Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Pria Berjubah Hitam


__ADS_3

POV Hayati


Setelah aku berpamitan kepada semua orang yang ada di rumah, aku lekas pergi menuju ke pasar. Aku ingin membeli sesuatu, tapi saat masih di tengah jalan aku melihat sesosok pria memakai jubah hitam hingga wajahnya tidak kelihatan bersama lelaki tua yang aku tidak tau siapa.


Awalnya aku tidak perduli, tatapi kala aku mendengar mereka menyebut pak lurah Pramono aku tertarik. Siapa tau saja, ini ada kaitannya dengan penyakit yang diderita keluarga pak lurah Pramono. Sebab, di desa ini yang bernama Pramono hanya pak lurah saja.


"Lebih baik sekarang saja ki, saya sudah muak. Saya ingin melihat mereka menderita, saya sudah tidak sabar." ucap sesosok yang memakai jubah hitam


"Apa kamu yakin?" tanya sosok pria tua itu memastikan


"Saya yakin sekali ki, saya sudah tidak ingin menunggu lama lagi mereka harus merasakan penderitaan yang saya alami." sahut sosok pria berjubah hitam


"Lalu bagaimana dengan anak gadisnya itu?" tanya pria tua itu


"Kalau Riana jangan dulu ki, saya masih ingin melihat dia menderita sampai ia sendiri yang meminta untuk mengakhiri hidupnya." ucap pria berjubah hitam


Deg


Aku terkejut mendengar pembicaraan mereka, ternyata benar dugaan ku mereka ada hubungan nya dengan ini semua. Dadaku terasa berdebar, aku sangat takut.


"Kalau begitu ayo ikut aku." ucap sosok pria tua itu


Mereka pun pergi, setelah cukup jauh aku pun mengikuti mereka. Aku penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan, aku harus mencari tau.


Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya sampai juga disebuah gubuk kecil. Sepanjang perjalanan tadi, hanya ada pohon pohon yang lebat dan menjulang tinggi. Aku tau, ini adalah di bukit paling atas.


Setelah mereka masuk, dengan mengendap-endap aku berjalan kedepan gubuk itu. Aku bisa melihat dari lubang ventilasi yang bolong, disana terdapat banyak sasajen, bunga 7 rupa, dll.


Seketika aroma kemenyan menguar, kala sosok pria tua yang rambutnya sudah memutih itu membakar lilin.


Setelah itu, mulutnya terlihat komat kamit membacakan mantra. Aku tidak bisa mendengar, karna ia tidak mengeluarkan suara.


Seketika asap kemenyan yang tipis tadi, berubah menjadi besar. Asap itu terlihat seperti bergulung-gulung hingga membentuk bulatan kemudian menghilang.

__ADS_1


"Sudah selesai." ucap pria tua itu seraya tersenyum sinis


"Hahahahaha trimakasih ki, aku sudah tidak sabar melihat penderitaan mereka." ucap pria berjubah hitam dengan tawa yang menggelegar


Aku lekas pergi dari tempat ini, aku harus tau apa yang terjadi dirumah. Bila perlu aku akan menceritakan semua yang kulihat, aku sudah tidak sabar untuk sampai kerumah.


Aku berlari kencang, sesekali aku berjalan karna lelah. Seketika aku mendengar suara tapak kuda, aku menoleh kebelakang. Aku terbelalak, kala melihat sosok pria berjubah hitam itu.


Lekas aku melompat kearah samping yang dipenuhi oleh rumput liar, namun sialnya ia mengetahui. Kemudian ia turun dari kuda, aku berlari kencang.


"Heyy." teriaknya


Namun aku tidak perduli, aku terus berlari. Tidak tinggal diam, ia lekas menunggangi kudanya dan mengejar ku.


Aku ketakutan, jika aku mati sekalipun aku hanya ingin mati setelah mengatakan apa yang aku liat barusan. Aku terus berlari, tidak tentu arah.


Hingga aku melihat jalan besar, aku semakin kencang berlari. Namun, ia lebih dulu menghadang ku dan turun dari kudanya.


"Siapa kamu." teriaknya menggelegar


"Ee..um Sa...saya Hayati." ucapku


"Mengapa kamu ada disini." ucapnya


"Ehh.. saya habis dari kebun." ucapku


"Memang ada kebun diatas." ucapnya.


"Ada tuan, hanya saja masih baru. Karna pemilik nya baru beli." sahutku


Aku lekas berjalan, namun ia menghadang ku lagi dengan mengarahkan celurit kearah leherku.


"Hahahaha kamu pikir saya bodoh hah, dukun tadi sudah mengatakan pada saya jika ada yang mengintip kami." ucapnya

__ADS_1


Aku gelagapan


"Katakan apa yang kamu dengar." sentaknya kasar


"Ti...tidak ada." ucapku seraya menahan tangis


"Bohong." bentaknya


"Katakan apa yang kamu dengar." sentaknya lagi


"Aku mendengar semuanya tuan, aku bahkan tau apa yang anda lakukan. Saya, akan mengatakan ini semua pada kelurga pak lurah Pramono." ucapku memberanikan diri menatap nya


"Dasar bocah bodoh, silahkan... silahkan kamu katakan semua pada Pramono kealam baka sana hahahhaha." ucapnya dengan tawa menggelegar


"Asal kamu tau, mereka semua sudah mati. Jadi, kalau kamu ingin mengatakan pada mereka akan saya bantu." ucapnya seraya menarik celurit nya


Dan tanpa rasa kasihan, ia mengarahkan celurit nya dengan sangat kencang ke perut ku.


Zlebb


"Arghhh." aku berteriak kala merasakan hawa dingin yang menjalari perutku


Tidak sampai di situ, ia kembali menekan kan celurit itu lebih dalam lagi. Dan, menariknya kembali.


"Hahahaha saya sudah bantu kamu, sekarang silahkan temui Pramono." ucapnya seraya pergi


Aku terduduk lemas, dengan sisa tenaga aku merangkak ke arah jalan besar. Namun, hingga sebentar lagi sampai aku sudah tidak kuat.


Aku terbaring lemas, mataku sudah berkunang kunang.


"Ibuu, kang Damar. Hayati, sudah tidak kuat." gumamku


"Bapak... Hayati datang." gumamku lagi

__ADS_1


Mataku sudah menggelap, aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Hingga akhirnya, aku sudah tidak merasakan apa apa lagi.


...****************...


__ADS_2