
POV Author
Dengan langkah seribu Ginanjar segera keluar dari rumahnya meninggalkan sosok yang sangat menyeramkan itu, namun anehnya suasana desa seperti desa mati padahal hari masih pagi.
"Tolong." ucap Ginanjar
Namun tidak ada satupun yang menyahut, jangankan untuk menyahut satu orang saja bahkan tidak ada. Hanya kesepian yang terpampang didepan mata, tanpa Ginanjar sadari bahwa hantu Ki Ageng sudah menyesatkan Ginanjar.
Padahal kenyataanya, Ginanjar berpapasan dengan para warga. Namun warga maupun Ginanjar memang dibuat sama sama tidak bisa melihat, dalam pengelihatan Ginanjar hantu Ki Ageng terus saja mengejarnya.
"To...tolong ada hantu." ucap Ginanjar berteriak
Sementara sosok hantu Ki Ageng tampak menyeringai lebar, matanya membola dengan sangat lebar hingga akhirnya sebelah bola mata Ki Ageng jatuh mengelinding tepat dibawah kaki Ginanjar.
"Argghhh." teriak Ginanjar kala bola mata Ki Ageng mengedip ngedipkan matanya
Ginanjar kembali berlari sekencang mungkin, sesekali ia akan melihat kebelakang menoleh kearah sosok hantu Ki Ageng. Meskipun ia tahu sosok itu tidak akan mengejarnya, namun Ginanjar juga tidak bodoh ia tahu sosok itu terus mengikuti nya namun tidak terlihat.
"Tolong." teriak Ginanjar lagi
"Aneh sekali, kemana semua warga di desa ini." gumam Ginanjar merasa aneh
Disaat Ginanjar celingak celinguk melihat kiri kanan namun tidak ada seseorang satupun, hingga Ginanjar kembali menoleh kedepan.
"Arghhh." ucap Ginanjar berteriak
Sosok demit Ki Ageng sudah berada tepat didepan Ginanjar, bahkan mereka saling berpandangan hanya menyisakan jarak sejengkal.
Mulut Ginanjar terasa kelu hanya untuk sekedar berteriak, ingin rasanya ia berlari namun tubuhnya terasa kaku sulit digerakkan. Mata Ginanjar seolah dipaksa saling bertatapan dengan mata Ki Ageng yang membola lebar, saking lebarnya bahkan mata Ki Ageng tampak hampir keluar.
Jarak yang sejengkal membuat Ginanjar merasakan aroma wajah Ki Ageng yang sangat bau busuk, perut Ginanjar seperti diaduk aduk dan memaksa keluar.
Hueekk huekk
Setelah terpaku sesaat, pada akhirnya Ginanjar mampu menggerakkan tubuhnya meskipun untuk memuntahkan segala isi yang ada didalam perutnya.
__ADS_1
Tubuh Ginanjar terasa lemas, makanan yang baru ia makan akhirnya dikeluarkan juga. Mata Ginanjar bahkan tampak berair, wajahnya sudah memerah.
"Hah, sial tenan." ucap Ginanjar kembali mencari cari keberadaan sosok demit Ki Ageng namun tidak ada
"Dasar demit edan, wong sudah mati saja masih menyusahkan." ucap Ginanjar bersungut sungut
Namun sedetik kemudian Ginanjar kembali tersadar, ia kembali memperhatikan sekitar.
Deg
Bulu kuduknya seketika merinding, bulu bulu halus yang berada dalam tubuhnya berdiri seketika. Ia sedang berada dimakam umum, terlihat banyak sekali gundukan tanah merah yang masih baru akibat teluh yang menimpa warga dulu.
"Kenapa aku bisa disini." desis Ginanjar
Ia mengusap usap lengannya untuk meminimalisir rasa takutnya, tanpa membuang waktu Ginanjar segera berlari hendak keluar dari makam.
Hosh hoshh hosh
Tampak Ginanjar ngos ngosan akibat berlari kencang, namun anehnya sudah tiga kali Ginanjar berlari mengelilingi kuburan saja.
"Ini tidak mungkin." ucapnya lagi
Hingga sekali lagi ia pun berlari lari keluar dari makam, sepanjang larian Ginanjar memperhatikan jalan agar tidak salah. Namun setelah lelah berlari, ia masih saja berhenti ditempat yang sama.
"Arghh sial." teriaknya frustasi
"Hihihihi." tiba tiba terdengar suara kuntilanak tertawa
Sontak Ginanjar memperhatikan sekeliling makam, namun tidak ada apapun.
"Aku disini hihihi." ucap sosok kuntilanak itu lagi
Ginanjar kemudian mendongakkan kepalanya keatas, melihat tepat diatas pohon yang berada didepannya.
Deg
__ADS_1
Jantung Ginanjar berpalu cepat, ia melihat sosok demit perempuan dengan rambut sebahu yang menunduk sedang duduk santai di dahan pohon seraya mengayunkan kakinya.
Sosok demit yang sama yang menganggu Nardi dan Wiryo, sosok Hayati yang dibunuh oleh Ginanjar. Sosok itu tampak bersenandung lirih, hingga tiba tiba sosok itu menangis pilu.
"Hiks hiks hiks."
Sedangkan Ginanjar masih terpaku dengan kepala masih mendongak keatas, hingga tiba tiba sosok Hayati tertawa dengan melengking.
"Hihihihihi."
"Pembunuh." ucap sosok itu dengan tatapan tajam mengerikan
Seketika Ginanjar dapat melihat wajah sosok itu dengan jelas, lagi lagi Ginanjar diliputi rasa takut.
"Ka...kamu." ucap Ginanjar terbata ia bahkan tidak mampu melanjutkan ucapannya
"Pembunuh harus mati." ucap sosok hantu Hayati dengan suara menggelegar
Kini rupa sosok Hayati berubah, rupa yang tadinya biasa saja hanya wajah pucat kini berubah menyeramkan. Kini Ginanjar dapat melihat jelas rupa asli sosok hantu Hayati, bibirnya yang pucat membiru sebagaimana biasanya bibir mayat.
Wajah yang tadinya mulus namun pucat pasi kini tidak berbentuk, tidak jauh beda dengan rupa demit Ki Ageng. Wajah sosok Hayati hancur mengelupas dan terdapat banyak tanah kuburan diwajahnya bahkan di sekujur tubuhnya.
Sementara diperut sosok demit Hayati tampak bolong dan mengeluarkan darah yang sangat bau busuk disusul juga dengan belatung yang berjatuhan hingga masuk kedalam mulut Ginanjar yang menganga.
Huekk
Sontak Ginanjar memuntahkan isi didalam perutnya seraya mundur kebelakang, namun seketika ia berhenti kala merasakan seperti ia menabrak seseorang.
Ginanjar kemudian menoleh kebelakang, sosok demit nenek tua sudah berada tepat didepan wajahnya.
"Arghh."
Brukkk
Tubuh Ginanjar ambruk jatuh ke salah satu gundukan tanah yang bernisankan Hayati Ariwijaya bin Yadi Ariwijaya.
__ADS_1
...****************...