Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Pengakuan Sekar


__ADS_3

"Dari mana saja nak Damar?" tanya mang Kurdi kala melihat Damar yang tadi menghilang kini sudah datang kembali


Sontak Mahendra yang sudah terlebih dulu disana kini melihat Damar, ia memang tidak menyadari jika Damar sedari tadi tidak ada. Dikarenakan pikiran Mahendra terus melayang kearah Riana, untung saja Mahendra tidak curiga.


"Oh, kesana sebentar tadi pakde." ucap Damar seraya menunjuk semak semak


Mang Kurdi yang mengerti kemudian manggut manggut.


"Yowes, mari kita lanjutkan." ucap mang Kurdi


Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka kembali, hingga sudah hampir malam mereka memutuskan untuk melanjutkan besok lagi saja.


"Sudah sudah, besok saja kita lanjutkan sudah hampir malam." ucap mang Kurdi mengintruksi


Mereka semua pun setuju, mereka kembali menyimpan peralatan mereka disamping rumah yang belum bisa dikatakan jadi. Kemudian semua pekerja lain kini sudah pergi, hanya menyisakan mang Kurdi, Damar, dan Mahendra.


Damar terus memperhatikan Mahendra yang terlihat gelisah, ia mencoba menebak apa yang dipikirkan oleh Mahen.


"Loh, nak Mahen belum pulang juga toh." ucap mang Kurdi


Namun tidak ada sahutan, Mahendra masih melayang dialam bawah sadarnya.


"Nak." panggil mang Kurdi lagi


Mahendra masih saja belum menjawab, tidak hilang akal mang Kurdi menepuk pundak Mahendra.


"Nak Mahen." ucap mang Kurdi seraya menepuk pundaknya


Sontak Mahendra terkesiap, ia memandang mang Kurdi kemudian bergantian memandang Damar yang kini juga memandang nya dengan aneh.


"Nak Mahen tidak apa apa toh." ucap mang Kurdi


"Tidak apa apa kok pakde." sahut Mahen seraya berdiri


"Kalau begitu saya pamit duluan njih." ucap Mahen lagi


"Monggo, matur suwun yo nak." sahut mang Kurdi


Mahendra hanya tersenyum menanggapi, kemudian ia pergi. Anehnya ia malah belok kekiri menuju area hutan, bukan belok ke kanan arah gapura desa.


Sontak Damar yang melihat merasa aneh, biar bagaimana pun ia harus mengawasi Mahendra dari sekarang. Mengingat Mahendra dan abangnya ingin menyakiti Riana, namun baru saja Damar berdiri mang Kurdi langsung bertanya.


"Mau pulang juga nak?" tanya mang Kurdi


"Ehh, tidak kok mang." sahut Damar


'Tidak mungkin jika aku menceritakan semua kepada pakde Kurdi.' batin Damar

__ADS_1


"Kalau mau pulang silahkan saja, pakde cuma membereskan ini sedikit lagi." ucap mang Kurdi seraya menunjuk kayu kayu


"Ehh, Mahendra ngapain yo pakde kehutan bukannya rumahnya di desa Sumbul." ucap Damar


"Lah iyo, ngapain yo?" tanya mang Kurdi balik kebingungan


Kini mereka berdua dilanda kebingungan, sebenarnya Damar khawatir takut jika Mahendra menemukan Riana dan menyakiti nya. Namun untuk pergi mengawasi Mahendra juga tidak mungkin, takut jika mang Kurdi curiga.


'Tunggu tunggu, tadi Mahendra mengatakan pada abangnya jika belum pernah menemukan Riana. Tapi faktanya, mereka berdua bahkan terlihat dekat. Apa maksudnya, apa yang sedang direncanakan oleh Mahen.' batin Damar kala menemukan kejanggalan


Kini bergantian, tadi Mahendra yang melamun sekarang Damar. Mang Kurdi hanya menatap Damar tidak habis pikir, mang Kurdi kini bergidik takut jika ada hantu yang menyebabkan Mahendra dan Damar mendadak aneh.


Mang Kurdi kini meletakkan kembali kayu yang dipegang dan menghampiri Damar, ia menepuk pelan pundak pria tampan dan manis itu.


"Nak Damar." ucap mang Kurdi seraya menepuk dan mengguncang tubuh Damar


Damar seketika tergagap, ia seperti baru saja kembali dari derasnya arus sungai.


"Ono opo toh, tadi nak Mahendra sekarang sampean." ucap mang Kurdi


Damar hanya bisa nyengir, dan menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Wes kita pulang saja, lagian kamu ngapain nungguin pakde toh. Wong rumah kita beda arah, pakde belok kiri arah kebun sebelum hutan lah kamu ke kanan." ucap mang Kurdi


"Wes biar pakde ada temannya." sahut Damar


"Wong bukannya ada temannya, malah pakde ketakutan takut kamu kesurupan melamun terus." ucap mang Kurdi


Hingga semakin dekat semakin jelas juga seseorang itu, seketika Damar dan mang Kurdi terbelalak kaget.


"Sekar kenapa lari lari yo." ucap mang Kurdi


"Tolong." ucap Sekar berteriak hingga ia melihat bapaknya, ia pun lekas menghampiri.


"Kamu kenapa toh nduk." ucap mang Kurdi seraya menggenggam tangan putrinya


"Se...setan." ucap Sekar


Disaat pandangan Sekar melihat Damar seketika ia menangis histeris.


"Ono opo toh nduk." ucap mang Kurdi seraya menenangkan Sekar


"Maaf." ucap Sekar


"Maksud e opo?" tanya mang Kurdi


"Maafkan aku Damar." ucap Sekar menatap mata Damar

__ADS_1


Damar mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya, sementara Mang Kurdi kebingungan mendengar ucapan putrinya.


"Maksud kamu opo nduk?" tanya mang Kurdi dengan suara bergetar


Pikiran buruk kini menguasai kepala mang Kurdi.


"A...Aku sudah membunuh bude Ratna." ucap Sekar


Plakkk


Seketika Damar terkejut melihat mang Kurdi yang tidak pernah marah dan selalu ramah, kini menampar Sekar hingga tersungkur.


Bahkan tamparan nya sangat keras, hingga detik itu juga pipi Sekar berubah menjadi merah dan meninggalkan jejak lima jari.


"Katakan jika itu tidak benar." sentak mang Kurdi


"Maafkan Sekar pak hiks hiks hiks." ucap Sekar seraya menangis pilu


Mang Kurdi mendekati Sekar, kemudian menarik rambut Sekar hingga kepala nya mendongak keatas menatap bapaknya yang sedang dikuasai amarah.


"Katakan itu tidak benar." ucap mang Kurdi berteriak


Hingga teriakan mang Kurdi membuat beberapa warga keluar ingin melihat apa yang terjadi, seketika Damar menepuk pundak mang Kurdi.


"Sudah pakde malu dilihat orang, kita bisa bicarakan ini baik baik dirumah." ucap Damar


Namun mang Kurdi tidak pedulikan ucapan Damar, ia terus menatap tajam putrinya.


"Sekar tidak bo...bohong pak, Se...Sekar sudah membunuh bude Ratna waktu itu."


Sekar kemudian menceritakan tentang pertemuan nya dengan Ginanjar yang tidak lain adalah pria berjubah hitam, kemudian tentang rencana mereka. Hingga bude Ratna mengikuti dan Sekar yang panik menceburkan bude Ratna ke sungai yang dalam dengan arus deras, hingga berakhir dengan dihantui.


Semua orang yang mendengar tercengang, mereka tidak percaya Sekar yang merupakan gadis yang baik berani berbuat seperti itu.


Plakk


Mang Kurdi menampar di pipi sebelah nya lagi, dan Sekar pun terjungkal.


"Kamu melakukan itu karena cemburu pada Riana, kamu ingat ini baik baik. Jika bukan karena keluarga mendiang Pramono mungkin kita sudah mati kelaparan, jika bukan karena mereka bapak tidak bisa menyekolahkan kamu Sekar." ucap mang Kurdi berteriak


Sekar hanya bisa menangis pilu.


"Salah, bapak sudah gagal hiks hiks." ucap mang Kurdi yang sudah menangis


"Bapak gagal menjadi orang tua." ucap mang Kurdi lagi seraya memukul kepalanya


"Tidak, bapak tidak gagal. Sekar yang salah pak, Sekar tidak tahu diri." ucap Sekar seraya mendekati bapaknya mencoba untuk menghentikan aksi bapaknya yang memukul kepala

__ADS_1


"Menjauh dari bapak." ucap mang Kurdi cepat kala tangan Sekar hampir menyentuhnya


...****************...


__ADS_2