Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Seperti Orang Gila


__ADS_3

Sementara itu, masih dihari yang sama namun ditempat yang berbeda tampak pemuda namun tidak pantas disebut pemuda karena usianya yang sudah kepala tiga tersebut tersentak. Ia yang tadinya sedang asik bersantai dengan temannya yang sesama bertemu dikota tiba tiba teringat akan kampung halaman, tiba tiba saja ia ingin pulang padahal ia sengaja menjauhi desa itu.


"Ada apa Din? Kok sampeyan seperti orang linglung begitu." ucap temannya menanyakan perasaan Nurdin


Yah, dialah Nurdin. Yang tidak lain yang tidak bukan salah satu anak buah Ginanjar yang hanya tersisa tiga orang saja sekarang, ia melarikan diri ke kota dengan alasan sama dengan teman seperjuangan nya. Yaitu takut akan diteror, mereka semua memang pernah mengalami.


"Tidak ada kang, hanya saja kok aku tiba tiba pengen pulang kampung ya." sahut Nurdin


"Mungkin sampeyan rindu keluarga sampeyan, atau bisa saja keluarga sampeyan sedang ada masalah itu sebabnya sampeyan punya ikatan batin." ucap temannya itu


Nurdin menggeleng kepala pelan.


"Tidak kang tidak ada, saya sudah tidak punya keluarga. Saya sekarang hidup sendiri hanya sebatang kara, orang tua saya sudah meninggal waktu saya masih kecil." sahut Nurdin

__ADS_1


"Oalah maaf yo Din saya tidak tahu, kalau begitu mungkin saja sampeyan sedang rindu."


"Mungkin kali ya kang."


"Kenapa sampeyan tidak pulang kampung saja?"


"Eh anu."


"Anu opo?"


Walaupun Nurdin menunduk namun pandangannya terlihat kosong, wajah Nurdin juga berubah menjadi datar tanpa ekspresi sama sekali. Persis seperti orang linglung karena tidak tahu arah jalan, temannya pun seketika merasakan hawa tak sedap.


"Yowes kalau begitu saya balik dulu yo Din, kalau sampeyan mau pulang ya pulang saja toh masih bisa balik kesini." ucap temannya itu

__ADS_1


Namun Nurdin tidak menjawab, temannya merasa aneh namun lebih besar rasa takutnya maka dari itu tanpa menunggu jawaban ia segera pergi meninggalkan Nurdin. Setelah ia pergi dan membelakangi Nurdin, Nurdin seketika mengangguk pelan dengan gerakan slowmotion.


Setelahnya Nurdin mengangkat kepalanya dan menyeringai lebar, kemudian tanpa ba bi bu Nurdin segera melompat dan berlari hendak menuju terminal. Aneh memang, ia bahkan tidak membawa pakaian entah ia punya pegangan uang atau tidak.


Lebih anehnya lagi, ia terus berlari kencang tanpa kenal lelah padahal kendaraan umum banyak yang lewat namun Nurdin tidak berniat untuk menaiki nya. Beberapa pasang mata yang melihat Nurdin langsung menyimpulkan bahwa Nurdin orang gila, tanpa memikirkan bagaimana bisa orang gila serapi Nurdin.


Peluh sudah membanjiri seluruh tubuh Nurdin, namun ia seolah tidak mengenal lelah dan terus berlari kencang dengan pandangan kosong terarah kedepan. Beberapa orang yang hendak menghadang tidak bisa, karena Nurdin berlari sangat kencang bahkan lebih kencang dari lajuan kendaraan.


Butuh waktu hampir dua jam untuk Nurdin sampai diterminal karena lebih memilih berlari, dan anehnya ia sudah tiba di terminal pun masih tidak berniat untuk menaiki bus. Ia lebih memilih kembali lagi berlari di jalanan yang lurus, berlari tanpa henti.


Tidak ada yang menyadari bahwa Nurdin sedang berperang dengan dirinya sendiri, lebih tepatnya dengan sosok yang mengendalikan diri Nurdin. Ia tidak sepenuhnya hilang kendali, ia masih sedikit sadar.


Namun ia tak kuasa karena sosok yang mengendalikan diri Nurdin sangat kuat, namun yang merasa letih hanya Nurdin saja. Ia ingin berhenti barang sejenak untuk beristirahat, namun tubuhnya tidak sejalan dan terus berlari.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2