
Mbah Sastro pun segera berlalu bersama pangeran Segoro meninggalkan rombongan mang Kurdi, sementara mang Kurdi bersama yang lainnya menuntut penjelasan mbah Bayan. Mbah Bayan yang merasakan semua pasang mata menatap kearahnya menghela nafas sejenak, ia kemudian mengajak mereka duduk dibawah pohon jambu yang tidak jauh dari mereka.
"Ayo kita bercerita disana saja." ucap mbah Bayan seraya menunjuk arah pohon jambu
Spontan mang Kurdi beserta yang lainnya melangkah cepat, mbah Bayan hanya tersenyum melihat antusias mereka.
"Saya hanya akan menceritakan yang saya tahu saja." ucap mbah Bayan
"Tidak apa mbah ceritakan saja." sahut Kemal cepat
Sebelum bercerita, mbah Bayan menghembuskan nafas dalam.
...****************...
Sementara Pangeran Segoro beserta mbah Sastro langsung menuju kearah warga yang sudah banyak tergeletak dijalan, beberapa warga pria sepuh dengan tahun kelahiran sama dengan mbah Bayan tentu tahu siapa mbah Sastro.
Para sepuh itu seketika menyuruh warga yang lain untuk membuka jalan, begitu juga dengan para petinggi desa yang sudah berada disana.
"Mbah." ucap beberapa pria tua seumuran mbah Bayan menyapa dan menyalami mbah Sastro
Beberapa warga lain tampak bingung melihat pangeran Segoro alias Damar datang beserta mbah Sastro, namun tampak pangeran Segoro tidak perduli. Ia hanya fokus melihat beberapa warga yang tergeletak tidak bisa diselamatkan.
__ADS_1
"Adakah diantara kalian yang mau meminjamkan rumah kalian untuk menampung beberapa warga yang masih sadar." ucap pangeran Segoro
"Saya mau.". sahut salah satu warga yang rumahnya tidak jauh dari mereka hanya berjarak sekitar lima langkah saja
"Terimakasih." sahut Damar
Melihat kedatangan Mang Kurdi beserta rombongan, pangeran Segoro segera menyuruh Kemal dan Mahendra menggotong tubuh warga yang masih terlihat sadar kedalam rumah salah satu warga.
Pangeran Segoro lekas berjalan terlebih dahulu masuk kedalam rumah warga yang bersedia meminjamkan rumah miliknya, sementara mbah Sastro memilih untuk mengurus yang diluar.
Tampak pangeran Segoro langsung duduk bersila dilantai, tidak lama Kemal dan Mahendra beserta beberapa warga pria paruh baya datang dengan membawa orang orang yang terlihat seperti mendekati ajal.
"Rebahkan saja." ucap pangeran Segoro
Mereka mengangguk dan keluar untuk membawa warga yang lain, tampak pangeran Segoro segera memejamkan mata. Kedua tangannya ia takupkan ke kedua pahanya, tampak beberapa warga yang masih terlihat sadar tadi pingsan karena terlalu lama menahan sakit.
Sementara diluar, mbah Sastro pun tampak melakukan hal yang sama dengan duduk bersila dan memejamkan mata. Tampak warga semakin bertambah, ada juga beberapa warga yang berjalan tergopoh gopoh mendekati arah mbah Sastro.
Mereka berjalan sempoyongan dengan menyentuh dada menahan rasa sakit dan perih, disusul dengan batuk yang tidak berhenti dan mengeluarkan darah segar dari mulut. Tampak darah itu berwarna merah kehitaman dan anehnya ada beberapa seperti paku kecil, hingga setelah hampir dekat dengan mbah Sastro mereka pun seketika terjatuh ketanah dengan darah yang berceceran.
Hingga pagi menjelang siang, dan siang menjelang senja tampak sudah banyak beberapa warga yang selamat karena sudah diobati oleh mbah Sastro dan pangeran Segoro. Mereka tampak sadar diri pingsan nya, batuk berkepanjangan dan darah segar kini sudah berhenti.
__ADS_1
Mereka pun disuruh pulang agar ada tempat untuk warga yang lain, sementara mbah Sastro dan pangeran Segoro tampak sudah sangat lemas. Mereka mengerahkan seluruh ilmunya untuk membantu warga, darah segar mengalir deras dari hidung dan mulut mereka berdua.
Tubuh mbah Sastro dan pangeran Segoro sudah sangat lemas dan dipenuhi oleh darah, mereka berdua hampir tidak kuat dan hampir ikut terjatuh seperti para warga.
Suasana sore itu di desa Ketang sungguh mengerikan, entah sumpah Nyi Danuwati yang berjalan atau ini semua justru karena ulah wanita cantik itu.
Desa Ketang sudah seperti tempat para mayat, dimana tubuh warga yang sudah terbujur kaku tergeletak begitu saja di jalan. Dimana para mayat lebih banyak dibandingkan dengan yang selamat, beberapa warga yang tidak terkena penyakit aneh itupun tampak kwalahan.
Tok tok tok
Setelah pintu diketuk seseorang kemudian pintu pun terbuka menampakkan wajah manis khas pemuda desa, Kemal pun bertanya kepada pangeran Segoro.
"Apa sudah selesai Mar? Eh Segoro, para warga diluar semakin banyak jika dibiarkan lebih lama lagi pasti akan meninggal." ucap Kemal
"Sebentar lagi." sahut pangeran Segoro
Kemal merasa prihatin melihat sang sahabat dengan kondisi seperti itu, dimana darah segar tidak berhenti mengalir dari hidung dan mulut sejak siang tadi tidak jauh berbeda dengan mbah Sastro.
"Baiklah, aku akan membantu diluar."
Tanpa menunggu jawaban pangeran Segoro, Kemal langsung menutup pintu. Hingga tepat ditengah malam, mereka pun berhasil membantu warga meskipun yang selamat tidak lebih dari setengah nya.
__ADS_1
Para warga yang tidak dapat diselamatkan akan dimakamkan besok, tampak pangeran Segoro dan mbah Sastro kelelahan hebat.
...****************...