
Laurel hanya bisa sesekali menahan nafasnya dan matanya memandang ke arah luar jendela mobil melihat bagaimana Devan yang duduk di sampingnya tidak membiarkan pandangan matanya lepas dari mengamati sosoknya. Laurel sengaja berusaha menghindari agar matanya tidak bertatapan dengan mata Devan yang sampai saat ini dia lihat masih menunjukkan bahwa laki-laki itu masih begitu mengharapkannya.
Sejak mereka berdua duduk berjajar di dalam mobil tidak ada sepatah katapun yang keluar dari salah satu diantara mereka berdua kecuali ucapan terimakasih Laurel kepada Devan yang telah menyelamatkannya tadi sebelum mereka sama-sama masuk ke dalam mobil. Dalam hatinya jika boleh jujur Devan begitu ingin memulai pembicaraan dengan Laurel, namun melihat sikap Laurel yang begitu menjaga jarak dengannya, mulai dari posisi duduknya yang berusaha sejauh mungkin dari Devan dan wajahnya yang berusaha menjauh dari jangkauan tatapan mata Devan, membuat Devan lebih memilih untuk diam sambil membiarkan matanya menikmati sosok cantik Laurel yang sampai detik ini masih tetap membuat dadanya bergetar hebat.
Sepanjang perjalanan mereka saling terdiam, bahkan sopir pribadi Devan sesekali melirik ke arah spion dan melihat mata dari majikannya terus memandangi wanita yang sedang duduk di sampingnya tanpa berusaha mengajaknya berbicara sama sekali. Membuat sopir itu hanya bisa menebak-nebak dalam hati sebenarnya siapa wanita cantik yang sedang duduk di samping majikannya dan seberapa pentingnya arti wanita itu bagi Devan, sehingga mata tuannya tidak pernah mau lepas dari sosok wanita itu barang sedetikpun.
Satu hal yang membuat sopir pribadi Devan menyadari bahwa Laurel merupakan wanita yang memiliki posisi penting di hati majikannya adalah kondisi Laurel yang dari tubuhnya tercium bau bensin yang begitu menyengat, bahkan dia yang duduk di posisi kursi sopir pun dapat mecium bau bensin itu, apalagi Devan yang posisi duduknya berada di samping wanita cantik itu. Tapi tampak sekali bahwa Devan tidak perduli dengan bau bensin itu, tetap membiarkan Laurel untuk duduk bersamanya di dalam mobil mewahnya, bahkan sepertinya bau itu tidak mengganggu Devan sama sekali.
Sejak bekerja di bawah kepemimpinan Devan, sopir pribadi Devan cukup hapal dengan kebiasaan Devan yang selalu minta agar sehari dua kali sopirnya harus memastikan mobilnya bersih dan tidak ada bau-bau aneh dan menyengat ketika Devan berada di dalam mobil itu, baik pada waktu dia berangkat atau pulang kerja. Devan begitu anti terhadap orang yang memiliki bau tubuh menyengat, baik karena penggunaan parfum berlebih, pemilihan bau parfum yang salah ataupun bau alami yang ditimbulkan oleh tubuh orang itu sendiri.
Pernah sekali salah seorang saudara Devan ikut bergabung bersama Devan di dalam mobilnya untuk menghadiri acara undangan dari salah satu petinggi di pemerintahan yang sedang menikahkan anaknya. Baru beberapa menit berada di dalam mobil, bau parfum dari saudara Devan sudah cukup membuat Devan mabuk dan menghentikan perjalanannya, dan tanpa sungkan ataupun kata-kata pembukaan, Devan langsung meminta sopirnya memanggilkan taksi untuk saudaranya dan mengusirnya keluar dari mobilnya. Sejak saat itu Devan dikenal di tengah-tengah saudara-saudaranya sebagai seorang yang sombong dan tidak perduli dengan saudara, dan Devan sendiri memutuskan tidak perduli dengan apa yang orang katakan tentang dia.
Laurel langsung mengamati sekitarnya begitu merasakan mobilnya yang sedang membawanya bersama Devan berhenti di suatu tempat. Dengan sedikit menarik nafas panjang, Laurel yang melihat bangunan bertingkat melalui jendela mobil memandang ke arah Devan.
“Kenapa kita turun di mall?” Mendengar pertanyaan Laurel, Devan hanya tersenyum kecil.
“Apa kamu tidak merasa risih memakai baju dengan bau bensin seperti itu?” Laurel memejamkan matanya sebentar sambil menarik nafas dalam-dalam mendengar pertanyaan dari Devan.
“Aku tidak memintamu untuk mengajakku bersamamu di dalam mobilmu. Aku tahu kamu tidak tahan dengan bau-bauan menyengat. Sebenarnya cukup membiarkan aku ikut dengan mobil lain yang tadi mengiringimu. Dan lebih baik jika benar-benar ingin membantuku, antarkan aku kembali ke rumah daripada repot-repot mengajakku ke mall untuk membeli pakaian. Di rumahku aku tidak pernah kekurangan pakaian,” Devan tersenyum sinis mendengar perkataan Laurel, karena kata-kata Laurel barusan jelas-jelas menunjukkan bahwa Laurel merasa tidak nyaman bersamanay dan ingin segera kembali kepada Dave.
“Ok, ide bagus juga mengantarmu langsung ke rumah. Reno, kita pulang ke rumah, Nyonya Laurel ingin segera beristirahat di rumah,” Laki-laki yang dipanggil Reno oleh Devan, yang merupakan sopir pribadinya segera menganggukkan kepalanya.
Dengan gerakan cepat sopir Devan segera kembali melepaskan rem tangan mobil yang tadi sudah sempat ditariknya untuk menunggu antrian masuk ke tempat parkir mall. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Reno segera memutar arah mobil dan kembali menginjak gas, untuk kembali melanjutkan perjalanan, membatalkan rencana untuk pergi ke mall mencari pakaian ganti untuk Laurel.
Melihat apa yang diperintahkan Devan kepada sopir pribadinya membuat Laurel hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil menahan nafasnya. Laurel bisa memastikan bahwa rumah yang dimaksud oleh Devan pastinya bukan rumahnya bersama Dave. Sedari awal Laurel sudah melihat bahwa Devan tidak ada niat untuk mengantarnya kembali kepada Dave.
__ADS_1
# # # # # # #
“Turunlah, kita sudah sampai,” Laurel terdiam untuk beberapa saat tanpa merespon begitu mendengar perkataan Devan.
Mata Devan melirik ke arah Laurel yang sepertinya begitu enggan bergeming dari duduknya. Sopir pribadi Devan sudah membukakan pintu mobil di samping Devan, sedangkan pintu di samping Laurel dibukakan oleh salah satu pengawal Devan, yang langsung berlari mendekat begitu mereka sampai di halaman luas rumah mewah Devan.
“Mau sampai kapan kamu berada di sini? Aku yakin kamu juga sudah lapar. Ini sudah malam, lebih baik kamu membersihkan dirimu, makan, setelah itu beristirahat. Jika ada yang perlu kita bicarakan, kita akan bicarakan besok setelah kamu beristirahat dengan baik malam ini,” Devan berkata dengan lembut kepada Laurel, setelah itu dia turun dari mobilnya dan berjalan menjauhi mobil untuk pergi, bermaksud masuk ke dalam rumahnya.
Setelah keluar dari mobil dan merasa tidak ada pergerakan dari Laurel yang tetap tidak bergerak dari duduknya di dalam mobil, Devan kembali berjalan mendekat ke mobilnya. Devan sedikit membungkukkan tubuhnya dengan satu lengannya berada di atas atap mobilnya untuk melongok ke dalam mobil dan satu tangannya yang lain dimasukkan ke saku celananya. Begitu kepalanya melongok ke dalam mobil, Devan langsung menarik nafas panjang melihat Laurel yang terlihat masih duduk di dalam mobil dengan wajah melamunnya.
“Laurel…, Ayo turun,” Mendengar panggilan dari Devan, Laurel menoleh, menatap Devan dengan tatapan yang terlihat begitu sayu.
“Devan, aku mau pulang. Aku mau bertemu Dave,” Devan menahan nafasnya beberapa saat dengan tangannya yang berada di atas atap mobil mengepal dengan erat untuk menahan kekecewaannya mendengar apa yang baru saja dia dengar dari bibir Laurel.
“Turunlah dahulu, anggap saja rumah ini seperti rumahmu sendiri,” Laurel langsung menggelengkan kepalanya mendengar perintah dari Devan yang bersikeras untuk tidak memenuhi permohonan Laurel.
Saat ini Laurel merasa begitu tidak nyaman. Dalam hatinya Laurel benar-benar takut jika dia memutuskan untuk menuruti keinginan Devan untuk masuk ke dalam rumah laki-laki itu. Laurel takut jika dia akan terjebak selamanya di dalam sana. Entah itu hanya perasaannya saja, tapi Laurel saat ini bisa merasakan dari tatapan Devan, sepertinya laki-laki itu tidak berencana untuk membiarkannya pergi dari sini untuk bisa pulang kembali ke rumahnya bersama Dave.
Melihat Laurel lagi-lagi hanya terdiam dengan wajah lelahnya, dengan sedikit mendengus Devan kembali menegakkan tubuhnya, dan dengan gerakan cepat bergerak ke arah sisi lain mobilnya. Begitu Devan sampai di pintu yang berada di samping Laurel yang sudah terbuka, dengan cepat tangan Devan meraih pergelangan tangan Laurel.
“Ayo keluar sebelum aku memaksamu dengan menggendong tubuhmu. Atau sebenarnya itu yang sedang kamu inginkan dariku?” Laurel tersentak kaget mendengar ancaman dari Devan, membuat Laurel langsung menggerakkan tubuhnya untuk keluar dari mobil Devan.
Devan yang awalnya menarik pergelangan tangan Laurel dengan cukup keras menghentikan gerakannya begitu melihat wajah Laurel yang meringis, tampak bahwa Laurel sedang menahan sakit. Melihat wajah Laurel yang terlihat menahan sakit Devan melirik ke arah tangannya yang sedang menarik pergelangan tangan Laurel. Mata Devan sedikit terbeliak begitu melihat pergelangan tangan Laurel yang selain lebam dan bengkak juga terlihat banyak luka gores akibat bekas tali yang tadi Dicky gunakan untuk mengikat pergelangan tangannya.
Melihat pergelangan tangan Laurel yang terluka Devan buru-buru melepaskannya dan ganti memegang lengan atas Laurel. Dengan gerakan cepat, Devan menarik lengan Laurel untuk masuk ke rumahnya, sedang Laurel dengan gerakan tertahan mengikuti langkah-langkah Devan dengan enggan, sehingga membuat posisi Devan terlihat berusaha keras untuk menyeret Laurel masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
“Tuan Devan Amarta, tolong lepaskan istriku!” Begitu mendengar suara yang begitu dikenalnya, Laurel langsung menoleh ke belakang, ke arah sumber suara, diikuti oleh Devan yang sudah bisa menduga suara siapa yang baru saja didengarnya.
“Dave…,” Bibir Laurel mendesis pelan menyebutkan nama laki-laki yang begitu dicintainya itu.
Wajah Laurel begitu kaget melihat kehadiran Dave yang tiba-tiba saja sudah ada beberapa meter di belakangnya. Senyum bahagia langsung mengembang di bibir Laurel, sekaligus airmata bahagia tidak dapat lagi dibendungnya mengalir membasahi pipinya melihat kehadiran sosok Dave di depannya. Dan kehadiran Dave membuat Laurel tanpa sadar langsung bergerak ke arah Dave, namun dengan sigap Devan menarik lengan Laurel dengan erat, berusaha menghalangi Laurel untuk berjalan ke arah Dave.
“Tuan Dave Alexander Shaw, akhirnya kamu datang ke sini juga. Cukup cepat, cukup mengagumkan Anda memiliki kemampuan untuk menemukan Laurel dengan cepat. Padahal aku sungguh berharap sampai beberapa minggu ke depan kamu tidak bisa menemukan keberadaan Laurel,” Dave mengepalkan kedua tangannya dengan erat mendengar ejekan dari Devan.
“Sepertinya Anda membawa cukup banyak persiapan untuk datang kemari. Tetapi sayangnya, Anda salah besar memutuskan berani untuk datang ke tempat kediamanku tanpa mengeluarkan seluruh kekuatan yang Anda miliki,” Devan berkata sambil menggerakkan tangannya, menunjuk ke arah belakang Dave, sehingga membuat Dave langsung menoleh ke belakang.
Mata Dave terbeliak kaget begitu melihat bagaimana keenam anak buahnya yang sedang berlutut di hadapan lebih dari sepuluh orang anak buah Devan yang sedang menodongkan pistolnya ke arah kepala keenam pengawal Dave.
“Sepertinya Anda masih mengira Devan Amarta adalah orang yang sama seperti 7 tahun lalu yang dengan mudahnya Anda tekan, sehingga Anda meremehkan kekuatanku dan berani datang ke wilayah kekuasaan dengan membawa orang-orang lemah seperti itu,” Devan berkata sambil melepaskan pegangannnya dari lengan Laurel dan berjalan menuju ke arah Dave. Namun baru dua langkah Devan berjalan, dia langsung menghentikan langkahnya, menarik nafas panjang kemudian menoleh ke arah Laurel.
“Tetaplah berada di tempatmu jika tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa suami tercintamu,” Devan berkata sambil menatap tajam ke arah Laurel yang hampir saja melangkah mendekat ke arah Dave begitu Devan melepaskan lengannya.
Laurel hanya bisa terdiam kembali di tempatnya, apalagi tanpa ragu-ragu Devan dengan cepat menarik kembali pistol yang masih terselip di pinggangnya, pistol yang ada di balik kemejanya. Pistol yang sama yang sudah digunakan Devan untuk menembak kaki dan tangan Dicky tanpa ragu sedikitpun tadi saat menyelamatkannya.
“Oke Tuan Dave Alexander Shaw! Sekarang giliranmu merasakan posisi yang sama denganku tujuh tahun lalu! Saat kamu menekan keluargaku untuk melepaskan kekasih yang aku cintai,” Devan yang berdiri di depan Dave kurang lebih 5 meter di depan Dave, berkata sambil menodongkan pistol ke arah kepala Dave.
“Malam ini aku memintamu memilih antara Laurel atau nyawamu. Jika kamu bersedia membuat surat perjanjian akan menceraikan Laurel, aku akan mengampuni nyawamu hari ini,” Devan berkata sambil menarik pelatuk pistolnya, bersiap menembus kepala Dave dengan timah panasnya.
“Maaf Tuan Devan, aku tidak bisa terlalu jelas mendengar apa yang baru saja Anda katakan karena angin di sini terlalu kencang. Bisakah Anda mendekat ke arahku agar aku bisa mendengar dengan jelas permintaan Anda?” Devan langsung terkekeh mendengar perkataan Dave.
“Jangan harap aku tertipu olehmu Tuan Dave Alexander Shaw! Aku tahu betul Anda memiliki kemampuan beladiri yang hebat. Jika aku tidak memasang jarak aman di dekat Anda, aku yakin dengan mudah Anda akan melumpuhkanku!” Devan berkata sambil tertawa sinis.
__ADS_1