Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Sesajen


__ADS_3

Sesampainya ditempat kejadian, mbah Sastro berserta yang lainnya pun dapat melihat dengan jelas jasad Juki yang mengenaskan. Dengan bola mata yang melotot keatas, leher yang kebiruan melingkar serta mulut yang menganga dapat terlihat jika ia mengalami kesakitan sebelum kematian.


Berbagai ekspresi pun terlihat dari setiap wajah, ada yang merasa prihatin, sedih, ngeri, dan berbagai ekspresi lainnya. Tidak lama lurah pun datang dan bergabung ditengah tengah mereka, kemudian pak lurah menyuruh beberapa warga untuk menggotong jasad Juki diatas tandu.


Semua warga yang berada ditempat kejadian pun seketika ikut membubarkan diri, karena jasad Juki akan dibawa kerumah nya. Sementara dua orang yang dulu dekat dengannya ikut melihat kondisi jasad Juki yang mengenaskan, tampak mereka terheran heran dengan apa yang menimpa Juki.


"Aneh toh, kenapa si Juki bunuh diri?" tanya Yayan


Sementara Mamat orang yang ditanya hanya mengedikkan kedua bahu.


"Ora mungkin kalau Juki mengalami depresi, memangnya dia memiliki masalah?" tanya Yayan lagi


"Atau ada yang sengaja membunuhnya terus digantung di kebun untuk menghilangkan bukti." sahut Mamat seraya menoleh kearah yayan dengan wajah serius


"Tapi siapa? Toh selama ini Juki tidak punya musuh." tanya Yayan berfikir


"Entahlah, tapi si bos kemana yo." gumam Mamat


"Kok takon aku?" sahut Yayan seraya mendelik


(Kok tanya aku?)


Sementara Mamat hanya bisa meringis, seraya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

__ADS_1


"Tapi aneh juga yo, mosok bos Ginanjar tidak pernah kelihatan." ucap Yayan yang kali ini membuat Mamat memutar bola mata malas


"Wes lah, sementara kita juga baru kembali kemarin." sahut Mamat


Disaat mereka melewati rombongan mbah Sastro, tampak kedua pria itu meringis seraya bergidik ngeri. Pasalnya, mbah Sastro menatap mereka dengan lekat lekat dan sangat dalam. Seolah tatapan itu tersirat akan sesuatu, sementara yang lain menatap mereka dengan garang terlebih Kemal. Bahkan, bola mata Kemal hampir keluar dari sarangnya.


"Permisi mbah." ucap Yayan seraya berjalan dengan cepat entah mengapa disaat berdekatan dengan mbah Sastro mereka merasakan hawa yang tidak biasa


Sementara mereka berdua belum kenal dan bahkan tidak tahu pasti siapa mbah Sastro, karena usia Yayan dan Mamat tidak jauh berbeda dengan Kemal. Mereka sama sama pemuda desa, hanya saja usia Yayan dan Mamat tiga tahun lebih tua daripada Kemal.


"Aku mencium aroma kematian." celutuk Kemal disaat Yayan dan Mamat sudah menjauh


"Oalah lambemu iki Mal." sahut mang Kurdi seraya menepuk pundak Kemal


...----------------...


Hingga malam kembali datang menyapa desa Ketang, hawa dingin sedingin es hingga menusuk tulang begitu terasa. Suara jangkrik dan burung hantu terdengar bersahut sahutan menghiasi kesunyian desa, ditambah dengan lolongan hewan liar dihutan membuat hawa semakin mencekam.


Seperti biasa, waktu masih menunjukkan pukul 19:00 namun desa sudah seperti desa mati. Pukul tujuh malam para warga sudah berlomba lomba meringkuk dibawah selimut yang tebal, tidak ada yang berani keluar walaupun hanya untuk ke dapur.


"Kenapa kita tidak berangkat sekarang saja." ucap Mamat seraya menutup hidung kuat kuat kala aroma anyir busuk menguar memenuhi ruangan sepetak itu


"Nanti ada yang lihat pie?" tanya Yayan

__ADS_1


"Iki bau sekali, bau bangkai dan darah aku tidak kuat. Lagian, sampeyan lihat sendiri kan desa sudah sepi tidak ada satu orang pun."


"Tapi melakukan ritual seperti itu memang harus dijam khusus, dan biasanya orang orang yang melakukan ritual seperti itu memang tengah malam."


"Tapi ini bau sekali."


"Tahanlah sebentar lagi."


Mereka berdua pun memilih untuk tidak tidur, takut jika tidak bisa bangun dan sia sia sudah mereka memenggal kepala kerbau. Hawa dingin masih saja mampu menusuk kulit Mamat yang sudah dilapisi kain sarung membuat ia menggigil, begitu juga dengan Yayan. Hawa dingin ini membuat mereka terkantuk-kantuk, namun sebisa mungkin mereka harus bertahan.


Hingga beberapa jam telah dilewati dengan wajah kusut akibat sudah sangat ngantuk, kini waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 mereka pun segera bersiap.


"Masih jam sepuluh Yan." ucap Mamat dengan suara serak khas orang yang sangat mengantuk


"Kita harus berangkat sekarang karena hutan larangan itu lumayan jauh." sahut Yayan yang seketika membuat Mamat terbelalak kaget


Mau tidak mau Mamat pun bangkit dari duduknya dan keluar dari rumah seraya membawa nampan, bukan nampan kecil untuk suguhan teh. Melainkan nampan besar yang terbuat dari bambu yang dianyam sedemikian rupa hingga berbentuk bulat, begitu juga dengan Yayan.


Nampan yang dipegang oleh Mamat berisi sesajen, seperti kembang tujuh rupa, darah ayam cemani, dupa, kemenyan, jeruk nipis, tidak lupa dengan ayam cemani yang sudah mati. Tidak seperti sesajen yang lain yang berisi jajanan pasar, serta hasil panen. Karena, Yayan dan Mamat akan melakukan ritual seperti pesugihan untuk mendapatkan kekayaan.


Sementara nampan yang dipegang oleh Yayan berisi dua kepala kerbau yang sudah ditutupi dengan daun pisang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2