Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Istana Keraton Mbah Sastro


__ADS_3

Sepeda terus melaju hingga keluar dari perbatasan desa, jalan besar sudah terlihat walaupun belum terkena aspal, hanya ada bebatuan kecil maupun besar.


Damar pun mulai mengayuh sepeda dengan pelan, karena jalan besar yang mereka lewati terdapat banyak lubang. Bahkan berkali kali ia berhenti karena ban sepedanya masuk kedalam lubang, mengharuskan ia turun dari sepeda dan mengangkat sepedanya dari dalam lubang.


"Pelan pelan saja nak." ucap mbah Sastro


"Njih mbah." sahut Damar


Sepeda pun kembali dilajukan dengan pelan, hingga sekitar setengah jam mereka pun sampai di perbatasan kota.


"Lalu kita kemana lagi mbah?" tanya Damar


"Lurus saja nak Damar, setelah terlihat belokan ambil jalur kiri." sahut mbah Sastro memberi arahan


Tanpa menjawab Damar segera mengikuti arahan yang diberikan oleh mbah Sastro, didepan sana terlihat ada dua belokan. Segera Damar mengambil jalur kiri, hingga sepeda pun masuk kejalan yang hanya bisa dilalui oleh satu orang.


Semak semak belukar yang sudah setinggi pinggang orang dewasa mereka lalui, tidak jarang pula lengan Damar tergores oleh daun yang tajam atau ranting kayu.


Hingga tidak berapa lama, didepan mereka terlihat hamparan lautan yang luas dan lebar. Bahkan mungkin dengan kedalaman yang lumayan, segera mereka berdua turun dari sepeda.


'Jadi ini lautan yang dikatakan oleh mbah Bayan yang penguasa nya adalah mbah Sastro sendiri, luar biasa sekali.' batin Damar seraya memandang takjub lautan yang ada didepan mata


"Betul, nanti ini akan menjadi milik kamu." ucap mbah Sastro yang bisa membaca pikiran Damar


"Maksudnya menjadi milik saya apa mbah?" tanya Damar yang bingung dengan ucapan mbah Sastro


Namun lagi lagi mbah Sastro tidak menjawab, ia hanya terus menatap lurus kedepan.


"Ayo." ucap mbah Sastro seraya berjalan


Namun baru selangkah berjalan ia sudah berhenti, kemudian menoleh kebelakang dan menatap Damar yang kebingungan.


"Kita pakai cara lain saja, tidak aman jika ada yang melihat." ucap mbah Sastro

__ADS_1


Damar hanya mengangguk pelan.


"Pegang pundakku nak." ucap mbah Sastro


"Njih mbah." sahut Damar seraya memegang kedua pundak mbah Sastro


Terlihat mbah Sastro menoleh kesana sini memastikan jika tidak ada orang, setelah dirasa sepi dan aman mbah Sastro kemudian menyuruh Damar memejamkan mata.


"Tutup matamu le." ucap mbah Sastro


"Baik mbah." sahut Damar


Walaupun Damar merasa aneh, tetap saja ia mengikuti semua perintah mbah Sastro. Terlihat mulut mbah Sastro komat kamit merapalkan suatu ajian tanpa bersuara, hingga tidak lama ia berhenti merapalkan ajian.


"Buka matamu le." ucap mbah Sastro


Perlahan Damar melepaskan pegangan tangannya dari pundak mbah Sastro, kemudian secara perlahan ia pun membuka matanya pelan. Setelah matanya terbuka lebar, seketika Damar terbelalak.


Didepan sana, dari jarak yang tidak terlalu jauh dan tidak juga terlalu dekat terlihat sebuah istana keraton megah. Dengan dijaga ketat oleh pria berpakaian seperti prajurit jaman dulu, di masing masing tangan mereka memegang tombak yang sangat tajam dan runcing.


Bahkan disisi kanan dan kiri gerbang terlihat sepasang makhluk yang sangat besar dan berbulu lebat, dengan kuku dan taring yang panjang dan tajam. Serta mata yang merah menyala, sedang menjaga gerbang.


Sontak melihat makhluk itu spontan Damar bergidik ngeri, ia merasa ketakutan.


"Itu adalah sosok gendoruwo." ucap mbah Sastro yang melihat ketakutan Damar


Belum hilang ketakutan Damar, saat menoleh kearah mbah Sastro ia semakin dibuat terkejut dan ketakutan. Dibelakang mbah Sastro terdapat banyak makhluk makhluk yang mengerikan berjejeran persis seperti penjual dipasar, ada yang seperti manusia namun dalam kondisi yang mengerikan. Seperti, wajah mereka sudah hancur dan berdarah.


Ada juga yang berbadan manusia namun berkepala hewan, dan masih banyak lagi jenisnya hingga membuat perut Damar terasa diaduk aduk. Apalagi saat semua makhluk itu menatap kearah Damar, seketika Damar merasa mual.


"Mereka semua adalah warga disini." ucap mbah Sastro menjelaskan


"Warga." gumam Damar

__ADS_1


"Benar nak, sama seperti alam manusia. Dialam goib ini pun terdapat warga, hanya saja dengan kondisi yang berbeda dengan manusia. Bahkan, mereka juga melakukan aktivitas sama seperti manusia pada umumnya." ucap mbah Sastro lagi menjelaskan


"Ohh.." Damar hanya terperangah


"Ayo." ucap mbah Sastro mengajak Damar


Mereka pun kembali berjalan dengan diperhatikan oleh banyak pasang mata, hingga berada didepan gerbang. Semua para prajurit beserta dua gendoruwo memberi hormat kepada mbah Sastro, dengan cara mengatupkan kedua tangan mereka didepan dada dan membungkuk.


Damar kembali terperangah melihat perlakuan mereka terhadap mbah Sastro, kemudian mbah Sastro dan Damar pun kembali berjalan masuk kedalam istana keraton yang megah.


Didalam istana, sama saja seperti istana istana di alam manusia. Bahkan, istana dialam goib ini jauh lebih megah dibandingkan di alam manusia.


Dengan berdindingkan emas, bahkan hampir semua terbuat dari emas. Damar hanya bisa memandang takjub, mbah Sastro hanya tersenyum memperhatikan Damar.


Hingga sampai diruang makan, mereka disuguhkan oleh para danyang sari berbagai olahan makanan yang lezat. Ada ayam bakar, ikan bakar, dan masih banyak hidangan yang lain.


"Ayo dimakan dulu nak, besok saja saya ajarkan latihan." ucap mbah Sastro


Seketika senyum Damar yang sedari tadi merekah kini memudar.


"Jadi saya tidak pulang mbah?" tanya Damar dalam hati sudah merasa was was


Ia takut jika sang ibu merasa khawatir dan cemas, mbah Sastro yang mengerti kegelisahan Damar pun membuka suara.


"Kamu jangan khawatir, Bayan akan mengatakan nya pada ibumu. Kamu tenang saja le, ibumu sudah tahu jika kamu memang anak pilihan. Hingga tiba waktunya, siap tidak siap, mau tidak mau, ia memang harus melepas mu demi desa itu." ucap mbah Sastro


Damar seketika terkejut, detik kemudian ia menghela nafas panjang. Ia merasa tidak punya pilihan lain selain pasrah, lagi pun ini demi menyelamatkan desa pikirnya.


"Sudah, mari makan dulu saja." ucap mbah Sastro


Damar pun mengangguk, mereka pun kini makan dengan lahap.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2