
Laurel tersenyum melihat bagaimana indahnya desain gaun pestanya untuk menghadiri acara pernikahan Jeremy dan Niela.Tanpa bosan-bosannya Laurel memandang ke arah notebook yang ada di hadapannya yang layarnya sedang menunjukkan gambar desain gaun pestanya.
“Cantik Cla,” Cladia langsung menganggukkan kepalanya mendengar komentar dari Laurel tentang desain gaunnya telah dipilihkan oleh Cladia untuknya.
“Gaun itu akan menunjukkan garis bahumu yang indah dan leher jenjangmu. Kamu pasti akan terlihat sangat cantik dan menawan dengan desain ini,” Cladia berkata sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah desain gaun Laurel di bagian kerah gaun.
Laurel harus mengakui bahwa kecintaan Cladia di bidang fashion terutama di bidang perhiasan membuatnya jauh lebih mengerti tentang desain gaun yang cocok untuknya, apalagi di dukung oleh Ornado sebagai pemilik Grup Xanderson memiliki bisnis fashion yang sudah begitu dikenal di seluruh dunia. Bagi Cladia menentukan desain gaun terbaik untuk Laurel semudah membalik telapak tangannya. Karena itu hari ini Laurel membiarkan Cladia memutuskan semua tentang desain gaun yang akan mereka kenakan, bahkan bahan gaun sekaligus warna gaun semua Laurel percayakan kepada Cladia yang memang lebih ahli di bidang itu.
“Aku akan mengirimkan satu set perhiasan dari perusahaan kami yang desainnya akan menyempurnakan penampilanmu dengan gaun ini,” Cladia berkata sambil memandangi Laurel, seolah-olah dengan melihat sosok tubuh Laurel saja Cladia sudah bisa menentukan model perhiasan apa yang paling cocok untuk dikenakan oleh Laurel.
“Tidak perlu serepot itu Cla,” Laurel langsung menolak begitu mendengar perkataan Cladia, merasa tidak enak hati mendapatkan penawaran Cladia, sedangkan untuk biaya gaun yang akan dikenakannya saja Laurel bisa memastikan minimal angka ratusan juta yang harus keluar dari kantong Cladia. Membicarakan uang sebanyak itu kepada Dave yang merupakan suaminya saja Laurel merasa canggung, apalagi jika dia harus menerimanya dari Cladia dan Ornado.
“Tidak boleh menolak. Al dan aku belum sempat memberikan hadiah pernikahan padamu. Anggap saja itu hadiah pernikahan dari kami,” Laurel sedikit mengkerutkan dahinya mendengar ucapan dari Cladia.
“Kalau begitu kami juga harus segera memikirkan apa hadiah pernikahan dari aku dan Dave untuk kalian,” Cladia tertawa pelan mendengar perkataan Laurel.
“Bagiku, keberadaanmu yang sudah kembali ke Indonesia dan kembali bersamaku di kota ini sudah lebih dari cukup daripada hadiah lain, apapun itu,” Laurel mengelus lembut bahu Cladia mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Cladia.
“Beberapa tahun ini selain Jeremy dan Niela, aku tidak memiliki teman dekat, kehadiranmu benar-benar membuatku senang, apalagi sepertinya Dave dan Ornado sekarang terlihat begitu dekat. Aku bahagia melihat bagaimana mereka berdua bisa dekat seperti kedekatanmu dan aku,” Laurel tersenyum mendengar apa yang diucapkan Cladia dengan tulus kepadanya.
“Aku harap hubunganmu dengan Ornado juga segera membaik, dan traumamu segera menghilang. Ornado yang sudah begitu lama menunggumu, berhak bahagia bersamamu sekarang setelah penantian panjangnya. Dan aku harap kehadiranku dan Dave di tengah-tengah kalian bisa membantumu untuk segera pulih dari phobiamu terhadap laki-laki, terutama terhadap Ad,” Cladia hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata Laurel. Dalam hatipun Cladia begitu mengharapkan hal itu, ke depannya bisa menjadi istri yang sempurna bagi Ornado yang sudah begitu mencintainya dengan tulus selama lima belas tahun ini.
Suara nada panggilan di telepon Laurel membuat fokus Laurel dan Cladia beralih. Dengan gerakan cepat Laurel mengambil handphone dari dalam tasnya dan melihat siapa yang menelponnya.
__ADS_1
“Hallo,” Dengan ragu Laurel mengangkat teleponnya begitu melihat nama Tante Lina yang tertulis di layar handphonenya. Sebenarnya jika boleh jujur Laurel merasa malas untuk mengangkat panggilan telepon tersebut, tapi dia adalah orang yang tidak ingin dianggap tidak sopan.
“Hallo Laurel…,” Suara Tante Lina di seberang sana terdengar pelan dengan nada sedikit ragu saat menyapa Laurel.
“Iya Tante, tumben Tante menghubungi Laurel?” Laurel bertanya dengan wajah terlihat serius, karena sejak terkahir kali dia mengunjungi Tante Lina bersama Dave, untuk beberapa waktu ini mereka sudah tidak pernah lagi saling kontak walaupun hanya sekedar untuk saling mengirim pesan.
“Laurel…, mungkin…, kamu sudah dengar tentang apa yang Tante lakukan padamu. Tante benar-benar minta maaf. Tante ingin bertemu denganmu, untuk menjelaskan semuanya kepadamu,” Laurel sedikit menahan nafasnya mendengar perkataan tantenya.
Pada dasarnya Laurel tidak ingin mengungkit-ungkit apa yang pernah terjadi di masa lalu. Namun, mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh tantenya cukup membuatnya sedikit terganggu karena harus mengingat lagi kejadian buruk di masa lalu.
“Tante, hari ini Laurel sedang sibuk. Mungkin lain kali kita bisa bertemu untuk membahas ini,” Laurel berkata sambil memejamkan matanya, mencoba menahan gemuruh dalam dadanya, dan mencoba untuk tetap tenang agar emosinya tidak terpancing.
“Tolong bantu Tante, Laurel. Hanya sebentar saja, setelah itu jika kamu memutuskan untuk tidak memiliki lagi hubungan dengan Tante di masa depan. Tante akan terima itu,” Laurel terdiam untuk beberapa saat mendengar permohonan dari tantenya, diliriknya sekilas jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan hampir pukul 4 sore. Rasanya jika dia harus kembali ke rumah sakit sekarang juga sudah percuma, jam kerjanya sudah hampir habis.
Lebih baik aku selesaikan dengan baik-baik sekarang daripada aku tunda lebih lama lagi, Laurel berkata dalam hati sambil menghembuskan nafasnya lewat bibirnya.
“Eh…, tidak Laurel. Tidak perlu, lebih baik kita bertemu di luar. Tante akan menunggumu di Restauran XX,”
“Ok, Laurel akan segera ke sana,” Laurel langsung mengiyakan begitu diingatnya restauran yang barusan disebutkan oleh tantenya itu terletak tidak jauh dari butik Ornado, tempatnya sedang berada sekarang bersama Cladia.
“Terimakasih Laurel, Tante akan menunggumu,”
“Ya Tante,” Setelah mengatakan iya dengan suara pelan, Laurel kembali menutup panggilan telepon di handphonenya.
__ADS_1
Cladia yang sedari tadi duduk di depan notebook hanya terdiam sambil sesekali melirik ke arah wajah Laurel yang terlihat tidak tenang selama melakukan panggilan telepon barusan.
“Apa yang terjadi? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu?” Cladia langsung bertanya begitu Laurel mengkahiri panggilan teleponnya.
“Tante Lina menelpon, minta bertemu denganku di Restauran XX,” Laurel menjawab pelan pertanyaan Cladia
“Tante Lina? Bukannya kalian dulu cukup dekat? Kenapa sekarang hubungan kalian sepertinya tidak baik?” Mendengar pertanyaan Cladia, Laurel hanya bisa menghela nafasnya.
“Beberapa lama ini, selama aku berada di Amerika, sudah terlalu banyak hal yang terjadi. Banyak orang yang berubah juga, termasuk Tante Lina, bahkan mungkin akupun telah banyak berubah tanpa aku sadari. Ada beberapa masalah yang membuat perubahan itu justru merugikan, bahkan menyakiti orang lain,” Laurel menghentikan bicaranya sebentar, matanya sedikit menatap ke arah lain dengan pandangan kosong.
“Karena sesuatu yang tidak benar yang sudah dilakukan oleh Tante Lina. Sore ini Tante Lina ingin menemuiku. Katanya dia ingin menjelaskan apa yang sudah terjadi,” Laurel melanjutkan bicaranya, sedang Cladia hanya bisa terdiam, tidak berani memberikan pendapatnya karena dia sendiri tidak jelas apa yang sedang terjadi dan pernah terjadi di masa lalu antara Tante Lina dan Laurel yang dulunya dia tahu hubungan mereka berdua baik-baik saja, bahkan sudah seperti hubungan antara seorang ibu dan anak yang terlihat begitu kompak.
“Sebenarnya Dave tidak suka jika aku tetap berhubungan dengan Tante Lina,”
“Lalu bagaimana? Apa yang mau kamu lakukan sekarang?” Mendengar pertanyaan Cladia, Laurel mengalihkan pandangannya ke arah Cladia sambil menarik nafas dalam-dalam.
“Aku akan pergi untuk menemuinya sekarang,” Laurel berkata lirih.
“Apa tidak lebih baik kamu menghubungi Dave untuk menanyakan bagaimana sebaiknya kamu mengatasi masalah ini? Haruskah kamu menemuinya sekarang?” Cladia berkata sambil mencoba menebak sebenarnya apa yang sedang terjadi di antara Laurel dan Tante Lina sehingga hubungan mereka tampak rusak karena suatu masalah yang entah itu apa, Cladia juga tidak berani menebak terlalu jauh.
“Kalau aku menghubungi Dave, pasti dia tidak akan memberiku ijin untuk menemui Tante Lina, sedangkan aku jujur saja ingin segera menyelesaikan masalahku dengan Tante Lina. Aku bukan tipe orang yang suka menunda-nunda untuk menyelesaikan masalah,” Cladia menarik nafas dalam-dalam, sekilas diliriknya dua orang pengawal wanitanya yang berdiri lumayan jauh darinya. Pengawal yang selalu mengikutinya apalagi saat Ornado tidak ada bersamanya, sejak terjadinya peristiwa penjambretan yang pernah dialaminya saat berkunjung di pasar malam beberapa waktu lalu bersama Ornado.
“Ok, kalau begitu, ijinkan aku menemanimu,” Cladia berkata sambil menggenggam tangan Laurel yang terlihat sedikit terbeliak mendengar penawaran dari Cladia barusan.
__ADS_1
“Apa kamu serius Cla?” Cladia langsung mengangguk pasti mendengar pertanyaan dari Laurel.
“Aku akan pergi bersamamu, menemanimu untuk menemui Tante Lina,” Cladia mengulang apalagi yang diinginkannya, ikut menemani Laurel untuk bertemu dengan Tante Lina, membuat Laurel tersenyum senang karena kehadiran Cladia pasti akan cukup membuatnya lebih bisa tenang daripada dia harus menghadapi Tante Lina sendiri tanpa seorangpun berada di sampingnya. Meminta bantuan Dave? Pasti dengan tegas Dave akan melarangnya untuk menemui Tante Lina.