Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Ingin Berbicara


__ADS_3

Menjelang siang hari, semua persiapan pemakaman sudah disiapkan. Kini mereka akan mengantarkan ketiga mayat itu ke liang lahat, sepanjang membenahi jenazah banyak sekali masalah masalah yang menghampiri.


Dari mayat Udin yang tiba tiba mengeluarkan belatung yang menggeliat di sekujur jasad Udin, dan tiba tiba saja tubuh yang tadinya kurus dan ringan kini terasa berat. Bahkan sudah ada lima orang yang mengangkat tubuh itu, namun masih nihil hingga setelah di doakan barulah kembali seperti sedia kala.


Sementara jasad Yayan tidak jauh berbeda dengan Mamat, jasad kedua manusia itu selalu mengeluarkan bau bangkai busuk yang sangat menyengat. Hingga beberapa warga yang dipilih mbah Sastro untuk mengurus kedua jasad itu sudah tidak tahan dengan baunya, beberapa ada yang pingsan dan muntah muntah.


Setelah mengalami begitu banyak drama kini jenazah sudah siap untuk diantarkan ketempat peristirahatan terakhir, mereka pun pergi meninggalkan balai desa menuju makam umum.


"Mengapa ketiga mayat itu seperti itu?" tanya salah satu warga seraya berjalan


"Seperti opo toh?"


"Sampeyan tadi lihat sendiri toh, mosok mayitnya mengeluarkan belatung dan banyak lagi masalah nya."


"Entahlah kang, entah kesalahan apa yang mereka lakukan sehingga mereka seperti ini. Sudah begitu mereka meninggal secara bersamaan begini, buat orang berfikir buruk saja."


"Amit amit yo kang, saya tidak mau meninggal seperti itu kasihan anak istri saya."


Setelah cukup lama akhirnya proses pemakaman sudah selesai dilaksanakan, kini mereka kembali pulang kerumah masing masing. Beberapa wanita paruh baya membantu memasak dibalai desa untuk hidangan nanti malam, mbah Sastro menyuruh untuk membuat jamuan di balai desa saja.

__ADS_1


Mbah Sastro juga menyuruh warga yang datang untuk mendoakan ketiga jenazah itu datang ke balai desa saja, karena jika dirumah masing masing akan repot. Mengingat rumah mereka berjauhan, tidak mungkin para warga terpecah belah. Itu sebabnya mbah Sastro menyarankan di balai desa saja, dan sudah mendapat persetujuan oleh petinggi desa.


"Jadi langkah apa yang harus kita ambil mbah?" tanya Pangeran Segoro


Kini mereka berdua telah tiba dirumah, mbah Sastro memutuskan untuk pulang sejenak dan akan pergi lagi untuk membantu beberapa warga.


"Untuk sekarang jangan dulu le, selama dia belum mengusik ketenangan warga maka diamkan saja dulu." sahut mbah Sastro


"Jika dia memang ingin melenyapkan orang orang yang turut andil dalam menghancurkan dirinya itu berarti masih ada tiga orang lagi, empat jika Ginanjar terhitung. Namun dia ingin melenyapkan dari yang terkecil dulu baru yang besar, itu artinya masih ada tiga orang lagi mbah karena sisanya sudah meninggal waktu desa kita terkena teluh."


Mbah Sastro hanya mengangguk menjawab penuturan Pangeran Segoro.


"Tidak ada le, lakukan saja apa yang semestinya dilakukan selagi itu tidak bertolak belakang dengan ilmu yang kau miliki. Karena mereka memang diinginkan oleh Ratu hutan larangan, jadi kita tidak bisa berbuat apa apa untuk menghentikan nya."


Kini giliran Pangeran Segoro yang mengangguk, jauh didalam lubuk hati yang paling dalam Pangeran Segoro juga tidak ingin membantu mereka. Biar bagaimanapun Pangeran Segoro tetaplah manusia biasa, bukannya menolong justru Pangeran Segoro ingin melenyapkan mereka yang telah menghancurkan wanitanya.


"Jangan sampai kamu salah jalan le." ucap mbah Sastro seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Pangeran Segoro


"Njih mbah."

__ADS_1


"Kalau begitu mbah pergi dulu untuk membantu persiapan nanti malam."


"Njih mbah, aku dan Kemal akan menyusul nanti."


Mbah Sastro hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian mbah Sastro pergi menuju balai desa.


"Apa yang harus kulakukan." gumam Pangeran Segoro lirih


'Rasanya aku ingin berbicara denganmu.' batin Pangeran Segoro


Sejenak terlintas bayangan wajah Nyi Danuwati dipikiran Pangeran Segoro, setelah sadar ia segera menggeleng kepala pelan seolah mengusir pikiran itu.


"Apa yang ku pikirkan." gumam nya menggeleng pelan


Kemudian Pangeran Segoro menghembuskan nafas kasar, seraya meraup wajahnya dengan kedua tangan secara kasar pula.


"Aku tidak boleh seperti ini." ucapnya pelan seraya memandang lurus kedepan


...****************...

__ADS_1


__ADS_2