CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
RENCANA UNTUK LEO DAN EVELYN


__ADS_3

Dave dan Laurel duduk saling berdampingan di balkon rumah kaca sambil mengamati para dokter dan pegawai rumah sakit yang lain menghabiskan sore mereka di lapangan basket dan voli yang dapat terlihat jelas dari balkon rumah kaca yang menghadap ke lapangan itu. Sesekali Dave dan Laurel tersenyum melihat bagaimana kompaknya para dokter dan pegawai rumah sakit selama melakukan aktifitas di lapangan sore itu.


“Sayang sekali untuk berapa lama ini aku belum bisa bergabung dengan mereka untuk berolahraga,” Laurel berkata dengan suara pelan sambil mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat sedikit membesar apalagi saat dia tidak mengenakan pakaian. Di kamar mandi beberapa lama ini Laurel senang sekali berdiri di depan cermin sambil melihat dan mengelus perutnya yang sudah mulai terasa sedikit keras.


“Untuk apa kamu memikirkan olahraga sekarang ini? Bukannya olahraga bersamaku sudah cukup untuk saat ini?” Dave berkata sambil tangannya ikut menyentuh dan mengelus lembut perut Laurel, sedang Laurel langsung melotot dan mencubit lengan Dave begitu mendengar kata-kata Dave barusan.


“Kenapa mo cuisle? Apa menurutmu olahraga kita masih kurang? Kalau iya, dengan senang hati aku akan menambah intensitas olahraga kita. Berapa kali yang kamu mau dalam seminggu? Atau mungkin berapa kali dalam sehari? Aku akan memenuhi permintaanmu,” Dave berkata sambil mencium ceruk leher Laurel dengan hidung mancungnya sekilas namun berkali-kali.


“Dasar Dave! Kenapa pikiranmu terus saja mesum ke arah sana?” Dave langsung meringis mendengar protes Laurel.


“Kamu sendiri kan yang bilang ingin berolahraga? Bukannya aku sudah memberikan solusi olahraga paling aman yang mungkin dilakukan saat kehamilanmu? Olahraga yang hanya bisa kamu lakukan bersamaku?” Mendengar jawaban dari Dave, Laurel hanya bisa tersenyum geli dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, setelah itu matanya kembali melihat ke arah lapangan.


“Sepertinya tim basket yang sedang berlatih sedang beradu pendapat tentang pelanggaran pemain,” Laurel berkata sambil matanya melihat ke arah lapangan basket di mana permainan dihentikan dan beberapa orang terlihat saling berbicara mengutarakan pendapat mereka.


"Lihat itu, seperti biasa, Lusiana dan Feri selalu saja beradu pendapat," Dave berkata sambil menyeruput teh hangat di gelasnya dengan posisi duduk menyilangkan kakinya, setelah itu meletakkan gelas yang berisi teh hangat itu di atas lututnya yang menumpang ke kakinya yang lain dengan tangannya tetap memegang erat gagang cangkirnya, sedang tangannya yang lain berada di sandaran kursi santainya yang mengahadap ke arah lapangan dengan posisi lurus, berada di belakang tubuh Laurel yang duduk santai dengan kedua kakinya terangkat dan duduk bersila dan sebuah toples berisi kerupuk yang baru diraihnya dari meja berada di pangkuannya.


"Apa menurutmu hubungan mereka akan tetap bertahan dengan kebiasaan mereka yang selalu mencari ribut satu sama lain bahkan setelah mereka memutuskan untuk bertunangan?" Dave mengangkat bahunya mendengar pertanyaan Laurel.


"Aku tidak berani memberikan pendapatku karena mereka yang menjalaninya. Dilihat dari luar mungkin mereka tampak sering ribut, tapi di dalam mereka begitu saling mencintai dan menghargai? Siapa yang tahu? Hanya mereka yang menjalaninya yang tahu," Laurel tersenyum mendengar kata-kata Dave yang selalu tidak mau terlibat urusan percintaan orang lain, karena baginya sebagai orang luar dia merasa tidak berhak untuk melakukan itu, menjadi hakim bagi orang lain.


Untuk beberapa saat Dave dan Laurel hanya mengamati kejadian di lapangan basket sampai akhirnya tampaknya mereka sudah mencapai kesepakatan dan mulai bermain lagi.


"Dave..., bagaimana menurutmu dengan dokter Leo?" Laurel berkata sambil tersenyum, dengan matanya menatap ke arah Leo yang sedang melakukan dribel bola basket yang ada di tangannya, beberapa orang berusaha merebutnya tapi sampai Leo berhasil memasukkan bola ke ring basket tim lawan tidak ada seorangpun yang berhasil merebut bola dari tangannya.


(Dribel adalah suatu gerakan membawa bola dengan tujuan untuk mendekati ring. Teknik dasar permainan bola basket ini merupakan bagian dari teknik dasar bermain basket. Biasanya pemain yang memiliki skill dribel yang baik, selalu menjadi pengatur permainan dalam suatu tim ketika sedang melakukan penyerangan. Seorang pendribel yang handal dalam suatu tim basket diharapkan harus memiliki kemampuan untuk mengatur strategi yang diterapkan oleh pelatihnya. Sehingga strategi tersebut dapat berjalan dengan lancar dan berjalan sesuai dengan rencana. Dan seorang pendribel yang handal dalam situasi pertandingan harus memiliki keahlian untuk melepaskan penjagaan ketat dari lawan. Sehingga dapat menciptakan peluang untuk mencetak angka).


Mendengar pertanyaan Laurel, Dave yang sedang menyeruput kembali teh hangatnya hampir saja tersedak, dan langsung memandang ke arah Laurel dengan tatapan tajam. Mendengar suara Dave yang hampir tersedak membuat Laurel langsung menoleh ke arah Dave. Dengan cepat Laurel menarik tissue yang ada di meja di depan mereka dan membersihkan bibir Dave yang basah akibat teh yang baru diminumnya.


"Kenapa denganmu? Sampai kaget begitu?" Dave mengernyitkan dahinya dengan mata birunya menatap tajam ke arah Laurel mendengar pertanyaan Laurel barusan.


"Aku tidak suka kamu menyebutkan nama Leo dengan begitu hangat dan senyum manis di wajahmu," Laurel langsung melotot mendengar kata-kata protes dari Dave, sedetik kemudian Laurel justru tertawa terbahak karena tatapan mata dan kata-kata Dave yang sampai saat ini selalu saja masih menunjukkan kecemburuannya terhadap Leo.

__ADS_1


"Mr. Shaw? Kenapa kamu ini pencemburu sekali?" Laurel bertanya dengan nada manja dan dengan tatapan mata menggoda ke arah Dave yang langsung berdehem pelan. Bahkan dalam keadaan sedikit marah karena cemburupun, tubuh Dave begitu sulit untuk tidak bereaksi dan tidak berhasrat setiap melihat tatapan menggoda dan sikap manja Laurel.


"Hufttt...," Dave mengeluarkan udara dari bibirnya dengan sedikit keras, dan justru membuat Laurel semakin tertawa keras.


"I love you...," Laurel berkata lirih sambil memegang kedua telinga Dave dan mengarahkan wajah Dave ke arah wajah Laurel sendiri.


"Mo cuisle...," Dave berkata pelan sambil menarik nafas panjang, dengan wajah masih terlihat tidak tenang.


"I love you," Laurel kembali merespon perkataan Dave dengan mengatakan I love you.


"Kenapa tiba-tiba..., kamu menyebutkan nama Leo?" Dave mengucapkan kata-kata protesnya dengan bibir tanpa senyum, bahkan cenderung menunjukkan wajah jengkelnya.


"I love you," Dave menahan nafasnya sebentar mendengar lagi-lagi Laurel hanya menjawabnya dengan kata-kata I love you.


"Mo cuisle, please... be serious," Laurel tersenyum manis sambil memandang ke arah Dave yang wajahnya terlihat sedikit kesal karena melihat Laurel yang tidak mau serius dan terus saja mengatakan I love you tanpa menanggapi sama sekali apa yang Dave katakan.


"I love you," Kali ini Laurel berkata lirih sambil kedua tangannya bergerak mengelus lengan Dave dan bibirnya mencium sekilas bibir Dave.


“Wajah cemburumu benar-benar menggemaskan Mr. Shaw. I love you,” Laurel menggerakkan kedua tangannya ke arah wajah Dave, menarik kedua ujung bibir Dave dengan kedua tangannya agar membentuk sebuah senyuman.


“Kenapa kamu suka sekali membuatku cemburu mo cuisle? Kamu tahu, aku paling tidak bisa melihatmu memberikan senyummu kepada laki-laki lain apalagi yang aku tahu laki-laki itu juga begitu menyukaimu,” Mendengar keluh kesah Dave, Laurel lagsung menatap wajah Dave dalam-dalam.


“Aku hanya milikmu Mr.Shaw, kamu tahu itu,” Dave langsung menarik nafas panjang mendengar itu.


Dave tahu dengan sejelas-jelasnya arti perkataan Laurel barusan. Apapun yang ada pada Laurel, apapun yang terbaik bahkan sudah Laurel berikan padanya. Tidak ada satupun yang tidak Laurel berikan padanya jika dia memintanya, tapi entah kenapa rasa khawatir Laurel akan berpaling dan meninggalkannya masih begitu sering mengganggu pikiran Dave tanpa alasan.


“Aku tahu ketakutanmu Dave. Percayalah aku tidak akan pernah lagi meninggalkanmu. Jangankan meninggalkanmu, berpaling darimu saja aku tidak akan sanggup lagi. Seperti yang kamu bilang bahwa aku merupakan denyut nadimu, bagiku kamu juga adalah separuh jiwaku. Tanpa kamu aku tidak akan lagi sempurna,” Laurel berkata dengan tangannya menggenggam erat kedua tangan Dave, membuat Dave mulai menyungingkan senyum tanpa terpaksa lagi.


“Apa yang ingin kamu bicarakan tentang Leo?” Laurel menarik nafas lega melihat Dave mau memulai kembali pembicaraan tentang Leo tanpa ada nada tidak enak didengar ataupun wajah kesal.


“Sebenarnya tidak ada hubungannya denganku, tapi ini tentang dokter Leo dan Evelyn. Sebagai Kakak Evelyn, tidakkah kamu ingin melakukan sesuatu untuknya? Membantunya agar dokter Leo tahu tentang perasaan Evelyn kepadanya?” Dave mengernyitkan dahinya mendengar arah pembicaraan Laurel.

__ADS_1


“Maksudmu? Aku harus mengatakan kepada Leo tentang perasaan Evelyn kepada Leo? Mengatakan bahwa adikku itu begitu mencintainya dan meminta kepada Leo untuk segera membalas perasaan cinta Evelyn?” Laurel langsung terbeliak mendengar perkataan Dave.


“Ist…, lakukan saja kalau kamu ingin Evelyn tidak lagi menganggapmu Kakak,” Mendengar sahutan Laurel sambil memajukan bibirnya dengan wajah terlihat jengkel, Dave justru terlihat bingung.


“Bagaimana kamu bisa berpikir untuk melakukan itu? Apa menurutmu Evelyn tidak akan merasa dipermalukan dengan tindakanmu itu? Apalagi kalau ternyata dokter Leo tidak memiliki perasaan apapun terhadap Evelyn. Kamu tahu di jaman semodern ini kami para perempuan tetap ingin mendapatkan pernyataan cinta lebih dahulu dari seorang pria, bukan kami duluan yang menyatakan cinta. Seperti kata pepatah, Lelaki berhak untuk memilih wanitanya, sedang perempuan berhak untuk menerima atau menolak pernyataan cinta dari pria,” Dave menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar penjelasan Laurel barusan.


“Kamu ingin aku membantu Evelyn, tapi ideku kamu anggap salah. Lalu, bagaimana Leo tahu tentang perasaan Evelyn kalau aku tidak memberitahunya secara langsung. Dan menurutmu tanpa angin tanpa hujan, apa mungkin Leo akan secara tiba-tiba menanyakan kepada Evelyn tentang perasaannya?” Laurel memutar bola matanya ke atas sambil menghembuskan nafasnya dengan sedikit keras mendengar bagaimana Dave sama sekali tidak mengerti tentang apa yang dia rencanakan.


“Jelas tidaklah Dave. Tidak mungkin kita mengharapkan kejadian tidak masuk akal seperti itu diantara dua orang yang sepertinya saling diam dan salah satunya mungkin tidak menyadari perasaannya sendiri,”


“Maksudmu Leo? Orang yang tidak menyadari perasaannya sendiri?”


“Yup,” Laurel menjawab pertanyaan Dave dengan cepat.


“Setelah kita melihat bagaimana Leo begitu menyukaimu? Kamu masih berpikir bahwa sekarang Leo menyukai Evelyn?” Dave berkata sambil tertawa geli.


“Leo menyayangi Evelyn seperti adiknya sendiri. Tapi Leo menyukai Evelyn sebagai seorang laki-laki menyukai seorang wanita? Aku tidak tahu apakah itu bisa terjadi antara Leo dan Evelyn,” Dave berkata sambil mengingat bagaimana hubungan mereka selama ini yang memang akrab, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda cinta di antara mereka, apalagi Leo.


Mengingat perbedaan bagaimana cara Leo memandang Evelyn dan Laurel, dengan jelas Dave bisa membedakan itu. Jadi, mana mungkin Leo memiliki rasa cinta kepada Evelyn walau sedikit saja? Memikirkan itu Dave hanya bisa menarik nafas panjang.


“Karena itu kita harus membantu mereka berdua untuk menyadari perasaan mereka masing-masing. Apa kamu tidak melihat kejadian di meja makan tadi pagi? Bagaimana Leo memandang Evelyn dengan tatapan aneh dan sedikit kaget melihat bagaimana Evelyn yang terlihat begitu mengagumi Ad?” Dave langsung terdiam mendengar kata-kata Laurel yang sepertinya ada benarnya jika Dave mengingat kembali pembicaraan mereka dengan Evelyn tentang pesona seorang Ornado Xanderson yang sepertinya benar-benar membuat Evelyn begitu ingin bertemu dengan sosok laki-laki hebat itu.


“Tapi bagaimana caranya? Jangan bilang aku harus meminta Ornado pura-pura menanggapi Evelyn, berpura-pura menyukai Evelyn untuk menarik perhatian Leo. Bisa-bisa Ornado menendangku keluar dari rumahnya,” Laurel langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Dave.


Meminta Ornado untuk menggoda wanita lain selain Cladia? Walaupun cuma pura-pura saja itu akan menjadi suatu hal yang sangat mustahil. Dan seperti perkataan Dave barusan, Ornado tidak akan segan-segan menghajar siapapun yang berani meminta hal seperti itu padanya.


“Aku tidak memintamu melakukan itu. Maksudku juga bukan hanya Ornado, kita bisa memanfaatkan laki-laki lain agar Leo cemburu. Itu intinya. Agar Leo menyadari arti pentingnya Evelyn baginya yang mungkin selama ini tidak disadarinya. Jangan khawatir, pasti ada jalan untuk itu,” Dave mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Laurel.


“Dari cerita Evelyn kepadaku, seringkali Leo selalu memenuhi apapun yang dimintanya. Bahkan hampir di setiap waktu luangnya Leo akan selalu mampir ke restauran Evelyn dan makan bersama Evelyn. Walaupun Leo berkata hanya menganggap Evelyn sebagai adiknya, tapi tetap saja tidak mungkin dia sebegitu perdulinya dengan Evelyn dan kamu lihat sendiri bagaimana khawatirnya Leo ketika mengetahui Evelyn mengemudi sendiri ke villa saat itu. Kalau mau sebenarnya kamu juga bisa memanggil sopir dari rumah besar untuk menyusul ke villa, tapi Leo bersikeras dia yang akan menyetir mobil Evelyn,” Dave tersenyum mendengar perkataan Laurel.


Selama ini Dave tidak begitu memperhatikan, tapi jika diingat-ingatnya kembali, selama ini memang Leo selalu berusaha menyenangkan Evelyn dan saat terjadi sesuatu terhadap Evelyn, Leo adalah orang yang kadang terlihat lebih khawatir dibanding dengan dia atau Bryan. Belum lagi setelah Dave kembali bersama dengan Laurel, justru Leo lah yang seringkali menghabiskan waktunya untuk menemani Evelyn ataupun makan bersama

__ADS_1


__ADS_2