Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Membawa Pulang


__ADS_3

Siang harinya, setelah acara pemakaman bapak selesai kami semua duduk diruang tamu. Ibu sedari tadi tidak bisa berhenti menangis, bahkan ibu juga sudah berkali kali pingsan.


Aku masih memikirkan siapa pelaku yang membuat bapak sampai seperti itu, dan aku juga penasaran bapak semalaman pergi kemana. Bapak hanya mengatakan keatas bukit saja, namun aku tidak tau dimana.


Pusing dengan pikiran sendiri yang tidak kunjung mendapatkan jawaban, aku lekas menghampiri Harjo dan bertanya padanya.


"Harjo." teriakku sesampainya di teras


Harjo yang mendengar teriakan ku seketika tersentak dan menoleh, lekas ia berlari menghampiri ku.


"A..ada apa tuan." ucapnya gugup karena ketakutan


"Apa kamu tau ada apa diatas bukit sana?" tanyaku


"Ti..tidak tau tuan, ta...tapi setau saya disana ada dukun sakti." sahutnya


Aku mengernyit kan alis bingung, buat apa bapak kesana dan mendatangi dukun. Bukankah bapak selama ini tidak percaya pada begituan, ini tidak masuk akal.


Aku lekas meninggalkan Harjo diluar tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.


Sesampainya didalam aku lekas masuk kedalam kamarku, dan merebahkan tubuhku diatas kasur.


"Apa apaan ini." gumamku pelan


"Dukun." desis ku lagi


Kepala ku terasa pusing memikirkan ini semua, tanpa terasa akupun tertidur karna semalaman kami tidak ada yang tidur.


...****************...


Hingga malam harinya aku terbangun karena ketukan dan panggilan ibu, lekas aku duduk bersandar dikasur seraya mengumpulkan nyawa.


"Le bangun ini sudah malam, kamu mandi dulu saja setelah itu kita makan bersama." ucap ibu


"Iya bu." sahutku dengan suara serak khas bangun tidur

__ADS_1


"Yawes cepat bangun, ibu mau bantu mbok Asih mempersiapkan makanan dulu." ucap ibu seraya pergi


Lekas aku bangun dan masuk kedalam kamar mandi, kamar mandi terletak di dalam kamarku. Kami sudah lama tidak mengunakan sumur, semenjak kami menjadi kaya raya kami sudah tidak pernah menggunakan sumur lagi.


Tidak membutuhkan waktu lama sampai aku selesai mandi, setelah selesai berpakaian rapi bergegas aku keluar kamar dan menuju dapur.


Kami pun menyelesaikan makan kami dalam keheningan, sesekali aku menatap ibu yang terlihat murung dan tidak bersemangat.


Setelah selesai makan malam, ibu langsung pamit terlebih dahulu untuk beristirahat karena kepala ibu terasa pusing. Aku berniat untuk ke bukit mendatangi dukun itu, aku ingin menanyakan apa yang dilakukan bapak disini.


"Mbok, suruh Harjo menyiapkan kudaku aku ingin keluar malam ini." ucapku kala mbok Asih sedang menyusun piring piring tempat makan kami tadi


"Njih, baik tuan." sahut mbok Asih seraya membungkuk dan bergegas keluar


Aku berjalan kekamar terlebih dahulu untuk bersiap siap, setelah selesai aku kembali keluar dan menghampiri Harjo. Disana aku melihat Harjo sedang mempersiapkan kudaku, Harjo yang melihatku langsung bertanya.


"Emang tuan mau kemana malam malam begini?" tanya Harjo


"Bukan urusan kamu." sahutku ketus


"Apa tidak mau diantar saja tuan?" ucap Harjo memberanikan diri bertanya


"Tidak perlu." sahutku datar


Segera aku menunggangi kuda ku, dan pergi meninggalkan area rumah menuju bukit yang berada di desa Ketang. Cukup jauh dalam perjalanan hingga aku sudah sampai di desa Ketang, lekas aku mengarahkan kudaku memasuki hutan menuju atas bukit.


Baru beberapa langkah kudaku berjalan seketika ada seseorang yang terjatuh akibat tabrakan kudaku, memang tidak kuat sehingga tidak akan ada luka serius.


"Arghh." ucap sosok itu berteriak


Dari suara nya sepertinya ia seorang wanita, lekas aku turun dari kuda dan menghampiri wanita itu. Setelah berada dihadapan nya, lekas aku menepuk pundak nya yang membuat ia mendongak menatap ku.


Deg


Jantung ku bertalu cepat, aku terkejut melihat Riana ada dihadapan ku sekarang dengan kondisi yang memperihatinkan. Pakaian nya yang sebagian sobek, wajahnya yang lusuh dan kotor.

__ADS_1


Entah apa yang menimpa nya selama ini.


"Ri...Riana ini kamu?" ucapku bertanya


Seketika ia juga terkejut melihatku, namun buru buru ia menunduk kembali.


"Ka..Kamu." ucapnya


Seketika ia menangis sejadi jadinya.


"Ka..kamu jahat, kenapa kamu ninggalin aku selama ini mas aku sudah tidak punya siapa siapa hiks hiks hiks." ucapnya disela tangis nya


Aku terpaku sesaat, bukankah bapak mengatakan jika Riana sudah menceraikan ku. Namun, mengapa Riana sekarang mengatakan sesuatu yang seolah olah kami tidak pernah berpisah.


"Bukankah kamu sendiri yang menceraikan aku Riana." sahutku


Seketika ia terkejut, hingga mendongak menatapku.


"Siapa yang mengatakan itu mas, aku tidak pernah melakukan itu." ucapnya


"Tapi bapak mengatakan bahwa kamu sudah menceraikan ku." sahutku lagi


"Itu tidak benar mas, aku tidak pernah melakukan itu." ucapnya semakin terisak


"Tolong bawa aku pulang mas, aku sudah tidak punya siapa siapa dan tempat tinggal." ucapnya lagi


Aku terdiam sesaat, aku memang tidak pernah mencintainya. Aku hanya menginginkan tubuhnya saja, namun jika sekarang ia memberikan tubuh nya secara gratis sekalipun aku sudah tidak bisa.


Karna waktu aku dirawat paska penusukan itu, dokter mengatakan bahwa aku sakit kelamin yang tidak bisa lagi berhubungan dengan siapapun.


Namun jika aku membawa masuk Riana kembali kedalam rumahku sepertinya tidak masalah, aku bisa menyiksa nya dan memberi ia pelajaran karena sebab ia Prastyo meninggal.


"Baiklah." ucapku setelah lama berpikir


Kami lekas pergi dari sini dan pulang ke rumah ku, rencana untuk menemui dukun itu gagal sudah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2