
DOUBLE POV
POV Riana
Sesampainya dirumah, mbok Sri terlihat menunggu ku seperti biasa diambang pintu. Melihat kedatangan ku seketika mbok Sri sumringah, namun hanya sesaat ketika manik matanya menatap kearah wanita paruh baya yang berada disampingku.
"Mbok tolong bantu." ucapku
"Ee..eh iya nduk."
Mbok Sri pun menghampiri kami yang masih berada di teras, segera kami memapah bude Ratna memasuki rumah tepatnya diruang tamu.
"Mbok tolong ambilkan minum njih." ucapku setelah kami mendudukkan bude Ratna yang masih terlihat seperti orang linglung.
"Baik nduk." sahut mbok Sri
Mbok Sri segera melangkah cepat kearah dapur, tidak berselang lama kembali lagi dengan membawa sebuah nampan yang berisi segelas teh.
"Bantu bude Ratna minum ya mbok." ucapku
Tanpa menjawab lagi mbok Sri segera membantu meminum kan teh itu kepada bude Ratna, bude Ratna tampak membuka mulut sedikit. Setelah memastikan bude Ratna minum, aku menyuruh bude Ratna beristirahat dulu dikamar tamu.
Dengan dibantu mbok Sri mereka segera melangkah menuju kamar tamu, setelah itu mbok Sri kembali lagi.
"Ada apa ini nduk?" tanya mbok Sri
Aku menatap mbok Sri sekilas dan menghembuskan nafas dalam, kemudian aku segera menceritakan apa yang terjadi menurut penerawangan ku dan cerita dari bude Ratna.
"Ya Gusti jahat sekali Sekar, padahal dulu sekali kalian sering bersama tidak sedikit orang mengatakan bahwa kalian seperti adik kakak." ucap mbok Sri shock
"Itulah mbok, kita tidak bisa menilai orang hanya dari luarnya saja kan." sahutku tersenyum
"Kalau begini mbok jadi cemas nduk, kalau setan, demit, jin atau apalah mbok percaya kamu bisa menghadapinya. Lah ini, lebih dari iblis." ucap mbok Sri terlihat khawatir
Beberapa detik kemudian bahu mbok Sri terlihat berguncang, terdengar suara tangisan mbok Sri.
__ADS_1
"Sama Ratna saja yang seusia mendiang ibunya dia berani melakukan itu, apalagi kamu nduk hiks hiks mbok tidak mau kehilangan kamu mbok tidak mau kamu mati dan meninggalkan mbok." ucap mbok Sri terbata
"Aku tidak akan mati mbok, justru dia yang akan mati. Siapapun yang berurusan denganku akan mati, dan dia sudah menjemput ajalnya." sahutku dingin
Seketika mbok Sri melihat ke arah ku, kemudian ia mengangguk.
"Pokoknya kamu harus hati hati yo, ingat pesan mbok. Sekarang mbok ingin menyiapkan makanan dulu." ucap mbok Sri seraya pergi berlalu
"Sekar." desis ku seraya menyeringai seram
"Mainan baru hahaha." aku tertawa seram dengan wajah dingin tanpa ekspresi
"Aku sudah lama tidak bermain, aku akan bermain main sekarang." gumamku seraya masuk kedalam kamarku
Hari memang masih siang, namun aku sudah tidak tahan ingin bermain. Setelah menutup pintu kamar aku segera duduk dilantai yang terbuat dari papan, kemudian aku memejamkan mata.
Aku menyebut nama Sekar Ayuningsih sebanyak tiga kali, dan aku membayangkan rupanya dalam benakku. Aku kemudian fokus dan memejamkan mata, kemudian aku merapalkan mantra.
...****************...
Setelah menemui kang Damar di kebun milik keluarga Riana aku segera pulang menemui seseorang, aku tidak habis pikir pada kang Damar. Untuk apa ia terus bekerja di kebun itu sementara pemiliknya sudah mati semua, bapak juga.
Sepanjang jalan aku terus menggerutu dalam hati, aku sangat membenci Riana. Ia selalu mendapatkan apa yang ia mau, walaupun terkadang dulu pak lurah Pramono juga memberikan aku hadiah.
Namun itu tidak sebanding dengan Riana, walaupun aku cuma anak pekerja keluarga mereka. Bukankah aku juga berhak mendapatkan apa yang Riana dapatkan, apalagi bapak bekerja pada mereka sudah lama.
Apalagi pria yang aku cintai malah mencintai Riana, rasanya aku ingin membunuhnya seperti aku membunuh ibunya Damar.
Namun tiba tiba aku merasakan bulu kudukku merinding, aku memperhatikan sekitar namun sepi. Hanya ada pohon pohon tinggi serta semak semak belukar mengingat ini masih daerah kebun, pohon yang lebat menyebabkan sinar matahari tidak bisa tembus sehingga suasana seperti mendung.
Wuushhh
Aku merasakan seseorang meniup leherku dari arah belakang, namun ketika aku berbalik kosong.
"Duh seram, biasanya tidak seperti ini." gumamku
__ADS_1
Setelah memperhatikan tidak ada yang janggal, aku kemudian memberanikan diri berjalan.
Wushhhh
Lagi lagi aku merasakan hembusan di leher ku, aku seketika berhenti. Dengan perasaan campur aduk, aku menoleh kebelakang.
"Arghhhhh." aku berteriak histeris
Aku melihat sosok genderuwo berbulu hitam legam tengah berdiri didepan ku, memiliki taring yang sangat panjang serta gigi yang runcing. Wajahnya sangat menyeramkan, dengan memiliki kuku tajam dan panjang.
Ia membuka mulutnya lebar, seketika bau ubi rebus menguar. Dari dalam mulutnya terlihat hewan melata keluar, seperti belatung.
Perutku seketika diaduk aduk ingin memuntahkan isi, namun ketakutan ku jauh lebih besar. Aku berbalik badan dan mencoba lari, namun kakiku seketika tidak bisa digerakkan kala aku melihat sosok didepan ku.
Aku melihat ibunya Damar yang sudah aku bunuh tadi, wajahnya yang pucat seperti mayat. Bibirnya yang sudah membiru, dari arah kepalanya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Arggghhh." Aku berteriak
"Pergi, pergi kau." ucapku
"Grrrhhhh." sosok genderuwo yang berada dibelakang ku seketika mengeram
Aku kembali melirik kearah ibunya Damar, ia berjalan mendekati ku wajahnya yang pucat dan dingin sangat menyeramkan.
"Pergi." aku berteriak
Seketika ibunya Damar menyeringai tipis, namun semakin lama semakin lebar hingga sampai ke telinga. Air mataku sudah berjatuhan, aku tidak pernah membayangkan ini.
"Pembunuh." ucap sosok yang mirip seperti ibunya Damar dengan suara yang terdengar ganda
"Am...Ampun hiks hiks." ucapku
Seketika sosok itu berlari kearahku.
"Arghhhhh." aku berteriak
__ADS_1
...****************...