CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
BANTU AKU


__ADS_3

“Minumlah obat ini untuk menghilangkan mabukmu,” Laurel menyodorkan sebutir obat kepada Dave dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegang botol berisi air mineral yang sudah dibuka tutupnya oleh Laurel. Sambil tersenyum Dave meraih obat dan air dari tangan Laurel.


Setelah Dave selesai meminum obatnya, Laurel menyodorkan sebuah bungkusan yang sudah dibukanya berisi crackers (Kraker adalah sebuah roti panggang kering datar yang biasanya terbuat dari gandum. Perisa atau penyedap rasa, seperti garam, herbal, biji atau keju ditambahkan ke roti tersebut atau ditabur di bagian atas sebelum dipanggang).


“Makanlah, paling tidak isi perutmu dengan makanan ringan supaya lambungmu tidak sakit,” Odi yang melirik melalui spion bagaimana Laurel memperlakukan Dave tersenyum kecil, rasanya melihat apa yang dilakukan oleh Laurel saat ini seperti benar-benar seorang istri yang begitu perduli dengan suaminya, dan tanpa sadar membuatnya berdoa dalam hati, berharap hubungan kedua majikannya itu segera membaik.


# # # # # # #


Begitu keluar dari mobil, Laurel langsung menarik nafas dalam-dalam, menikmati udara segar dari pegunungan tempat villa keluarga Shaw berada. Odi langsung membawa koper milik Dave ke dalam bangunan villa utama tempat biasanya keluarga besar tuannya menginap di situ. Dave yang masih merasa belum terlalu fit lebih memilih langsung masuk ke dalam bangunan villanya dan langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ada di ruang tamu villanya.


“Dokter Laurel,” Laurel langsung menoleh mendengar panggilan dari Odi.


“Iya pak?”


“Maaf dok, Tuan memanggil dokter, katanya ada sesuatu yang mau dikatakan kepada dokter,” Laurel sedikit mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Odi.


“Apa tuanmu muntah lagi?”


"Tidak dok, Tuan terlihat sudah lebih baik,"


"Lalu kenapa bos mencariku? Apa ada yang perlu aku bantu?" Odi menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.


“Maaf dok, saya kurang jelas, lebih baik dokter melihat sendiri kondisi Tuan,” Laurel sedikit mengernyitkan alisnya, teringat akan sesuatu yang dia lupakan belum dia berikan ke Dave untuk lebih membantu mengatasi mabuknya, minyak kayu putih yang tadi sudah dibelinya.


"Aku akan kesana sekarang Pak Odi,"

__ADS_1


Dengan sedikit bergegas Laurel memasuki bangunan villa utama, begitu dilihatnya sosok Dave yang berbaring di sofa, dia segera mendekat sambil membuka tasnya, mengambil minyak kayu putih dari dalam tasnya.


“Apa kamu belum merasa lebih baik?” Dave yang awalnya memejamkan matanya langsung membuka matanya begitu mendengar suara Laurel, dan dengan cepat Dave mangambil posisi duduk.


“Kamu oleskan ini di perut dan punggungmu supaya badanmu terasa hangat, agar mabukmu bisa segera menghilang,” Laurel menyodorkan botol plastik berisi minyak kayu putih ke arah Dave yang langsung mengambilnya dan tanpa basa basi langsung menarik t shirtnya di bagian depan dan mengoleskan minyak kayu putih ke perutnya, membuat Laurel langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah sedikit memerah karena malu, membuat Dave justru sedikit tersenyum geli melihat tindakan Laurel.


“Laurel, bisa tolong aku?” Laurel yang awalnya sengaja mengalihkan pandangannya ke arah kaca-kaca besar di ruang tamu villa yang menghadap ke sebuah taman kembali menoleh ke arah Dave yang sudah merapikan kembali t shirtnya


“Apa yang bisa kubantu?”


“Tolong oleskan minyak kayu putih ini ke punggungku,” Mata Laurel sedikit terbeliak mendengar permintaan Dave.


“Aku akan mencari Pak Odi untuk membantumu,”


“Pak Odi sedang turun ke bawah membelikanku beberapa kebutuhanku selama di sini, ada beberapa barang yang lupa aku bawa tadi,” Dave menjawab dengan cepat, karena sebenarnya saat dia baru masuk ke dalam bangunan villa, sedang Laurel masih menikmati udara segar di luar, Dave sudah langsung memerintahkan kepada Odi untuk segera pergi dari tempat ini dan kembali 30 menit kemudian.


“Ayolah, bantu aku, jangan berpikir yang bukan-bukan,” Dengan langkah sedikit terseret Laurel mendekat ke arah Dave, mengambil posisi duduk di samping Dave yang langsung menyodorkan kembali botol minyak kayu putih ke arahnya, setelah itu Dave menggerakkan tubuhnya ke samping sehingga posisi tubuhnya duduk membelakangi Laurel, untuk memudahkan Laurel untuk mengoleskan minyak kayu putih di punggungnya.


“Kalau kamu merasa keberatan melihat tubuhku, palingkan saja wajahmu,” Dave berkata sambil tersenyum karena melihat wajah Laurel yang mulai terlihat memerah.


Laurel hanya bisa menarik nafas panjang mendengar perkataan Dave yang lagi-lagi tanpa basa basi dengan kedua tangannya yang menyilang langsung menarik kaos di bagian punggungnya ke atas, membuat Laurel segera memalingkan wajahnya sambil tangan kanannya bergerak mengoleskan minyak kayu putih ke punggung Dave tanpa melihat.


“Dokter Laurel, mana ada dokter mengobati pasiennya tanpa mau memandang ke arah pasiennya, bagaimana kalau kamu salah mengoleskan obat ke tempat yang bukan seharusnya?” Kata-kata Dave langsung membuat gerakan tangan Laurel terhenti.


“Kalau kamu terus cerewet seperti itu, aku akan pergi dan membiarkanmu berusaha sendiri mengoleskan minyak kayu putih ini,” Kalau tidak ingat kalau Dave sedang tidak enak badan, rasanya Laurel ingin memaki bahkan memukul punggung laki-laki di depannya yang harus diakuinya memiliki bentuk tubuh yang sempurna sebagai seorang laki laki yang bertubuh atletis. Tubuh atletis yang menunjukkan otot-otot yang pastinya terbentuk bukan hanya karena latihan sehari sehari dua hari, sebulan dua bulan, tapi tahunan.

__ADS_1


Mendengar ancaman Laurel bukannya diam, Dave justru langsung tertawa geli, dan dengan cepat dia menolehkan kepalanya ke  belakang.


“Jangan-jangan kamu sedang membayangkan yang bukan-bukan sekarang?” Laurel melotot mendengar ledekan dari Dave.


“Siapa yang berpikir yang bukan-bukan? Adanya juga mungkin kamu yang sedang berpikiran mesum sekarang,” Laurel langsung membalas pertanyaan Dave dengan nada sedikit tinggi karena kesal Dave terus menggodanya sedari tadi.


“Mo cuisle, jangan khawatir, kalau aku mau melakukan itu denganmu aku mau melakukannya di kamar kita, bukan di tempat seperti ini,” Kali ini Laurel benar-benar menghentikan gerakannya dan memukul bahu Dave bagian belakang walaupun tidak keras, dan langsung bangkit berdiri.


“Ini, oleskan saja sendiri,” Laurel menyodorkan botol minyak kayu putih ke arah Dave, yang langsung meraih pergelangan tangan Laurel yang sedang memegang botol minyak kayu putih dengan sedikit menariknya, sehingga membuat tubuh Laurel terjatuh ke arah Dave dan jatuh dalam posisi duduk di pangkuan Dave.


Posisi jatuh yang menyebabkan Laurel duduk di atas pangkuan Dave membuat baik Dave maupun Laurel tersentak kaget karena tidak mengira akan mengalami kejadian seperti itu. Dengan cepat Laurel bergerak untuk bangkit berdiri, tapi gerakan cepatnya kalah cepat dengan gerakan tangan kiri Dave yang langsung memeluk pinggangnya sehingga Laurel tidak bisa lagi bergerak untuk bangkit berdiri.


“Diamlah sebentar, biarkan aku membantumu,” Sambil berbisik pelan ke arah telinga Laurel, tangan kanan Dave bergerak ke arah bahu kanan Laurel, lalu memijitnya dengan lembut, dengan tangan kirinya tetap menahan tubuh Laurel agar tetap duduk di pangkuannya.


“Apa bahumu masih terasa pegal? Biar aku memijatnya sebentar. Terimakasih tadi sudah menyediakan bahumu untuk aku bersandar,” Dave berkata lembut dengan tangan kanannya tetap memijit dengan lembut bahu  dan lengan kanan Laurel.


Menyadari usahanya untuk menjauh dari Dave sia-sia, membuat Laurel hanya bisa terdiam, membiarkan Dave memijat lembut bahu dan lengan kanannya yang memang masih merasakan pegal dengan posisi tetap duduk di pangkuan Dave.


“Apa kamu merasa pegal bahumu sudah lebih baik?” Setelah beberapa lama berlalu, Dave bertanya kepada Laurel dengan tangannya masih tetap memijat bahu Laurel.


Mendengar pertanyaan Dave, Laurel buru-buru mengangguk, berharap dengan jawabannya itu Dave segera melepaskannya.


“Terimakasih kamu sudah begitu perduli pada kesehatanku,” Dave berkata dengan lembut, membuat Laurel hanya bisa mengangguk pelan sambil tersenyum manis, sehingga terlihat begitu menggoda bagi Dave, dan tanpa disangka-sangka oleh Laurel, dengan perlahan bibir Dave bergerak mendekat ke arah bibir Laurel, dan sebelum bibir mereka bersentuhan....


“Kakak!” Suara nyaring dari arah luar pintu bangunan villa yang sedang ditempati mereka membuat Dave dan Laurel tersentak kaget, sehingga membuat Laurel dengan reflek langsung bangkit berdiri dari pangkuan Dave sambil merapikan rambut dan pakaiannya dengan terburu-buru, sedang Dave tanpa sadar langsung melepaskan pelukan tangan kirinya di pinggang Laurel dan langsung memperbaiki posisi duduknya, berusaha bersikap senormal mungkin.

__ADS_1


”Kak Dave, Kak Laurel,” Tanpa merasa bersalah karena tidak tahu apa yang barusan terjadi, Evelyn dan Freya berjalan ke arah Dave dan Laurel dengan wajah terlihat ceria, sedang Laurel dan Dave sama-sama berusaha keras mengendalikan kegugupan mereka karena kaget melihat kedatangan kedua gadis itu, Evelyn dan Freya.


__ADS_2