
Dave melirik jam di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih dua belas menit, sebentar kemudian diliriknya makanan di meja yang terlihat belum tersentuh sama sekali.
“Apa Nona Laurel sudah makan malam?” Rita yang sedang berdiri di dekat meja makan, menunggu Dave jika tiba-tiba ingin makan malam setelah pulang dari rumah sakit, menggelengkan kepalanya.
“Sejak Non Freya dan Nyonya Denia pulang berkunjung tadi siang, Non Laurel tidak keluar dari kamar sama sekali, saya sudah berusaha mengingatkan untuk makan berkali-kali tapi Nona hanya menjawab nanti saja. Padahal selama Nona tidak bekerja, biasanya setiap sore akan menyempatkan waktu berjalan-jalan di kebun belakang atau taman depan,” Dave mengernyitkan dahinya, berusaha menebak apa yang sudah terjadi pada Laurel sehingga melewatkan makan malamnya, padahal dia sudah memberinya pesan semenjak tadi sore bahwa malam ini dia tidak bisa makan malam di rumah karena ada yang harus dikerjakannya di rumah sakit, dan dia mengingatkan agar Laurel tidak melewatkan makan malamnya.
Dengan sedikit bergegas, Dave berjalan ke arah kamar yang ditempatinya selama dia pindah di rumah itu, kamar yang bersebelahan dengan kamar Laurel. Begitu dia masuk ke kamarnya, diletakkannya tas kerjanya di atas meja, dan dengan sedikit tergesa-gesa berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu berjalan ke arah kamar utama yang ditempati oleh Laurel.
Mendengar suara pintu kamarnya dibuka tanpa mengetuk terlebih dahulu, Laurel sudah bisa mengira bahwa Dave adalah satu-satunya orang di rumah ini yang berani membuka pintu kamarnya dengan cara seperti itu. Bau harum sabun yang berasal dari tubuh Dave langsung menerpa hidung Laurel begitu Dave berjalan mendekat ke arah tempat tidur tempatnya berbaring.
Laurel sengaja langsung memejamkan matanya begitu menyadari Dave masuk ke kamarnya dan berjalan mendekat ke arah tempat tidurnya. Semua berita tentang Dave, baik dari Lusiana maupun mamanya membuat Laurel gelisah sepanjang hari ini dan merasa belum siap untuk menghadapi Dave hari ini. Selain karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada Dave akibat rasa bersalah karena selama ini sudah berpikir buruk tentang Dave dan keluarganya, Laurel benar-benar penasaran apakah Dave mau menikah dengannya karena benar-benar tulus atau karena sekedar kasihan dan ingin memperbaiki apa yang sudah dirusak oleh pamannya.
Begitu sampai di dekat tempat tidur Laurel, Dave langsung duduk di pinggiran tempat tidur Laurel yang terbaring dengan posisi miring dan membelakanginya.
“Laurel, apa kamu sudah tidur?” Dave bertanya sambil mengamati wajah Laurel yang sengaja memejamkan matanya, berharap untuk malam ini Dave segera kembali ke kamarnya sendiri untuk membiarkannya sendiri sepanjang malam ini, berharap malam ini dia bisa menenangkan dirinya sebelum besok harus menghadapi kenyataan kembali tentang masalahnya dengan Dave.
“Kenapa dengan wajahmu? Apa kamu menangis lagi hari ini?” Dave menyentuh lembut wajah Laurel dan mengelusnya. Melihat Laurel tetap terdiam, Dave mendekatkan wajahnya ke telinga Laurel, karena dari nafas Laurel yang masih terlihat naik turun dengan tidak teratur Dave sudah bisa mengira kalau Laurel sedang berpura-pura tidur.
“Ada masalah apa denganmu? Kenapa kamu melewatkan makan malammu? Kalau kamu tidak mau bangun sendiri, apa perlu aku membangunkanmu dengan paksa? Kamu ingin aku menciummu mulai dari bagian mana?” Laurel sedikit tersentak mendengar ancaman dari Dave, dengan perlahan dia terpaksa membuka matanya, membuat Dave langsung tersenyum melihatnya.
__ADS_1
“Gadis pintar,” Dave langsung menggerakkan tubuh Laurel dari posisi berbaring miring menjadi terlentang, membuat Laurel buru-buru menggerakkan tubuhnya untuk mengganti posisinya agar duduk di atas tempat tidur, bukan lagi berbaring seperti sebelumnya.
“Kenapa? Ada yang mengganggumu pikiranmu hari ini?” Laurel langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Dave, membuat tangan kiri Dave bergerak ke arah dagu Laurel dan sedikit mengangkatnya, memaksa wajah Laurel berhadap-hadapan dengan wajahnya dan menatap mata Laurel dalam-dalam, seolah mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya melalui mata Laurel yang terlihat begitu gelisah.
“Aku dengar sejak Mama Denia dan Freya pulang, kamu tidak keluar dari kamar sama sekali. Apa ada berita buruk? Ceritakan padaku, agar aku bisa membantumu,” Laurel memandang ke arah wajah Dave dengan pandangan sayu.
“Dave…,” Dave tersenyum begitu mendengar Laurel memanggil namanya dengan suara pelan.
“Hmmm, kenapa?”
“Dave…, aku…, aku minta maaf,” Sambil mengucapkan permintaan maafnya, Laurel buru-buru mengalihkan pandangan matanya dari wajah Dave yang terlihat bingung dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Kenapa kamu minta maaf padaku? Memang kamu salah apa padaku?” Dave melepaskan tangannya dari dagu Laurel yang masih berusaha memalingkan wajahnya dari Dave.
“Bukankan dari awal aku sudah katakan, aku begitu mencintaimu, lebih dari apa yang bisa kamu bayangkan, dan aku rela melakukan apapun untukmu,” Laurel memberanikan diri memandang ke arah wajah Dave, mengamatinya dengan seksama, membuatnya melihat mata biru Dave yang indah menatapnya dengan pandangan begitu mesra dan penuh cinta ke arahnya.
“Dave, apa kamu mencintaiku karena kasihan dan kamu menikahiku hanya karena kamu ingin membantu keluargaku karena pamanmu ikut serta dalam kehancuran keluargaku?” Dave menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Laurel, tidak habis pikir dengan gadis di depannya, kenapa gadis secantik dan secerdas Laurel memiliki rasa percaya diri yang begitu rendah.
“Aku tidak pernah mencintaimu karena kasihan, kalau hanya karena kasihan, banyak gadis lain yang kehidupannya lebih menyedihkan dari kamu, tapi kenapa aku tidak pernah bisa jatuh cinta pada mereka? Untuk apa yang dilakukan pamanku, aku memang ingin mengembalikan yang sudah diambil pamanku dari keluargamu, tapi bukan karena itu aku ingin menikah denganmu. Bagiku yang merupakan pewaris utama keluarga Shaw, mengembalikan semua milik keluargamu dan membantu keluargamu, sama mudahnya dengan menjentikkan jariku atau membalik telapak tanganku. Kalau alasanku hanya karena itu, saat kamu menolak mentah-mentah untuk menikah denganku, aku bisa saja menikahi Freya, dia juga memiliki nama Tanputra di belakangnya, tapi aku hanya mencintai dan menginginkan Laurel Tanputra sebagai istriku. Aku menginginkanmu sebagai istriku, karena kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, lebih dari semua wanita yang pernah aku kenal atau aku temui,” Mendengar apa yang baru saja dikatakan Dave, usaha Laurel untuk benar-benar menahan airmatanya sudah tidak dapat dia pertahankan lagi, dengan sukses airmata langsung mengalir deras di pipi Laurel.
__ADS_1
“Maafkan aku Dave,” Kedua lengan Laurel bergerak melingkar ke arah leher Dave, memeluknya erat dengan airmata yang membasahi bahu Dave yang langsung menarik nafas dalam-dalam, lalu dengan gerakan pelan menepuk-nepuk punggung Laurel, berusaha menenangkan hati gadis itu.
“Aku tidak pernah menganggap kamu bersalah padaku. Jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini,” Dave berbisik pelan di telinga Laurel, setelah itu tangan kanannya bergerak menjauhkan tubuh Laurel dari bahunya, sehingga wajah mereka saling berhadap-hadapan.
"Sampai kapanpun, kamu adalah satu-satunya wanitaku, cintaku, satu-satunya orang yang aku mau menghabiskan sisa hidupku untuk terus mencintainya," Dengan gerakan lembut tapi pasti, Dave menundukkan kepalanya ke arah wajah Laurel, mencium bibir Laurel dengan mesra dan lembut pada awalnya, namun semakin lama semakin menuntut dan berhasrat. Tangan kiri Dave bergerak ke arah tengkuk Laurel, menarik kepala Laurel semakin mendekat ke arahnya, membuat ciuman mereka semakin dalam dan panas, membuat dada mereka berdetak dengan lebih cepat dan tidak lagi beraturan.
Laurel memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan bahagia dan syukur karena kebenaran tentang Dave membuatnya semakin sadar bahwa dia tidak pernah salah membiarkan hatinya jatuh cinta pada sosok laki-laki itu, dan semakin lama dia semakin menyadari bahwa dia begitu mencintai Dave. Keberadaan Dave sudah mengajarkan padanya tentang arti sebuah cinta sejati, bagaimana rasa sakit dan pengorbanan untuk orang yang dicintai tidak akan sebanding dengan kebahagiaan saat melihat orang yang kita cintai baik-baik saja dan bahagia.
Untuk beberapa lama Dave dan Laurel saling memuaskan diri dalam ciuman mereka yang semakin lama semakin dalam, membuat beberapa kali mereka harus berhenti untuk mengambil nafas dan melanjutkan ciuman mereka. Laurel membiarkan Dave menghisap, me..lu.. mat, menguasai dan mengeksplore bibirnya, seolah-olah melepaskan rasa rindu yang sudah di tahannya untuk waktu yang begitu lama, sehingga hasrat yang selama ini dipendamnya membuat dadanya terasa panas, dan membangkitkan seluruh bagian dari sel-sel di tubuhnya untuk meminta lebih atas kehadiran sosok Laurel di dekatnya. Saat menyadari dirinya sudah tidak lagi mampu mengendalikan dirinya, Dave sedikit menjauhkan wajahnya dari Laurel, mendekatkan bibirnya ke arah telinga Laurel dan berbisik lembut dan mesra.
“Mo cuisle…, bolehkah aku memintanya malam ini?” Laurel langsung tersentak kaget mendengar pertanyaan Dave yang Laurel tahu pasti apa maksudnya. Melihat Laurel hanya terdiam, Dave tersenyum dengan lembut.
“Mo cuisle, aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya, dan aku menjadi milikmu seutuhnya, dan tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita,” Walaupun Laurel tidak mengatakan apapun karena malu dan salah tingkah, dari tatapan mata Laurel, Dave sudah mendapatkan jawaban atas apa yang dia minta, dia tahu gadis di depannya sudah memberinya ijin untuk menjadikannya sebagai miliknya sepenuhnya malam ini.
Dengan lembut Dave mulai mencium kening Laurel, lalu turun ke alis, mata, hidung, pipi dan kembali lagi ke bibir Laurel. Setelah puas menikmati kelembutan bibir istrinya, dan sebelum Dave melanjutkan ciumannya, tangan Dave bergerak untuk membaringkan tubuh Laurel di atas tempat tidur, selanjutnya dia sendiri menyusul naik ke atas tempat tidur.
“I love you mo cuisle,” Setelah mengatakan itu dengan lembut Dave melanjutkan ciumannya ke arah leher jenjang Laurel, dan untuk beberapa saat Dave meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya atas Laurel di leher jenjangnya. Kedua lengan Laurel bergerak ke arah punggung Dave dan mengelusnya dengan lembut, membuat Dave semakin berani menjelajahi seluruh tubuh Laurel baik dengan bibir maupun tangannya.
“I love you Dave, I really really love you,” Bibir Dave yang sedang berada di dada Laurel langsung menyungingkan senyum mendengar pernyataan cinta dari Laurel. Setelah itu tangan mereka bergerak untuk saling melepaskan kain yang memisahkan tubuh mereka berdua.
__ADS_1
“Aku akan berusaha melakukannya dengan selembut mungkin,” Dave kembali berbisik lembut di telinga Laurel saat tubuh mereka sudah siap untuk menyatu, membuat Laurel hanya bisa mengangguk pelan dan pasrah, karena dia sudah bertekad untuk menyerahkan dirinya malam ini kepada suami yang sangat dicintainya secara utuh. Ke depannya Laurel sudah bertekad, tidak akan ada lagi kesalahpahaman di antara mereka. Ke depannya dia akan tetap mempercayai Dave, apapun yang terjadi. Dia akan selalu percaya bahwa Dave begitu mencintainya, sehingga apapun yang Dave lakukan semata-mata karena ingin melindungi dan membuatnya bahagia.
Dan mulai malam ini, apapun yang terjadi, dia akan menjadi milik Dave seutuhnya, dan diapun akan memiliki Dave seutuhnya. Dengan senyum di wajahnya, Laurel membiarkan Dave mulai menyatukan dirinya ke dalam tubuhnya. Rasa sakit yang dirasakannya membuatnya sedikit meringis sambil mencengkeram punggung dan rambut Dave, namun tidak begitu lama rasa sakit itu digantikan dengan rasa bahagia dan nikmat yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata karena dia tahu malam ini dia sudah menjadi milik Dave seutuhnya, menyerahkan hal paling berharga yang dimilikinya, yang selama ini begitu dia jaga untuk suaminya di masa depan, dan Laurel tahu, dia tidak akan pernah menyesalinya, karena sudah memberikannya kepada orang yang tepat. Hal berharga miliknya yang akhirnya bisa dia berikan kepada laki-laki yang begitu mencintai dan dicintainya, laki-laki yang merupakan suaminya, Dave Alexander Shaw.