
Beberapa warga kemudian membantu menurunkan mayat Udin yang menggantung, butuh waktu untuk menurunkan jasadnya karena tali tambang yang mengikat lehernya sangat erat. Mereka harus berhati hati dalam memotong tali, atau jika tidak maka jasad Udin akan terjatuh dengan ketinggian yang lumayan.
Sret Sret Sret
Suara tali yang dipotong menggunakan golok begitu menggema dimalam hari, beberapa warga lagi memegang tubuh dan kaki Udin dari dahan pohon yang berbeda.
Hingga setelah sekian lamanya menunggu, kini jasad Udin sudah dibaringkan diatas tandu yang dibawa tadi. Peluh membanjiri tubuh mereka meskipun hari masih malam, dan dingin begitu kentara.
"Sebaiknya kita bawa saja sekarang ke balai desa, dan beritahu kepada bude Tuti." ucap Pangeran Segoro
"Baiklah, ayo kita angkat." sahut yang lain
Empat orang warga kemudian mengangkat tandu yang berisi jasad Udin di atas nya, satu warga berjalan paling depan seraya menyinari jalan menggunakan lampu petromak.
"Pelan pelan saja." ucap Pangeran Segoro yang berjalan paling belakang
Beberapa kali mereka hampir tergelincir karena memang tanah yang lembab, ditambah suasana sangat lah gelap. Cahaya dari lampu petromak hanya mampu menyinari sebagian jalan saja, jadilah mereka berjalan dengan cahaya remang remang.
"Suasananya sangat mencekam yo." ucap salah satu satu warga yang berjalan didepan Pangeran Segoro
"Sudah jangan dilihat lihat, fokus ke jalan saja." sahut Panjul
__ADS_1
Setelah lama berjalan, kini mereka sudah tiba di balai desa. Mayat Udin sudah diletakkan berjejer disamping Yayan dan Mamat, kini sudah ada tiga mayat yang tergeletak dengan berjejer rapi.
Suasana pun kini mulai mencekam membuat bulu kuduk berdiri, beberapa kali mereka menoleh kesana kemari karena merasa ada yang memperhatikan. Namun nihil, tidak ada apapun.
"Kok luwih medeni?" tanya salah satu warga seraya mengusap tengkuknya yang meremang
(Kok tambah menakutkan?)
"Iyo yo." sahut yang lain
"Wes, aja kuwatir." ucap Pangeran Segoro menenangkan warga
(Sudah, jangan khawatir.)
"Dalam satu hari ada tiga mayat, hiy seram." ucap Jojo seraya bergidik ngeri
"Betul, bahkan ketiga mayat itu justru berjejer disini." sahut Panjul
"Aku yo dari awal memang sudah tidak yakin dengan si Udin, tapi tetap saja aku tidak menyangka jika ia meninggal dengan cara gantung diri." timpal yang lainnya
"Ini masih berurusan dengan penguasa hutan larangan, atau si Udin punya masalah lain yo?" tanya warga yang lain
__ADS_1
"Ora tahu kang."
"Tapi menurutku yo sepertinya memang masih berhubungan, coba sampeyan pikirkan bagaimana caranya si Udin bisa ada diatas. Meskipun masuk akal, tapi yo tetap saja ada yang janggal."
"Bener."
Kemal yang mendengar hal itu meringis merasa ngeri dengan percakapan para bapak bapak, Pangeran Segoro yang sedari tadi diam menyimak semua asumsi mereka kini buka suara.
"Sudah lebih baik jangan dibahas lagi, kasihan mereka yang sudah tiada. Lagipula tidak baik juga menduga duga, kita semua tidak ada yang tahu pasti penyebabnya toh." ucap Pangeran Segoro yang dibalas anggukan oleh warga
Tentu saja Pangeran Segoro berbohong, karena faktanya ia mengetahui semua yang terjadi pada ketiga mayat yang berjejer itu.
Mereka pun kini sibuk dengan pikiran masing masing seraya menunggu pagi tiba, mereka tampaknya sudah tidak tahan berada disana. Kulit mereka sudah digigit oleh beberapa nyamuk, ditambah aroma busuk yang menguar dari jasad Yayan dan Mamat mengundang hewan hewan yang berterbangan lebih banyak lagi.
"Mambu." ucap Kemal yang sudah tidak tahan seraya menutup hidung dengan baju yang ia pakai
(Baunya)
Pangeran Segoro hanya terkekeh geli melihat sahabatnya itu, tampak wajah Kemal sudah memerah akibat menahan bau busuk sedari tadi.
"Kok ngguyu?" ketus Kemal seraya mendelik tak suka
__ADS_1
(Kenapa kamu tertawa?)
Pangeran Segoro pun semakin tersenyum lebar menahan tawanya agar tak pecah, disaat situasi sedang genting ada saja suasana yang membuat lucu.