Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kondisi Ibunya Damar


__ADS_3

POV Author


"Damar."


Seketika Damar menoleh kebelakang, matanya terbelalak melihat wanita yang selalu ada di relung hatinya sudah berdiri tegak didepan.


"Ka..Kamu kenapa ada disini?" tanya Damar gugup


"Aku ingin memberitahukan sesuatu." sahut Riana


"Apa?"


"Sebaiknya kamu ikuti aku saja, karena bukan aku yang pantas menceritakan hal ini Damar."


"Ta...Tapi aku masih ada urusan Riana, ibuku menghilang."


"Ibumu ada dirumahku Damar."


"Bagaimana bisa." sahut Damar terperangah


"Itu sebabnya kamu ikuti saja aku."


"Baiklah ayo."


Riana pun naik di boncengan Damar, mereka berdua pun berlalu ke desa Sumbul. Butuh waktu berjam jam untuk menuju ke desa itu apalagi dengan mengunakan sepeda seperti Damar, sementara alat transportasi belum ada zaman dulu.


Hingga setelah kurang lebih dua jam mereka pun sampai, segera Riana turun dan masuk kedalam. Diruang tamu terlihat mbok Sri duduk sendiri, melihat kedatangan Riana dan Damar segera ia berdiri.


"Akhirnya kalian sampai juga, dari tadi ibunya Damar berteriak ketakutan." ucap mbok Sri


Mendengar itu seketika Damar kaget, ia masih bingung kenapa ibunya ada disini ditambah kondisinya yang memperihatinkan.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Damar

__ADS_1


Namun tidak ada jawaban, hingga suara Riana mengalihkan atensi mereka.


"Mbok, tolong bawa saja bude kesini. Katakan saja bahwa ada Damar, karena aku merasa hanya bude yang berhak menceritakan ini." ucap Riana menoleh kearah mbok Sri


Tanpa menjawab mbok Sri segera berlalu kekamar tamu yang di tempati ibunya Damar, sementara Damar masih kebingungan hingga tiba tiba dari kamar tamu terlihat mbok Sri keluar dengan memapah ibunya.


Seketika Damar lekas menghampiri dan membantu mbok Sri memapah ibunya, setelah mendudukkan ibunya di salah satu kursi rotan mbok Sri segera berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman dan cemilan.


Sepeninggal mbok Sri, ibunya Damar langsung menangis histeris kala melihat putra satu satunya ada disini. Sepertinya memang benar, bahwa ibunya Damar mengalami gangguan psikis.


Mendengar suara tangisan ibunya yang sangat pilu, seketika Damar merasakan hatinya berdenyut perih.


"Ibu tenang dulu yo, jangan takut ada Damar disini." ucap Damar seraya mengusap punggung ibunya menenangkan


Tidak lama muncul mbok Sri membawa nampan yang berisi empat gelas wedang uwuh, serta cemilan seperti pisang.


"Ibu tenang ya." ucap Damar lagi


Ibunya pun mengangguk, setelah dirasa cukup tenang Damar pun kembali bertanya.


Seketika Ratna menggenggam tangan putra nya, Damar pun membalas genggaman ibunya dengan erat. Perlahan ibunya menceritakan semua kronologi yang menimpa nya, tanpa ada dikurangi ataupun ditambahi.


"Brengsek." ucap Damar matanya memerah menahan amarah bahkan rahang nya sudah mengeras hingga bunyi gemelutuk gigi terdengar.


"Pantas saja sikapnya tadi sangat aneh." gumamnya lagi


"Kamu harus janji sama ibu, jangan dekat dekat lagi dengan perempuan itu hiks hiks." ucap ibunya Damar seraya terisak pilu


Ibunya Damar pun kembali histeris, hingga tiba tiba berhenti sendiri, lalu tertawa terbahak bahak, kemudian menangis lagi.


"Mbok, tolong antarkan saja bude kekamar nya." ucap Riana


"Baik nduk." sahut mbok Sri

__ADS_1


Segera mbok Sri memapah kembali ibunya Damar yang masih terus meracau tidak jelas kekamar, hingga mereka memasuki kamar Damar pun bertanya pada Riana.


"Apa yang terjadi pada ibu, mengapa dia seperti itu?" tanya Damar


"Mungkin bude masih trauma Damar, atau mungkin saja emm.. kondisi mental bude terganggu." sahut Riana apa adanya


Seketika Damar mengepalkan tangannya, hingga buku jarinya terlihat memutih.


"Aku akan memberi nya pelajaran." ucap Damar penuh penekanan


Damar hendak pergi, namun Riana dengan sigap menahan lengan Damar.


"Emm... Aku tidak ingin ikut campur masalah mu Damar, terserah padamu jika ingin membalas nya atau tidak. Tapi, alangkah baiknya jangan sekarang. Aku rasa, bude masih membutuhkan mu." ucap Riana


Damar tampak berfikir keras, hingga detik kemudian ia mengangguk.


"Kamu benar Riana." sahut Damar menunduk


Sungguh Riana ingin sekali memeluk Damar sekedar menguatkan, namun tidak mungkin ia lakukan seperti sebelumnya. Musuhnya sudah didepan mata, ia tidak mau lemah.


"Sebaiknya kamu istirahat disini saja, bude sedari tadi terus memanggil nama kamu." ucap Riana


Damar mengangguk, kebetulan kamar dirumah Riana bisa dibilang lumayan banyak mengingat rumahnya besar walaupun tak sebesar dulu.


Dan mbok Sri juga sudah membersihkan kamar yang akan ditempati Damar tadi siang, letak kamar Damar dan ibunya berdampingan.


Riana pun lekas memasuki kamar dengan raut wajah dingin, Damar hanya mampu menatapnya dengan sendu.


"Apa karena Mahendra." gumam Damar pada diri sendiri


Tiba tiba Damar tersenyum getir, ia kemudian masuk kedalam kamar yang sudah disiapkan. Tanpa disadari, sedari tadi mbok Sri menatap mereka.


Setelah Damar masuk kedalam kamarnya, tampak mbok Sri menarik nafas dalam.

__ADS_1


"Kasian sekali kalian berdua, mencintai namun tidak bisa bersama. Mbok cuma berharap, semoga kelak kalian bisa bersama. Atau jika tidak, setidaknya kalian tetap bahagia." gumam mbok Sri sendu


Lekas wanita paruh baya itu memasuki kamar nya, dan merebahkan tubuhnya.


__ADS_2