
Cladia sedikit tertegun melihat sosok Tante Lina yang sedang duduk di salah satu pojok ruangan di Restauran XX tempat Laurel melakukan janji untuk bertemu dengan Tante Lina. Penampilan Tante Lina yang terlihat menor (berdandan secara berlebihan dan sangat mencolok, baik penggunaan make up yang cenderung tebal, warna pakaian yang terlihat dengan warna-warna terang maupun penggunaan perhiasan yang terlihat terlalu berlebihan), membuat Cladia hampir saja tidak mengenalinya, apalagi telah bertahun-tahun mereka tidak pernah bertemu, sejak Laurel pindah dari rumah kediamannya dan pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya.
Dulunya saat rumah mereka masih bertetangga, Cladia yang sering bermain-main di rumah Laurel sering bertemu Tante Lina yang memang saat itu sering berkunjung ke rumah Laurel. Cladia sedikit tertegun, melihat bagaimana penampilan Tante Lina benar-benar sudah berubah banyak dari yang terakhir Cladia ingat tentang sosok Tante Lina yang dulunya terlihat sederhana.
“Sore Tante,” Begitu Cladia dan Laurel sampai di depan meja tempat Tante Lina menunggu, Cladia segera mengucapkan salam kepada Tante Lina dengan sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat.
Melihat kehadiran Laurel bersama Cladia, membuat Tante Lina sedikit kaget dan mengernyitkan dahinya, apalagi Tante Lina merasa tidak mengenal sosok wanita muda dan cantik yang sedang berdiri di samping Laurel sekarang. Melihat wajah kaget dan bertanya-tanya Tante Lina, Cladia langsung tersenyum
“Tante Lina lupa denganku? Cladia? Dulu tetangga Laurel,” Cladia menjelaskan siapa dirinya kepada Tante Lina dengan senyum tersungging di wajahnya.
“Ah…,” Tante Lina sedikit terpekik sambil tersenyum mendengar Cladia menyebutkan namanya, membuat Tante Lina berusaha mengingat sosok Cladia kecil yang dulu dikenalnya.
“Kamu sudah jadi gadis dewasa dan semakin cantik sekarang. Bagaimana kabar papa dan mamamu? Apa mereka sehat-sehat saja?” Mendengar pertanyaan Tante Lina, Cladia terdiam sesaat, setelah itu dengan gerakan pelan Cladia mengambil posisi duduk di depan Tante Lina, di samping Laurel yang sudah duluan duduk.
“Papa dan mama sudah meninggal enam tahun lalu karena kecelakaan Tante,” Cladia berkata dengan suara lirih, bagaimanapun walau sudah berlalu selama enam tahun, ingatan tentang keberadaan orangtuanya yang sudah meninggal selalu saja membuat Cladia masih merasa sedih.
“Maaf…, maafkan Tante,” Tante Lina berbisik pelan meminta maaf karena merasa tidak enak mendengar berita tentang orangtua Cladia.
“Tidak apa-apa Tante. Bagaimana kabar Tante dan Om sekarang?” Cladia buru-buru mengalihkan pembicaraan agar pikirannya tidak terus berkutat pada ingatannya yang menyedihkan.
“Oooo, baik Cla. Tante baik-baik saja, kalau Om sekarang jarang pulang karena ada bisnis di luar kota yang harus diurusi oleh Om sekarang,” Cladia mengangguk pelan mendengar penjelasan dari Tante Lina.
“Eh maaf Tante, kok jadi Cladia ngobrol terus dengan Tante padahal Tante kan inginnya ketemu dengan Laurel,” Cladia berkata sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memberikan kesempatan selanjutnya kepada Laurel dan Tante Lina untuk melanjutkan keperluan mereka.
“Tidak apa-apa Cla, hari ini Tante juga senang bisa bertemu denganmu Cla. Eh, kalian mau pesan makanan dan minuman apa?” Tante Lina bertanya sambil mengangkat tangan, memberi tanda kepada salah satu pelayan agar mendekat ke arah meja mereka.
__ADS_1
“Kami sudah makan siang Tante, masih kenyang. Mungkin cukup minum saja, apapun asal hangat. Bagaimana denganmu Laurel?” Cladia langsung bertanya kepada Laurel sambil mengarahkan matanya ke wajah Laurel yang masih terdiam dengan wajah sedikit tegang.
“Aku ikut denganmu saja Cla,” Laurel menjawab dengan nada sedikit ogah-ogahan, membiarkan Cladia memilih salah satu menu minuman hangat yang ada di daftar menu restauran itu.
“Apa yang ingin Tante jelaskan kepada Laurel?” Begitu pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka, tanpa basa basi Laurel langsung bertanya kepada Tante Lina yang langsung terlihat gugup begitu Laurel mengeluarkan suaranya.
“Maaf Laurel, maafkan Tante,” Tante Lina berkata lirih dengan wajah penuh penyesalan.
“Tante meminta maaf buat apa? Kesalahan apa yang sudah Tante buat kepada Laurel?” Laurel berkata dengan nada pelan, sengaja tidak menjawab iya atas permintaan maaf Tante Lina, berharap Tante Lina mau berterus terang dan menjelaskan apa yang telah terjadi sehingga tantenya tega melakukan hal buruk seperti itu padanya.
“Maaf…,” Tante Lina kembali mengucapkan permintaan maaf sambil matanya melirik ke arah Cladia dengan tidak tenang, membuat Laurel menatap dalam-dalam ke arah tantenya.
“Tante bisa jelaskan apapun yang hendak Tante jelaskan kepada Laurel di depan Cladia. Tante Lina tahu sendiri, selama bertahun-tahun bagi Laurel, Cladia sudah seperti adik Laurel sendiri, tidak ada yang perlu dirahasiakan di depan Cladia. Dan Laurel jamin, Cladia bukan seseorang yang bocor mulut. Tante tidak perlu khawatir jika Cladia tidak bisa memegang rahasia. Dia tidak akan dengan gampang menyebarkan aib seseorang. Laurel berani menjamin itu,” Tante Lina menarik nafas dalam-dalam mendengar perkataan Laurel.
“Maaf…, maafkan Tante buat kejadian sejak tujuh tahun lalu. Tante tidak tahu, tapi melihat hubunganmu yang sudah membaik dengan suamimu, mungkin Dave sudah banyak menjelaskan tentang apa yang sudah Tante buat di masa lalu,” Tante Lina menarik nafas dalam-dalam, dari wajahnya terlihat jelas dia sedang begitu berusaha menyusun setiap kata-kata yang akan diucapkannya kepada Laurel.
“Apa maksud Tante? Memang siapa yang memaksa Tante melakukan itu?” Tante Lina sedikit menundukkan wajahnya mendengar pertanyaan Laurel.
“Ommu. Awalnya om kamu sudah setuju dengan permintaan Tante untuk membantu sebagian biayamu selama di Amerika, tetapi ketika malam itu, hari dimana kamu meninggalkan Dave di acara pernikahan kalian…. Ketika Dave menyatakan keinginannya untuk bertanggung jawab terhadap biayamu selama di Amerika menggantikan kami. Malam itu juga bahkan Dave langsung mentransfer sejumlah besar uang untuk keperluanmu selama tiga bulan sekaligus.
Begitu Ommu mendengar dan melihat nominal uang yang akan dikirimkan Dave tiap bulan ke akun kami, Ommu memaksa Tante untuk tidak memberikan semua uang itu kepadamu. Saat itu Ommu berpikir bahwa uang itu terlalu banyak jika hanya sekedar untuk biaya hidupmu di Amerika. Apalagi saat itu kamu juga banyak mendapatkan beasiswa selama kuliah di sana. Juga, Ommu merasa memiliki hak atas sebagian uang itu karena dianggapnya sebagai biaya dari membantumu,” Mendengar penjelasan dari Tante Lina, Cladia yang mulai mengerti duduk permasalahan yang terjadi antara Laurel dan Tante Lina hanya bisa melirik ke arah wajah Laurel yang terlihat murung sambil sedikit menahan nafasnya.
Dari apa yang baru didengarnya, Cladia sedikit banyak sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi antara Tante Lina dan Laurel. Cladia memilih untuk sedikit menundukkan kepalanya sambil berkonsentrasi terhadap minuman hangat di depannya agar tidak membuat Tante Lina dan Laurel terganggu dengan kehadirannya. Rasanya Cladia ingin sekali memeluk Laurel saat ini, karena bagi Cladia, sepertinya apa yang dialami Laurel terdengar begitu menyakitkan. Karena masalah uang seorang keluarga yang memiliki hubungan darah pun bisa khilaf.
“Kejadian itu terus berlalu selama dua tahun. Selama dua tahun itu Ommu menggunakan uang itu untuk memulai usaha pinjaman ilegal ke masyarakat, juga usaha untuk menjadi bandar judi online (bandar judi\=orang yang menyelenggakan dan mengatur acara perjudian) yang dilakukannya secara diam-diam. Dalam dua tahun itu usaha ilegal Ommu berkembang pesat, membuat Ommu semakin lupa diri, apalagi setelah dia mengenal salah satu wanita yang sekarang menjadi selingkuhannya, sehingga akhirnya meminta Tante memberikan alasan kepadamu bahwa kami mengalami kebangkrutan kepadamu agar semua uang yang Dave kirimkan untukmu bisa kami gunakan untuk memperbesar usaha kami,” Laurel dan Cladia sedikit tersentak mendengar apa yang baru saja diceritakan oleh Tante Lina.
__ADS_1
“Kenapa Tante membiarkan Om melakukan semua perbuatan tidak benar itu? Dan melihat Om berselingkuh? Kenapa Tante diam saja?” Tante Lina terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Laurel.
“Seperti kamu tahu, Tante sudah puluhan tahun menikah dengan Ommu dan belum dikaruniai seorang anakpun. Dan masalahnya ada pada Tante. Organ reproduksi Tante mengalami masalah agenesis rahim sehingga tidak memungkinkan untuk Tante hamil. Dengan alasan itu Ommu sengaja mencari wanita yang bersedia mengandung anaknya,” Laurel dan Cladia semakin melotot mendengar bagaimana suami Tante Lina melakukan hal menyakitkan bagi Tante Lina seperti itu, benar-benar tindakan yang tidak manusiawi, meminta Tante Lina mengijinkannya untuk tidur dengan wanita lain dengan alasan karena Tante Lina tidak bisa memberinya seorang anak.
(Agenesis rahim \= Agenesis rahim atau sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) sangat jarang terjadi. Kelainan rahim wanita ini menyebabkan va.. gina dan rahim tidak terbentuk dengan baik, berukuran kecil, atau kadang yang terparah hingga tidak ada sama sekali. Salah satu tanda MRKH adalah tidak mendapat menstruasi meski usia sudah mencapai 16 tahun. Wanita dengan kondisi ini umumnya akan sulit hamil karena kondisi rahimnya tidak ideal untuk pertumbuhan janin).
“Kenapa Tante dan Om tidak melakukan adopsi saja?” Tante Lina menggelengkan kepalanya pelan mendengar pertanyaan Laurel.
“Ommu merasa bukan pada dia masalahnya. Dia ingin anak dari darah kandungnya sendiri. Tante terpaksa menerima keputusan Ommu, karena awalnya Ommu berjanji hanya demi mendapatkan anak yang kelak bisa menjaga kami berdua di masa tua, setelah itu dia akan mengakhiri hubungannya dengan wanita itu. Tetapi ternyata sampai sekarang Ommu begitu sulit lepas dari wanita itu. Dan Tante adalah wanita bodoh yang begitu mencintai Ommu, sehingga Tante tidak bisa melepaskan Ommu. Andai saja Tante memiliki keberanian untuk melepaskan ikatan pernikahan ini, sudah lama Tante mengakhirinya. Tetapi bagi Tante begitu sulit untuk tidak mencintai Ommu, meskipun apa yang telah dilakukan Ommu begitu menyakitkan bagi Tante. Maafkan Tante karena dengan alasan cinta sudah membiarkan Ommu melakukan sesuatu yang salah,” Tante Lina kembali menjelaskan dengan suara yang terdengar semakin lirih, dengan airmatanya yang mulai menetes membasahi pipinya.
Laurel dan Cladia saling berpandangan mendengar cerita dari Tante Lina yang cukup membuat mereka berdua sebagai sesama wanita yang juga sudah memiliki suami bisa ikut merasakan kesedihan dan sakit hati yang harus ditanggung oleh Tante Lina karena perbuatan suaminya. Tanpa sadar baik Laurel maupun Cladia mengelus perut mereka lembut, merasa bersyukur mereka masih diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengandung bayi kecil mereka saat ini. Bayi yang juga merupakan sebuah tanda cinta dari suami mereka.
Penjelasan yang baru saja di dengar oleh Laurel dan Cladia membuat kedua wanita cantik itu hanya bisa menghela nafas panjang. Dengan gerakan pelan Tante Lina meraih tissue di hadapannya dan mulai mengeringkan airmatanya.
“Maafkan Tante Laurel. Masalah Devan pun Tante sudah tidak bisa mengendalikan lagi Ommu yang juga mengambil uang dari Devan yang seharusnya juga kami kirimkan untukmu,” Tante Lina berkata dengan suara terbata-bata dan sesenggukan karena menahan tangisnya yang semakin deras.
Cladia dan Laurel sama-sama terdiam mendengar penjelasan selanjutnya dari Tante Lina. Untuk beberapa saat suasana diantara mereka menjadi tegang dan sunyi. Dengan pelan Cladia menarik kursinya ke belakang dan bangkit berdiri.
“Maaf, aku mau ke kamar mandi sebentar,” Cladia berjalan menjauhi tempat mereka duduk menuju toilet restauran.
Untuk beberapa saat setelah keluar dari kamar mandi restauran yang tampak berjajar rapi, Cladia berdiri di depan kaca sambil mencuci tangannya, mengeringkannya, lalu merapikan rambut panjangnya yang tergerai, teringat kembali tentang cerita sedih tentang Tante Lina sebelum akhirnya Cladia menarik nafas panjang dan keluar dari ruangan itu. Begitu keluar dari pintu ruangan toilet wanita, Cladia tesenyum melihat kedua pengawal wanitanya yang sudah berdiri tegap menunggunya di depan pintu keluar ruangan toilet.
Begitu Cladia kembali ke lokasi dimana dia meninggalkan Laurel dengan Tante Lina, Cladia langsung tersentak kaget begitu melihat posisi meja yang tadinya dia duduki bersama Laurel dan Tante Lina tampak ramai orang berkumpul. Dengan bergegas Cladia berjalan ke arah meja itu, dengan kedua pengawalnya langsung bergerak cepat di depannya, untuk memeriksa apa yang sedang terjadi dan memastikan semuanya dalam kondisi aman bagi majikan mereka.
“Laurel? Dimana Laurel?” Cladia yang baru saja sampai di sana terlihat gugup melihat meja yang dalam kondisi terbalik, sedang Tante Lina terlihat duduk terjatuh di lantai restauran.
__ADS_1
“Tante, dimana Laurel? Apa yang sudah terjadi Tante?” Cladia mendekat ke arah Tante Lina yang dibantu berdiri oleh para pegawai restauran.
“Tante tidak tahu Cla, tiba-tiba saja tadi datang seorang laki-laki yang langsung menarik tangan Laurel dan membawanya pergi. Tante sudah berusaha menghalanginya, tapi laki-laki itu justru memukul Tante sampai terjatuh dan menabrak meja hingga terguling,” Cladia memandang ke arah Tante Lina yang bagian dagunya tampak terlihat lebam dan membiru akibat bekas pukulan yang Cladia bisa memastikan itu merupakan sebuah pukulan yang cukup keras.