal di rumah ini sejak 2 tahun lalu, yang walaupun cukup mewah tapi boleh dibilang jauh lebih kecil, hanya 1/4 dari luas rumah keluarga besarnya.


Dave tersenyum karena kembali teringat pertama kali dia memasuki rumah ini yang dia rasakan adalah suasana damai dan hangat yang begitu kental, siapapun yang dulunya mendesign rumah ini pasti merupakan orang yang benar-benar mencintai keluarganya, dan tentu saja Dave tidak tahu saat rumah ini dibuat, yang mendesign adalah mama kandung Laurel yang merupakan seorang arsitek.


"Maaf, apa kamu sudah lama menunggu?" Laurel yang baru saja membuka pintu langsung tersenyum melihat sosok Dave yang berdiri membelakangi pintu, sedang Dave begitu mendengar suara Laurel langsung membalikkan tubuhnya.


Laurel sedikit mengalihkan pandangan matanya melihat sosok Dave yang terlihat rapi dan mengagumkan dengan pakaian slim fit nya yang bewarna biru navy dipadukan dengan celana panjang bewarna kulit, membuat otot-otot di lengannya dan bentuk tubuhnya yang atletis terlihat dengan jelas. Membuatnya terlihat seperti seorang model yang bersiap melakukan prosesi foto di studio, orang yang belum mengenalnya pasti tidak akan menyangka kalau laki-laki tampan itu bukan seorang seorang model, tapi seorang dokter spesialis bedah syaraf. Dave sendiri terlihat sedikit menggigit bagian dalam bibir bawahnya melihat Laurel yang terlihat begitu cantik dengan kaos santainya yang bewarna merah muda dan celana jeansnya.


Begitu melihat Laurel, Dave sedikit mengernyitkan dahinya dan dengan spontan tangan kiri Dave bergerak merapikan rambut di bagian atas kepala Laurel yang terlihat kurang rapi, karena terburu-buru mengganti bajunya Laurel lupa untuk menyisir kembali rambutnya, membuat ada rambut yang terlihat tidak rapi karena tadi tertarik oleh pakaiannya ketika berganti.


"Terimakasih," Laurel tersenyum dengan malu-malu karena tindakan Dave barusan yang tidak disangka-sangkanya, dan membuat dadanya berdebar dengan keras.

__ADS_1


"Apa kabar?" Dave bekata sambil tersenyum dengan tangan kanannya menyodorkan bunga yang ada di tangannya, Laurel langsung menerimanya dengan senyum di wajahnya, diperhatikannya buket bunga yang sudah beralih di tangannya, susunan bunga yang sama dengan sebelumnya, mawar, peony, melati madagaskar dan gerbera, tapi dengan perpaduan warna yang berbeda.


"Terimakasih. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," Laurel berkata sambil tersenyum lebar, membuat lesung pipitnya semakin terlihat, dan mengakibatkan Dave harus sedikit mengalihkan pandangan matanya agar tidak tergoda untuk mencium pipi gadis di depannya.


"Masuklah,"


"Kalau boleh aku ingin mengobrol di luar saja sambil menikmati udara segar di sini," Laurel sedikit menggerakkan bahunya, tanpa menjawab perkataan Dave, Laurel masuk ke dalam, meletakkan buket bunga di tangannya ke atas meja ruang tamu, kemudian dia kembali berjalan keluar rumah menemui Dave yang masih berdiri di tempatnya.


"Apa kamu mau tetap berdiri di situ?" Dave yang awalnya sambil menunggu Laurel kembali mengarahkan pandangannya ke taman di depannya tersenyum mendengar pertanyaan Laurel yang langsung mengambil posisi duduk di salah satu kursi yang disusun melingkar di teras depan rumahnya, di dekat pintu masuk. Dave segera menyusul Laurel untuk duduk di salah satu kursi di samping Laurel yang terlihat sedikit tersentak, tidak mengira Dave langsung mengambil posisi duduk di sampingnya apalagi Dave sedikit menyeret kursi yang akan dipakainya agar lebih dekat ke arah Laurel.


"Kenapa kamu kembali lebih awal?" Dave yang duduk di sebelah kiri Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Laurel, dan tanpa disangka-sangka oleh Laurel tiba-tiba saja telapak tangan kanan Dave bergerak menyentuh keningnya.


"Semua urusanku kebetulan sudah selesai, karena itu aku kembali lebih cepat dari jadwal," Dave berkata sambil matanya memandang ke arah kedua tangan Laurel yang saling menggenggam di atas pangkuannya. Melihat tangan itu rasanya Dave ingin sekali meraih dan menciumnya untuk mengobati rasa rindu yang memenuhi dadanya saat ini.


Untuk beberapa saat mereka berdua saling berdiam diri dengan pikirannya masing-masing sampai Rita datang ke arah mereka dengan membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa cemilan.


"Eh, apa ada yang kamu inginkan selain teh hangat?" Dave langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Laurel.


"Ini sudah cukup," Dave menggerakkan kepalanya ke samping, dipandangnya wajah Laurel yang terlihat sedikit kikuk, membuatnya ingin tersenyum geli, ternyata gadis yang selama ini dikenalnya selalu ceria, percaya diri dan seringkali menunjukkan sisi dewasanya ini juga bisa menunjukkan sisi menggemaskan karena kegugupannya, padahal sejak dia datang dia belum mengatakan apapun tentang janji Laurel untuk menjawab perasaannya setelah dia kembali ke Indonesia.

__ADS_1


"Apa kamu ada waktu? Bagaimana kalau kita keluar mencari udara segar?"


"Eh?" Laurel langsung menoleh ke arah Dave begitu mendengar pertanyaan Dave.


"Bagaimana? Apa kamu mau keluar mencari udara segar? Mumpung cuaca malam ini cerah, ada satu tempat yang mau aku tunjukkan kepadamu, kamu pasti menyukai tempat itu," Dave menggerakkan kepalanya ke samping, memberi tanda kepada Laurel untuk mengiyakan ajakannya. Laurel mendongakkan kepalanya ke atas, memandang ke langit malam yang memang terlihat cerah dengan banyaknya bintang yang terlihat bersinar terang, padahal sore tadi ketika pulang langit tampak begitu mendung. Laurel tersenyum, bahkan langitpun begitu mendukung Dave hari ini.


"Tapi, apa kamu baik-baik saja? Kamu baru saja melakukan perjalanan jauh kan?" Bibir Dave sebelah kanan sedikit naik mendengar pertanyaan Laurel yang baginya benar-benar menunjukkan Laurel begitu perduli dengannya.


"Sebenarnya sudah beberapa jam yang lalu kedatanganku, sejak siang tadi aku sudah mendarat di Indonesia, aku sudah cukup beristirahat," Laurel sedikit mengernyitkan alisnya mendengar penjelasan Dave, karena sepanjang hari ini dia tidak mendengar Dave datang ke rumah sakit, ke rumah kaca di belakang kantornya.


"Aku beristirahat di rumah keluarga besarku, takutnya aku tidak tahan untuk tidak bertemu seseorang jika aku nekat beristirahat di rumah sakit," Seolah-olah bisa membaca pikiran Laurel, Dave langsung menjelaskan dimana dia beristirahat sepanjang siang tadi membuat Laurel sedikit mengalihkan wajahnya dari pandangan Dave agar Dave tidak melihat perubahan wajahnya karena kata-kata Dave barusan yang dia tahu benar siapa yang dimaksudkan oleh Dave barusan.


Sejak kapan kamu belajar kata-kata seperti itu? Belum ada seminggu kita tidak bertemu dan hari ini kamu sudah pandai sekali mengucapkan kata-kata manis. Ah, bagaimana aku bisa menghadapimu hari ini, Laurel berbisik dalam hati sambil berusaha menahan senyum di bibirnya.


"Bagaimana? Bisa kita keluar sekarang?" Laurel terdiam sejenak, tapi akhirnya dia menganggukkan kepalanya, mengiyakan penawaran Dave, membuat Dave langsung tersenyum dengan wajah bahagia.


"Apa aku harus mengganti pakaianku?" Laurel sedikit merasa tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya saat ini yang terkesan begitu santai, sedang Dave tampak begitu rapi dengan pakaian slim fitnya yang berkerah dan celana kainnya, melihat penampilan mereka saat ini Laurel merasa mereka jadi seperti bumi dan langit. Dave mengamati Laurel yang terlihat tidak percaya diri dengan pakaiannya yang bagi Dave tetap membuatnya terlihat cantik.


"Tidak perlu, kita bukan mau ke restoran bintang lima yang akan menolak kita saat kita tidak mengenakan pakaian formal, lagipula kalaupun kita kesana aku pastikan tidak akan ada yang berani mengusirmu apalagi ada aku di sampingmu," Dave berkata sambil tersenyum, baru kali ini Laurel melihat Dave begitu menunjukkan dia memiliki kekuasaan di kota ini, bukan hanya sekedar sebagai seorang kepala rumah sakit, membuat Laurel sedikit tersenyum geli, ternyata Dave tetap seorang laki-laki normal yang kadang egonya muncul di saat tertentu untuk menunjukkan dia memiliki cukup kekuatan dan kekuasaan, apalagi di depan gadis yang disukainya.

__ADS_1


"Ayo," Dave langsung bangkit dari duduknya, disusul Laurel yang bergerak dengan pelan, bukan karena ragu tapi karena dia masih berusaha mengendalikan debaran di hatinya sejak Dave muncul di hadapannya.


__ADS_2