
Setelah sampai di gerbang pagar rumah juragan Karno, salah satu para centeng membukakan pintu seraya mengangguk sopan. Kereta kuda kembali berjalan memasuki pekarangan rumah juragan Karno, salah satu para pekerja rumah juragan Karno mempersilakan kami masuk. Kami pun berjalan memasuki ruang tamu untuk bersantai sejenak.
"Semoga kamu betah disini ya nduk." ucap bu Nining kepadaku seraya tersenyum ramah
"Nggehh bu." sahut ku singkat
( Iya bu )
"Yasudah kamu mandi dulu saja sana, kamar mandi nya ada di dalam kamar." ucap bu Nining
Aku hanya mengerutkan alis bingung, pasalnya aku belum pernah sama sekali ke rumah mereka. Tapi mereka memperlakukan ku seolah olah aku sudah memahami seluk beluk rumah ini, mana kutau kamar nya ada dimana
Seolah tau apa yang tengah aku pikirkan, bu Nining menyuruh mas Purwo mengantarku.
"Lee, kamu antar istri mu dulu ke kamar sana, lagian ini juga sudah larut malam. Sebaiknya, kamu juga istirahat." ucap bu Nining pada mas Purwo
Mas Purwo membola mata malas seraya berdecak lidah, kemudian mengikuti perkataan bu Nining.
"Iyaa bu." ucap mas Purwo seraya berdiri
"Ingat lee, besok bangun agak cepat untuk mempersiapkan penyambutan abangmu." ucap bu Nining
Aku lagi lagi mengernyitkan alis bingung, pasalnya aku tidak tau bahwa mas Purwo masih memiliki saudara.
Mas Purwo hanya mengangguk pelan dan berjalan terlebih dahulu menuju kamar, sebelum pergi aku tersenyum seraya mengangguk sekilas pada keluarga juragan Karno. Setelah itu, aku mengikuti langkah mas Purwo.
Setelah sampai di depan pintu, mas Purwo segera membuka pintu.
Kreekk
Kami pun langsung masuk, dan mas Purwo menutup pintu kembali. Aku bergegas langsung masuk ke kamar mandi, setelah selesai melakukan ritual permandian aku ingin memakai pakaian. Tapi, aku lupa membawanya. Aku malas jika harus meminta tolong pada mas Purwo, tapi aku tidak punya pilihan lain.
"Mas." panggilku
Namun tidak ada sahutan, tidak menyerah aku memanggilnya lagi.
"Mas Purwo." panggilku agak sedikit keras
"Hmmm." gumamnya
"Mas, tolong ambilkan baju ku dong."
"Ambil saja sendiri, jangan manja."
__ADS_1
Ingin rasanya aku keluar, dan meninju wajahnya itu.
"Tolong mas." pintaku dengan sedikit memelas
Tidak beselang lama, mas Purwo mengetuk pintu kamar mandi pelan.
Tok tok tok
Kreek
Aku membuka pintu sedikit.
"Ini." ucap mas Purwo
Berapa terkejutnya aku kala menerima sebuah tas tempat keperluan ku berada.
"Mas, kenapa tidak ambil salah satu aja sih." ucapku kesal
Ia hanya mengangkat kedua bahu seraya berbalik dan pergi, tidak mau ambil pusing aku lekas mengambil salah satu pakaian lalu memakainya.
Setelah selesai, aku membuka pintu kamar mandi dan keluar menuju ranjang. Tanpa permisi, aku langsung merebahkan tubuhku.
"Apa kita tidak melakukan malam pertama?" tanya nya
...****************...
Keesokan harinya, sekitar 30 menit sesudah sarapan saudara mas Purwo datang juga. Setelah menyalami semua keluarga di rumah ini, kini saudara mas Purwo yang bernama Prastyo beralih kepadaku. Sebelum menyalamiku, mas Prastyo terpaku sesaat.
"Ini Riana istri Purwo adik kamu le." ucap juragan Karno menjelaskan
"Ohh.. Maaf tidak bisa datang semalam." ucap mas Prastyo
"Tidak apa apa mas." sahutku
Setelah selesai melepas rindu, kami pun masuk ke dalam rumah dan duduk di bangku yang terbuat dari rotan.
"Kalau begitu aku pamit mau ke kamar dulu ya bu, pak." ucap mas Prastyo
"Iyaa lee, kamu istirahat lah." ucap bu Nining
Mas Prastyo berdiri dan menatap kami semua seraya tersenyum, lalu berlalu ke kamarnya.
Aku yang merasa bosan disini ikut berpamitan ke kamar juga, setelah berada di dalam kamar aku merebahkan tubuhku. Tidak ingin termenung yang pada akhirnya memikirkan mas Damar, aku pun memilih menyusun pakaianku yang belum sempat kususun semalam.
__ADS_1
...****************...
Malam harinya, setelah makan malam bersama dan bersantai sejenak. Semua anggota keluarga, memilih beristirahat dikamar. Begitu juga denganku, namun tiba tiba mas Purwo merangkul ku dari belakang dengan sangat erat.
"Lepasin mas." ucapku penuh penekanan
"Kamu istri ku sebaiknya jalani tugas mu sebagai istri." ucapnya tak mau kalah
"Lepas... Aku belum siap." sahutku
"Aku tidak peduli." ucapnya dengan nafas yang sudah memburu, ia membaringkanku di ranjang.
Aku berniat lari, karna aku tidak mau menyerahkan kesucianku pada orang yang aku tidak cinta. Aku menendang perut nya dengan kencang dan berlari keluar kamar, disaat berlari aku melihat salah satu ruangan yang terbuka lekas aku masuk.
Mas Prastyo terkejut melihat ku, dan aku pun sama terkejutnya. Ternyata, ini ruangan pribadi mas Prastyo, pantas saja.
"Kamu... Ngapain disini?" tanya mas Prastyo
Belum sempat aku menjawab, tiba tiba.
Brakkk
Pintu yang tadi ku tutup di buka kasar oleh mas Purwo.
"Apa apaan ini, ada apa dengan kalian." ucap mas Prastyo
Namun tidak ada yang menjawab, mulutku terasa kelu saking takutnya. Sedangkan mas Purwo, ia tengah menatapku dengan sangat tajam. Mas Purwo mendekat, dan mencekram erat lengan ku.
"Lakukan tugas mu sebagai seorang istri." ucapnya penuh penekanan dengan sorot mata tajam penuh kebencian
"Aku mohon jangan sekarang mas, aku belum siap." pintaku memelas
Mas Prastyo yang sedari tadi memperhatikan kini seolah mengerti apa yang terjadi, dan mas Prastyo pun angkat bicara.
"Kamu jangan terlalu berlebihan lah, jangan terlalu memaksakan kehendak mu." ucap mas Prastyo bijak
"Diam kamu kakang mas, tidak usah ikut campur." sentak mas Purwo
"Aku bukan ingin ikut campur masalah kamu, cuma menasehati saja sebagai abang kamu. Sebaiknya memang kamu sabar dulu, tunggu istri kamu siap jangan memaksa." ucap mas Prastyo
"Aarrgghh."
Mas Purwo yang tidak terima langsung menerjang tubuh mas Prastyo, mas Prastyo yang belum siap seketika langsung tersungkur.
__ADS_1