
“Kita sama-sama belum tahu anak kita laki-laki atau perempuan Ad,” Ornado tersenyum mendengar kata-kata balasan dari Laurel.
“Ayolah Laurel, kamu dan Dave tahu ilmu kedokteran sekarang begitu maju. Kalaupun anak pertama kita nanti ternyata sama-sama perempuan atau sama-sama laki-laki, masih ada anak kedua atau bahkan mungkin anak ketiga kita. Saat itu kita bisa merencanakannya dengan lebih baik lagi bersama dokter kandungan terbaik,” Dave sedikit terkikik geli melihat bagaimana Ornado terlihat begitu ngotot menginginkan mereka berdua berbesan di masa depan.
Melihat bagaimana Ornado dan Laurel saling beradu pendapat, Cladia lebih memilih untuk diam, karena baginya menjodohkan anaknya dengan anak Laurel dan Dave? Sepertinya tidak ada salahnya dan justru itu terlihat seperti pemikiran yang bagus. Membayangkan itu Cladia hanya bisa tersenyum.
“Dave? Bagaimana denganmu? Apa kamu keberatan dengan permintaanku?” Dave langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari Ornado.
Sebelum menjawab pertanyaan Ornado, Dave melirik ke arah Laurel yang wajahnya tampak berpikir keras. Jujur saja walaupun saat ini dia begitu mencintai Dave, tapi Laurel tahu kalau dijodohkan dengan seseorang yang belum tentu kita cintai adalah hal yang tidak menyenangkan bahkan mengerikan bagi seseorang. Dan sebagai seorang wanita yang pernah mengalami itu, Laurel tahu bagaimana tidak nyamannya menjalani masa-masa itu, walaupun pada akhirnya dia begitu mencintai Dave, tapi Laurel tahu tidak semua nasib dua orang yang dijodohkan akan berakhir sebaik mereka berdua ataupun seperti kasus Ornado dan Cladia yang kebetulan sejak kecil bahkan sudah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka.
“Bagiku akan menyenangkan sekali bisa berbesan denganmu di masa depan, tapi kita juga perlu mendengar pendapat dari sisi istri kita. Mereka pasti punya pertimbangan juga akan masalah ini. Apalagi mereka juga yang mengandung anak kita, sepertinya mereka memiliki hak lebih besar dari kita untuk memutuskan hal ini,” Mendengar jawaban Dave, Ornado langsung memandang ke arah Cladia yang sedari tadi memilih untuk diam.
“Bagaimana pendapatmu amore mio? Apa kamu setuju dengan permintaanku kepada Dave?” Cladia tersenyum, dilihatnya wajah Laurel yang tampak sedikit khawatir, dan Cladia bisa merasakan dan mengerti isi pikiran Laurel saat ini.
Cladia tahu, bukannya Laurel tidak mau berbesan dengannya, tapi Laurel khawatir karena tidak semua perjodohan berakhir bahagia seperti yang mereka berdua alami. Ada banyak juga perjodohan yang berakhir gagal dan akhirnya justru saling menyakiti hati pasangan masing-masing bahkan mungkin justru menimbulkan trauma yang berkepanjangan dan saling benci.
Dasar Al! Aneh-aneh saja, anak kita belum lagi lahir kamu sudah mencarikan jodoh untuknya. Sikapmu sudah seperti orangtua yang ketakutan anaknya tidak laku saja. Apa kamu begitu takut nantinya anak kita menjadi perjaka atau perawan tua? Cladia berkata dalam hati sambil diliriknya wajah suaminya sebelum dia menjawab pertanyaannya.
“Memang kenapa tiba-tiba kamu ingin anak kita menikah dengan anak Dave dan Laurel?” Ornado sedikit meringis mendengar pertanyaan balik dari Cladia.
“Karena aku tahu rasanya menikah dengan orang yang sudah aku kenal sejak kecil, sudah hafal dengan karakter dan sifatnya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada yang perlu kita sembunyikan di antara kita berdua karena sejak lama kita sudah sama-sama tahu tentang pribadi masing-masing. Bagiku itu sangat membahagiakan. Sejak kecil kita sudah tahu siapa yang akan menjadi pasangan kita kelak,” Cladia tersenyum melihat bagaimana Ornado mengucapkan kata-katanya sambil memandangnya dengan tatapan mesra dan penuh cinta, membuat Cladia harus sedikit menahan nafasnya karena debaran hebat di dadanya melihat bagaimana cara Ornado memandangnya.
“Kalau begitu kenapa kamu tidak menikah saja dengan Laurel? Kita bertiga sama-sama sudah saling mengenal sejak kecil. Ketiga orangtua kita juga sudah saling mengenal bahkan sejak aku belum dilahirkan. Kenapa kamu memilih aku bukan memilih Laurel? Bagaimana jika saat itu orangtuamu justru menjodohkanmu dengan Laurel? Bukan dengan aku? Apakah kamu tetap akan menjalani perjodohan itu?” Mendengar pertanyaan Cladia sontak saja membuat Laurel dan Ornado langsung terbeliak kaget, tidak menyangka dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Cladia, sedang Dave langsung tersenyum penuh arti mendengar itu.
Ad, sepertinya kamu benar-benar mati kutu jika harus beradu argumen dengan Cladia. Aku pikir selama ini Laurel merupakan musuh beratmu dalam hal beradu pendapat. Tidak kusangka ternyata orang yang paling sulit untuk kamu lawan justru istrimu sendiri, Cladia Sanjaya. Untung saja selama ini saat di sampingmu Cladia lebih banyak memilih untuk berdiam diri dan selalu mengikuti apa kemauanmu. Aku yakin bukannya kamu tidak bisa mengalahkan argumen Cladia, tapi karena begitu besarnya cintamu kepadanya membuatmu memilih untuk membiarkannya menang. Benar-benar sosok istri yang sempurna bagimu, sama seperti Laurel bagiku, Dave berbisik dalam hati sambil berusaha menahan tawanya melihat bagaimana Ornado mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan Cladia barusan.
“Karena…. Yah…, dari awal kamu tahu aku sudah jatuh cinta padamu, bukan kepada Laurel. Dan tidak ada yang bisa mengubah itu, baik di masa lalu, masa sekarang ataupun di masa depan,” Cladia tersenyum manis mendengar jawaban Ornado.
"Sejak kita kecil kamu tahu benar bagaimana aku selalu ingin bersamamu. Sejak dulu masih kecil bahkan kita selalu menjadi pasangan saat bermain bersama. Sejak kita berpisah selama lima belas tahun tidak pernah sekalipun aku melupakan bahwa kamu adalah istri masa depanku," Ornado berkata sambil mempererat pelukannya ke tubuh Cladia, seolah-olah takut jika saja tiba-tiba saja Cladia pergi menjauh darinya.
__ADS_1
“Al…, kalau begitu sejak kecil kita akan membuat anak-anak kita saling mengenal satu sama lain dan akrab, tapi bukan berarti kita yang menentukan siapa akan jatuh cinta dengan siapa. Biarkan mereka sendiri yang memilih cinta mereka. Kita sebagai orangtua hanya bisa mencoba memberikan pendapat kita. Mencoba membantu mereka untuk mendapatkan yang terbaik, tapi pilihan terakhir tetap ada pada mereka sendiri,” Dave langsung tersenyum mendengar jawaban bijak dari Laurel yang membuat Ornado menarik nafas panjang.
Seperti biasa, jika menghadapi Cladia, Ornado tidak akan pernah bisa melawan sedikitpun. Apa yang diucapkan oleh Cladia selalu membuat Ornado tidak bisa berkutik, lebih tepatnya membuat Ornado selalu memilih untuk mengalah. Jika saja Ornado mau serius, Cladia pasti tidak akan pernah menang jika berdebat dengannya, tapi bagi Ornado, apa artinya dia selalu menang jika itu membuat Cladia tidak bahagia, sedangkan tujuan hidup terbesarnya adalah menjadikan Cladia sebagai wanita paling bahagia berada di sampingnya.
“Aku tidak mau ada penyesalan terjadi pada anak-anak kita kelak. Biarkan mereka berjuang untuk mengejar kebahagiaan dan cinta mereka jika saatnya sudah tiba,” Cladia menambahkan kata-katanya yang akhirnya membuat Ornado tersenyum.
“Ok, aku setuju denganmu amore mio. Tapi kalau memang mereka akhirnya saling jatuh cinta, kita harus mendukung mereka dengan sepenuh hati. Dan kita berhak memberikan masukan kepada mereka siapa yang bisa menjadi pasangan yang baik untuk mereka,” Mendengar perkataan Ornado, baik Laurel, Dave dan Cladia menganggukkan kepalanya tanda setuju, sekaligus lega karena Ornado mau menerima pendapat dari yang lain, mengingat selama ini sebagai pewaris tunggal Grup Xanderson, Ornado akan selalu berusaha mencapai dan mendapatkan apapun yang diinginkannya.
“Ok, kalau begitu, urusanku dengan kalian sudah selesai. Ini sudah terlalu malam untuk meneruskan obrolan kita bersama para wanita hamil. Sebaiknya kami pulang sekarang agar Laurel juga bisa beristirahat setelah menjalani hari yang melelahkan,” Ornado berkata sambil beranjak, berdiri dari duduknya yang langsung disusul oleh Cladia.
“Ad, sekali lagi terimakasih untuk hari ini. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang sudah kamu lakukan untuk kami,” Dave yang sudah berdiri, langsung berjalan ke arah Ornado dan memeluknya dengan erat, sedang Ornado langsung menepuk-nepuk punggung Dave dengan gerakan pelan namun berulang-ulang.
“Sudahlah, tidak ada salahnya membuat calon besanku berhutang budi padaku, agar kamu kelak menganggap anakku sebagai anakmu juga,” Ornado berkata sambil tertawa tergelak, membuat Dave ikut tertawa karena candaan Ornado barusan.
Laurel yang berdiri di samping Dave langsung menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar Ornado yang masih mengingatkan masalah perjodohan anak-anak mereka, menunjukkan bahwa Ornado benar-benar berharap ke depannya anak-anak mereka benar-benar berjodoh. Melihat wajah geli Laurel yang menggeleng-gelengkan kepalanya barusan, tangan Ornado langsung bergerak ke arah bahu Laurel dan menepuknya lembut.
“Jaga diri baik-baik, dari cerita Dave sepertinya kamu memiliki bakat membuat para pria aneh dan nekat jatuh cinta padamu,” Laurel langsung memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Ornado yang walaupun bercanda tapi ada benarnya juga.
“Ok, kami permisi dulu, selamat beristirahat. Jaga kesehatanmu Laurel, dan juga calon menantuku di perutmu,” Laurel langsung melotot mendengar perkataan Ornado yang langsung tertawa mendapatkan hadiah pelototan dari Laurel.
Dasar Ad! Sempat-sempatnya selalu mencari kesempatan untuk menggodaku, benar-benar selalu mengajak berantam, Laurel sedikit mengomel dalam hati walaupun dengan senyum geli tersungging di bibirnya, hatinya benar-benar bersyukur diberikan kesempatan dalam hidupnya mengenal orang-orang baik seperti Cladia dan Ornado.
"Ok, kami akan permisi dulu. Cladia juga butuh beristirahat. Beberapa hari lagi kami harus melakukan perjalanan ke Italia untuk menghadiri even peluncuran produk baru kami. Kalau saja kamu tidak sedang hamil, aku pasti akan membawamu ikut dengan kami ke Italia," Ornado berkata sambil memandang ke arah Laurel yang tersenyum geli mendengar itu.
"Lebih baik kamu ke kamar lebih dahulu. Aku akan mengantar Ornado dan Cladia keluar dulu," Mendengar perkataan Dave, Laurel langsung menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Dave karena dia sendiri sudah merasa begitu lelah.
Begitu selesai mengantar Ornado dan Cladia sampai ke parkiran rumah sakit, Dave segera kembali ke kamarnya. Begitu dilihatnya Laurel sudah terlelap tidur, Dave menyungingkan senyum di wajahnya, lalu berjalan ke arah kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Dave langsung mengambil posisi berbaring di samping Laurel begitu selesai membersihkan dirinya. Tubuh Dave berbaring miring ke arah Laurel dengan kepalanya menopang pada lengan bawah tangannya yang terlipat ke belakang. Dipandanginya wajah damai Laurel yang sudah tertidur lelap dengan tatapan penuh cinta dan bahagia setelah apa yang harus mereka alami sepanjang sore sampai malam ini, pada akhirnya sampai detik ini mereka masih tetap bisa bersama kembali.
__ADS_1
I love you mo cuisle, I love you so much. Seeing your smile is happiness for me, having you is the most beautiful gift in my life. I can't live in world where you are not in it. Thank you for be my beloved wife. (Aku mencintaimu denyut nadiku, Aku sangat mencintaimu. Melihat senyummu adalah kebahagiaan bagiku, memilikimu adalah hadiah terindah dalam hidupku. Aku tidak akan bisa hidup di dunia dimana kamu tidak ada di dalamnya. Terima kasih untuk menjadi istri tercintaku). Dave berkata dalam hati sambil tangannya mengelus lembut wajah cantik istrinya sebelum akhirnya Dave menutup matanya sambil memeluk tubuh Laurel dalam tidurnya dengan senyum menyungging di bibirnya.
# # # # # # #
"Morning mo cuisle," Dave langsung mendaratkan ciuman mesra di bibir Laurel begitu melihat Laurel mulai mengerjap-ngerjapkan matanya bersiap untuk bangun dari tidurnya.
Laurel hanya bisa tersenyum melihat pagi ini bisa menikmati keberadaan Dave di sisinya setelah kejadian kemarin yang baginya seperti mimpi buruk. Laurel sedikit meringis menyadari punggung dan tangannya yang masih terasa pegal karena kemarin cukup lama dia dalam posisi tangan terikat di belakang.
"Eh, Dave, sudah jam berapa ini? Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Ah, aku pasti terlambat masuk kerja hari ini," Laurel memandang ke arah jam dinding di kamar mereka yang sudah menunjuk di angka 7:30 dengan wajah terlihat gelisah.
"Hei, tenang saja mo cuisle, kamu tidak harus masuk kerja hari ini. Aku akan menemanimu membolos kerja hari ini. Kita habiskan waktu berduaan sepanjang hari ini," Mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, mata Laurel sedikit terbeliak.
"Mana boleh begitu. Bisa-bisa aku dipecat oleh bos tempatku bekerja. Kamu belum tahu betapa galaknya bos di tempatku bekerja. Saat pertama kali bergabung di rumah sakit ini bahkan hampir setiap hari dia memarahi dan menegurku dengan wajah dingin dan pandangan matanya yang tajam seperti elang," Laurel berkata sambil tersenyum dengan manja, membuat Dave hanya bisa memandangnya dengan gemas.
Kalau tidak melihat wajah lelah yang masih terlihat jelas di wajah Laurel, rasanya ingin sekali Dave membungkam bibir Laurel dengan bibirnya sambil menggelitik pinggang Laurel, membiarkan Laurel tertawa sampai menangis. Dengan gerakan cepat Laurel berusaha bangkit dari tidurnya, namun wajahnya langsung meringis menahan sakit pada lengan dan bahunya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Melihat wajah Laurel yang tampak mengernyitkan dahinya karena rasa pegal di tubuhnya membuat Dave langsung mendekat dan menghalangi gerakan tubuh Laurel yang hendak bangkit dari tidurnya.
"Lebih baik sementara waktu kamu tetap berbaring. Sepertinya beberapa hari ini memang kamu harus cukup beristirahat," Laurel kembali mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari Dave.
"Dave..., jangan sampai karyawan di sini menilai aku memanfaatkan posisiku sebagai istrimu sehingga bermalas-malasan,"
"Sembarangan saja! Mana ada kondisimu yang seperti sekarang ini dibilang sehat-sehat saja," Dave langsung memotong perkataan Laurel yang langsung tersenyum mendengar sanggahan dari Dave tentang perkataannya.
Dengan gerakan pelan tapi pasti, Laurel mendekatkan tubuhnya ke arah Dave dan dengan cepat diciumnya bibir Dave sedikit lebih lama. Sambil mencium Dave tangan Laurel bergerak pelan ke balik piyama tidur Dave dan mengelus lembut kulit dada Dave yang langsung tersentak mendapatkan sentuhan mesra dari Laurel.
"Sudah aku bilang kan, aku baik-baik saja," Laurel berkata setelah bibir dan tangannya menjauh dari tubuh Dave yang wajahnya masih terlihat sedikit terkejut, tapi beberapa detik kemudian Dave langsung tersenyum.
"Apa maksud tindakanmu barusan? Apa kamu mau membuktikan hari ini kamu mampu untuk...," Dave berkata sambil tubuhnya yang awalnya berbaring miring ke arah Laurel bergerak untuk bangun, sehingga tubuhnya berada di atas tubuh Laurel yang langsung berada dalam kungkungan kedua lengan kokoh Dave yang kedua telapak tangannya menumpu di atas tempat tidur, di samping kanan kiri tubuh Laurel.
__ADS_1
Suara ketukan di pintu kamar mereka membuat Dave dan Laurel tersentak kaget, dan dengan reflek Dave langsung menoleh ke arah pintu, sedang kedua telapak tangan Laurel langsung menahan dada Dave yang sebelumnya sudah bersiap mendekatkan tubuhnya ke arah Laurel untuk mulai menciumi wajah Laurel, berencana untuk meminta sesuatu yang lebih kepada Laurel.