Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Rencana Pembakaran


__ADS_3

DOUBLE POV


POV Pramono


Keesokan harinya, setelah Damar mengantar Riana. Pagi hari ini Riana sudah terbangun, aku berencana akan menanyakan apa yang terjadi setelah sarapan nanti.


...****************...


Setelah selesai sarapan, aku pun mencoba menanyakan apa yang terjadi pada putriku kami semua sudah berkumpul di ruang kekurga.


"Nduk sebenernya apa yang terjadi, mengapa kamu pulang di antar Damar?" tanyaku


Seketika Riana terkesiap sesaat


"Jadi mas Damar yang mengantar ku." gumamnya pelan tapi masih terdengar oleh ku


"Coba ceritakan apa yang terjadi nduk." ucap istriku Rukmini menimpali


Riana menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, mulai dari awal Purwo ingin melakukan hubungan sampai terjadi pertarungan sengit sampai berdarah darah dan kematian Prastyo.


Seketika kami semua terkejut, apalagi aku. Aku bukan hanya terkejut oleh penuturan Riana, tapi melainkan Purwo mengatakan bahwa Riana yang melakukan semuanya. Ini sebuah masalah besar, ntah mengapa firasat ku tidak enak.


Seketika aku merasa bersalah pada putriku yang menyebabkan ia begini, andai saja aku percaya pada Damar. Tapi apadaya nasi sudah menjadi bubur, penyesalan akan datang terakhir.


"Maafkan bapak ya nduk, andai bapak tidak menerima lamaran juragan Karno." ucapku sendu


"Sudah lah pak, ini sudah takdir ku." sahut Riana seraya menggenggam tanganku


"Betul apa yang dikatakan Riana, Pram. Ini sudah garis takdir putrimu untuk dijalaninya." ucap ibuku Kasum menimpali


Aku tertunduk merasakan penyesalan yang menerpa ku.


"Sudah toh pak, jangan merasa bersalah seperti itu. Ini sudah takdir, kita bisa apa to." ucap istriku menenangkan seraya mengusap punggung ku


Tiba tiba terdengar suara dari arah luar.


"Pramono keluar kau." Teriak mereka aku seperti mengenali suara itu, iya itu suara juragan Karno

__ADS_1


POV Karno


Pada malam itu, setelah kami semua makan malam bersama dan bersantai sejenak kami memutuskan untuk tidur. Tapi baru tertidur beberapa saat aku bangun begitu juga dengan istriku Nining, kami mendengar suara keributan dan tangisan.


"Ka..kamu dengar toh pak?" tanya istriku


Aku mengangguk


"Dengar bu." sahutku


"Kira kira ada apa yo pak." gumamnya


"Bapak tidak tau bu, lebih baik kita kesana saja." ucapku


Istriku hanya mengangguk, lekas kami menghampiri asal suara tersebut. Ternyata disini sudah ramai sekali, kami mencoba menerobos kerumunan setelah berada di depan betapa terkejut nya aku.


Aku begitu terkejut melihat pemandangan di depanku, badanku terasa sangat lemas, mulutku kelu, tak terasa mataku mengeluarkan air mata.Aku melihat Putra ku Pramono terbujur kaku, dengan bersimbah darah. Tapi, aku mencoba untuk bertanya pada putraku Purwo yang masih stengah sadar.


"Siapa yang melakukan ini?" tanyaku


"Ri...Riana." ucap Purwo


"Panggil mantri cepat." teriakku menggelegar


(Mantri/Tenaga kesehatan)


Lekas salah satu centengku berlari keluar memanggil mantri, rasanya aku masih tidak percaya bahwa Riana yang melakukan ini. Gadis desa yang polos dan lugu bisa berbuat begini, tapi Purwo rasanya tidak berbohong. Terlebih, Riana memang tidak ada disini.


"Kejar perempuan jal*ng itu, seret ia kemari." seruku


Lekas beberapa anak buahku berlari keluar mengejar Riana, istriku sudah menangis sejadi jadinya.


"Salah satu dari kalian cepat panggil pamong desa." teriakku


(Pamong desa/Kepala urusan, lurah, dll.)


...****************...

__ADS_1


Pagi ini, setelah mengurus kematian anakku Prastyo dan Purwo sudah di bawa ke Rumah Sakit kota semalam. Aku lekas mendatangi kediaman lurah Pramono di desa Ketang, dengan mengarahkan beberapa para centengku.


Setelah sampai di kediaman lurah Pramono kami lekas masuk, sebenarnya tidak mudah memasuki pekarangan rumah nya, karna di jaga ketat oleh para centeng nya. Tapi kami mampu masuk, karna centeng yang kubawa lebih banyak.


"Pramono keluar kau." teriakku menggelegar


Namun tak ada sahutan


"Heh Pramono, keluar kau bawa putrmu jal*ng itu." teriakku lagi penuh emosi


Tidak beberapa lama mereka semua keluar, aku melihat Riana berada di punggung Pramono seketika aku tersenyum sinis.


"Akhirnya kau keluar juga pembunuh." sentakku kesal


Pada warga sudah banyak berkerumunan karna bingung apa yang terjadi.


"Jaga ucapan kamu kakang mas, Riana bukan pembunuh." ucap Pramono


"Bukan pembunuh kamu bilang, dia sudah membunuh anakku Prastyo dan Purwo." ucapku berbohong mengenai Purwo


Seketika wajah mereka terkejut sesaat mendengar penuturan ku.


"Purwo juga meninggal." gumam Pramono


"Iya." sentakku kesal


"Tapi kakang tidak bisa menyalahkan Riana seenaknya, bukan Riana pelaku nya." ucapnya


Seketika Pramono menceritakan semuanya, namun aku tidak percaya. Mungkin saja Riana hanya membela diri, bagaimana bisa kedua anakku saling membunuh.


Aku memutuskan untuk pergi karna aku melihat para pengawal Pramono sudah berdatangan, tentu pengawal ku tidak akan sanggup karna kalah jumlah.


...****************...


Malam harinya, aku mengerahkan semua anak buahku untuk membakar rumah kediaman Pramono.


"Kalian semua bakar rumah Pramono sekarang juga, pastikan mereka semua mati." ucapku

__ADS_1


Mereka semua terkejut mendengar ucapanku, namun tidak ada satupun yang menolak mereka semua pergi untuk menjalankan tugas mereka.


Aku hanya tersenyum sinis


__ADS_2