
"Apa yang terjadi?" tanya Pangeran Segoro masih menatap lurus didepan sana
Tampak dua manusia tergeletak begitu saja di hamparan rumput rumput, entah sudah meninggal atau belum Pangeran Segoro tidak tahu. Leher nya yang terkulai tidak kelihatan dengan jelas karena posisi mereka sedang terlentang, namun mata mereka mendelik keatas seolah melihat sesuatu yang mengerikan.
"Seperti yang kau lihat." sahut Nyi Danuwati
Rahang Pangeran Segoro semakin mengerat menahan emosi, wajahnya bahkan sudah memerah.
"Apa yang kau lakukan!" seru Pangeran Segoro berteriak tepat didepan wajah Nyi Danuwati karena jarak mereka hanya beberapa inci saja
Nyi Danuwati seketika mendongak keatas menatap Pangeran Segoro yang juga menatapnya dengan tatapan tajam, kini mata mereka beradu pandang dengan penuh kebencian.
"Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu, karena aku ingin aku sendiri yang akan membunuh nya." ucap Pangeran Segoro lagi
"Hahahaha." Nyi Danuwati tertawa terbahak bahak diiringi dengan pepohonan yang bergoyang seolah mengikuti kebahagian Nyi Danuwati
Pangeran Segoro terkesiap seketika, ia menatap wajah Nyi Danuwati dengan bingung.
"Seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku meringankan beban mu, aku sudah membunuh kedua manusia yang tidak berguna itu. Dan jangan lupakan satu hal, bukan hanya kau yang memiliki dendam padanya. Tapi aku juga, aku juga ingin membalaskan dendam ku karena mereka menghancurkan keluarga Pramono." ucap Nyi Danuwati penuh penekanan
"Lagian bukankah manusia suci sepertimu tidak akan pernah sanggup memberi mereka pelajaran, manusia yang suci dan sangat bersih sepertimu tidak pantas untuk membunuh." ucap Nyi Danuwati lagi menohok seraya tersenyum sinis menatap Pangeran Segoro
__ADS_1
"Tutup mulutmu."
"Sudahlah, alangkah baiknya kau tidak perlu mengotori tanganmu yang suci itu hanya untuk memberi mereka pelajaran. Dan sebaiknya kau lekas pergi dari sini, dan jangan lupa bawa mayat kedua manusia tidak berguna itu."
Setelah mengatakan itu, Nyi Danuwati lekas berbalik dan pergi meninggalkan Pangeran Segoro yang masih terpaku ditempat ia berdiri. Setelah Nyi Danuwati menghilang dari pandangan, barulah Pangeran Segoro tersadar.
Kemudian ia lekas mengangkat tubuh Yayan dan Mamat satu per satu keluar dari hutan larangan, setelah itu Pangeran Segoro melakukan telepati kepada mbah Sastro karena itu akan lebih mudah dibanding yang lain karena mbah Sastro bukan orang sembarangan.
Pangeran Segoro segera duduk bersila, kedua tangan ia letakkan diatas paha masing masing. Kemudian Pangeran Segoro segera fokus untuk mencapai titik, setelahnya Pangeran Segoro segera memberi kode kepada mbah Sastro untuk datang kehutan larangan.
...****************...
Mbah Sastro sendiri sedang duduk bersantai seraya meminum kopi bersama rombongan mang Kurdi, mbah Bayan, dan Kemal. Mereka duduk berhadapan diatas amben bambu yang berada diluar, kebetulan amben bambu itu ada dua. Walaupun memanjang dan masih cukup untuk diduduki lima orang lagi, tapi Kemal dan mang Kurdi memilih duduk didepannya dan berhadapan dengan mbah Sastro dan mbah Bayan.
Karena jujur saja, Kemal masih belum terbiasa akan itu semua.
"Sebentar lagi pasti pulang." ucap mang Kurdi
Ditengah asik berbincang, mbah Sastro merasa dadanya berdebar kencang. Kemudian ia pamit sebentar dengan alasan ingin ke sumur yang terletak dibelakang rumah, namun faktanya mbah Sastro masuk kedalam kamarnya.
"Siapa yang ingin berbicara padaku, atau jangan jangan Pangeran Segoro." gumam mbah Sastro
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, mbah Sastro pun segera duduk bersila dan memejamkan mata. Dapat ia lihat Pangeran Segoro yang sedang cemas, bukan rogoh sukmo tapi mbah Sastro melihat Pangeran Segoro dalam pikiran nya.
'Ada apa?' batin mbah Sastro
"Tolong datang kesini mbah." ucap Pangeran Segoro yang hanya mbah Sastro yang dapat mendengar karena kata kata itu hanya terlintas dipikiran mbah Sastro
Mbah Sastro kemudian membuka mata kembali, sebelum beranjak ia menghela nafas sejenak. Setelah itu mbah Sastro segera keluar menemui rombongan, dapat mereka lihat wajah mbah Sastro masih menyiratkan sesuatu meskipun ia sudah mencoba untuk bersikap normal.
"Ada apa mbah?" tanya mbah Bayan
"Kita harus kehutan larangan sekarang, sebaiknya ajak beberapa warga lelaki sekalian." sahut mbah Sastro
Mendengar kata hutan larangan membuat Kemal dan mang Kurdi terbelalak kaget.
"A..apa mbah? Hutan larangan? Memang ada perlu apa kita kesana?" tanya Kemal beruntun dengan dada naik turun
Bagaimana tidak, kata hutan larangan seolah menjadi kata keramat bagi warga desa Ketang. Bukan karena selama ini teror yang menimpa desa berasal dari sana, karena dulu beberapa tahun atau bahkan beberapa generasi dulu juga hutan larangan menjadi kata terlarang bagi mereka.
"Kita akan menyusul Pangeran Segoro." sahut mbah Sastro
Mulut Kemal terasa kelu, walaupun ia ingin berkata tidak namun tidak urung juga ia mengangguk.
__ADS_1
...****************...