CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
WANITAKU YANG MENGAGUMKAN


__ADS_3

“Selamat pagi Bos,” Dave langsung menoleh mendengar sapaan dari Lusiana yang berjalan bersama Nia ke arahnya.


“Pagi,” Begitu Dave membalas sapaan mereka, Lusiana dan Nia langsung berjalan mendekat ke arah Dave.


“Kenapa dengan kalian? Kenapa kalian terlihat salah tingkah seperti itu?” Dave bertanya sambil menatap ke arah kedua anak buahnya yang terlihat ragu-ragu untuk mengeluarkan suara.


“Ehmm…, Bos…, bagaimana kabar Laurel?” Sepanjang malam sampai pagi ini kami kesulitan menghubungi Laurel,” Dave tersenyum mendengar pertanyaan Lusiana, tentu saja Laurel tidak bisa dihubungi, karena sejak kejadian tadi malam Dave sengaja mematikan handphone Laurel agar sementara waktu tidak ada yang mengganggunya, dan sepertinya sampai saat ini Laurel belum menyalakan lagi hanpdhonenya, entah karena dia sendiri belum ingin menyalakan atau belum sadar kalau handphonenya dalam kondisi mati sejak tadi malam.


Mungkin saat ini kamu sedang menghabiskan waktumu dengan Mama Denia dan Freya, untuk saat ini bersenang-senanglah dengan mereka, kamu bisa bersantai sejenak untuk sementara ini, Dave berbisik dalam hati sambil tersenyum, membayangkan wajah ceria dan bahagia Laurel saat mengobrol dengan mamanya dan Freya.


“Laurel baik-baik saja, hanya perlu istirahat sehari dua hari, kalau kalian ingin menemuinya, sekarang dia ada di rumah mamanya, dan sepertinya beberapa hari ini dia akan tinggal di sana untuk sementara waktu,” Lusiana sedikit terkejut dengan penjelasan Dave, rasa khawatir langsung menyergap hatinya, kenapa tiba-tiba saja Laurel memutuskan untuk sementara waktu berada di rumah mamanya, apakah ada sesuatu hal buruk yang terjadi dengan Laurel?


“Kenapa Bos? Apa ada masalah dengan kehamilan…,” Lusiana menghentikan bicaranya karena melihat Dave langsung mengernyitkan dahinya mendengar Lusiana membicarakan tentang kehamilan Laurel.


“Kalian sudah tahu kalau Laurel sedang hamil?” Mendengar pertanyaan Dave, Lusiana dan Nia saling berpandangan.


“Waktu itu Laurel meminta bantuan saya untuk melakukan tes darah untuk memeriksa apakah dia hamil dengan memakai identitas sebagai salah satu pasien saya Bos,” Lusiana menjawab pertanyaan Dave dengan sedikit ragu, takut bila yang barusan dia katakan salah.


“Ooo, begitu ya? Pantas saja…,” Dave berkata sambil tersenyum.


Dasar! Mo cuisle..., kamu benar-benar pandai menyembunyikannya dariku, sampai-sampai memakai identitas palsu untuk melakukan pemeriksaan darahmu. Jangan kamu pikir hanya kamu yang pandai memberikan kejutan. Tunggu saja balasan dariku, Dave berbisik dalam hati sambil tersenyum.


“Terimakasih infonya, aku akan menghubungi mertuaku agar memberitahu Laurel untuk menyalakan kembali handphonenya. Mungkin agak siang nanti kalian bisa menelponnya, untuk sekarang biarkan dia beristirahat dulu,” Lusiana dan Nia langsung mengangguk dengan wajah tampak senang sekaligus lega mendengar apa yang dikatakan oleh Dave barusan.


“Terima kasih Bos, kalau begitu kami permisi,” Dave mengangguk sambil tersenyum, membiarkan kedua dokter muda itu menjauh darinya.


“Ah, lega rasanya mendengar Laurel baik-baik saja,”


“Betul, sepanjang malam pikiranku tidak tenang karena melihat Laurel yang tiba-tiba saja menghilang dari pesta tanpa pamit,”


“Iya, apalagi seseorang mengatakan dia terlihat memegang kepalanya seperti orang sakit,”


“Untung saja tidak terjadi apa-apa padanya,”

__ADS_1


Dave tersenyum mendengar pembicaraan antara Lusiana dan Nia yang sekilas masih didengarnya sayup-sayup, membuatnya merasa senang karena Laurel memiliki teman-teman yang begitu perhatian dengannya.


Dave baru saja masuk ke dalam kantornya ketika tiba-tiba mendengar suara seseorang mengetuk pintu kantornya.


“Masuk,” Begitu mendengar perintah untuk masuk, dengan pelan pintu kantor terbuka, tampak Hana dan Leo berjalan mendekat ke arah Dave yang baru saja menarik kursi meja kerjanya dan duduk di sana sambil memandang kedatangan mereka berdua.


“Duduklah, apa yang bisa kubantu?” Leo dan Hana mengambil posisi duduk saling bersebelahan, di depan kursi yang ada di depan meja kerja Dave.


“Ada sesuatu yang mau disampaikan oleh Hana kepadamu Dave,” Leo mewakili Hana untuk memulai pembicaraan.


Mendengar perkataan Leo, Dave mengangguk, lalu memandang ke arah Hana yang terlihat gugup.


“Aku mau menjelaskan tentang kasus Raga. Aku benar-benar tidak ada hubungannya dengan apa yang sudah dilakukannya. Tentang foto-foto itu aku benar-benar tidak ada kaitannya, bahkan aku tidak tahu dia mendapatkan semua foto-foto itu darimana,” Dave mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Hana, karena selama ini Dave tidak pernah menyangkut pautkan keterlibatan Hana dan Raga dengan kasus-kasus yang dihadapi oleh Laurel.


“Sepertinya terlalu banyak orang yang ingin menyakiti Laurel, karena itu aku sengaja melakukan beberapa penyelidikan, dan aku mencoba mencari tahu apakah ada hubungan antara teror yang dialami Laurel antara satu dengan yang lain,” Leo menjelaskan kepada Dave sehingga Dave langsung mengerti kenapa Hana ingin menjelaskan posisinya yang tidak ada hubungannya dengan Raga, yang beberapa waktu lalu menjadi sumber penyebaran foto-foto Laurel di grup chat para pegawai rumah sakit sehingga menimbulkan banyak kesalahpahaman.


“Aku memang menyukaimu, tapi kamu tahu tentang aku. Walau bagaimanapun, aku tidak akan mungkin menyakiti orang lain sampai membiarkan orang lain terluka. Apalagi jika aku tahu kamu sudah menikah dengan Laurel saat itu. Aku bukan wanita yang ingin menjadi perebut suami orang,” Dave tersenyum mendengar pernyataan Hana.


“Aku tidak pernah mencurigaimu berniat dengan sengaja melukai Laurel. Dan tentang Raga, dia melakukan itu karena dia begitu menyukaimu. Aku juga tidak berniat menyalahkannya, tapi kalau suatu ketika aku menemukan ada alasan lain Raga melakukan itu, dan membuat Laurel tersakiti, aku tidak akan dengan mudah membiarkannya lepas tanpa mendapatkan hukuman,” Hana sedikit tersentak melihat bagaimana mata Dave terlihat sedikit berkilat menunjukkan amarahnya, membuat Hana semakin sadar kalau Dave begitu mencintai Laurel dan begitu melindunginya, dan sepertinya tidak akan ada celah sedikitpun bagi wanita lain untuk bisa masuk di antara mereka.


Mendengar perkataan Hana, Leo dan Dave saling berpadangan, karena sebenarnya mereka tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan Raga. Apalagi foto-foto yang dimiliki oleh Raga, bukan foto-foto yang bisa dia dapatkan dengan kemampuannya sendiri, pasti ada seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan yang lebih besar yang ada di balik semua tindakan Raga.


“Aku percaya padamu, kita bertiga sudah saling mengenal cukup lama. Tapi, aku tidak mempercayai Raga,” Dave berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, membuat Hana sedikit mengernyitkan keningnya.


“Kalau begitu, kenapa kamu tidak memecat Raga saja?” Leo tersenyum mendengar pertanyaan Hana yang baginya terdengar begitu polos, karena memang Hana tidak mengerti apa yang sedang terjadi, apa yang sedang direncanakannya bersama Dave mengenai Raga.


“Tidak semudah itu Han, Dave sengaja membiarkan Raga tetap di rumah sakit ini justru untuk mendapatkan info sebenarnya dia bekerja untuk siapa dan tujuannya apa. Sebenarnya kami sudah menemukan sedikit petunjuk, tapi kami butuh bukti-bukti yang lebih kuat untuk menghentikan dalang dibalik semua ini,”


“Aku akan membantu kalian untuk menemukan bukti-bukti…,”


“Tidak, kami tidak mau melibatkan dan membahayakanmu,” Dave langsung memotong perkataan Hana, namun Hana langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


“Tolong aku agar bisa menghapus rasa bersalahku kepada Laurel. Sejak dia datang di rumah sakit ini, aku tidak pernah bersikap baik padanya. Aku selalu menganggapnya sebagai saingan berat seolah kami sedang menghadapi kompetisi, bukan sekedar masalah hubunganmu dengan dia. Dari awal aku selalu iri dengan kemampuannya bersosialiasi maupun bekerja. Aku tidak mau mengakui bahwa sebagai yunior dia memiliki kemampuan lebih dibanding para seniornya. Dan dia begitu disukai oleh banyak orang karena sikap baiknya,” Baik Dave dan Leo sama-sama tersenyum mendengar dari mulut seorang Hana yang terkenal memiliki daya saing yang tinggi dan ambisius akhirnya mau mengakui kemampuan Laurel.

__ADS_1


Kamu benar-benar wanita yang hebat, bahkan bisa membalikkan kondisi dengan baik. Membuat orang yang pada awalnya tidak menyukaimu menjadi orang yang mengakui kemampuanmu dan mengagumimu. Bagaimana kamu tidak semakin membuatku bangga dengan semua kebaikan dan kemampuanmu yang kamu tunjukan kepada semua orang di sekitarmu. Membuatku semakin mencintaimu dari hari demi hari, Dave berbisik dalam hati sambil membayangkan sosok Laurel.


Sejak permintaan Laurel untuk ditemani pagi tadi, sepanjang waktu yang dilalui Dave setelah berpisah dari Laurel membuat Dave semakin sering terbayang-bayang sosok Laurel dan membuatnya ingin sesegera mungkin menyelesaikan semua urusannya dan kembali pulang untuk menemui wanita tercintanya.


Sekilas Dave melirik ke arah Leo yang masih menyungingkan senyum di bibirnya, membuat Dave sedikit menahan nafasnya.


Sepertinya masih sulit bagimu untuk lepas dari pesona seorang Laurel. Aku hanya bisa berdoa agar kamu segera menemukan gadis yang terbaik agar kamu segera dapat melupakan perasaanmu kepada Laurel. Kamu pantas mendapatkan hal yang baik dalam hidupmu Leo, Dave berkata dalam hati sambil sedikit mengalihkan pandangannya agar tidak terpaku pada wajah Leo.


“Katakan saja padaku, apa yang bisa kubantu,” Hana menoleh ke arah Leo, berharap Leo mau mengatakan sesuatu jika Dave tetap memutuskan untuk tidak melibatkannya dan membiarkannya membayar rasa bersalahnya.


"Dave..., Leo..., kumohon..., atau aku perlu menghubungi Laurel dan memintanya untuk membiarkan aku agar dapat membantu kalian?"


"Jangan...," Baik Leo dan Dave langsung menghalangi apa yang akan dilakukan oleh Hana, membuat sekilas Hana memandang ke arah Leo dan Dave secara bergantian.


"Jangan mengatakan apapun kepada Laurel, bahkan dia tidak tahu dengan jelas tentang kejadian ini. Tentang kerterlibatan Raga pun, aku belum menceritakan apapun kepada Laurel," Dave langsung menjelaskan alasannya kenapa dia tidak ingin Hana menghubungi Laurel untuk masalah ini. Bagaimana mungkin Dave membiarkan perasaan Laurel bertambah tidak tenang karena berita ini. Keberadaan Dicky sudah cukup membuat Laurel tertekan, gerakan Devan yang sudah mulai tercium oleh Dave pun dengan begitu rapat Dave berusaha menutupnya dari Laurel. Tidak seharusnya Laurel mendengar tambahan berita tidak mengenakkan tentang Raga.


"Beberapa lama ini Laurel sedang mengalami banyak hal yang kurang mengenakkan. Lebih baik untuk ke depannya, walaupun bertemu Laurel, jangan mengungkit apapun masalah foto-foto itu dan Raga," Leo menambahkan penjelasan Dave yang akhirnya membuat Hana menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Kamu wanita yang benar-benar beruntung Laurel, banyak sekali orang di sekitarmu yang begitu perduli dan menyayangimu, semoga semuanya akan baik-baik saja. Aku berharap ke depannya bisa menjadi salah seorang teman yang baik bagimu, Hana berkata dalam hati sambil tersenyum.


"Kalau begitu, untuk sekarang aku anggap kalian berdua setuju dengan permintaanku membantu kalian menyelidiki kasus Raga. Paling tidak kalian bisa memanfaatkanku untuk mendekati Raga dan mengorek informasi yang sedang kalian cari dan mendapatkan bukti yang sedang kalian butuhkan," Mendengar perkataan Hana, akhirnya Dave dan Leo hanya bisa saling berpandangan tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi karena Hana tetap bersikeras untuk membantu.


# # # # # # #


"Hallo Dave? Apa kamu sedang mencari Laurel?" Mama Denia yang sedang berbicara melalui telepon dengan Dave berkata sambil melirik ke arah Laurel yang langsung menoleh ke arah mamanya yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur bersama Freya begitu mendengar mamanya menyebut nama Dave.


Sepertinya nama Dave seperti mantra yang langsung membuatmu tergerak begitu mendengar namanya disebutkan di depanmu, Mama Denia berkata dalam hati sambil tersenyum begitu melihat Laurel yang langsung menghentikan kegiatannya dan berkonsentrasi mengamatinya begitu dia menyebutkan nama Dave.


"Tolong mama bilang kepada Laurel agar kembali menyalakan handphonenya, kemarin malam aku mematikannya agar dia bisa beristirahat tanpa gangguan," Mama Denia tersenyum mendengar perkataan Dave yang menunjukkan menantunya itu begitu perduli dengan Laurel.


"Laurel, Dave memintamu menyalakan kembali handphonemu," Mama Denia berkata pelan kepada Laurel sambil menjauhkan handphonenya dari telinga dan bibirnya, yang langsung disambut sebuah anggukan pelan oleh Laurel.


"Sudah, hanya itu saja yang mau kamu sampaikan atau ada lagi yang masih perlu kamu katakan kepada Laurel Dave?" Mama Denia kembali mendekatkan handphonenya ke telinga dan bibirnya.

__ADS_1


"Tidak ma, hanya itu saja, sebentar lagi aku akan menelpon Laurel sendiri, mau menanyakan apa mungkin sebelum aku pulang ada sesuatu yang dia butuhkan atau inginkan untuk aku belikan,"


"Ooo, mama kira kamu mau menitipkan salam rindu kepada Laurel, tapi sepertinya kamu ingin menyampaikan sendiri ya kepada Laurel," Dave langsung tersenyum mendengar godaan dari mertuanya, sedang Mama Denia melirik ke arah Laurel yang wajahnya bersemu merah, membuat Freya langsung menggerak-gerakkan bahu kakaknya dengan maksud menggodanya.


__ADS_2