CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
PENDEKATAN


__ADS_3

Sepanjang apel pagi ini Laurel lebih banyak melamun, semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena teringat tentang kejadian sore sebelumnya bersama Dave. Dia benar-benar tidak mengerti dengan maksud kata-kata Dave sore itu. Laurel berusaha mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah dia buat sehingga Dave mengeluarkan kata-kata seperti itu, tapi tetap saja dia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepada Dave, kecuali kalau perasaan berdebar-debarnya saat bersama Dave atau rasa sukanya kepada laki-laki itu dianggap sebagai sesuatu yang salah, padahal dia memastikan pada dirinya sendiri dia secara pribadi tidak pernah dengan sengaja atau terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Dave karena keberadaan Hana.


"Laurel...," Mendengar bisikan pelan dari Lusiana Laurel tersentak kaget, sekilas diliriknya Dave yang awalnya sedang berdiri di depan mengamati Leo yang memberikan pengarahan tentang beberapa kasus pasien baru yang terjadi kemarin. Saat Laurel memandang ke arah Dave yang bagi Laurel pagi ini terlihat sedikit pucat, dan secara kebetulan pandangan Dave juga berganti dari memandang ke arah Leo menjadi tertuju ke arahnya. Begitu mata mereka bertemu, Dave tersenyum lembut, membuat Laurel melihat ke kanan kirinya, karena merasa tidak percaya Dave sedang tersenyum padanya saat ini, tapi dilihatnya semua orang sedang fokus melihat data yang disajikan di layar di depan ruangan. Melihat itu Laurel buru-buru mengalihkan pandangannya, tidak berani mengarahkan pandangan matanya ke arah Dave lagi, tidak ingin berharap sesuatu yang lebih, apalagi begitu mendapatkan tatapan lembut dari Dave dadanya terasa berdebar-debar dengan keras.


Aku tidak perduli dengan cara apapun aku akan membawamu ke sisiku, saat ini aku tidak mau lagi memakai topeng di hadapanmu, aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil kesempatan untuk merebutmu dariku, Dave berbisik lirih dalam hati sambil matanya menatap ke arah Laurel yang terlihat mencoba menghindari tatapannya, melihat itu Dave menghela nafasnya pelan.


Maafkan aku, sepertinya selama ini aku membuatmu semakin tidak nyaman bersamaku, kamu tidak tahu betapa aku tersiksa melihat kehadiranmu di dekatku tanpa aku dapat menarikmu untuk mendekat kepadaku, Dave berkata dalam hati sambil mengalihkan kembali matanya ke arah lain agar Laurel tidak merasa canggung.


Aku sudah pernah melakukan kesalahan dengan memaksamu terikat di sisiku tanpa kamu mengenal siapa aku. Tapi maafkan aku, bahkan setelah lebih dari 7 tahun, sampai dengan detik ini aku tetap tidak rela melepaskan ikatan ini, aku tidak sanggup untuk melepasmu. Kali ini aku akan mengejarmu, membuatmu jatuh cinta padaku, dan aku akan melakukan segala cara untuk membawamu ke sisiku, Dave kembali berkata dalam hati sambil matanya melihat ke layar handphonenya, matanya mengamati sebuah nomer kontak dengan foto profile pemilik nomer itu merupakan foto yang sama dengan foto yang terpasang di kamar Laurel, foto Laurel dalam balutan gaun pernikahannya, dan nomer itu diberi tulisan mo cuisle oleh Dave sejak pertama kali dia menyimpan nomer itu lebih dari 7 tahun yang lalu. (mo cuisle merupakan bahasa Irlandia yang artinya denyut nadiku, atau bisa diartikan sayang, merupakan salah satu panggilan sayang dalam bahasa Irlandia).


Semalam Dave melakukan panggilan telepon lumayan lama dengan Freya, menanyakan kabar Freya dan mama Denia, dan tanpa sadar mereka berdua membicarakan tentang Laurel, dan dari Freya juga Dave mendapatkan informasi tentang pandangan Laurel terhadapnya selama ini. Dave tahu dia bukan seorang laki-laki seperti Arnold yang bisa dengan jelas menunjukkan rasa cintanya bahkan di depan orang lain tanpa berniat menutup-nutupinya, tapi dia juga tidak sadar bahwa tindakannya selama ini sudah membuat Laurel justru salah paham dengan tindakannya, karena baginya selama ini dia mencoba bersikap dingin terhadap Laurel karena dia tidak ingin dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat berada di dekat Laurel.


Kalau saja boleh jujur, setiap melihat sosok Laurel hal pertama yang ingin dilakukan Dave adalah menarik tubuh Laurel ke dalam pelukannya, menggandeng tangannya dengan erat agar tidak bisa lagi menjauh darinya. Selama ini dia berusaha keras menahan dirinya dengan cara mencoba bersikap dingin kepada Laurel, tetapi diam-diam tetap mengamati setiap apapun yang dilakukan gadis itu, berusaha melindungi gadis itu tanpa sepengetahuannya, termasuk saat Dave memutuskan pindah dari Universitas Oxford ke Universitas Harvard 7 tahun lalu.


Semua dia lakukan agar selama 5 tahun dia mengambil spesialisasi bedah syaraf sekaligus dia bisa tetap dekat dengan Laurel dan membantu Laurel dalam diam, termasuk semua beasiswa dan beberapa kebutuhan Laurel selama dia kuliah yang tentu saja sampai sekarang Laurel tidak pernah tahu tentang semua itu, yang Laurel tahu bahwa seluruh beasiswa yang dia dapat berasal dari pihak universitas, dan semua biaya hidupnya selama di sana selain dia bekerja part time dia mendapatkannya dari Tante Lina, sedangkan sebenarnya jauh sebelum Tante Lina memberitahunya tentang penurunan kondisi ekonomi karena usahanya yang mengalami kesulitan, sebenarnya Tante Lina sudah tidak lagi mampu mensupport biaya Laurel dan Dave yang menggantikannya dengan tetap memakai nama Tante Lina.


# # # # # # #


Siang itu Laurel, Nia, Lusiana, dan Indah menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin sambil menikmati makan siang disana. Laurel duduk bersebelahan dengan Indah, sedang Lusiana dan Nia duduk bersebelahan, di hadapan Laurel. Dengan semangat Indah menceritakan tentang kedatangan Nenek Nuri dan cucunya tadi pagi yang sempat membuat heboh poli penyakit dalam. Kebetulan di kantin tinggal mereka berempat.


Setelah menikmati makan siang, pegawai yang lain lebih memilih untuk beristirahat di kantornya masing-masing atau di taman rumah sakit yang memiliki banyak gazebo (Gazebo adalah salah satu fasilitas dengan ruang-ruang terbuka sebagai alternatif tempat berkumpul dan melakukan kegiatan santai bersama anggota keluarga lainnya, banyak juga yang menyebut saung karena digunakan untuk tempat santai. Kuncinya adalah suasana alami, keakraban, kenyamanan dan keindahan, umumnya terbuat dari bambu atau kayu dengan lantai dan atap yang lebih permanen) dan kursi-kursi beton untuk bersantai, jadi mereka bisa bercanda dan tertawa sepuasnya di kantin yang siang itu terlihat lengang (sepi), hanya tinggal mereka berempat yang masih bertahan di kantin siang itu, mengobrol sambil menikmati beberapa cemilan dari kantin.

__ADS_1


"O ya? Sepertinya heboh sekali," Nia tertawa mendengar cerita Indah tentang bagaimana dia harus mengatasi nenek Nuri dan cucunya yang ngotot untuk bertemu dengan Dave dan suami Laurel seperti yang dijanjikan Dave beberapa waktu sebelumnya saat terakhir mereka bertemu dengan Laurel dan Dave.


"Aku sudah berkeringat dingin, tidak bisa mengatasi mereka lagi," Laurel terlihat memerah wajahnya mendengar cerita tentang Nenek Nuri dan cucunya, merasa sedikit malu karena hari ini seluruh rumah sakit dihebohkan oleh cerita tentang tindakan Nenek Nuri dan cucunya karena dirinya.


"Untung saja bos segera datang dan menenangkan Nenek Nuri, bahkan bos bilang suami dokter Laurel memberinya wewenang untuk menemui mereka, karena awalnya memang bos yang mengatakan dokter Laurel sudah menikah, jadi mereka ngotot untuk bertemu dengan suami dokter Laurel," Lusiana tetawa terkikik mendengar cerita dari Indah.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Mendengar pertanyaan Nia, Indah mengangkat bahunya.


"Aku tidak tahu, karena setelah itu bos mengajak mereka berbicara secara pribadi di ruang tamu rumah sakit, setelah itu aku tidak bertemu lagi dengan Nenek Nuri dan cucunya, sepertinya bos sudah bisa mengatasi mereka dengan baik, entah bagimana caranya, tapi yang pasti Bos memang benar-benar hebat, sepertinya tidak ada masalah apapun yang tidak bisa diselesaikannya," Nia tersenyum mendengar perkataan Indah yang tampak begitu bersemangat saat menyebutkan tentang Dave.


"Sepertinya kamu begitu terkagum-kagum dengan bos," Nia memandang ke arah Indah sambil tersenyum menggoda, membuat Indah tertawa.


"Memang siapa di rumah sakit ini yang tidak mengagumi bos kita? Dia laki-laki hebat yang tidak ada bandingannya, aku tidak percaya kalau para dokter termasuk kalian juga tidak mengagumi bos kita," Indah berkata sambil menatap ke arah Nia dengan tawa masih di bibirnya.


"Daripada aku, sepertinya gadis yang benar-benar sepadan dengan bos hanya dokter Laurel, jujur saja walaupun dokter Hana selalu mengekor kemanapun bos pergi, bagiku pasangan paling cocok buat bos tetap dokter Laurel, yang laki-laki tampan dan berwibawa, penuh dengan kharisma, walaupun bos kita orang yang pendiam tapi dia orang yang baik dan ramah, sedang dokter Laurel perempuan yang cantik dan wajahnya selalu berseri-seri, dokter Laurel selalu ceria, senang sekali melihat kalian berdua jika disandingkan. Dok, walaupun sesama perempuan, aku ini benar-benar mengidolakanmu," Wajah Laurel sedikit memerah mendengar perkataan Indah yang nampaknya tulus, bukan sekedar perkataan untuk mencari muka.


"Tuh, dengar Laurel, bahkan Indah pun mendukungmu untuk mengejar bos," Laurel tersenyum mendengar perkataan Lusiana.


"Kalian salah besar, aku mana pantas disandingkan dengan bos, dia terlalu hebat buatku, lagipula sepertinya sudah ada orang lain yang disukai oleh bos,"


"O iya? Darimana dokter Laurel tahu ada seseorang yang aku sukai?" Laurel langsung tersentak mendengar suara seseorang yang berkata di dekat telinganya barusan, suara yang cukup dikenalnya. Melihat wajah Laurel yang begitu kaget dan memerah, Lusiana dan Nia yang duduk di depannya langsung tersenyum geli sambil melihat Dave yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Laurel, dan dengan sedikit menundukkan badannya mengajukan pertanyaan kepada Laurel tentang arti pernyataan Laurel tentangnya barusan.

__ADS_1


"Sepertinya dokter Laurel lebih tahu dari aku siapa gadis yang aku sukai, kalau boleh tahu siapa nama gadis itu?" Dengan santai Dave menarik sebuah kursi dari meja yang ada di sebelah meja mereka, mendekatkan ke arah meja dimana keempat gadis itu sedang berkumpul dan langsung mengambil posisi duduk bersama mereka, membuat wajah Laurel semakin memerah karena malu.


"Ma..., maaf bos..., bukan maksud..., saya...," Laurel terlihat gugup, kebingungan mencari kata-kata untuk membela diri.


"Maaf bos, dokter Laurel hanya bercanda, jangan diambil hati," Dengan spontan Lusiana langsung membela Laurel, sedang Dave hanya tersenyum melihat itu.


"Berarti menurut kalian memang tidak ada gadis yang aku suka?" Wajah keempat gadis itu langsung tersentak kaget sambil saling berpandangan mendengar pertanyaan Dave.


"Anu bos..., bukan begitu...," Kali ini Lusiana ikut terlihat tergagap mencari cara untuk memperbaiki kesalahan kata-katanya. Dave tersenyum melihat tindakan kikuk keempat gadis di depannya.


"Sudah lah, tidak apa-apa, jangan diambil hati. Lagipula dokter Laurel tidak salah kok, memang ada seorang gadis yang aku sukai," Mendengar perkataan Dave mereka berempat kembali saling berpandangan, dan tanpa sadar mereka berempat langsung melihat ke arah wajah Dave yang hanya tersenyum geli melihat tindakan mereka yang wajahnya tampak dipenuhi tanda tanya dan ketidakpercayaan terhadap kata-kata Dave barusan.


"Kenapa dengan kalian? Apa aku tidak boleh menyukai seseorang?"


"Boleh bos!" Dengan kompak mereka berempat serempak menjawab pertanyaan Dave, membuat Dave tertawa tergelak.


"Uhuk-uhuk...," Tiba-tiba Dave terbatuk, membuat Laurel dengan spontan menyodorkan minuman di depannya tanpa sadar bahwa minuman di depannya merupakan bekasnya karena sudah dia minum sebagian.


"Terimakasih," Tanpa ragu-ragu Dave langsung mengambil gelas yang disodorkan Laurel dan meminum air yang di dalamnya dengan santai, membuat yang lain semakin kebingungan karena mereka tahu minuman yang sedang diminum Dave merupakan minuman bekas Laurel.


"Eh, bos, maaf, saya tidak sengaja menyodorkan gelas itu," Dengan spontan Laurel berusaha meraih kembali gelas di tangan Dave, tapi dengan cuek Dave kembali meminumnya sampai habis.

__ADS_1


"Maaf, sudah habis, mau aku mintakan yang baru ke pelayan?" Mendengar pertanyaan Dave, Laurel buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah masih memerah, Nia dan Lusiana berusaha dengan keras menahan senyum mereka melihat kejadian itu, sedang Indah memilih untuk pura-pura tidak melihat kejadian itu.


__ADS_2