
"Baringkan dia dengan benar." ucap mbah Sastro
Tanpa menjawab, Kemal dan mang Kurdi membaringkan tubuh lemah Udin yang tadinya telungkup menjadi terlentang. Tampak kondisi Udin berubah drastis menjadi sebelumnya, yaitu kondisi tubuh yang sangat lemah dan pucat.
Bibir Udin juga tampak mengering, tubuhnya yang terlihat semakin kurus serta lingkaran mata yang hitam. Padahal, baru saja semua orang yang berada di rumah menyaksikan betapa kuatnya tenaga Udin.
"Sudah seperti mayat hidup." ucap Kemal seperti biasa yang ceplas ceplos
"Tidak juga, dia hidup tapi seperti mati." sahut mang Kurdi yang justru ikut ikutan
"Ora apik ngomong seperti itu." ucap mbah Sastro
"Njih, nuwun sewu mbah." sahut mang Kurdi sementara Kemal hanya meringis
(Iya, saya minta maaf mbah.)
"Sudah sebaiknya kita keluar, biarkan dia beristirahat." ucap mbah Sastro
Mereka bertiga pun lekas keluar dari kamar Udin, sementara mbah Bayan sudah dari tadi diruang tamu serta Tuti. Kondisi Tuti sendiri juga masih lemah, terlihat jelas bekas cekikan dileher wanita paruh baya itu. Sementara anak laki laki mereka menangis kencang, mungkin saja ia takut melihat ibunya sakit karena bapaknya.
"Kalau begitu kami pamit dulu njih." ucap mbah Sastro ramah
"Njih mbah, matur nuwun." sahut Tuti dengan suara serak akibat cekikan Udin yang lumayan kuat
Setelah berpamitan, mereka berempat pun keluar dari rumah Udin. Mbah Sastro tidak bisa membantu apa apa, bukan hanya karena kekuatan Nyi Danuwati yang cukup tinggi. Melainkan karena mereka juga sudah jelas salah, mbah Sastro tidak bisa membantu orang yang salah.
__ADS_1
Namun baru beberapa meter mereka melangkah, terdengar suara kentongan yang dipukul. Kentongan yang terbuat dari bambu seketika diketuk menggunakan kayu, akan berbunyi.
Tuk tuk tuk tuk
Disusul dengan suara riuh para warga, tampak sekitar tujuh paruh baya yang semuanya laki-laki sedang berjalan kearah rombongan mbah Sastro. Lebih tepatnya berjalan kearah ujung desa, namun harus melewati mbah Sastro yang berada ditengah jalan beserta rombongan nya.
Tuk tuk tuk
"Apa yang terjadi?" tanya Kemal yang selalu saja tidak bisa mengendalikan rasa penasaran nya
"Biasanya kalau kentongan digunakan berarti ada yang meninggal." ucap mang Kurdi
"Siapa yang meninggal yo?" tanya Kemal yang lebih tepatnya adalah gumaman untuk dirinya sendiri
"Nyuwun pangapunten." ucap mbah Sastro membuat rombongan warga itu berhenti
(Permisi)
"Njih mbah." sahut salah satu warga
"Apa yang terjadi? Mengapa kalian mengetuk kentongan." tanya mbah Sastro
"Iki mbah, salah satu warga baru saja menemukan mayat."
"Mayat?" desis mbah Sastro bingung yang terlihat jelas dari kerutan di dahinya
__ADS_1
"Iyo mbah, jasadnya si Juki."
Sontak mbah Sastro, mbah Bayan, mang Kurdi, dan Kemal terbelalak kaget mendengar penuturan warga.
"Bagaimana ceritanya?" tanya mang Kurdi
"Tidak tahu juga kang, tadi ada salah satu warga yang hendak ke kebun namun kembali lagi dengan berteriak minta tolong. Pas ditanya ada apa, dia mengatakan jika ada orang yang gantung diri.
Beberapa warga yang penasaran pun memastikan apa yang terjadi, ternyata benar bahwa ada orang yang gantung diri. Dan setelah diperiksa orang itu adalah Juki, dan sudah tidak bernyawa."
Mendengar perkataan salah satu warga itu membuat rombongan mbah Sastro ternganga, namun tidak dengan mbah Sastro yang seolah sudah tahu apa terjadi. Namun, mbah Sastro tidak percaya jika Nyi Danuwati akan beraksi secepat ini.
"Kalau begitu kami pamit dulu mbah, sekalian mau memanggil petinggi desa dan mantri desa."
Mbah Sastro mengangguk, setelah mereka pergi mbah Sastro pun mengajak rombongan nya untuk melihat lebih jelas.
"Gantung diri, kebun." gumam Kemal menerka nerka
"Jadi dia gantung diri di kebun, mengapa harus di kebun. Apalagi kebun itu milik warga, sementara Juki sudah jelas tidak memiliki kebun. Apa kebun itu nanti tidak berhantu, hiyyy ngeri." ucap Kemal seraya bergidik ngeri
"Itu karena pengaruh demit yang merasuki nya." ucap mbah Sastro
"Maksud mbah, Juki bunuh diri karena dikendalikan oleh demit? Seperti keadaan Udin tadi." sahut mang Kurdi buka suara
Namun mbah Sastro tidak menjawab lagi, ia hanya diam disepanjang jalan. Dan mereka menganggap diam nya mbah Sastro mengatakan 'iya', mereka pun melanjutkan perjalanan dalam keheningan.
__ADS_1