CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
JAWABANKU


__ADS_3

Selama beberapa hari ini Laurel sudah benar-benar mempersiapkan diri dengan apa yang akan dikatakannya untuk menjawab Dave atas pernyataan cintanya sebelum laki-laki itu berangkat ke Irlandia beberapa waktu lalu, tapi terus terang dengan kedatangan Dave sehari lebih awal membuat keberaniannya sedikit surut.


“Apa aku bisa mendengar jawabanmu malam ini?” Dave menggerakkan tubuhnya ke samping, menghadap ke tubuh Laurel yang awalnya melihat ke arah kerlap kerlip lampu yang tergantung di atas mereka berdiri. Dengan perlahan Laurel ikut menggerakkan tubuhnya ke samping sehingga tubuhnya dan Dave saling berhadap-hadapan.


“Aku…,” Laurel kembali terdiam setelah mengucapkan sebuah kata, rasanya tenggorakannya saat ini terasa kering, sulit sekali mengucapkan kata-kata yang sudah dia siapkan untuk Dave.


“Apa perlu aku membantumu mengeja?” Dave tersenyum melihat wajah gugup Laurel dan pipinya yang tampak memerah. Entah kenapa melihat kegugupan Laurel saat ini justru membuat Dave begitu percaya diri Laurel akan menjawab ya terhadap pernyataan cintanya beberapa hari yang lalu.


“Aku mencintaimu Laurel, bisakah kamu memberikan hatimu juga padaku?” Dave berkata sambil berjalan mendekat ke arah Laurel, mengulang pernyataan cintanya kembali, membuat Laurel memberanikan diri untuk mendongak, memandang wajah Dave yang sedang memandangnya dalam-dalam dan dengan pandangan yang terlihat mesra, membuat Laurel semakin gugup.


“Aku…, aku juga mencintaimu Mr Shaw,” Dave tersenyum, sedikit geli karena Laurel menyebutkan namanya dengan Mr Shaw.


Ah, andai saja kamu tahu bahwa sejak 7 tahun lalu kamu juga sudah menyandang nama Shaw itu begitu kita menikah, Mrs. Laurel Shaw, Dave berbisik dalam hati dengan wajah begitu bahagia mendengar Laurel menyambut perasaan cintanya, benar-benar menjawab ya dengan bibirnya, menyambut perasaan cinta yang sudah ditahannya lebih dari 7 tahun yang lalu.

__ADS_1


“Tetaplah disitu,” Dave langsung berjalan ke arah belakang tubuh Laurel, tangannya mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya yang sedang dikenakan oleh Laurel, membuat Laurel sedikit tersentak. Kemudian dengan gerakan pelan dan lembut Dave mengalungkan sebuah kalung di leher Laurel, membuat Laurel sedikit terbeliak dan tangan kanannya spontan bergerak menyentuh kalung itu dan menariknya ke atas, mengamati liontin yang tergantung di kalung itu. Liontin berbentuk bunga dengan di kelilingi oleh potongan-potongan kecil batu permata dan di bagian tengah berupa batu berlian yang tampak berkilau indah.


Tangan Dave bergerak menyentuh jari-jari Laurel yang sedang meraba liontin di kalung itu. Dengan gerakan lembut Dave menekan liontin itu sehingga terbuka, dan di bagian dalamnya terlihat dengan jelas inisial huruf D dan L yang saling menyatu terbuat dari berlian yang disusun rapi, terlihat sangat indah, membuat Laurel sedikit menahan nafasnya melihat itu.


“Terimakasih sudah membalas cintaku, kamu tidak tahu betapa aku sangat menantikan itu,” Dengan gerakan lembut Dave memeluk pinggang Laurel dari arah belakang dengan kedua lengannya, menundukkan kepalanya, menempelkan pipi kirinya ke pipi kanan Lurel, tubuhnya begitu menikmati sensasi debaran dadanya karena reaksi tubuhnya terhadap kedekatannya dengan tubuh Laurel, rasanya saat ini dia merasa ada aliran seperti sengatan kecil listrik di seluruh tubuhnya. Beberapa saat kemudian hidung mancung Dave bergerak mencium pipi kanan Laurel dengan lembut, membuat tubuh Laurel tersentak, dan dengan spontan memandang ke sekelilingnya berharap tidak ada seorangpun yang melihat aksi Dave barusan, membuat Dave tersenyum melihat reaksi spontan Laurel yang benar-benar tidak menunjukkan bahwa gadis itu pernah tinggal lama di Amerika yang dikenal dengan budayanya yang terlalu bebas.


“Jangan khawatir, malam ini tempat ini menjadi milik kita berdua, aku sudah memesan seluruh lantai ini, kita bebas melakukan apapun disini,” Laurel tersenyum geli mendengar perkataan Dave yang seolah tahu dia merasa tidak nyaman Dave memeluk dan menciumnya di tempat umum, walaupun sekedar mencium pipinya.


“Memang apa yang akan kita lakukan? Kendalikan dirimu Mr Shaw,” Laurel sedikit menjauhkan wajahnya dari Dave, dan melepaskan kedua lengan Dave dari pinggangnya.


“O ya? Segalak itukah mamamu? Tapi aku tidak yakin dia akan memperlakukanku seperti itu, kalau kamu tidak percaya, mari kita pulang dan menanyakannya langsung kepada mamamu,” Dave berjalan menjauh, membuat Laurel dengan cepat meraih tangan Dave dan menariknya kembali ke arahnya, membuat Dave kembali membalikkan badannya dan menghadap ke arah Laurel sambil tersenyum.


“Kenapa? Apa kamu takut justru mamamu memberikan ijin kepadaku untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mencium pipimu?” Mata Laurel melotot mendengar kata-kata Dave yang sepertinya meremehkan peringatannya tentang mamanya.

__ADS_1


“Dave, jangan bercanda, kamu belum tahu seperti apa mamaku mendidik kami anak-anak perempuannya,” Dave bergerak lebih mendekat ke arah Laurel, lengan kirinya langsung melingkar di pinggang Laurel, memeluknya dengan mesra, membuat Laurel tersentak untuk kesekian kalinya malam ini.


Laurel menarik nafas dalam-dalam, untung saja dia seorang gadis muda yang sehat, kalau tidak sepertinya dia akan mendapat serangan jantung jika Dave terus memperlakukannya dengan semesra itu.


“Justru itu harusnya kamu bersyukur memiliki mama yang mengajarkanmu bagaimana menjaga dirimu dengan baik,” Tangan kanan Dave menyentuh wajah Laurel lembut, mengusap-usapnya pipi Laurel dengan jempol tangannya dengan lembut, dengan lengan kirinya masih melingkar di pinggang ramping Laurel.


Dave ingat sekali bagaimana selama 5 tahun dia mengamati kehidupan Laurel di Amerika, gadis itu tidak pernah sekalipun dilihatnya keluar berduaan saja dengan seorang pria, bahkan tidak pernah dilihatnya Laurel pergi ke bar, diskotik, apalagi club malam (bar adalah tempat/konter yang menyajikan minuman beralkohol seperti beer, wine, liqeur dan coktails untuk diminum di tempat, biasanya memiliki ruangan yang redup dan samar-samar, diskotik diperuntukkan sebagai tempat hardcore party. Suasana di dalam diskotik biasanya gelap dan mengandalkan lampu sorot berputar. Di sana juga terdapat dance floor berukuran cukup besar, sedang club malam adalah tempat hiburan dewasa yang buka pada waktu larut malam. Walaupun berupa kedai minuman, tetapi klub malam berbeda dengan bar atau diskotik karena dilengkapi ruang tarian dan layanan DJ yang memainkan musik dengan iringan tarian yang biasanya erotis) atau tempat-tempat sejenisnya, yang biasa dilakukan oleh teman-temannya seusianya di sana untuk mencari hiburan. Hidupnya selama di Amerika benar-benar hanya dihabiskan untuk belajar dan bekerja part time.


“Kamu tidak tahu betapa malam ini aku sangat bahagia karena kamu bersedia membalas cintaku,” Dave berkata sambil memandang dalam-dalam wajah Laurel, dengan sekuat tenaga Dave menahan airmatanya tidak turun di hadapan Laurel malam ini, rasanya dia hampir saja tidak dapat menahan airmata bahagianya, setelah sekian lama dia menunggu Laurel berpaling padanya, membalas cintanya, dan mendengar malam ini Laurel dengan bibirnya sendiri menyatakan bahwa dia juga mencintainya. Tangan Laurel bergerak ke arah tangan Dave yang sedang menyentuh pipinya dan memegang tangan tersebut.


“Ada bayak hal buruk yang telah aku alami, aku berharap jika ke depannya kakiku mulai goyah, kamu bersedia menguatkanku,” Dave memandang Laurel dengan mesra mendengar permintaannya.


“Aku tidak hanya akan menguatkanmu, aku akan menggendongmu dan tidak akan pernah melepaskanmu, mo cuisle (denyut nadiku),” Laurel tersenyum mendengar janji Dave, dia berharap dia tidak salah melabuhkan hatinya pada laki-laki yang sekarang ada di hadapannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2