Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Berduka


__ADS_3

Sementara dikediaman yang ditempati oleh mbok Sri, diwaktu yang bersamaan terlihat sebuah asap berwarna hitam pekat masuk melalui lubang ventilasi dan melayang. Mbok Sri yang sedang asyik memasak tidak menyadari, hingga disaat mbok Sri berbalik asap hitam itu lekas masuk kedalam tubuh mbok Sri melalui rongga hidung.


Dengan cepat pula raut wajah mbok Sri berubah, dengan tatapan kosong dengan pandangan lurus kedepan. Ekspresi mbok Sri sangat datar, hingga tiba tiba sebelah tangannya menarik benang merah yang terikat disebelah nya lagi.


Kemudian ia membuang asal benang merah itu, tampak bibir mbok Sri mengukir senyuman miring. Mbok Sri pun memiringkan kepalanya ke sebelah kiri hingga berbunyi.


Krekkk


Lalu tidak lama terdengar derap langkah, tidak lama muncul lah ibunya Damar dan berteriak histeris.


"Aaaa tolong." ucap ibunya Damar berteriak kala melihat mbok Sri yang menyeramkan


Tampak mbok Sri sedang asyik memiringkan lehernya berkali kali hingga menimbulkan suara, bahkan seperti patah.


"Kamu kenapa mbak yu?" tanya ibunya Damar masih ditempat yang sama karena takut menghampiri mbok Sri


"Tolooongg." teriaknya lagi menggema


Hingga tidak berselang lama, terdengar ada banyak derap langkah berlarian.


"Ada opo toh iki?" tanya salah satu pria paruh baya yang terlebih dulu sampai disusul dengan beberapa warga

__ADS_1


"Tolong mbak yu Sri kang, sepertinya dia kesurupan." sahut ibunya Damar ketakutan melihat pemandangan didepan mata


Sontak semua pasang mata yang berada dirumah itu melihat kearah mbok Sri, tampak mbok Sri menyeringai seram. Kemudian sebelah tangannya meraih pisau dapur yang tadi dipakai mengiris bawang dan cabai, tidak terbayangkan betapa perihnya jika pisau itu menggores tubuh.


"Hahahaha." tawa mbok Sri terdengar serak ganda dan menggelegar


Kemudian pisau yang digenggam dengan secepat kilat ia tusukkan ke lehernya.


"Arghhhh tidak." ibunya Damar berteriak histeris meraung raung


"Mengapa seperti ini hiks hiks." gumamnya lagi


Terlihat mbok Sri dengan kondisi memperihatinkan, darah bercucuran hingga menggenang dilantai yang terbuat dari papan. Bahkan, sama seperti banjir. Bukan banjir hujan, melainkan darah.


Tampak lubang dileher mbok Sri lebar menganga, bahkan terlihat jelas tulang tenggorokan. Ibunya Damar yang menyaksikan kejadian itu terlihat menangis meraung raung, kemudian pingsan.


Hingga beberapa warga yang perempuan mengangkat tubuh ibunya Damar kekamar, sedangkan yang pria berbagi tugas. Sebagian memanggil mantri, modin, dan lurah atau petinggi desa yang lain.


...****************...


Disisi lain, tepatnya diatas bukit yang diapit oleh banyak pepohonan hingga terlihat mencekam.

__ADS_1


"Apa yang kau ketahui Buto, mengapa dada ku tiba tiba saja berdebar dan sakit." ucap Riana


Sementara yang ditanya hanya bisa menunduk, tampak Buto Ireng tidak mampu berkata kata.


"Mengapa kau diam, apa yang kau ketahui jawab!" sentak Riana yang mulai gusar


"Nyi Warsih telah mencelakai mbok Sri." sahut Buto Ireng


Hening, Riana terpaku mendengar penuturan Buto Ireng. Hingga tiba tiba gadis itu bangkit, dengan menggunakan kekuatan nya ia melesat cepat menembus pepohonan hingga meninggalkan sekelebat bayangan.


Tidak membutuhkan waktu lama, ia sampai di desa Sumbul. Segera ia berjalan seperti manusia biasa, dari kejauhan ia bisa melihat jelas karena pintu terbuka lebar.


Ia melihat tepat diruang tengah telah terbaring tak bernyawa seorang wanita paruh baya, Riana mengepalkan kuat kedua tangannya hingga buku jari terlihat memutih. Bahkan, kukunya melukai telapak tangannya hingga mengeluarkan darah segar.


"Kau telah melewati batasan mu Nyi Warsih." gumam Riana


Tidak ada air mata, hanya ada pancaran kemarahan dari kedua matanya. Ia mengikuti setiap proses pemakaman mbok Sri dari jauh, ia tidak ingin warga melihatnya.


Hingga setelah menjelang sorop pemakaman pun selesai, segera Riana melesat cepat kembali keatas bukit. Didalam kamarnya yang gelap gulita, ia menumpahkan semua tangisan yang sedari tadi dipendam.


"Aku akan membalaskan dendam ku, apa yang kalian pikirkan hah. Kalian berfikir selama ini aku masih diam karena aku lemah, lihat saja aku akan menghancurkan kalian semua para bedebah." Riana berteriak didalam kamarnya

__ADS_1


...****************...


__ADS_2